Reyhan, Hasby Nugraha, Dera, Nanda dan Baron. Mereka bersahabat sejak kecil, tumbuh bersama, menikah dan berstatus duda bersamaan.
Siapa sangka, di balik keceriaan dan kekonyolan mereka. Tersimpan misteri masa lalu yang rumit.
Siapa menduga, salah satu diantara mereka putra salah satu jutawan. Siapa yang mengira, salah satu diantara mereka putra seorang mafia yang di takuti dan telah membunuh salah satu ibu sahabat kelima duda tersebut.
Akankah persahabatan mereka tetap abadi hingga maut memisahkan? atau misteri masa lalu akan terkuak dan memecah belah persahabatan mereka?
Kunci dari jawaban itu semua terletak pada orang tua masing masing.
Bagaimana kisah selanjutnya yang akan mewarnai perjalanan mereka? asmara, wanita, dan pertengkaran diantara mereka akan menjadi batu sandungan persahabat kelima duda tersebut.
Semua tokoh terinspirasi dari member grup chat. Yuk ikuti kisahnya, jangan lupa vote, like dan komen ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekhawatiran
Sementara di rumah Komeng sang jawara terkenal di kota itu, tengah berbincang di teras rumah bersama sahabat lamanya Patma, Wina dan Jarwo. Mereka tengah membicarakan Rojali, kedatangannya ke kota itu telah mencuri ketenangan ke empat sahabat yang selama ini mereka jaga.
"Ape kalian tau anak yang di maksud si Rojali itu siape? kenapa kemarin dia berani ngomong kalau si Reyhan itu anaknya? udah jelas-jelas si Reyhan itu anak gue." Ucap Patma setengah emosi.
Komeng terdiam, pikirannya menerawang jauh ke masa lalu sambil mengelus elus jenggotnya yang beberapa helai saja.
"Seingat gue, si Rojali kaga punya anak. Tapi yang punya anak itu bos nye si Rojali. Tapi seingat gue juga, ntu bayi sudah lama mati sejak di lahirkan emaknye." Timpal Komeng.
"Gue curiga sama lu berdua." Ucapnya menatap tajam ke arah Wina dan Jarwo. "Ape yang kalian berdua sembunyiin dari gue dan Komeng?"
"Parah lu, kan lu tau bagaiamana gue? kapan gue boongin lu pade?" protes Jarwo. Patma menganggukkan kepala. Jarwo memang tidak pernah sekalipun berbohong kepada sahabat atau orang lain.
"Lu Win, ape lu tahu mengenai bayi itu?" tanya Patma.
"Gue mana tahu, seingat gue waktu itu. Si mawar menukar bayinya dengan bayi yang sudah meningal. Selain dari itu gue kagak tahu apa apa, satu satunya yang mengetahui keberadaan bayi itu si Al, kaki kanan si Rojali. Tapi sampai sekarang, Al menghilang." Ungkap Wina panjang lebar.
"Gue yakin, ada seseorang yang berusaha mengadu domba." Kata Komeng.
Patma dan yang lain menatap Komeng, mencoba mencerna apa yang di katakannya baru saja. Namun, mereka di kejutkan dengan suara motor Reyhan menepi di halaman.
"Orooong!" Pekik Jarwo saat melihat anaknya luka-luka lebam. "Ape yang kalian lakuin sama anak gue hah?" Jarwo yang panik langsung membantu Reyhan memapah Baron masuk ke dalam rumah.
"Rong lu nape bisa begini? siapa yang bikin lu begini?" tanya Jarwo memperhatikan wajah Baron.
"Rey, cerita kenapa si Baron ampe kaya begini?" tanya Komeng kepada Reyhan.
Reyhan dan Dera menggelengkan kepala tidak tahu, tapi berdasarkan apa yang di Ceritakan Rini. Ia ceritakan kembali kepada mereka.
"Ini pasti ulah si Rojali!" sela Patma terlihat raut wajah gelisah.
"Lu pade jangan gegabah, belum tentu si Rojali pelakunya. Ingat apa kata gue tadi," timpal Komeng mengingatkan.
"Beehhh tolongin anaknya dulu kek.." keluh Baron mengerang kesakitan.
"Astaga!" Jarwo menepuk jidatnya sendiri. Lalu berjalan menghampiri Baron, duduk di sampingnya. "Lu mau gue bawa ke rumah sakit?" tanya Jarwo.
"Kagak usah, cuma dari tadi ngoceh terus. Anaknya di antepin." Protes Baron.
"Rey, lu anterin makk pulang. Mulai sekarang lu jangan keluyuran. Ayo!" Patma menarik tangan Reyhan keluar dari rumah Jarwo.
"Gua juga balik Wo, kalau ada apa apa lu hubungi gua." Kata Komeng menepuk pundak Jarwo.
"Hati hati!" seru Jarwo memperhatikan mereka pulang satu persatu.
Tinggallah Wina dan Dera masih berada di rumah Jarwo. Tak lama Wina berpamitan pulag seperti yang lain.
"Nak, kamu mau pulang?" tanya Wina menatap kasihan wajah Dera.
"Nggak mom, nanti setelah mastiin Baron baik baik saja, aku pulang." Jawab Dera sopan.
Wina mengangguk anggukkan kepala, Dera sahabat putranya. Sejak kecil sudah hidup mandiri, kedua orang tuanya telah tiada sejak ia masih bayi.
"Lu baik baik ya, ingat...musuh jangan di cari, tapi musuh dateng lu kagak usah lari." Pesan Wina.
"Siap mom!" sahut Dera.
Wina menganggukkan kepalanya, lalu beranjak pergi meninggalkan rumah Jarwo. Wina sengaja jalan kaki karena rumahnya tidak jauh dari rumah Jarwo.
Sepanjang jalan, Wina menyalakan rokok lalu ia selipkan di sudut bibirnya. Ia baru menyadari kalau rollan sebagai ciri khasnya hilang satu.
"Waduh, rollan gue ilang satu. Mana rollan itu buatan Cibaduyut, di mana jatohnya?" gumam Wina, matanya memperhatikan ujung jalan siapa tahu rollannya jatuh tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Tante!"
Wina menoleh ke belakang, nampak Risfa berjalan menghampirinya.
"Risfa? mau kemana lu?" tanya Wina.
"Mau ke rumah tante, aku di suruh mama mengantarkan makanan ini." Risfa menyodorkan kotak makanan.
"Wah, terima kasih ya!" Wina mengambil kotak makanan di tangan Risfa.
"Sama sama tante," jawab Risfa tersenyum.
"Terus lu ngapain cengar cengir? napa lu kagak pulang?" ucap Wina.
"Mau ke rumah tante!" sahut Risfa.
Wina memicingkan matanya memperhatikan Risfa. "Ni bocah pasti mau ketemu Hasby." Gumamnya dalam hati.
"Boleh ya tante?" tanya Risfa meminta izin.
Wina langsung mendorong bahu Risfa. "Kagak ada Hasby di rumah, lu pulang saja ya. Anak perawan kagak boleh keluyuran. Sana pulang!"
"Tapi tante?" Risfa menolak untuk pulang.
"Pulang kagak lu!" Wina melepas sandalnya.
"I, iyya tante!" Risfa langsung balik badan dan berlari menjauh.
"Anak gadis kok ngeyelan, kagak bisa di kasih tahu orang tua," rutuk Wina. "Kagak tahu apa yak? gue lagi kesel rollan ilang satu."
Wina menggelengkan kepala, lalu ia berjalan mengitari jalan mencari rolannya yang jatuh.
"Miaawww, di mana kau rollan sayangku." Ucap Wina terus mencari rollannya.
"Miaawww!!"
baru baja udah srek Ama bahasenye
top markotop dah
B...
Msh muda bgt dah men'Duda'??
Ikutan nimbrung ma Mas mas Duda
🙏🤺🏃🥰