NovelToon NovelToon
DI,BELAI SAHABAT SUAMIKU

DI,BELAI SAHABAT SUAMIKU

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Pernikahan Sora dan Rian terancam hampa akibat dinginnya sikap sang suami. Di tengah kesepian yang menghimpit, hadir Aris, sahabat masa kecil Rian yang perhatian dan selalu ada. Sentuhan lembut dan kehangatan Aris perlahan mengikis benteng pertahanan Sora. Sebuah kisah tentang godaan terlarang, dilema kesetiaan, dan gairah yang membakar di balik pintu tertutup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENANGKAPAN

"Aris! Buka pintunya! Kamu sudah tidak bisa lari lagi!"

Suara bentakan dari luar kamar beradu dengan bunyi hantaman keras yang membuat engsel pintu kayu jati itu mulai retak. Dentuman demi dentuman bergema di dalam ruangan, merobek atmosfer penuh tekanan yang sebelumnya mengunci Sora dan Aris.

Aris berdiri membeku di samping ranjang. Sorot matanya yang tadi dipenuhi rasa memiliki yang pekat, kini berkilat panik. Rahangnya mengeras, dadanya naik turun saat menyadari bahwa benteng kekuasaan yang dibangunnya selama bertahun-tahun runtuh dalam hitungan detik.

"Nggak... ini nggak mungkin," desis Aris dengan suara rendah yang bergetar.

Sora menggunakan kesempatan itu untuk menarik tubuhnya menjauh. Ia meluncur turun dari sisi ranjang yang lain, memeluk dadanya yang naik turun tak beraturan, dan menjauh sejauh mungkin dari Aris. Matanya tertuju pada pintu yang kian terdorong ke dalam.

"Sora, kemari!" panggil Aris dengan nada memerintah yang dipenuhi keputusasaan. Tangannya terulur ke udara, berusaha menggapai jemari Sora. "Jangan dengarkan mereka! Aku melakukan semua ini demi kita!"

"Jangan sentuh aku lagi, Aris!" teriak Sora dengan sisa tenaga dan keberaniannya. "Kamu penjahat! Kamu yang merusak seluruh hidupku!"

BRUK!

Pintu kamar akhirnya jebol dan terdorong paksa ke dalam. Dua petugas berpakaian preman bersama beberapa aparat kepolisian berseragam lengkap menerobos masuk dengan senjata teracung. Di belakang mereka, Rian melangkah masuk dengan wajah memar, rambut berantakan, dan pakaian yang kusut. Di samping Rian, berdiri seorang pria berstelan jas rapi—pengacara keluarga Sora yang sudah lama menghilang setelah kebangkrutan lima tahun lalu.

"Angkat tanganmu, Aris!" seru salah satu petugas kepolisian dengan nada tegas dan mematikan. "Kamu ditangkap atas dugaan penipuan skala besar, konspirasi kejahatan finansial, dan penyekapan!"

Aris perlahan mengangkat kedua tangannya ke udara, namun matanya tetap tertuju lurus pada Sora, mengabaikan moncong senjata yang mengarah padanya. Senyuman dingin dan miring perlahan muncul di bibirnya—sebuah senyuman yang memperlihatkan kegilaan yang selama ini tersembunyi rapi di balik topeng priyayi dan perhatian manisnya.

Rian berlari kecil mendekati Sora, mencoba merangkul bahu istrinya. "Sora! Kamu nggak apa-apa, kan? Aku bawa polisi ke sini, Ra. Aku yang dapat rekaman bukti itu dari pengacaramu!"

Namun saat tangan Rian menyentuh bahunya, Sora refleks menepisnya dengan kasar. Ia melangkah mundur, menatap Rian dan Aris bergantian dengan pandangan yang penuh rasa jijik dan kepedihan yang teramat mendalam.

"Jangan sentuh aku, Rian!" bentak Sora dengan air mata yang menetes deras. "Kamu sama saja bajingannya kaya Aris! Kamu tahu kan tentang rencana kebangkrutan itu? Kamu ikut menikmati penderitaanku selama tiga tahun ini!"

Wajah Rian mendadak pucat seketika. "Ra... aku... aku memang bersalah karena menerima tawaran Aris waktu itu. Tapi aku mencintaimu, Ra! Aku berusaha membahagiakanmu!"

"Membahagiakanku?" Sora tertawa tawar di tengah tangisnya, suara tawa yang begitu menyayat hati. "Kamu mengabaikan aku, kamu selingkuh di belakangku, dan kamu jadikan aku tawanan di rumahmu sendiri! Kalian berdua cuma menganggap aku barang taruhan!"

Dua petugas kepolisian bergerak cepat mendekati Aris, memiting kedua tangannya ke belakang dan memasangkan borgol besi yang berbunyi nyaring. Aris tidak melawan, namun matanya sama sekali tidak lepas dari Sora.

"Kamu pikir kamu bisa bebas dari sini, Sora?" bisik Aris saat polisi menyeretnya melangkah melewati Sora. Suara baritonnya terdengar tenang namun mengandung ancaman yang membuat bulu kuduk merinding. "Pernikahanmu hancur, keluargamu hancur... dan kamu nggak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain kenangan tentangku."

"Bawa dia keluar!" perintah perwira polisi tegas, memotong ucapan Aris dan membimbingnya keluar dari unit penthouse.

Kini ruangan itu menyisakan Sora, Rian, dan pengacara keluarga. Suasana mendadak menjadi begitu hening dan hampa, hanya diselimuti oleh suara helaan napas Sora yang terengah-engah.

Rian mencoba melangkah mendekat lagi dengan raut wajah memohon. "Sora... tolong berikan aku kesempatan kedua. Kita bisa mulai dari awal. Aku akan perbaiki semuanya..."

Sora mengusap air mata di pipinya dengan kasar. Ia menegakkan tubuhnya, menatap Rian dengan tatapan dingin dan tanpa keraguan sedikit pun—sebuah tatapan dari seorang wanita yang telah kehilangan segalanya, namun berhasil menemukan kembali harga dirinya di tengah reruntuhan.

"Tidak ada kesempatan kedua, Rian," ucap Sora datar, suaranya kini begitu tenang namun setajam sembilu. "Besok, surat cerai itu tetap harus kamu tanda tangani. Dan kalau kamu mencoba menahanku lagi... aku tidak akan ragu membawa bukti keterlibatanmu ke jalur hukum bersama Aris."

Rian membelalakkan matanya, mulutnya terkatup rapat tak mampu membalas sepatah kata pun. Ia menyadari bahwa wanita lembut yang dulu bisa ia kendalikan kini telah mati, digantikan oleh sosok tegar yang tak lagi bisa disentuh oleh manipulasi mana pun.

Sora berjalan melangkah melewati Rian tanpa menoleh sedikit pun. Ia mengambil tas tangannya yang tergeletak di meja ruang tamu, membiarkan pintu penthouse terbuka lebar, dan melangkah masuk ke dalam lift sendirian.

Ketika pintu lift perlahan merapat, memutus pandangannya dari Rian yang berdiri mematung di koridor, Sora memejamkan matanya rapat-rapt. Sebuah helaan napas panjang mengalir dari dadanya—sebuah helaan napas keputusasaan yang bercampur dengan kebebasan sejati yang baru pertama kali ia rasakan setelah bertahun-tahun terkurung dalam jerat dua pria beracun.

Satu bulan kemudian.

Suasana sebuah galeri seni kecil di pinggiran Jakarta tampak begitu tenang. Sinar matahari sore menerobos masuk melalui jendela kaca besar, menyinari deretan kanvas lukisan bernuansa hangat yang terpajang rapi di dinding.

Sora berdiri di depan sebuah kanvas kosong berukuran besar dengan kuas di tangannya. Ia mengenakan gaun simpel berwarna putih dengan celemek lukis yang agak kotor oleh goresan cat air. Wajahnya tampak jauh lebih segar, matanya memancarkan kedamaian yang sudah lama hilang, walau bayang-bayang masa lalu sesekali masih melintas pelan.

Proses perceraiannya dengan Rian telah selesai, dan aset keluarganya yang sempat disita perlahan mulai dipulihkan oleh tim hukum. Sora memilih meninggalkan seluruh kemewahan semu masa lalunya untuk memulai hidup baru yang mandiri.

Kring...

Suara lonceng di atas pintu masuk galeri berdenting lembut, menandakan seorang pengunjung baru saja melangkah masuk.

Sora membalikkan badannya sambil menyunggingkan senyuman ramah yang tulus. "Selamat sore, ada yang bisa saya bantu—"

Kalimat Sora terhenti di udara. Matanya membelalak pelan saat melihat sosok pria tegap berstelan kemeja kasual yang berdiri di ambang pintu galeri. Pria itu memegang seikat bunga matahari segar dengan tatapan mata yang sangat hangat dan asing.

"Maaf mengganggu... apakah ini galeri milik Mbak Sora?" tanya pria itu dengan suara yang tenang dan sopan.

Sora menelan saliva pelan, dadanya berdebar—bukan karena ketakutan, melainkan oleh sebuah ketidakpastian baru yang kini membayang di hadapannya.

"Iya, benar... Saya Sora. Ada yang bisa saya bantu, Mas?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!