Ini tentang Anin yang berusaha menjaga api cinta dalam rumah tangganya agar tetap menyala kala badai datang menggoyahkan–menguji cinta dan keutuhan rumah tangganya dengan Harsa yang telah banyak memberi bahagia. Haruskah ia gadaikan cinta mereka dengan perasaan sesaat?
....
Kamu adalah cinta yang datang layaknya hujan, membasahi saat aku merasa paling gersang. Namun, sayangnya kamu pergi bagai puing yang belum pernah sempat kugenggam.
~Sekala Bumi
....
Aku pernah tersesat diantara persimpangan gelap, kamu hadir menemukanku diantara pekatnya malam yang hampir menelan. Sayangnya diantara ribuan pilihan kau malah meninggalkanku sendirian tanpa pernah kau perjuangkan.
Kini ... aku tak lagi sama. Ragaku telah bertuan, walau pada kenyataannya separuh hatiku masih ingin menggenggammu.
~Anindyaswari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Senada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Yang Katanya Liburan 2
Di tengah suasana sore yang sejuk dan menenangkan itu Anin menyetujui usulan Nana untuk berfoto, mengabadikan moment katanya. Lalu mereka bergantian saling memotret. Tak lupa pula foto dan berselfie bersama. Juga memotret kebersamaan ia dan keluarga kecilnya. Harsa pun antusias menuruti. Ya, walau kadang ekspresinya datar seperti kanebo kering, tapi Anin suka karena memotret Harsa adalah hal yang langka. Padahal, bagi Anin suaminya itu tampan, tapi agak anti kamera. Makanya kadang Anin sering memotretnya diam-diam dan agak memaksa untuk mengabadikan kebersamaan.
Setelah itu mereka berempat lalu pergi mencari Laksmi dan Gita yang ternyata sedang menemani anak mereka bermain di water boom setelah dari melihat tanaman hias katanya.
Sementara Nana, dia yang tertarik malah ikutan mandi setelah terlebih dulu ambil baju untuk ikut renang bersama bocah-bocah tetangga dan kedua ibunya.
Lalu para bapak-bapak tampak sibuk duduk di gazebo. Tak ketinggalan Harsa ikut bergabung untuk sekedar berbincang saat para wanita itu kembali sibuk berswafoto, meski Anin tak ikut mandi, tapi mengabaikan momet bersama tentu tak boleh ketinggalan.
“Kamu beneran gak mau gabung main air, Nin?” tanya Laksmi yang sudah kembali turun ke air setelah tadi hanya duduk di pinggir kolam saat Anin mengajak berselfie.
“Tuh, Zura kelihatan mau turun,” celetuk Gita sambil menunjuk ke arah Zura yang nampak merengek untuk turun dari gendongan Papanya.
Anin tersenyum melihat tingkah duplikat dirinya yang kalau sudah ingin sesuatu maka tak bisa ditolak, ia lalu menggeleng sambil menyelipkan rambut ke telinga. Kembali fokus pada yang mengajak mengobrol.
“Nggak dulu deh, mbak. Aku lagi males kena air.” Anin menggeleng tidak, begitulah kenyataannya.
Tadi dia memang ingin bermain air, tapi sekarang sudah tidak lagi. Ia terlanjur lelah duluan memikirkan repotnya berganti baju, mencuci dan menjemur. Ia tak ingin liburan yang ditujukan untuk bersantai ini harus repot-repot melakukan kesibukan rumah tangga. Ia hanya ingin bersantai.
“Ya elah, Nin. Males mulu lu, sini lah gabung sama kita!” desak Nana yang tengah asyik berenang dengan gaya mengambang. Hanya ia yang tak berkeluarga di antara mereka, membuat Nana terlihat lebih seperti anak-anak di antara mereka yang berkeluarga.
“Nggak, nggak, nggak dulu.” Anin menjawab dengan setengah bersenandung. Wanita berambut panjang hitam kecoklatan yang tergerai itu mengarahkan tangan menyentuh air lalu mengarahkan siraman ke Aldo, Putri dan Dafa. Anak-anak tetangganya itu lantas ketawa karena serangannya.
“Aih, jangan dong. Aku basah nih.” Anin terkekeh sambil menjauh dari sisi kolam saat anak Laksmi dan Gita itu malah kompak balik menyerangnya.
“Makanya ayo gabung sini onty,” ajak Aldo, anak laki-laki Gita yang baru kelas satu SD itu memang cukup dekat dengan Anin yang mudah bergaul dengan anak-anak.
“Iya ih, onty Anin gak asyik. Gak mau gabung sama kita.” Bahkan anak perempuan Laksmi yang sudah kelas dua SD itu ikut menimpali.
“Emmm, besok deh, sekalian ajak Zura juga. Kalau sekarang udah sore.”
“Ma, besok mandi sini lagi ya!” seru ketiga anak-anak tersebut, mereka butuh kepastian. Yang mana membuat ibu mereka memutar mata malas, kalau soal mandi di kolam begini anak-anak seperti mereka memang jelas suka.
“Iya, besok mandi lagi sama Zura juga.“
“Noh, Nin. Lu udah janji sama bocah-bocah ini, jadi harus ditepati!” Nana memperingatkan. Kalau soal mengingatkan janji, Nana memang ahlinya.
“Iya deh, iya. Besok ya!”
Nana manggut-manggut dengan mata memicing, menyorot Anin agar tak lupa menepati janji, Ia tahu Mama muda satu ini memang suka mager. “Tuh, lihat Zura makin merengek minta diturunin Papanya,” lanjut Nana yang gemas melihat anak Anin itu makin tantrum.
Harsa tampak kewalahan mengatasi Zura, membuatnya yang tadi asyik berbincang sejenak memilih mendekati Anin.
Anin menghela napas lalu meraih sang anak dari Harsa. “Udah sore banget ini, tadi Zura udah mandi kan? Jadi gak boleh mandi lagi,“ ia mencoba membujuk.
“Kita naik sepeda lagi yuk, terus ke mini zoo, lihat kuda.” Tak ketinggalan Harsa juga ikut membujuk.
Tak mau berlama-lama di sana agar Zura tak semakin tantrum dan merengek terus mau bergabung main air, Anin dan Harsa kembali melanjutkan perjalanan. Mengajak Zura ke mini zoo yang juga ada di kawasan itu. Tak lupa mengabadikan momen bersama beberapa hewan yang ada.
“ini namanya apa, Ra?” tunjuk Anin pada seekor Zebra.
Zura tersenyum melihat hewan bercorak garis putih itu. “Ziba,” jawabnya dengan suara khas cadel. Anin senang karena sering mengajarkan banyak nama binatang beserta gambarnya Zura jadi hafal begini.
“Suaranya gimana, hayo?” timpal Harsa sambil menatap wajah riang Zura dalam gendongannya.
“hi hi.”
Celotehan Zura membuat keduanya tertawa, lalu lanjut menunjuk satu persatu hewan yang ada. Mereka tampak kompak dan harmonis.
“Di sini ada area berkuda juga ternyata,” celetuk Harsa saat mereka sudah kembali melanjutkan perjalanan, tengah melewati area berkuda. “Tau gitu langsung ke sini aja tadi,” lanjutnya yang memang tertarik dengan hal-hal seperti ini. Ia senang berkuda.
“Besok kan masih bisa,” sahut Anin. Ia merespon persis seperti kalimat Harsa tadi saat ia mengungkapkan ingin memcoba flying fox dan renang.
Harsa menoleh dengan bibir menahan senyum mendengar kalimat Anin, ia berkata, “Naik bareng, ya, besok.”
“Ah, nggak. Aku takut, nanti kalau jatuh gimana.” Anin menimpali cepat.
“Ya, nggak akan jatuhlah.”
“Nggak ya, mas. Aku takut, Ada Zura juga, gimana mau naik kuda sambil bawa anak?”
“Ya, bisa lah.”
“Nggak, aku takut. Kamu aja sendiri kalau mau. Nanti kudanya ngamuk gimana?”
“Ya, gak akan sampai ngamuk lah kalau gak dibikin marah.”
“Tau ah, terserah. Pokoknya aku gak mau!” mutlak Anin mengatakan keputusannya. Ia tak ingin berdebat dan kembali naik ke sepeda listrik dan melajau. Di susul dengan Harsa yang kini sudah sejajar berada di sampingnya.
“Mama cemen ya, Zura, ya. Masa naik kuda aja takut, padahal belum dicoba juga.”
Anin memutar mata mendengar ucapan suaminya yang seperti orang tengah bergibah tentangnya dengan anaknya sendiri.
“Naik kuda tuh olahraga keren. Besok Zura harus ikut sama Papa, ya.”
“Nggak, ya,” sela Anin yang tak setuju dengan kalimat Harsa. Matanya sudah menoleh nyalang memberi peringatan. Sementara Zura dengan wajah polosnya hanya tersenyum sambil menatap wajah orang tuanya secara bergantian. Apalagi Harsa malah menampakkan wajah menantang pada Anin yang tampak akan marah karena ide yang ia sampaikan.
“Kalau kamu mau naik sendiri aja, mas. Gak usah ajak-ajak Zura. Bahaya!”
“Gak bahaya, kan sama aku. Ya kali aku gak jagain anakku.”
Namun, Anin sama sekali tak berniat meladeni ucapan Harsa yang baginya sangat ngeyel. Suaminya kalau sudah mode begini akan sulit diajak berdebat, ia tahu hal ini hanya akan membuatnya emosi. Jadi, ia yang tak ingin menguras emosi dan tenaga lagi, memilih tak peduli. Anin ingin menikmati liburannya dengan tenang dibanding mendebat Harsa.
Beberapa saat terdiam dengan menikmati pemandangan sambil larut dalan pikiran sendiri yang diiringi suara Zura dan Harsa yang sibuk mengobrol, Anin lalu tiba-tiba berceletuk, “daripada ajak naik kuda mending ajak aku main panahan aja, mas. Tuh!” tunjuk Anin pada area panahan di sisi kanan jalan yang mereka lalui.
Harsa ikut menoleh ke mana Anin menunjuk. Tatapannya berbinar, ia tampak antusias. Intinya dia suka semua hal seperti ini.
“Ayo kalau kamu mau coba.”
“Kamu bisa emang?”
Harsa mencebik melihat wajah Anin yang tampak meremehkan, tak percaya pada kemampuannya. “Perlu ibu Anin ketahui, suami Ibu ini multitalenta, bisa semua!” celetuknya dengan sombong yang mana membuat Anin memutar mata malas, agak muak dengan tingkat percaya diri suaminya yang kadang-kadang ini.
“Iyain aja, Papa Zura lagi gak jelas.”
Dan Harsa pun hanya terkekeh puas melihat reaksi sang istri.
Mereka lalu berjalan menuju area panahan yang di kelilingi oleh pagar berupa jaring transparan yang tinggi. Harsa langsung siap bermain setelah seorang petugas membantu membawa peralatan, lalu memberikan beberapa arahan dan panduan teknik dasar, serta harus memerhatikan safety.
“Jadi, saya gak perlu awasi di sini kan, Mas?” tanya petugas tersebut memastikan sebelum benar-benar ke luar dari area yang Harsa dan Anin tempati, seperti sebuah ruangan, hanya saja agak semi outdoor.
Harsa mengangguk meyakinkan. “Iya, mas. Aman,” kata Harsa dengan mantap setelah menyampaikan keinginannya dan meyakinkan bahwa ia bisa melakukannya sendiri dan cukup mahir.
“Oke, kalau gitu saya ke luar dulu. Kalau butuh sesuatu bisa langsung panggil. Terus kalau butuh minuman atau cemilan ringan, di kafe kami juga tersedia, ya.” Petugas itu menjelaskan dengan sangat ramah.
Harsa mengangguk smabil mengacungkan jempol, “oke, akasih Mas,” ujar Harsa ramah. Anin juga ikut tersenyum. Sejak tadi ia hanya diam sambil memerhatikan interaksi sang suami.
“Keren gak?” tanya Harsa narsis setelah berhasil memegang busur dan anak panahnya, lalu mengarahkanya pada bidik sasaran. Ia menoleh mengedipkan mata dengan percaya diri pada istrinya yang langsung mencebik julid. Anin duduk di kursi sambil memangku Zura yang tampak anteng, belum memaksa turun.
“Keren, udah cocok kamu jadi tentara. Mirip banget. Udah siap perang itu!”
Dipuji demikian membuat Harsa semakin tersenyum bangga, wajahnya tampak menyombongkan diri dengan ekspresi dibuat-buat.
“Kalau aku nurutin Papa dulu, mungkin kamu udah jadi salah satu bu-ibu Dharma Pertiwi.”
Anin manggut-manggut mendengar ucapan Harsa. Ia memang pernah bercerita bahwa dulu Papanya sempat tak setuju Harsa kuliah di Jakarta karena mertuanya itu ingin Harsa daftar jadi anggota TNI, sayangnya ia menolak dan lebih memilih jalannya sendiri sampai katanya berujung ambil jurusan Hukum, lalu jadi Jaksa.
“Nggak sanggup juga aku, mas, kalau harus jadi istri Prajurit, aku gak sanggup kalau harus ditinggal, gak sanggup LDR.” Anin bersyukur karena Harsa tak jadi Prajurit, meski mungkin bila Harsa menuruti keinginan sang mertua, belum tentu juga mereka bertemu dan berjodoh seperti sekarang.
Tak bisa Anin bayangkan bagaimana sulit dan tersiksanya menjalin hubungan jarak jauh, apalagi setelah pernikahan. Anin ingat, ia pernah, dan itu tak mudah. Ia tak sanggup.
Harsa balas hanya dengan tersenyum simpul mendengar ungkapan Anin. Sebenarnya mereka sama saja, ia pun tipe yang tak suka berjauhan dengan pasangan, apalagi dalam pernikahan. Ia tak sanggup. Senang Anin memiliki prinsip dan pikiran yang sama dengannya.
Harsa lalu membalik badan menghadap ke target sasaran. Ia mulai menarik busur, membidik, lalu dengan sekali tarik ia mengenai sasaran, tepat di titik terkecil paling tengah. Anin dibuat takjub.
“Ih, Papa hebat banget ya.” Anin bersorak sambil bertepuk tangan.
“Iya dong," Harsa menyahut bangga seraya menaikkan alis. Ia lalu melangkah mencium Zura yang membuat anak itu tergelak karena kelakuan usilnya.
“Nanti kalau Zura besar Papa ajarin ya, biar jadi perempuan keren yang bisa semua hal.” Harsa berujar mantap seraya mengepalkan tangan menunjukkan kobaran semangat. Tak lupa tatapannya beralih pada Anin, menatap dengan dalam sambil tersenyum. Anin pun membalas sama. Harsa senang, di saat begini ia selalu menyadari betap ia menyayangi istrinya. Membuatnya jadi menyesal telah mendebat Anin karena hal dress tadi. Tapi, yah sudah lewat. Ia juga gengsi mengakui sehingga memilih tak membahasnya lagi.
Tangan Harsa tergerak usil mengacak rambut Anin, lalu mencuri satu kecupa di keningnya. Membuat istrinya itu marah karena penampilannya dirusak dan saat Anin siap mengomeli ia langsung balik badan, bersiap kembali memanah.
“Kenapa sih suka banget ganggu, dikira gak jelek apa rambutnya kalau diacak-acak gitu,” omel Anin dengan menatap sosok yang sangat menyebalkan itu. Ia lalu menurunkan Zura, tangannya segera merapikan rambut yang diacak-acak Harsa.
“Candaan kamu tuh jelek banget, tau. Garing!” Anin mencibir. Kesal sekali karena Harsa memang suka sekali melakukan hal yang tak ia sukai. Seakan sengaja mengganggu agar ia marah dan mengomel. Lalu saat ia mengomel suaminya itu akan berkata bahwa ia marah-marah terus.
Sementara Harsa hanya bisa terkekeh tanpa rasa bersalah. Ia baru saja melepas anak panahnya saat Zura tiba-tiba memeluk kakinya. Ia lalu menoleh dan melihat Anin tengah sibuk merapikan rambut dan langsung sigap memegangi Zura, melepaskan busurnya.
“Kamu lagi yang coba, aku ajar.” Setelah meraih Zura ke gendongan, Harsa lalu mendekati Anin. Mencoba mengambil hatinya lagi agar tak marah. Tangan Harsa tergerak merangkul tubuh Anin yang tingginya sebatas lehernya.
“Gak!” Anin berujar ketus. Membuat Harsa gemas karena kalau sudah begini Anin benar-benar terlihat seperti abg labil yang sedang marah dan ia jelas akan kesulitan membujuk.
“Mama marah, Ra.” Harsa menatap wajah Zura lalu menunjuk wajah Anin dengan senyum puas. “Sehari berapa kali Mama marah-marah?” godanya lagi sambil terkekeh, bahkan Zura juga ikut berceloteh sambil menyentuh wajah Anin.
“Mama kalo ditanya hobinya apa pasti dijawab, ’hobi saya marah-marah, marah adalah keahlian saya.’.”
Harsa memang agak kurang ajar! Tawa Anin pecah seketika.
Diolok-olok seperti itu membuat Anin langsung mengusap wajah Harsa kasar, gemas dengan tingkah suaminya. Ia kemudian mengambil busur dan meraih anak panahnya.
“Gimana?” tanya Anin. Persis seperti gaya Harsa saat menanyainya tadi.
Harsa lalu melangkah maju dengan senyum mengembang. Gemas sekali ia melihat Anin seperti ini. Entah sejak kapan, tapi tanpa sadar Anin seakan selalu membalasnya sama persis. Entah menanyakan hal yang sama seperti yang ia lakukan, atau bahkan bersikap seperti bagaimana ia memperlakukan istrinya itu. Yang jelas ia merasa Anin selalu membalasnya kontan. Harsa semakin terkekeh menyadari akal bulus istrinya itu.
Tanpa melepas Zura, ia berdiri di sisi Istrinya. Tubuh mereka sangat dekat saat ia mulai membantu mengatur dan memposisikan tangan Anin dengan benar dan mengarahkannya membidik ke arah target.
“Tegakin badan, pegangnya yang kuat!” perintah Harsa seraya menyentuh punggung Anin untuk ditegakkan, membusungkan dadanya layaknya posisi siap. Harsa sudah seperti pelatih profesional yang membuat Anin ingin tertawa.
“Apanya yang lucu?” tanya Harsa heran, dia sudah kembali mode serius. Padahal yang diarahkan istri sendiri, tapi suasananya seperti sedang melatih orang lain secara sungguhan.
“Santai kali, mas. Kaku amat, kayak pelatih beneran aja,” ejek Anin tak habis pikir. Yang mana membuat Harsa langsung menyentil keningnya. Anin makin terheran-heran.
Kini suaminya itu agak membungkukkan badan. Tangan Harsa lalu tergerak membuka kaki Anin selebar bahu. “Rileks, jangan kaku! Kayak sama pelatih beneran aja!” Kini balik harsa yang membuat Anin semakin tergelitik. Sungguh Harsa membuat suasananya seperti ia seorang atlet yang sedang berlatih. Lagiz ia menyadari. Ternyata ia pun sama dengan Anin, selalu membalas persis seperti yang dikatakan dan dilakukan Anin. Pantas saja Anin begini, pada dasarnya mereka sama saja.
“Emang jagonya kamu kalau balikin kata-kata orang!” sergah Anin sambil memukul pelan bahu suaminya itu. Bahkan Zura pun nampak terkekeh melihat interaksi kedua orang tuanya.
Harsa tampak menahan senyum, ia pun menyadari itu. “Sama aja loh, kita, Nin. Kamu juga gitu.”
Anin manggut-manggut sambil mencebik. Memang benar, tapi ia memilih fokus saja. Diperlakukan begini rasanya seperti mereka tengah berkencan, tapi dalam versi halal.
“Dibilang pegang yang kuat juga, malah dilepas!” peringat Harsa, tangannya memukul pelan tangan Anin yang malah melepas pegangannya pada busur demi untuk memukulnya.
Yang mana membuat Anin langsung mengatupkan bibir, tawanya tertahan. Ia kembali memegang dengan benar sesuai arahan pelatih.
“Bidik!”
“Tarik tali busurnya sampai tangan kamu nyentuh dagu atau hidung kamu!”
Perlahan Anin mengikuti arahan suaminya sambil sesekali melirik dengan tawa tertahan. Membuat Harsa yang awalnya mode calm ujung-ujungnya malah ikut tertawa. Wajah Anin terlalu absurd baginya untuk tak ikut terseret arus kerandoman yang membuatnya bisa tertawa setiap saat. Perlu Harsa akui, kepribadian Anin yang periang dan cerewet sangat menyatu dengan ia yang biasanya cuek dan pendiam tapi jadi ikutan berisik jika sudah dengan istrinya itu.
“Aku tahu aku setampan itu, tapi kamu fokus aja ke depan liat arah bidikan.”
Dan, hell! Anin mencibir. Entah sejak kapan Harsa jadi senarsis ini.
“Lepas!”
Tembakan Anin sama sekali tak mengenai target, justru mendarat ke tanah, membuat Harsa menertawai kemampuan istrinya.
“Bener-bener ya mama kamu. Gak bisa diandalkan.” Harsa geleng-geleng kepala. Tangannya hampir mengacak-acak rambut lagi, tapi langsung Anin tahan dan diberi pelototan.
“Nih, aku gak bisa!” Anin memberikan busur pada Harsa lalu mengambil alih Zura. Ia menyerah, memilih duduk di belakang saat Harsa mulai membidik.
Namun, dering ponsel yang ditaruh di atas meja membuat Anin menyerngit saat membaca nama penelpon.
“Siapa yang nelepon?” tanya Harsa yang masih tetap fokus membidik.