Aira, siswi pindahan dari Surabaya yang mampu mengaduk-aduk hati Rafka. Cowok berandal itu sudah jatuh cinta pada pandangan pertama.
Sial memang saat cewek incarannya ternyata saudara kembar musuh bebuyutannya. Semakin rumit karena Aira menaruh hati pada kakak laki-laki Rafka.
Mampukah Rafka memperjuangkan cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itta Haruka07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Aira tidak bisa tidur meski tubuhnya begitu lelah. Tangan Rafka yang memeluk perutnya memang belum membuatnya terbiasa, tapi sebagai istri Aira juga tahu, saat ini Rafka berhak sepenuhnya atas dirinya.
Gadis itu memiringkan tubuh, membelakangi Rafka yang entah benar-benar tidur atau tidak. Jantung Aira berdebar tidak karuan, maklum saja ini kali pertama ia tidur bersama laki-laki.
Ia memberanikan diri menyentuh tangan Rafka. Tiba-tiba ....
"Ay, kamu belum tidur?" Rafka mengangkat sedikit tubuhnya, mengintip istrinya yang tiba-tiba sudah memejamkan mata. Akan tetapi, Rafka tahu, Aira sedang pura-pura tidur.
"Duh, enaknya punya istri. Bisa dipeluk-peluk gini." Rafka mengeratkan pelukannya di tubuh sang istri. Satu tangannya menyingkirkan rambut panjang Aira dari lehernya, lalu ia menciumi tengkuk gadis itu. Hanya mencium, tidak lebih.
"Ah, Rafka geli." Aira menoleh pada cowok di belakangnya.
Rafka tersenyum manis. "Kenapa Ay, aku kira kamu udah tidur?"
Aira mengubah posisi tidurnya menjadi telentang, menatap ke langit-langit kamar hotel yang sudah remang-remang, karena Rafka tadi mematikan lampu.
"Kita beneran udah nikah ya Raf, aku nggak nyangka aja, masih agak aneh waktu tidur dipeluk kamu." Aira mengatur napasnya, sekaligus debaran di hatinya. Bahkan aroma cowok di sampingnya masih terasa asing dan membuatnya kesulitan memejamkan mata.
"Ay, wajar kok kalau kamu merasa aneh, kita nikah bahkan nggak ada persiapan apa-apa. Tapi Ay, aku tetap suami kamu, biasakan diri kamu untuk tidur dalam pelukanku, Ay. Sampai nanti kamu terbiasa dan akan merasa aneh lagi kalau aku nggak ada," ucap cowok itu yang semakin mempererat pelukannya pada tubuh Aira.
Aira tersenyum, lalu untuk pertama kalinya ia memberanikan diri untuk mencium suami tampannya itu. "Tidur yuk, Raf."
"Iya Ay, aku kelonin ya," kata Rafka. Kemdudian ia mengecup kening Ayra, sama seperti yang ia lakukan saat setelah ijab kabul tadi. "Good night, Ayang."
Bukannya memejamkan mata, Aira malah semakin senyum-senyum tak jelas.
*
*
*
Bagun pagi pertama setelah menjadi istri terasa begitu aneh bagi Aira. Gadis itu membuka mata secara perlahan, ia bisa merasakan tangan Rafka yang menggenggamnya. Aira menoleh ke belakang, melihat wajah teduh suaminya yang masih terlelap. Pergerakannya secara spontan, ternyata bersentuhan dengan sesuatu yang terasa aneh di bawah sana.
Aira bangun lalu membuka selimutnya. Tidak ada yang aneh, kecuali Rafka yang hanya memakai bokser. Sejak kapan suaminya itu melepas celananya? Seingatnya sebelum tidur, Rafka masih memakai celana levis selutut, bukan bokser gambar pisang seperti yang saat ini ia lihat, dan apa itu yang begitu menonjol di balik bokser?
Aira menggeleng, memukul pelan kepalanya dengan keempat jarinya. Otak Aira tidak mau membayangkan yang tidak-tidak.
"Ay."
Suara serak itu membuat Aira menoleh ke belakang. Rafka sedang tersenyum, dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya. Ia merentangkan tangannya, berharap Aira akan memeluknya.
Aira yang paham, langsung menghambur dalam pelukan suaminya.
"Raf, kamu mimpiin apa?"
"Mimpi, mimpi apa ya?" Rafka membaringkan tubuh Aira ke samping, lalu mengunci pergerakan Aira dengan kakinya. Tentu saja Aira bisa merasakan sesuatu yang menonjol dari tubuh Rafka itu menyentuh pahanya.
"Ih, Rafka. Anu kamu bangun, pasti mimpiin yang aneh-aneh."
"Ini normal Ay, ini tuh hormon." Rafka berbisik di telinga Aira, membuat gadisnya itu merasakan sensasi geli.
Karena tidak tahan dengan yang dilakukan Rafka Aira berbalik, menghadap suaminya. Keduanya kini sama-sama berhadapan. Rafka tiba-tiba memejamkan mata, lalu perlahan-lahan ia memajukan wajahnya, sampai bibir mereka saling bertemu. Rafka langsung mencicipi rasa manis dari bibir Aira yang belum pernah ia rasakan.
Saat bibir Rafka menikmati bibir bawah Aira, gadis itu tiba-tiba mendorong tubuh Rafka. Sontak saja, Rafka jadi kebingungan menatap gadisnya.
"Kenapa Ay, aku nggak akan melakukan lebih kok. Aku cuma ...."
"Kamu bau rokok." Aira bangun dari kasurnya, lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Gadis itu menangis setelah mengunci pintu dan menyalakan shower.
🦋🦋🦋🦋
Hayo loh, apa ya yang buat Aira nangis.
Jangan lupa jempolnya, aku biarkan kalian berekspektasi. Berpikiran liar wkkkk.