Sang kekasih yang dinanti Ternyata mengingkari janji. Kesetiaan Cempaka hanya berbuah duka berbunga nestapa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosa_Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inikah cinta?
"Aku akan menemuimu juga kedua orangtuamu, tunggu aku ya!... Aku akan segera datang untukmu" Bisik Samudera, sebelum dia beranjak pergi meninggalkan rumahnya Mawar di malam itu.
"Aku tunggu " Jawab Cempaka
tak kalah pelan.
"Sudah!... Sudah!... Bisik-bisik terus! Bisikin apa sih?" Mawar menegurnya.
"Pingin tahu saja" Ujar Samudera.
"Aku pulang dulu ya!... Sampai besok, Assalamualaikum" Ucap Samudera sambil beranjak dari rumahnya Mawar.
"Waalaikumsalam...." Sahut Cempaka dan Mawar bersamaan.
Sepulangnya Samudera, Mawar dan Cempaka masuk ke dalam kamarnya.
Semua baju dan barang-barangnya Cempaka sudah di kemas dengan rapi.
"Besok kamu ada acara enggak?"
Tanya Cempaka sambil merebahkan badannya di atas kasur.
"Enggak ada, tadi aku sudah ngajak Randu untuk mengantarkan kamu pulang" Ujar Mawar, diapun merebahkan badannya di samping Cempaka.
"Baiklah kalau begitu, tapi tidak mengganggu kalian kan? Takutnya malah merepotkan" Cempaka berbasa-basi.
"Alah...Sok basa-basi, paling juga biar berduaan dengan Samudera ya?... Eh!... Tadi dia bisikin apa sih? Sebelum dia pulang" Mawar menyelidik.
"Tahu aja" Ucap Cempaka sambil tersenyum.
"Pasti malam ini ada dua orang yang tidak bisa tidur dengan nyenyak" Ucap Mawar menyindir
sahabatnya.
"Sok tahu ah!" Ujar Cempaka sambil menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya.
Perkataan Mawar memang benar adanya, Sa'at itu Cempaka sulit untuk memejamkan matanya.
"Ya Allah... Semoga saja tugas yang diberikan oleh bapakku ini membawa berkah, biar aku tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Semoga saja dia itu pengganti Buana yang mencampakkan aku begitu saja. Ya Allah... Apakah ini yang namanya cinta?" Bathin Cempaka.
Tak berbeda dengan Samudera, dia pun merasakan hal yang sama. Dia gelisah sendiri, matanya menatap langit-langit kamarnya, sambil tersenyum membayangkan seraut wajah cantiknya Cempaka.
Hingga jam dua dini hari, baik Cempaka ataupun Samudera. Keduanya sama-sama membayangkan wajah masing-masing, dengan senyuman tersungging di bibirnya.
Keduanya merasa tidak sabar
ingin segera menjelang pagi.
*
Keesokkan harinya, tepat jam sembilan pagi. Cempaka berpamitan kepada bu Dahlia, ibunya Mawar dan keluarganya.
Dengan di antarkan oleh Mawar, Randu dan Samudera, Cempaka pulang ke rumahnya yang berada di kampung hilir.
Dia kembali lagi ke kampung halamannya, dengan membawa kenangan yang teramat indah, dan tak mungkin bisa di lupakan. Karena telah menemukan seseorang yang begitu membuat hatinya bergetar tak menentu.
Rasa yang begitu indah terasa, rasa yang baru kali ini dia alami.
"Assalamualaikum... Bu, aku pulang" Ucap Cempaka setelah mereka tiba di rumah.
"Waalaikumsalam..." Suara Si bungsu Seruni yang menyahut, dan kemudian membukakan pintu untuk Cempaka dan teman-temannya.
"Bu, Kak Cempaka sudah pulang bu, kak apa kabar?..."Seruni memeluk Cempaka.
"Alhamdulillah baik, gimana kalian di sini?" Balas Cempaka balik bertanya.
"Kami baik-baik saja kak, ayo masuk kak!" Ucapnya lagi.
"Ayo War!... " Cempaka menarik lengan sahabatnya itu untuk masuk.
"Sebentar ya, aku simpan dulu barang-barangku" Ujar Cempaka hendak menyimpan barang-barangnya ke dalam.
Dengan sigap Samudera segera mengambil tas besar itu.
"Biar aku saja yang bawa ya, ini berat lho!" Ujarnya sambil menenteng tas bawaannya Cempaka, yang sejak dari rumahnya Mawar, dia yang menenteng nya.
"Dengan senang hati" Cempakapun menyerahkan tasnya kepada Samudera. Sedangkan dia berjalan melenggang di depan menuju ke ruang tengah.
"Aiih!... Rupanya Cempaka ada yang nganterin?"Bu Sekar menggodanya.
"Iya bu, saya Samudera saudaranya Mawar temannya neng Cempaka" Ujar Samudera sambil mencium tangannya bu Sekar dengan hormat.
"Oooh... Makasih ya nak, sudah mau nganterin anak ibu. Tadinya mau di jemput sama bapak, nanti ba'da dhuhur" Ucap bu Sekar. Matanya melirik ke arah Cempaka seakan menanyakan siapa pemuda itu.
"Mawar juga ikut nganterin bu, malahan sama tunangannya. Kak Randu itu baik banget enggak kayak si Buana" Ujar Cempaka dengan mimik muka yang kesal.
"Eiiit!... Kok!... Curhat" Goda bu Sekar sambil tersenyum dan melirik ke arah Samudera yang tersenyum juga.
Tanpa berkomentar dia langsung ngibrit ke dapur, mungkin dia merasa malu karena asal ceplos.
"Mawarnya ada di depan bu " Ujar Samudera, sambil mengarahkan ibu jarinya ke ruang tamu.
Bu Sekar merasa takjub dan tertarik dengan sopan-santun yang ditunjukkan oleh Samudera.
"Sopan sekali ini anak" Gumamnya sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya kepada Samudera.
"Saya ke depan lagi bu, permisi"
Ujar Samudera sebelum dia beranjak ke ruang tamu.
"Iya... Iya... Ibu juga mau ketemu sama neng Mawar, ayo!" Sahut bu Sekar sambil berjalan beriringan dengan Samudera menuju ke ruang tamu.
"Assalamualaikum... Ada tamu rupanya, jadi bikin repot saja ya Cempaka itu, minta di anterin segala" Bu Sekar mengucapkan salam sambil berbasa-basi.
"Waalaikumsalam... Enggak apa-apa bu, kami yang ingin nganterin Cempaka. Bagaimana kabarnya bu?" Ujar Mawar sambil bangkit dari tempat duduknya dan meraih tangannya bu Sekar, untuk kemudian diciumnya.
"Alhamdulillah... Ibu baik-baik saja, gimana kabarnya ibu dan bapakmu nak?" Tanya bu Sekar sambil duduk di sofa.
"Alhamdulillah bu, mamah sama bapak dalam keadaan baik-baik saja" Sahut Mawar.
"Ini siapa neng?" Tanya bu Sekar menanyakan Randu yang dari tadi hanya senyum-senyum saja.
" Ini tunangan Mawar bu" Sahut Mawar.
"Bentar lagi kan mereka mau nikah bu" Ujar Cempaka yang tiba-tiba sudah nongol di lawang pintu sambil membawa sebuah nampan yang berisi lima cangkir air teh hangat.
Di belakangnya, Anyelir membawa nampan juga, yang berisi kue dan gorengan yang masih hangat.
Diikuti oleh pak Jati di belakangnya.
Ketika melihat ada pak Jati, Mawar, Randu dan Samudera segera berdiri untuk menyambutnya.
"Bapak sangat berterima kasih sekali kepada neng Mawar sekeluarga, yang telah bersedia menampung anak kami selama satu minggu. Kami minta ma'af kalau Cempaka telah merepotkan Keluarga kalian. Kalau enggak ada Keluarga kalian, kami tidak tahu Cempaka akan tinggal di mana selama bertugas di sana" Ujar pak Jati.
"Enggak pak, bu... Sama sekali tidak merepotkan. Malahan kami sangat senang sekali Cempaka tinggal di rumah kami. Cempaka juga nampaknya sangat kerasan tinggal disana, dan... Ada seseorang lagi yang paling merasa bahagia dengan keberadaan Cempaka di sana" Ucap Mawar asal ceplos.
Perkataan Mawar membuat muka Samudera berubah menjadi merah. Dia mendelikkan matanya kepada Mawar yang tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Sekali lagi kami mengucapkan banyak terimakasih. Eh... Siapa rupanya yang merasa bahagia dengan kehadirannya Cempaka di sana? Kami senang mendengarnya" Bu Sekar menatap kepada Mawar.
"Di minum dulu dong airnya, kalian pasti merasa cape sudah jalan yang lumayan jauh. Sekalian di cicipi itu kue dan gorengannya" Cempaka segera mengalihkan pembicaraan, dia kasihan melihat muka Samudera yang memerah karena merasa malu.
Samudera dan Cempaka saling menatap penuh arti.
"Ehm... Saya cicipi kuenya ya" Mawar berdehem dengan sudut mata mengarah kepada Cempaka dan Samudera secara bergantian.
Cempaka dan Samudera pura-pura tidak melihatnya.
Untungnya pak Jati dan bu Sekar tidak mempedulikannya.
Merekapun akhirnya berbincang-bincang dengan akrabnya, sambil sesekali bercanda ringan.
Sebelum pamitan untuk pulang, Samudera memberanikan diri meminta izin kepada bu Sekar dan pak Jati kalau dia ingin berteman dengan Cempaka.
"Tentu saja boleh nak!..." Sahut bu Sekar sambil tersenyum.
"Asalkan berniat baik dan tidak aneh-aneh" Lanjut pak Jati.
"Iya pak, terimakasih"Ucapnya senang.
Setelah berpamitan, merekapun lalu pulang kembali ke desa Ujung.
Kepergiannya di antar kan oleh Cempaka sampai pintu pagar halaman rumahnya.
Cempaka menatap punggung Samudera hingga dia menghilang di balik tikungan jalan.
Like n koment mendarat !
semamgatt yaa..