Tiara Mo akan menghadiri kompetisi tinju tahunan, namun dalam perjalanan ia mengalami kecelakaan dengan truk tangki minyak , saat sadar ia sudah menempati tubuh permaisuri 200kg.
" APA APA INI ! APA PEMILIK TUBUH ASLI TIDAK BISA MENAHAN RASA LAPAR !" Pekik tiara mo kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25 : Kesatria Bertopeng Besi
Ksatria Bertopeng Besi itu melangkah maju, ujung tombaknya menggores lantai tanah hingga menimbulkan suara gesekan yang mematikan. Lin Yue merasakan bulu kuduknya berdiri; pria ini memiliki aura yang berbeda dari para pembunuh bayaran atau Guru Barat yang pernah ia hadapi. Ini adalah aura seorang pembantai yang tenang.
"Jenderal Yuan, tetap di belakangku," bisik Lin Yue tanpa mengalihkan pandangan.
Ksatria itu menyerang. Tombaknya melesat secepat kilat, menyasar tenggorokan Lin Yue. Lin Yue melakukan ducking (merunduk) yang sangat rendah, merasakan angin dari mata tombak itu menyapu rambutnya. Ia mencoba merangsek masuk ke jarak dekat—zona kemenangannya—namun ksatria itu menggunakan gagang tombaknya untuk mendorong dada Lin Yue hingga ia terpental mundur.
"Teknikmu aneh, Permaisuri," suara di balik topeng besi itu bergetar sinis. "Kau bertarung seperti pengecut yang hanya mengandalkan tangan kosong."
"Dan kau bertarung seperti pengecut yang bersembunyi di balik topeng!" balas Lin Yue.
Lin Yue kembali menyerang dengan kombinasi footwork yang lincah. Ia berhasil mendaratkan satu hook kiri ke sisi kepala ksatria itu, namun suara dentingan logam yang keras memberi tahu Lin Yue bahwa kepala pria ini juga terlindung baju besi. Tangannya terasa kebas.
Tiba-tiba, dari arah luar tenda yang mulai terbakar, terdengar suara kuda yang meringkik kencang diikuti ledakan bubuk mesiu yang memekakkan telinga.
"Lin Yue! Tunduk!" sebuah suara yang sangat ia kenali menggelegar.
Lin Yue langsung menjatuhkan diri ke lantai. Sebuah anak panah dengan ujung api melesat tepat di atas kepalanya, menghantam tumpukan arak di belakang sang ksatria hingga meledak. Di ambang pintu tenda yang hancur, Han Shuo muncul dengan jubah hitam yang berkibar, matanya memancarkan amarah yang dingin. Ia tidak bisa hanya diam di istana sementara wanitanya bertaruh nyawa.
"Han Shuo?!" Lin Yue terkejut. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Han Shuo melompat dari kudanya, pedangnya langsung beradu dengan tombak ksatria bertopeng besi itu dalam satu benturan yang mengeluarkan percikan api besar. "Kau pikir aku bisa tidur dengan tenang sementara 'Mawar Berduri'-ku sedang mengamuk di sarang serigala?"
Han Shuo berdiri di depan Lin Yue, punggungnya yang tegap menjadi tameng baginya. Ada keheningan sejenak di tengah kekacauan. Han Shuo menoleh sedikit, menatap wajah Lin Yue yang kotor oleh abu namun tetap mempesona.
"Kau terluka?" tanya Han Shuo, suaranya melembut, kontras dengan pedang yang ia genggam erat.
Lin Yue mengusap noda darah di sudut bibirnya. "Hanya sedikit. Tapi kau baru saja mengacaukan tarian kemenanganku, Kaisar."
Han Shuo tersenyum tipis—senyum yang jarang ia tunjukkan. "Maka biarkan aku menjadi pasangan dansamu malam ini."
Ksatria Bertopeng Besi itu kembali menyerang dengan membabi buta. Lin Yue dan Han Shuo bergerak seperti dua sisi mata uang. Saat Han Shuo menangkis serangan tinggi dengan pedangnya, Lin Yue merunduk dan memberikan pukulan body shot ke arah perut ksatria itu. Koordinasi mereka begitu sempurna, seolah jiwa mereka sudah terhubung sejak lama.
Dalam satu kesempatan, Lin Yue berhasil menangkap gagang tombak lawan. Ia menariknya dengan kekuatan penuh, sementara Han Shuo menebas tali pengikat topeng pria itu. Topeng besi itu terlepas dan jatuh berdentang di tanah.
Wajah di balik topeng itu terungkap—ia adalah mantan tunangan Lin Yue dari Bangsa Tang yang dikabarkan telah berkhianat, Letnan Fang.
"Fang?! Kau... kau masih hidup dan melayani bajingan ini?" Lin Yue tertegun.
Fang tertawa getir. "Bangsa Tang sudah musnah, Lin Yue! Aku memilih untuk hidup!"
Kemarahan Lin Yue mencapai puncaknya. Ia melepaskan pukulan cross kanan paling bertenaga yang pernah ia daratkan.
BUM!
Rahang Fang bergeser, dan ia jatuh tak sadarkan diri.
Keadaan kamp semakin kacau. Han Shuo segera menarik tangan Lin Yue. "Kita harus pergi sekarang! Pasukan bantuan mereka akan datang!"
Mereka berlari menuju kuda-kuda yang sudah disiapkan Mei Mei di luar. Di tengah hujan anak panah, Han Shuo mengangkat Lin Yue ke atas kudanya, lalu ia melompat ke belakangnya, memeluk pinggang Lin Yue erat sambil memacu kuda menembus kegelapan hutan.
Dalam pelarian yang kencang itu, di bawah lindungan bayang-bayang pohon, Lin Yue merasakan hangat tubuh Han Shuo di punggungnya. Jantungnya berdegup bukan hanya karena adrenalin, tapi karena rasa aman yang aneh.
"Kau gila, Han Shuo," bisik Lin Yue di tengah deru angin. "Kau mempertaruhkan tahtamu hanya untuk menjemputku."
Han Shuo mempererat pelukannya, membenamkan wajahnya sejenak di bahu Lin Yue yang beraroma keringat dan cendana. "Tahta itu tidak ada artinya jika aku harus duduk di sana sendirian melihat kursimu kosong, Lin Yue. Jangan pernah meremehkan betapa berartinya kau bagi pria yang kau selamatkan dari kegelapan ini."
Lin Yue terdiam. Di dunia tinju, ia selalu bertarung sendirian di dalam ring. Tapi di dunia ini, di atas kuda yang melaju kencang menuju fajar, ia menyadari bahwa ia telah menemukan rekan setim yang tidak akan pernah membiarkannya dipukul jatuh sendirian.
Fajar mulai menyingsing di ufuk timur, menyinari dua pejuang yang kini menyatu.
***
Happy Reading ❤️
Mohon Dukungan untuk :
• Like
• Komen
• Subscribe
• Follow Penulis
Terimakasih❤️
🧐