NovelToon NovelToon
Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon

Status: tamat
Genre:Action / Petualangan / Epik Petualangan / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:4.7M
Nilai: 4.3
Nama Author: Nnot Senssei

Perjalanan seorang pendekar muda yang mendapatkan titah dari gurunya untuk menyatukan nusantara, khusunya tatar Pasundan. Tapi siapa sangka, perjalanan untuk mewujudkan cita-cita gurunya tersebut tidaklah mudah.

Pendekar muda yang bernama Cakra Buana harus melewati berbagai macam rintangan, mulai dari hadirnya bangsa dedemit dan juga para tokoh hitam dunia persilatan.

Perjalannya dihiasi berbagai macam kejadian. Baik itu kejadian kecil maupun besar. Kebahagiaan dan kesedihan menjadi teman setianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ilmu Langkah Iblis

Dan benar saja, setelah kesekian beradu pukulan yang disertai tenaga dalam, akhirnya Eyang Tajimalela terpental sampai empat tombak ke belakang. Maha guru Padepokan Kuda Sembrani itu sedikit kesakitan karena kedua tangannya melepuh. Buru-buru dia menyalurkan tenaga dalamnya supaya menghilangkan rasa sakit.

"Tidak ada cara lain, aku harus menggunakan Ajian Tapak Banyu untuk melawan Ilmu Bara Nerakanya." gumam Eyang Tajimalela sembari mencoba berdiri.

Tanpa menunggu lama, dia langsung merapal Ajian Tapak Banyu. Eyang Tajimalela mengambil sikap berdiri tegak. Kedua tangannya ditaruh di samping paha, lalu kedua telapak tangannya diputar beberapa kali sembari membaca rapalan Ajian Tapak Banyu.

Setelah selesai membaca rapalan, Eyang Tajimalela perlahan membuka kedua matanya. Luka bakar akibat Ilmu Bara Neraka perlahan-lahan pulih. Setelah selesai, Eyang Tajimalela langsung kembali menyerang Braja Suta menggunakan Ajian Tapak Banyu.

Ajian Tapak Banyu adalah ajian tingkat tinggi, sama seperti Ilmu Bara Neraka. Bahkan ilmu itu merupakan lawan yang cocok untuk Ilmu Bara Neraka. Pasalnya tak lain karena Ajian Tapak Banyu mengandung energi yang digunakan seperti air. Sesuai namanya, Tapak Banyu (Telapak Air).

Ketika seorang pendekar yang kepandaiannya belum tinggi, maka dia tidak akan sanggup menahan ajian ini. Hal ini terjadi karena ketika seorang pendekar itu terkena Ajian Tapak Banyu, maka seluruh tubuhnya akan menggigil keidnge, lalu tak lama semua laju darahnya akan terhenti.

Langlang Cakra Buana masih setia menonton pertarungan itu. Belum ada tanda-tanda bahwa dia akan turun tangan untuk membantu Eyant Tajimalela karena dia berpikir maha guru Padepokan Kuda Sembrani itu masih sanggup untuk melawan Braja Suta.

Eyang Tajimalela sekarang sedang bertarung serius dengan Braja Suta. Maha guru itu terus memberikan serangan tapak yang sangat mematikan kepada Braja Suta. Tak mau kalah, maha guru Padepokan Goa Neraka juga sama halnya dengan Eyang Tajimalela. Dia terus memberikan pukulan mematikan kepadanya.

Pertarungan kedua maha guru itu berlangsung dengan menegangkan. Keduanya sama-sama terlihat kewalahan karena ilmu mereka saling berlawanan. Serangan tapak, pukulan, tendangan, semuanya berlangsung secara bergantian. Hingga pada satu kesempatan …

"Ahhh …"

Braja Suta terpental tiga tombak dan menabrak pohon mangga yang cukup besar. Punggungnya terasa patah. Bahkan dia kini merasakan seluruh tubuhnya mulai dingin, perlahan wajahnya memucat seperti mayit.

"Curut buntung. Ternyata meskipun aku sudah menyempurnakan Ilmu Bara Neraka, tetap saja kalah jika beradu dengan Ajian Tapak Banyu. Ughhh …" gumam Braja Suta sembari menahan efek samping Ajian Tapak Banyu yang kini sudah menjalar ke seluruh tubuhnya.

Dengan segera Braja Suta menyalurkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuh supaya efek Ajian Tapak Banyu tidak menewaskan dirinya. Perlahan-lahan, efek dari Ajian Tapak Banyu mulai menghilang. Kini dirinya mulai sedikit bisa digerakkan, bahkan suhu tubuhnya berangsur normal kembali.

Setelah merasa sudah stabil, Braja Suta kembalaia menyerang Eyang Tajimalela. Gerakan silatnya berubah, dia lebih banyak memberikan sebuah tendangan daripada pukulan. Setiap tendangan yang dia lancarkan selalu menimbulkan hawa kematian.

Di sisi lain, Eyang Tajimalela masih menggunakan Ajian Tapak Banyu miliknya. Dua maha guru itu kembali melakukan pertarungan dibawah gelapnya malam. Braja Suta terus menendang kesana kemari, kadang dia memberikan tendangan tipuan yang membuat Eyang Tajimalela cukup kerepotan.

Tapi Eyang Tajimalela tak mau kalah, dia terus memberikan pukulan Ajian Tapak Banyu miliknya. Jurus itu memang dahsyat, hingga sekali lagi Braja Suta terpental lima tombak ke belakang hingga menabrak sebuah pohon asem.

"Uhukk …"

Braja Suta batuk darah. Dadanya semakin sesak, efek Ajian Tapak Banyu kembali menyerang tubuhnya. Bahkan kali ini terasa lebih cepwt, karena sebelumnya dia pernah terkena.

Buru-buru dia menyalurkan tenaga dalamnya lagi. Tentunya lebih kuat daripada yang tadi. Setelah selesai, dia lalu mengambil posisi tegak. Mulutnya mulai komat-kamit membaca sebuah rapalan.

Angin kencang mendadak berhembus. Daun-daun kering berterbangan, bahkan pohon-pohon disekitar ada yang hampir roboh karena saking kuatnya angin tersebut.

Perlahan asap hitam keluar dari tanah lalu membungkus kedua kaki Braja Suta. Matanya berubah menjadi hitam keseluruhan, bahkan terlihat ada sepasang taring cukup panjang yang mendadak tumbuh sehingga membuatnya lebih terlihat mengerikan lagi.

"Ilmu Langkah Iblis." Eyang Tajimalela kaget melihat hal ini.

Dia tahu persis apa yang akan dilakukan oleh Braja Suta. Ternyata maha guru Padepokan Goa Neraka itu berniat untuk mengeluarkan ajian andalannya. Ajian itu tak lain adalah Ilmu Langkah Iblis.

Eyang Tajimalela langsung melesat menyerang Braja Suta. Tapi sayang, pendekar tua itu mengambil langkah dan memahami situasi terlambat. Braja Suta kini sudah selesai membaca rapalan Ilmu Langkah Iblis.

"Hiyaa …" teriak Eyang Tajimalela berniay memberikan serangan Ajian Tapak Banyu.

"***WUSHHH …"

"DUARR*** …"

Braja Suta sudah menghilang dari posisinya. Sehingga Ajian Tapak Banyu milik Eyang Tajimalela menghantam pohon tadi sampai-sampai pohon itu roboh.

"Hahahaha … kau pikir bisa menghentikan Ilmu Langkah Iblis milikku bodoh? Sekarang, ayo kita bertarung dengan serius." ejek Braja Suta yang ternyata sudah berada dibelakang Eyang Tajimalela sembari bersiap-siap.

Tanpa basa-basi dia langsung menyerang Eyang Tajimalela dari arah belakang. Memang, perbuatan ini adalah perbuatan pengecut, dimana sang musuh menyerang dari belakang. Tapi tentu saja Braja Suta tidak peduli dengan hal itu, yang penting dia berhasil memenangkan pertarungan. Mungkin pikirannya seperti itu..

Tentu saja Eyang Tajimalela kaget ketika menyadari bahwa Braja Suta kini sudah ada dibelakangnya. Dengqn segera pendekar tua itu membalikkan badan lalu menahan serangan yang datang.

"BUKKK …"

Eyang Tajimalela menahan tendangan yang sangat kuat dari Braja Suta. Bahkan dia sampai mundur satu tombak ketika menahan serangan dahsyat tersebut.

Tanpa jeda, Braja Suta kembali menyerang. Gerakan silatnya bertambah cepat, tendangan dan pukulannya pun beberapa kali lebih kuat lagi. Braja Suta menendang dari arah samping menuju tulang rusuk Eyang Tajimalela. Tapi hanya sedikit mundur, pendekar tua itu berhasil menghindari tendangan tersebut.

"Utsss …"

Braja Suta memutar tubuhnya sekali lalu memberikan sebuah pukukan ke arah wajah Eyang Tajimalela. Tapi lagi-lagi dia berhasil menghindarinya hanya dengan menundukkan sedikit kepala.

Bosan di posisi bertahan, Eyang Tajimalela mulai berbalik menyerang menggunakan Ajian Tapak Banyu. Gerakan lincahnya sedikit membingungkan Braja Suta. Tapi karena kekuatannya sekarang berbeda dengan tadi, dengan mudah dia bisa menghindari serangan tapak tersebut.

Eyang Tajimalela terus memberikan serangan tapak kepada Braja Suta. Di sisi lain, Braja Suta pun turut sesekali menyerang balik. Tendangan dan serangan tapak mulai beradu. Untuk beberapa saat Eyang Tajimalela masih bisa bertahan menahan Ilmu Langkah Iblis.

Tapi seiring berjalannya waktu dia mulai kewalahan, hingga akhirnya sebuah tendangan dengan telak menghantam dadanya.

"Ahhh …" Eyang Tajimalela terpental empat tombak.

1
Le Akasha
Keren Kang
Le Akasha
Mantap
Ameng lia
dari bayi thor kok cuma tigatahun
Ameng lia
mulai baca
ayda
jangan tzy mag
Wan Trado
alasan kesian, tidak mau turun tangan kejam, kalau tidak terdesak tidak mau pake, terus tidak mau sombong, terus lagi lebih mau jadi bulan-bulanan karena jelas-jelas tau kemampuan lawan tidak rendah..
entah author ingin membentuk karakter MC seperti apa..
Wan Trado
memperpanjang bab
Wan Trado
untuk apa kok siluman dimunculkan pula.. hadehh.. 🤦‍♂️
Wan Trado
diatas langit masih ada langit
Wan Trado
always like that happened by survivor
Wan Trado
siapa nih yang dari Sumatera Barat danuarta atau magenta.. ada ajian dari Batusangkar nya.. 🤣
Wan Trado
ya, satu dari segelintir kelompok orang
Wan Trado
👍good point👍
Wan Trado
ilmu kedigdayaan dan kanuragan tidak akan habis atau berkurang setelah diturunkan/diajarkan kepada orang lain, karena ilmu tsb tidak berupa benda yg apabila diberikan kepada orang lain maka siempunya barang sudah kehilangan..
Wan Trado
minum apa tuh harimau sampai mabuk berat 🤣🤣🤣
Wan Trado
tidak tahu ada orang dibelakangnya..
Wan Trado
eeh sebelumnya dengan bangga menyombongkan diri sebagai pendekar maung kulon murid eyang resi patok pati, berarti sudah sadar yaaa... 😁
Wan Trado
ada ya kata bosan bertahan dalam pertarungan hidup mati, yg ada tidak ada kesempatan membalas..
kecuali yg dilawan levelnya jauh dibawah.. 😁
Wan Trado
haruskah bertanya-tanya lagi..?? kalau merasa muridnya tidak mungkin melakukannya sementara tamunya cuma seorang..???
Wan Trado
apakah ajian sapta pangrungu tidak bisa langsung bereaksi..? harusnya bisa yaa karena sudah menyatu ke diri langlang, sekalipun sedang melamun.. ☺🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!