NovelToon NovelToon
My Little Devil

My Little Devil

Status: tamat
Genre:Romansa / Persaingan Mafia / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: wilia

Bagaimana jika kau mencintai anak angkatmu sendiri?

Begitulah yang tengah di rasakan oleh Maxwell. Ia adalah satu-satunya suami yang tak mengharapkan Istrinya hamil. Bahkan, saat wanita itu di harus menjalani operasi Rahim maka Maxwell-lah satu-satunya manusia kejam yang tak perduli.

Ia di paksa untuk mengangkat seorang anak untuk mengobati trauma Istrinya. Tapi, balita 4 tahun itu sangat menguji kesabaran Maxwell yang di buat hidup di dunia Fantasi dan Mitologi.

Bagaimana tidak? saat Mentari datang maka Bocah itu akan sama seperti anak pada umumnya. Ia berkeliaran membuat suara berisik memusingkan. tapi, di malam hari ia akan menjelma menjadi seorang wanita dewasa yang arogan bahkan menyaingi sikap dinginnya.

Sosok yang begitu kasar dan selalu ingin membunuh membuat Maxwell hidup bagai di medan perang.

Mampukah Maxwell menundukan Sosok itu? atau ia terjebak dalam keputusan paksaan ini?

....

Tinggalkan Like, komen, Vote dan Giftnya ya say 🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perhatian tulus Evelyne

Mentari di atas sana sudah naik sepenggalan tangan. Cahaya keemasan yang tak begitu terik itu menyebar ke seluruh penjuru kamar yang tampak tengah di lakukan Perbaikan oleh bawahannya.

Hampir setiap pagi semenjak Evelyne ke sini mereka selalu melakukan renovasi pada kamar Tuannya. Walau-pun begitu mereka tak pernah mengatakan apapun kepada orang luar.

Masuk dalam keadaan buta dan keluar dalam keadaan bisu, itulah moto yang selalu mereka peggang kala Violet atau Tuan Marcello mengungkit dengan pertanyaan keluar dari sini.

"Uncle! Apa kau lihat Daddy Leen?" tanya Evelyne yang tadi sudah mandi lalu berganti pakaian santainya.

Baju kaos Crop pertengahan pinggang berwarna putih dengan gambar Barbie kesukaannya dengan rok jeans pendek longgar selutut menambah kesan manis dan sangat cantik.

Rambut pendeknya masih terurai karna Evelyne tak bisa mengikat rambutnya sendiri.

Melihat penampilan Evelyne yang selalu membuat orang menelan rasa gemas dan terpesona, mereka saling pandang segera menghampiri bocah kecil itu.

"Nona kecil butuh sesuatu?"

"Daddy Leen mana?" tanya Evelyne tampak mencari-cari keberadaan Pria Tampan itu.

"Tuan tadi sudah ingin pergi. Nona bisa.."

"Daddy!!" teriak Evelyne langsung berlari keluar dengan langkah kaki mungil tampak sangat cepat seakan tak ingin di tinggal.

Anggota Maxwell sampai ikut lari mengejarnya karna cemas jika Dewi mungil itu akan jatuh dan nyawa mereka akan di ambang batas kematian.

"Nona!! Nona jangan berlari!"

"Daddy!!"

Suara Evelyne memanggil Maxwell seraya menuruni anak tangga sampai ke bawah. Ia terlihat sangat takut di tinggal pergi sampai tangga sepanjang ini ia lalui tanpa hambatan.

Maxwell yang tampak tengah berbicara dengan Jirome di depan Pintu besar sana sampai tersentak kala Evelyne berlari secepat itu menuruni anak tangga.

"Daddy!!!"

"Kau.."

Maxwell bergerak cepat mendekati Evelyne yang langsung berhambur memeluk satu kakinya. Jirome dan para Penjaga di luar sana menatap interaksi Ayah dan anak angkat itu dengan pandangan cukup bertanya-tanya.

Kenapa semakin hari Tuannya begitu perduli pada bocah kecil itu?

"Dad! Leen ikut!"

"Kau ingin kepalamu pecah berlari sampai sekencang itu. Ha??" geram Maxwell menyentak kakinya dari pelukan kedua lengan mungil Evelyne yang beralih menggenggam tangannya.

"Dad! Leen ikut."

"Kau tetap di kamarmu!" tegas Maxwell terlihat berbeda pagi ini. Wajahnya sedikit pucat dan tampaknya ia kurang istirahat.

Tentu Evelyne melihat jika Maxwell tengah dalam keadaan tak baik-baik saja. Ia merasakan jika tubuh pria ini tengah dalam fase lelah dalam beberapa konteks.

"Dad! Daddy sudah makan?"

"Bawa dia ke kamarnya!" Titah Maxwell pada para anggotanya yang tadi mengejar Evelyne sudah sampai ke bawah.

Bukannya menurut Evelyne langsung bersembunyi di balik kedua kaki kokoh Maxwell dengan pelukan mengerat ke betis kokoh itu.

"Leen tak mau!"

"Kauu.."

"Leen tak mau. Dad!" Bantah Evelyne sangat kekeh dan keras kepala. Alhasil Maxwell mengambil nafas dalam lalu memijat pelipisnya yang terasa pusing.

Ia merasa luka di perutnya mulai membuatnya tak enak badan. Ia terlalu mengabaikan Luka tusukan itu karna memang ketika Evelyne berubah maka ia tak akan sempat mengurus lukanya lagi.

"Dad! Daddy sudah makan?"

"Ambil Ice Creammu di Dapur!" titah Maxwell pada Evelyne yang sejenak berbinar tapi kemudian ia diam.

"Tidak. Nanti Daddy pergi saat Leen ke dapur."

"Cepatlah! Aku sudah terlambat bekerja." geram Maxwell hingga Evelyne mempertimbangkan keputusannya.

"Tapi Daddy jangan pergi. Tunggu Leen kesini lagi!"

"Hm."

Gumam Maxwell sejenak diam membiarkan Evelyne berlari ke arah Dapur di bimbing anggotanya.

Jirome segera mendekat kala melihat Tuannya tampak tak baik-baik saja. Biasanya pria ini jarang sekali tak enak badan tapi jelas Penyakit Insomnia yang ia derita cukup parah dan tak bisa di remehkan.

"Tuan! Kau baik-baik saja?"

"Hm."

Jawaban singkat seperti biasa. Maxwell memang merasa suhu tubuhnya naik dan bagian luka di perutnya terasa cukup nyeri. Apalagi ia selalu lupa meminum obat yang di berikan Dokter Ken hari itu.

"Tuan! Jika dirasa keadaanmu tak memungkinkan, sebaiknya tetap istirahat di Kamarmu. Aku akan mengurus Pekerjaan hari ini."

"Siapkan saja pertemuan itu. Aku baik-baik saja," jawab Maxwell masih dalam ucapan yang tegas dan tak perduli akan kesehatannya.

Jirome juga sangat paham dengan watak keras Maxwell yang selalu mementingkan Pekerjaan dari kesehatannya sendiri. Sampai sekarang ia masih pergi ke Psikiater khusus yang menangani Penyakit Insomnia buruk yang ia punya.

Setelah beberapa lama Evelyne tampak berlari kecil kesini membawa satu Paper-bag yang ntah apa isinya tapi Maxwell tak terlalu perduli.

"Ayo Dad!"

Maxwell melangkah pergi ke Pintu besar Kediaman dengan Jirome sudah mendahuluinya ke arah Mobil yang sudah ada di depan Kediaman.

Ada Violet yang baru saja selesai di ajak berjemur oleh Pelayan Reamy. Seperti biasa tatapan Evelyne sama sekali tak bersahabat melayang padanya.

"Ayo Dad. Cepat masuk!"

"Sayang!" panggil Violet tapi Evelyne segera menarik lengan Maxwell masuk ke Mobil yang sudah di buka Jirome. Ia tampak tergesa-gesa menjauhkan Daddynya dari wanita berkaki empat itu.

"Uncle tutup pintunya!"

"Maxwell!! kau.."

"Daddy mau pergi sama Leen!" sela Evelyne menyembulkan kepalanya dari jendela Mobil dimana Jirome hanya menipiskan senyuman melihat wajah sendu Violet.

Ia masuk ke dalam Mobil membiarkan Evelyne mengatakan hal yang seharusnya Violet sadari sedari dulu.

"Jangan ganggu Daddy Leen lagi!!"

"Leen! Jangan bicara seperti itu," gumam Violet sama sekali tak percaya Evelyne begitu membencinya.

Setelah puas mengatai Violet akhirnya Evelyne mendudukan tubuhnya di samping Maxwell yang tampak menyandarkan tubuhnya ke kursi Mobil dengan kedua mata terpejam.

Jirome sudah melajukan benda mewah ini ke area jalan keluar Pekarangan luas Kediaman dimana ada dua Mobil penjaga di belakang mereka.

Manik abu polos Evelyne memperhatikan wajah sedikit pucat Maxwell yang tiba-tiba merasakan tangan mungil hangat itu menyentuh keningnya.

"Kau.."

"Daddy demam?" tanya Evelyne sudah berdiri di dekat pahanya.

Maxwell membuka mata elang itu menembus manik abu bening yang tampak sangat mengkhawatirkannya. Jelas dada Maxwell mendesir halus karna Evelyne selalu bersikap tulus padanya.

"Tubuh Daddy panas. Leen sering merasakan ini pasti Daddy kesakitan-kan?"

"Tidak," jawab Maxwell datar menurunkan tangan mungil itu dari dahinya.

Jirome melirik dari kaca spion dengan helaan nafas yang cukup berat.

"Tuan! Dia benar. Tuan terlalu bekerja keras dan kurang istirahat, apalagi lukamu kau abaikan. Tuan!"

"Aku tak selemah itu," gumam Maxwell tak suka dikasihani. Ia hanya kurang istirahat saja dan tak perlu terlalu berlebihan.

Melihat Maxwell begitu keras kepala akhirnya Evelyne diam kembali duduk di tempatnya. Ia sesekali bertatapan dengan Jirome dari kaca Spion seakan keduanya tengah berkomunikasi. Maxwell-pun hanya menepis adegan memusingkan ini.

"Dad!"

"Hm."

"Kita ke Uncle Ken. Ya?" pinta Evelyne tapi seketika Maxwell mengeraskan wajahnya.

"AKU TAK PERLU DIKASIHANI DAN.."

Bentakan Maxwell terhenti kala Kotak makanan itu sudah ada di Pahanya. Ia tercekat kalimatnya sendiri kala Evelyne dengan murah hati dan ketulusan dari jiwa malaikatnya itu membawakan benda ini.

"Leen juga membawa Makanan di bantu Uncle yang tadi. Dad!"

"K..kau.."

"Nanti lanjutkan marahnya. Makanlah dulu!" pinta Evelyne membuat Maxwell langsung membuang pandangan keluar jendela Mobil.

Jirome-pun ikut menghangat melihat kerja keras Evelyne kecil terus mencoba untuk mencairkan Hati dan jiwa kemanusiaan Maxwell yang sudah lama membeku.

Evelyne membuka Kotak makanan ini dimana ada sayuran dan beberapa lauk pauk yang tampak bergizi. Ia mengambil Sendok di dalam Paper-bag lalu bersiap menyuapi Maxwell yang terlihat canggung.

"Buka mulutmu. Dad!"

"Aku bisa sendiri," jawab Maxwell mengambil alih Sendok di tangan Evelyne yang menyerahkannya. Ia tak masalah selagi Maxwell mau makan tepat di hadapannya.

"Makan yang banyak. Daddy terlihat lebih kurus. Nanti kalau Daddy rajin makan pasti Monster di perut Daddy akan mati. Jadi, Daddy tak kesakitan lagi."

"Terlalu banyak mendengar dongeng." gumam Maxwell mengunyah makananya tapi mendengar ocehan Evelyne yang tersenyum menceritakan apa yang dulu Bubu-nya katakan ketika ia tak mau makan.

....

Vote and Like Sayang..

1
Netty Netty
/Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/
Netty Netty
🤭🤭🤭🤭🤭
Netty Netty
bikin mewek/Sob/
Bunda
hadir kak🙏
Iyhen Asmara waruwu
satu pakaian😂😂😭
Lia Pazliani
Luar biasa
Earlyta a.s Salsabila
ngakak sampe perutku sakittt
Earlyta a.s Salsabila
Buruk
Earlyta a.s Salsabila
good
Eneng Haerani
Luar biasa
Fareza Gmail.Com
aku tebak nih ya maxwell anaknya fernandes dan violet anak marcello ama selingkuhannya
Fareza Gmail.Com
penasaran sekali sepertinya 🤣🤣
Sandisalbiah
nyatanya Marcello emang gak waras otaknya.. buktinya dia sekalu berusaha memancing emosi Max...
Sandisalbiah
sadar gak kamu Max.. kalau sekarang terkontaminasi sikap leen yg cerewet.. krn Max sudah banyak omong saat bersama Leen
Sandisalbiah
sudah 3 thn Vio.. itu bukan waktu yg sebentar.. harusnya kamu bisa menilai bagaimana hubungan kalaian.. jgn terlalu percaya diri yg justru berakhir dgn menyakiti hatimu sendiri.. belajarlah dgn pengalaman selama 3 thn itu Vio
Sandisalbiah
yg terjadi justru di luar ekspektasi.. kirain Max bakalan syok plus terpukau lha.. endingnya malah duel maut 🤦‍♀🤦‍♀
Sandisalbiah
kebencian Maxwell pd Ayahnya membuat siapapun yg berhubungan dgn tuan Marcello ikut terkena imbas kebencian Max..
Sandisalbiah
emang ya thor.. setiap baca karya mu itu selalu di sambut dgn sikap sadis tokoh utama pria.. yg selalu bikin naik darah dan emosi tingkat dewa dgn sikap kejamnya.. setiap di awal cerita selalu di suguhin dgn sifat iblis nya tp di akhiri dgn sikap hello kitty pas bucin ke pasanganya.. haish.. tp tetep selalu emosi
Sandisalbiah
Max memang membawa Leen utkmu Vio tp itu krn paksaan tuan Marcello seperti biasanya
Sandisalbiah
hem.. pertama kali Max bersikap manusiawi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!