NovelToon NovelToon
V.I.P (KILL YOU)

V.I.P (KILL YOU)

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Mata-mata/Agen / TKP / Psikopat itu cintaku / Agen Wanita
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dae_Hwa

“Siapa pun yang masuk ke pulau ini ... tak akan pernah keluar dengan selamat.”

Pulau Darasila diduga menjadi markas penelitian bioteknologi terlarang. Bella, agen BIN yang menyamar sebagai dosen KKN, ditugaskan menyelidikinya. Namun sejak kedatangannya, Bella menemukan tanda-tanda ganjil bermunculan. Beberapa kali ia mendapati penduduk pulau memiliki tatto misterius yang sama persis dengan milik Edwin, suaminya. la pun mulai menduga-duga, mungkinkah sosok sang suami yang dulunya memiliki masa lalu kelam, kembali melakukan kesalahan dan turut terlibat dengan hal yang akan diselidikinya?

Misi Bella yang awalnya hanya soal penyelidikan, kini berubah menjadi perjuangan bertahan hidup. Karena siapa pun yang masuk ke Pulau Darasila tak akan pernah bisa keluar dengan selamat kecuali dengan satu syarat. Akankah Bella mampu menuntaskan misinya dan keluar hidup-hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

VIP17

Di depan penginapan, Edwin dan Abirama berpencar mencari keberadaan Bella. Edwin ke arah dermaga dengan bekal pistol dari sang teman, sementara Abirama menuju lapangan bersama Dinda, masing-masing membawa senjata. Abirama menggenggam pistol dengan waspada, sedangkan Dinda menenteng tongkat bisbol besi yang ia ambil dari gudang penginapan. Mereka menerobos rintik hujan yang kian lama kian lebat, langkah dipercepat, napas semakin berat.

Sesampainya di lapangan, tak ada siapapun di sana — bahkan sisa-sisa acara pun tak berjejak. Abirama dan Dinda sudah basah kuyup oleh hujan. Tanpa banyak bicara, mereka kembali melangkah ke sembarang arah.

“Maspol, kita harus ke mana la—”

“Ssshhh!”

Abirama membungkam bibir Dinda dengan ujung telunjuk, memberi isyarat agar ia diam. Di jalur setapak yang mereka lewati, matanya sempat menangkap kilau cahaya dari kejauhan. Tanpa menunggu lagi, Abirama meraih jemari Dinda, menyeretnya bersembunyi di balik pepohonan.

“Kamu pernah punya pengalaman nganiaya orang nggak, Din?” tanya Abirama.

“Pernah. Nonjok kamu sama ngehantam kepala si ngondek pakai lampu meja,” jawab Dinda jujur dan polos.

Abirama menoleh singkat sambil mencebik, lalu kembali memantau keadaan. Ia yakin ada orang lain selain mereka di sana.

Benar saja. Tiga pria tak dikenal melintas tak jauh dari sana, masing-masing menenteng senjata.

“Serius wee, aku tadi ngeliat dua orang di sekitar sini,” gumam salah satunya.

“Ah, kau salah lihat kali. Mata kau tuh rabun,” bantah yang lain. “Coba kau liat, mana ada siapa-siapa di sini.”

“Apa mungkin warga lokal?”

“Nggak mungkin lah warga lokal. Mereka kan udah diperingatin sama ketua, apapun yang terjadi — mereka nggak boleh keluar rumah sebelum jam tujuh pagi. Kalau mereka ngelanggar, semua bantuan sembako, santunan anak-anak dan lain-lain akan dihentikan. Dan nyatanya, mereka patuh selama beberapa tahun ini.”

“Iya sih, bener juga. Bahkan di kawasan rumah warga lokal terpantau CCTV, mana mungkin mereka berani macem-macem. Jadi, siapa ya yang aku liat tadi?”

Yang ditanya mengedikkan bahu. “Bisa jadi roh-roh penasaran dari para korban yang mati di pulau ini, hahaha!”

“Brengsek! Jangan ngomong ngaco,” hardik pria bertubuh paling tinggi yang sedari tadi diam sendiri. “Kalian harusnya waspada. Area ini wilayah jaga kita, gak terpantau CCTV dan sepenuhnya jadi tanggung jawab kita. Kalau ada penyusup, kita yang bakal kena getahnya, kita bakalan ditembak mati sama ketua.”

Dua pria di hadapannya langsung bergidik ngeri. Mengusap tengkuk sembari menelan ludah.

“Dari pada ada kejadian hal-hal yang nggak terduga dan berujung ngebuat ketua murka, kita sisir area aja. Biar semuanya pasti. Ayo kita mencar, sepuluh menit kembali lagi ke sini.”

Mereka bertiga pun menyebar, menyusuri area itu, mengintip ke balik pepohonan satu per satu. Hingga akhirnya salah satu dari mereka mendekati pohon paling besar yang terletak di ujung jalur setapak dan hendak menyingkap semak di balik batang pohon itu—

BUGH!

Dengan jantung berdebar-debar, Dinda menghantam kepala pria itu sekuat tenaga dengan tongkat bisbol. Pria itu ambruk seketika, tubuhnya terkulai di tanah berlumpur, tak sempat menjerit.

Abirama langsung siaga, pistol di tangannya terangkat, dari kejauhan mata tajamnya mengunci dua pria lain yang belum menyadari apa yang baru saja terjadi.

“Lah ke mana si Parman?”

Salah satu anggota VIP celingukan mencari sang rekan yang belum kembali setelah sepuluh menit berpencar.

“Haisssh, si bodoh itu, nyusahin aja!” sungut yang lain sambil mengeluarkan ponsel dan menghubungi kontak Parman.

Namun panggilan tersebut tak terhubung. Dering ponsel pun juga tak terdengar karena Parman memiliki kebiasaan menyetting nada dering ponselnya dengan mode getar saja.

“Ck! Ada yang nggak beres kayaknya.” Pria itu menyimpan kembali ponselnya dengan raut curiga. “Kita keliling sekali lagi. Kali ini jangan mencar.”

Mereka bergerak berdampingan, langkah diperlambat, mata menyapu kegelapan di antara batang-batang pohon. Hujan yang kian deras menutupi suara pijakan, membuat suasana semakin mencekam.

Satu pria mengangkat senter, sorotannya menari di tanah becek, pada jejak-jejak samar yang terputus di balik semak.

Ia berhenti. Alisnya mengerut. Di tanah basah itu tampak bekas seretan yang belum sepenuhnya hilang, memanjang menuju rimbun daun.

‘Pasti sembunyi di sana,’ monolognya dalam hati.

Tanpa suara, bibirnya bergerak memberi kode pada sang teman. Dagunya mengarah ke semak. Pria di sebelahnya mengangguk pelan, jemarinya mengencang di gagang senjata.

Semak itu disingkap kasar.

DOR!

DOR!

DOR!

...***...

Andika berhenti di depan pintu baja setebal peti mati. Lorong itu steril, sunyi, hanya terdengar dengung listrik samar yang merambat di dinding.

Ia mengelupas lapisan silikon transparan di pergelangan tangannya. Kulit palsu itu terlepas seperti selaput luka, memperlihatkan tato hitam berbentuk simbol organisasi. Saat pergelangannya ditempelkan ke panel pemindai, tato itu menyala samar, pintu baja di hadapannya bergeser terbuka.

Andika melangkah masuk.

Ruang utama markas terbentang luas. Deretan tabung silinder raksasa menjulang dari lantai hingga langit-langit, berisi cairan kehijauan pucat yang berputar pelan — hasil rekayasa bioteknologi dari bakteri pembusuk (necrotic bacteria) yang diekstraksi dari bangkai manusia.

“Mahakarya yang indah,” gumam Andika dengan seringai tipis.

Penelitian di tempat itu telah berlangsung nyaris belasan tahun. Dari riset dasar, modifikasi genetik, uji stabilitas, kegagalan berulang, sampai penyempurnaan. Banyak subjek gugur, banyak teori runtuh, sebelum akhirnya mereka berhasil menciptakan virus Necro—entitas biologis yang tidak lagi berevolusi, hanya menunggu dilepaskan.

Seorang ilmuwan berjas laboratorium berdiri di sebelah Andika.

“Sepertinya Anda sangat senang, sampai-sampai datang ke laboratorium bahkan sebelum matahari terbit,” ujar sang ilmuwan.

“Tentu.” Andika tersenyum tipis. “Saat markas memberi kabar bahwa Necro dan vaksin penawarnya telah tercipta sempurna, aku langsung bergegas kemari.” Matanya tak lepas dari deretan tabung, menatap takjub.

“Kerja bagus.” Andika menepuk-nepuk bahu sang ilmuwan. “Kapan Necro bisa kita ledakkan ke negeri pertiwi?”

“Kapanpun yang Anda mau, Tuan,” jawab sang ilmuwan menunduk penuh hormat.

“Kalau begitu lakukan besok malam,” titah Andika. “Setelah para elit puas berburu.”

Sang ilmuwan mengangkat pandangannya. “Target?”

“Ibu kota,” jawab Andika sambil menyeringai. “Terutama gedung-gedung pemerintahan. Ledakkan juga di beberapa kota besar lain.”

Ilmuwan itu menunduk hormat. “Kami akan menyiapkan segalanya dan memastikan tak akan ada kegagalan.”

...***...

“Maspol ... k-kamu berdarah ....”

*

*

*

1
Sriwahyuu
cepat sembuh author kesayangan kami😍
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
amiinnnn
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
jadi sedih otor. semoga ga ada yang bahaya yah. cepat sembuh dan pulih.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
belum taaauuuuu dia
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
izzz jabir kalilah kau babang.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
dasar si babang, masih aja nakal
Anna
Cepet pulih mentor terbaikk kuhhhh, mau selama apapun Anda hiastus. Saya akan tetap setia menunggu 🫶
Anna
Dinda heyyyy tolong. Bahkan Mas Edwin saja di bikin semapot tanpa menyentuh ama Mbak Bella. 🤣
Anna
Definisi peduli tapi gengsi🫢🤣
jay naomi
semoga cepat sembuh semangat othor q.
Wenty Lucia Wardhani
cepat sehat author kesayangan....🥰🥰🥰
youyouen Rahayu
syafakillah kak semg ALLAH mengangkat segala penyakit kak author,diberikan kesehatan seperti semua dn bisa berkarya lagi,love you kak author semngtt sellu yaaa akn ku nanti setiap upnya,dengan sesabar mungkn,maaf ya kak author kalau aku sellu mengintip trs🙈🙈 di cerita ini.
𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒
😂😂
CallmeArin
semoga segera di angkat penyakitnya Thor 🤲🏻
Sayuri
aamiin ya Allah 🥺
Sayuri
y Allah kget q :(
k dehwa lekas sembuh 😩
Sayuri
kmu blm tw ja bu bella gmn din.. klo tau, bs trcngang
Sayuri
yg hcker kpal selam itu y tor?
Sayuri
/Joyful/
Sayuri
ber berbagi apa papa ed?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!