Putri bodoh yang satu ini berubah total dalam waktu semalam! Setelah ini dia bertekad untuk membalaskan semua rasa sakitnya satu-persatu. Lalu ditakdirkan hidup sebagai permaisuri? oh, tidak masalah karena ada pria tampan berkuasa yang akan membantunya sampai akhir.
NO PLAGIAT!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelangizigzag, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Night In the Past
Mikayla tiba-tiba terbangun dan terduduk di atas kasur kerasnya. Bulir air keringat membasahi sekujur tubuhnya yang tersengal hebat akibat mimpi yang bisa ia katakan. Begitu nyata. Apapun itu, sekarang Mikayla berniat untuk memberitahukan hal tersebut kepada Aidenloz.
Gadis itu dengan cepat memakai jubah yang menggantung di salah satu tiang di ujung ranjangnya. Udara malam di Aldergo sangatlah dingin mengingat letak kerajaan ini pun berada di sebelah barat laut yang hanya berbatasan sebuah lautan dengan Kerajaan Othanium yang juga tak kalah dinginnya seperti Kerajaan Es Domania.
Mikayla tidak bisa berfikir jernih. Dengan perasaan was-was, ia mengendap-endap keluar dari kamarnya yang juga berisikan sepuluh pegawai dapur lain yang bercampur antara pria dan wanita. Tertidur pulas. Dengan perlahan, dibukanya pintu kamar tanpa terdengar sedikit pun dan keluar dengan mudah.
Di sepanjang lorong, Mikayla melangkah lebar-lebar. Terkadang ia harus bersembunyi saat beberapa pengawal hilir mudik saat berganti jam tugas. Tak terlalu sulit, sering bersama dengan Aidenloz mengajarkan Mikayla banyak hal, termasuk cara berjalan yang tidak akan mengeluarkan suara sama sekali, sama seperti yang dilakukan Aidenloz kala mereka berjalan bersama.
"Bagian Selatan istana kekurangan pengawal. Kalian ke bagian sana, mengerti?"
Mikayla buru-buru menyembunyikan dirinya lagi di balik pilar putih yang berpijak di salah satu sudut ruangan. Menajamkan matanya, Mikayla bisa menghitung jumlah pengawal yang berada tak jauh darinya. Ada lima. Melawan mereka di waktu yang seperti ini sangatlah tidak tepat karena hanya akan memancing keributan dan membangunkan pengawal lainnya. Tidak efektif, hanya memunculkan masalah baru. Maka Mikayla memutuskan untuk membiarkan mereka untuk pergi dengan sendirinya.
Mereka sudah pergi untuk menjalankan tugas masing-masing. Lagi, Mikayla memperhatikan sekelilingnya. Sepi. Ia harus cepat-cepat pergi sebelum pengawal yang lain akan memergokinya.
Menurut yang dikatakan oleh Arnold, kepala Pengawal yang pagi tadi menyeretnya, ruang tamu kerajaan berada di sebelah timur istana. Mikayla bahkan tak mengetahui di mana letak kamar Aidenloz dengan pasti karena mereka berpisah saat di depan pintu gerbang istana. Haruskah ia mengecek kamar satu-persatu?
Sebuah tangan tiba-tiba membekap mulut Mikayla. Gadis itu sempat memberontak namun akhirnya memilih untuk diam saat aroma dari parfum spesial yang paling ia kenal menguar dari tubuh seseorang yang berada di belakangnya. Tidak salah lagi, Áidénloz.
Aidenloz membawanya menuju kamar, tepatnya di balkon yang mengarah langsung pada taman mawar putih yang berkilau tertimpa cahaya bulan. Kamar Aidenloz sendiri pun memang jauh lebih baik daripada kamar Mikayla. Dengan dua buah sofa kulit yang mengitari meja kecil semakin mempercantik tampilan kamar, tak lupa dengan kasur yang cukup untuk ditiduri oleh dua orang dewasa. Sedangkan kamar Mikayla, ia hanya bisa tidur dengan posisi miring karena keterbatasan ruang bersama pelayan-pelayan lain.
Ah, lupakan. Bukan hal itu yang akan Mikayla bahas saat ini.
"Berjalan sendirian tidak cukup aman di sini, asal kau tahu," ucap Aidenloz, "Ada hal penting sampai kau ingin datang ke mari?" tanya Aidenloz untuk membuka percakapan. Langsung pada intinya.
Mikayla mengangguk. "Aku tak bisa menunggu sampai pagi," sahutnya serius, "Kau ingat saat kali pertama aku berada di istana Eroshvent?" Mikayla menghela napas, "Mimpi yang bisa dikatakan sangat nyata. Lagi-lagi aku mengalami hal serupa di tempat berbeda."
Aidenloz terdiam. "Jika kau tak keberatan, ceritakan saja padaku."
...----------------...
Hujan deras disertai guntur yang menyambar-nyambar liar tak begitu diindahkan hingga malam semakin larut. Senyum cerah sudah menghiasi setiap sisi istana sejak sore hari, sejak sang Dewi mulai merasakan kontraksi pada perutnya.
Tangis pertama sang bayi semakin menarik perhatian angin ribut untuk meluluh lantakkan Istana sang Dewa. Dalam beberapa menit, guncangan dari tanah semakin meningkatkan kewaspadaan masing-masing. Kali ini seorang Dewa dari daratan lain datang ke Istana mereka, bukan untuk memberikan ucapan selamat atau hadiah kepada putri kecil sang Dewa Dominosh, melainkan susunan rencana untuk melenyapkan seluruh daratan Othanium dan Domania beserta pasukannya.
"Daminosh! Serahkan putri sialanmu itu padaku atau kuratakan Benua Othanium dan Benua Domania sekaligus!" Bentak Dewa Armor, dewa dari Benua Armovin.
Dewa Dominosh masih berdiri tenang. Wajahnya tak menampilkan gentar sedikitpun. "Anda terlalu berlebihan. Lagipula keputusan sudah mutlak, Anda bisa apa?"
Armor, dewa dari Armovin terkekeh kering. Namun tak lama ekspresinya kembali berubah menjadi amarah tak terbendung. "Kau salah! Tetua sudah mengatur bahwa putriku lah yang akan menjadi Permaisuri selanjutnya. Tapi karena hubunganmu dengan Dewi Otharia, semuanya gagal! Putrimu merenggut hak putriku, Dewa Dominosh!" Raungnya sambil menghempaskan tali kekang kuda roh yang tak memijak bumi dan turun dari sana. Ia menunjuk marah pada Dewa Dominosh. "Kau! Kau lah orang yang bertanggung jawab atas kemalangan yang menimpa putriku!"
"Kau tak berhak mengatur apa pun itu, Armor. Camkan baik-baik!" Dewa Dominosh menyarungkan pedangnya kembali, "Aku tahu kedatanganmu ke mari tidaklah tulus. Mungkin tak masalah bagimu saat hak pernikahan itu hilang. Tapi di baliknya ... kau tak ingin melepaskan kesempatan untuk menjalin hubungan dengan Kaisar Aldebaran, 'kan?"
Diam-diam Dewa Armor menarik pedangnya lalu menghunus Dewa Dominosh. Bagitu juga dengan para prajuritnya yang menyerbu tanpa aba-aba seolah semua ini sudah diatur sejak awal. Pertumpahan darah tak terelakkan lagi. Peperangan antara Dewa-dewi Benua Erosh dimulai.
...----------------...
"Kau yakin hanya mengingat hingga di bagian itu?" tanya Aidenloz memastikan. Laki-laki itu menuangkan secangkir teh dari dalam teko tembikar yang masih mengepulkan uap panas untuk Mikayla.
"Dan ingatanku tentang kamar kaisar. Aku belum menemukan hubungannya dengan peperangan itu." Mikayla menyesap pelan teh nya dengan kedua tangan. "Malam itu, Dewa Armor sangat marah karena calon pengantin Kaisar berubah. Para tetua tiba-tiba berubah pikiran dan menetapkan bahwa putri Dewa Domania dan Dewi Otharium lah yang akan menjadi Permaisuri selanjutnya menggantikan posisi Putri tunggal Dewa Armovin."
"Dewa hanya ingin yang terbaik untuk benua ini," sahut Aidenloz rasional, "Apakah kau ingat ke mana di bawanya sang Putri Dewa Domania dan Dewi Otharium?"
Mikayla menggeleng pelan. "Entahlah, aku ragu dia masih hidup."
Aidenloz tersenyum miring. "Bayi Dewa Domania terpaksa digiring menuju Istana Erosh. Tepatnya langsung di kamar Kaisar."
Gerakan Mikayla saat ingin memperbaiki mantelnya terhenti. "A-apa?" Ia berdehem, "Maksudku, kenapa Sang Putri harus diletakkan di peraduan Kaisar. Bukankah ada banyak kamar lain?"
"Ada sebabnya." Udara yang keluar dari mulut Aidenloz beruap. Suhu semakin menurun hingga malam semakin dingin. "Hanya kamar Kaisar yang tidak bisa dimasuki oleh para dewa. Hal itu untuk mencegah perilaku yang mungkin tak dapat di prediksi dari seorang Dewa Armovin yang memang memiliki tempramental buruk."
Aidenloz melanjutkan. "Tapi Dewa Armovin tak kehabisan akal. Ia menggunakan tangan orang lain untuk meluruskan ambisinya."