Hai kembali lagi di karya terbaru ku hehee..
Aku harap kalian dapat bijak dalam membaca..
Zaidara, atau kita akan sapa dengan panggilan Dara.. Dara adalah seoang gadis sederhana, ia adalah anak pertama dari dua bersaudara yang tidak mengenal kata manja.. Sejak kecil ia hidup dengan keadaaan yang sangat sederhana, dan penuh rasa prihatin ..
Tiga tahun Dara yang bekerja sebagai seorang Call Center, di sebuah perusahaan Market Place yang sedang naik daun.. Karena sebuah kesalahan ia di pecat.
Dara bekerja sebagai pengasuh anak seorang pengusaha kaya raya..
Anak pengusaha? namun tahukah kamu? Dara harus menelan kesedihan saat mengetahui siapa anak itu sebenarnya..
Bunga Terakhir
SELAMAT MEMBACA
❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mynamei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BT - 23
Dara... kamu harus tau satu hal.." kata Bagas begitu serius, maka Dara juga merespon ucapan Bagas yang serius.
"Apa pak? soal Zaidar kah?" kata Dara to the poin.
"Tentu .. sepertinya kamu harus tahu, agar kamu siap jika nanti kamu tidak lagi bekerja dengan saya sebagai pengasuh Zaidar...." ucap Bagas semakin membuat Dara yang tengah bersedih memikirkan banyak hal , salah satunya adalah ia akan di pecat kelak..
"Pak, maksud bapak itu apa? saya tidak paham" kata Dara begitu penasaran.
Bagas menghela nafasnya lalu ia menatap Dara..
"Dara... Zaidar.. Zaidar itu bukan anakku" kata Bagas dengan jelas menusuk telinga Dara..
"Haaaah???? dia anak siapa pak?? bapak jangan membuat kepala saya pusing" kata Dara yang sangat terkejut.
"Bapak masih bujangan???" Tambah Dara penasaran.
Bagas memijat kepalanya..
"Kenapa pak, bapak pusing ya?" kata Dara dengan cerewet nya...
Bagas mengehela nafasnya..
"Saya lebih pusing mendengar suaramu dari pada memikirkan semua pertanyaanmu itu..." kesal Bagas menjawab.
"Maaf.." kata Dara malu.
"Saya sudah menikah.. " Jawab Bagas membuat Dara terkejut.
"Saya bingung, pak.." jujur Dara.
Dering ponsel Bagas berdering saat itu..terlihat Alex menghubunginya ..
Bagas bergegas menjauh dari Alex untuk menerima panggilan telefon yang masuk dari Alex ..
Dara memusatkan perhatiannya pada Bagas, jantungnya terpacu lebih cepat dan kembali rasa panik itu muncul.
Semoga ada kabar baik, semoga kamu cepat di temukan... Batin Dara berdoa penuh harapan.
"Bagaimana pak? apa sudah ada kabar?? Dimana Zai?? panik Dara.
Bagas Terdiam tidak menjawab pertanyaan Dara, semakin membuat Dara panik karena ekspresi flat yang ia lihat pada wajah Bagas.
Ada apa ini?? kenapa pak Bagas tiba-tiba membeku gini.. Batin Dara.
Kalo ini bukan ulah mama, ini ulah siapa? siapa yang tega membawa Zai.. apa motifnya..
Bagas tersadar dari lamunannya saat ia mendengar Isak tangis Dara, Bagas akhirnya menoleh ke arah Dara lalu mendekat.
Bagas menghela nafasnya..
"Doakan Zai terus dalam keadaan baik-baik saja.. Belum ada petujuk sedikitpun..." kata Bagas dengan lirih.
Kalau aku tidak malu, mungkin aku juga sudah menangis seperti mu, Dara...
Setelah sekian jam berlalu..
Bagas menghubungi Rega guna memberikan kabar padanya.. Rasa panik Rega nyata, Rega dengan cepat datang menuju unit apartemen milik Bagas malam hari tiba..
Suasana hening dan dingin disana saat itu .. Dara dengan mata memerah dan sembab, Bagas dengan wajah penuh masalah cenderung diam tanpa banyak perkataan..
Polisi, dan Team yang di kerahkan Alex sama sekali tidak dapat menemukan dimana Zaidar.. Semua seperti sudah di rencanakan, begitu rapih tanpa ada jejak sedikitpun.
*
*
Waktu Berlalu Seakan Begitu Cepat..
Ketika detik berganti menit.. Menit menujukan jam.. hari silih berganti hingga Minggu demi Minggu menjadi bulan..
Ini adalah hari tepat dimana satu bulan Zaidar menghilang tanpa jejak, selama itu pula Dara berada di apartemen itu tanpa bekerja sama sekali..
Hanya menangis, mengingat Zaidar..
Sementara Bagas.. Ia begitu hancur dan terluka, banyak pekerjaan yang terlantar oleh sikapnya..
Selama satu bulan juga, Alex memutar otaknya menggantikan Bagas di kantor serta mencari dimana keberadaan Zaidar.
Malam itu hujan sangat lebat, angin kencang terlihat menghempas derasnya hujan..
"Denn Bagas .... Den Bagas ...." teriak Mbok Suti membuat Bagas menoleh ke arah suara.
"Den .. Astaghfirullah.. itu, mbak Dara.. mbak Dara demam, tubuhnya sangat panas.. bibirnya gemetar.. telapak kaki dan tangannya sangat dingin.." kata Mbok Suti membuat Bagas panik, bergegas Bagas menuju kamar Dara...
"mbok , Tolong panggilkan Dokter segera" kata Bagas membuat Mbok Suti bergegas melakukan perintah Bagas.
"Yaa Tuhan Dara, kamu ini kenapa??" Kata Bagas.
"Zai... aku rindu Zai... dimana Zai.. zaiii" Dara seperti tengah mengigau.
Bagas menarik selimut Dara, ia membuat Dara dalam posisi duduk dan Bagas memeluk Dara dengan erat.
Tanpa disadari, Bagas menitihkan air matanya..
"Maaf saya harus memeluk kamu, ini yang saya lakukan jika Zaidar demam dan mengigau" kata Bagas sendu, ia menahan tangisnya..
Dara terus menyebutkan nama Zaidar .. sekilas Bagas melihat ponsel Dara yang menyalah Tampa suara.. Panggilan masuk dari sang Ayah..
Bagas masih memeluk Dara, mencoba meraih ponsel itu dengan satu tangannya..
"Astaga... sebanyak ini panggilan yang tidak ia jawab..." kata Bagas melihat begitu banyak panggilan masuk yang tidak Dara jawab..
"Dara... tolong jangan seperti ini, aku tahu kamu begitu menyayangi Zaidar, tapi.. kamu jadi sakit, orang tua mu ikut merasakan kegelisahan disana... please Daraaa.." kata Bagas berucap di telinga Dara..
Dara masih sama, masih memejamkan matanya ..
"Den..." sapa Mbok Suti sedikit panik
"Gimana Mbok??? bisa kan dokternya kesini..." kata Bagas masih tetap memeluk Dara..
"Dokternya tidak bisa datang cepat, hujan deras membuat beberapa pohon tumbang di sekitar rumahnya.." kata Mbok Suti semakin membuat Bagas panik.
"Yaa Tuhan..." panik Bagas.
Getar ponsel itu membuat Bagas kembali fokus pada ponsel Dara..
Orang tua kamu pasti panik, Dara..
Tidak pikir panjang.. Bagas merebahkan kembali tubuh Dara, lalu menarik pelan tubuh Mbok Suti keluar kamar Dara.
"Mbok.. terima telfon dari orang tuanya dara.. katakan Dara sedang di ajak pergi atasannya keluar kota dan lupa membawa ponsel..Saya akan hubungi Alex untuk memberi kabar soal Dara"
Bagas memberi ponsel pada mbok Suti yang nampak bingung , lalu Bagas meninggalkan mbok Suti untuk mengambil ponselnya.
Mbok Suti mampu menjalankan tugasnya dengan baik.. ia pun sudah berhasil membuat kedua orang tua Dara percaya atas apa yang ia ucapkan.
Bagas kemudian datang kembali..
"Saya akan bawa Dara ke rumah sakit.." kata Bagas menggendong Dara, semntara Mbok Suti membantu Bagas membhuka pintu dan lain halnya hingga Dara masuk kedalam mobil.
Hujan nampak Begitu deras, bahkan pandangan Bagas pun sedikit terhalang oleh pencahayaan di luar. Genangan air Dimana-mana membuat Bagas tak mampu menghindari setiap lubang di jalan, Tidak memperdulikan hal itu, jalan yang nampak sepi itu membuat Bagas tetap menacapkan pedal gas nya lebih dalam agar cepat sampai di rumah sakit yang ia tuju.
Dara... Please jangan membuat saya merasa bersalah dengan apa yang sudah terjadi, secara tidak langsung kamu begini karena bekerja dengan saya hingga kamu begitu dalam menyayangi Zaidar...
*
*
*
SELAMAT HARI MINGGU 🥰
AKAN AKU USAHAKAN UP SEHARI SATU YA.. 🙏
Jangan lupa berikan like dan komentar kalian yaa.. Maaf banyak Typo itulah khas nya tulisanku, aku sudah mencoba meminimalisir nya hehe🤭
Bila berkenan boleh berikan 1 Vote untukku yaa ❤️
TERIMAKASIH ❤️🥰
kakak beradik itu mencintai wanita yg sama, yaitu mawar.
tapi sepertinya reag tidak tau kalau itu anaknya, bahkan Bagas juga tidak tau.
tq kak mei karya2 nya emg best
semoga sukses selalu kak mei,
dan pasti nya di tunggu karya2 berikut nya