Kisah cinta pandangan pertama seorang pria dewasa kepada gadis muda, yang merupakan anak dari teman baiknya, dan berakhir menjadi obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhahra Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Berdebar
Keisya menanti penuh harap jawaban dari Papanya. Beberapa kali dia sudah mencoba menghubungi, namun tak kunjung mendapatkan jawaban.
Kepalanya sesekali menengok ke belakang, dimana Bastian tengah berbincang dengan manager butik.
Ini sudah percobaan ketiganya, namun hasilnya tetap nihil.
Pergi kemana sebenarnya Papanya ini? Bukankah mereka sudah berjanji?
"Papa kamu mungkin masih sibuk" Bastian tiba-tiba sudah berada di belakangnya. Keisya segera berbalik, menatap pria tersebut.
"Aku takut Papa kenapa napa Om. Sebelum aku berangkat Papa bilang mau berangkat juga" Dia cemas, takut terjadi sesuatu di jalan. Itu yang sangat dia takutkan sekarang.
"Nanti saya coba cari tahu. Sekarang kamu pilih baju lebih dulu" Bastian menenangkan sekaligus menawarkan solusi.
Keisya mengangguk, "Tolong yah Om. Kalau udah ada kabar langsung kasih tahu aku"
Bastian ikut mengangguk. Dia berlalu dengan tangan merogoh ponsel di saku celananya. Setelah menekan layar pada satu nama di kontaknya, Bastian berbalik menghadap ke arah keberadaan Keisya.
"Bagaimana?" tanyanya langsung dengan suara pelan.
"Masih di posisi yang sama Pak" jawabnya begitu sopan dari wanita di sebrang telepon.
"Kirimkan gambarnya, tahan beberapa saat lagi. Tidak ada batasan waktu, kamu hanya cukup mengulur waktu selama mungkin tanpa dicurigai" Bastian menjelaskan secara detail yang langsung di pahami oleh Jane, sekretarisnya.
Setelahnya panggilan mereka terputus. Bastian tetap berdiri di tempatnya menunggu pesan lainnya masuk. Baru setelah apa yang dia inginkan sudah ada dikirimkan, Bastian mendekati Keisya.
Gadis itu tampaknya tidak benar-benar tenang dengan perasaan cemasnya. Bastian cukup iri pada Gunawan bisa mendapatkan perhatian sebesar itu. Jika itu terjadi padanya, betapa bahagia rasanya.
Suatu saat nanti dia pasti akan mendapatkannya. Untuk sekarang dia harus lebih bersabar, dan juga berusaha tentunya. Karena prisipnya adalah melakukan pendekatan tanpa pemaksaan, maka sangat wajar jika hasil begitu lambat seperti sekarang.
Jika bukan dia sendiri yang menciptakan pertemuan pertemuan ini, mana mungkin bisa sampai ke tahap sekarang.
Bahkan mustahil dia bisa merasakan betapa lembut dan manisnya permukaan bibir gadis ini.
Oh, sial. Dia ingin kembali mencicipinya.
Sedikit Flashback....
Meskipun tidak ada balasan, Bastian tetap menggebu mengeksplor bibir Keisya. Dia menekan kedua pipi gadis tertidur itu hingga mulutnya terbuka dan memiliki celah untuknya menelusupkan lidahnya.
Kedua anggota tubuh tak bertulang itu saling membelit satu sama lain.
Bukan hanya perasaan Bastian saja, namun Keisya memang memberikan respon gerakan dalam alam bawah sadarnya.
Bibir gadis itu bergerak. ikut memangutnya. Decapan bibir mulai terdengar nyaring di ruangan temaram tersebut. Saliva terlihat mengalir membasahi area mulut mereka berdua.
Bastian semakin bersemangat.
Suara napas Bastian semakin berat dan memburu. Dia semakin bernafsu memangut bilah memabukkan tersebut.
Tangan Bastian yang lain berada pada pinggang Keisya. Dia elus. usap dan juga remas. Geraman semakin terdengar. Pinggang gadis ini begitu ramping dan kecil. Apalagi kulitnya, begitu lembab dan halus.
Hanya itu yang mereka lakukan. Setelah merasa cukup dengan ciuman tersebut, Bastian ikut tidur di samping gadis tersebut. Dia mendekap Keisya dalam pelukannya. Dia ciumi permukaan wajahnya, sesekali akan mengambil kesempatan untuk kembali menyatukan bibir mereka.
Kegilaan Bastian berakhir saat hari sudah berganti. Dini hari dia meninggalkan kamar tersebut. dan pindah ke kamar di lantai bawah dengan pikiran yang terus tertuju pada gadisnya.
Flashback berakhir...
'Ok, sabar dude. Kau akan segera mendapatkannya kembali' Bastian menyemangati dirinya sendiri dalam batinnya begitu bayangan keintimannya dengan gadis di depannya muncul dalam benaknya.
"Gimana om? Udah ada kabar?" Keisya bertanya tidak sabaran.
"Sini, lihat ini" modus Bastian. Dia meminta gadis itu mendekat untuk melihat layar ponselnya.
Keisya berdiri berdempetan dengan Bastian. Rasa penasaran akan kabar Papanya menghilangkan canggung yang biasanya dia rasakan saat bersama Bastian. Kepalanya melongok lebih dekat, tepat di bawah wajah si pemilik ponsel.
Di sana dia melihat Papanya sedang berhadapan dengan seorang pria lansia berpenampilan rapi. Keisya lega, sekalipun tidak tahu siapa orang itu, namun melihat Papanya baik-baik saja, itu sudah cukup untuknya.
"Orang itu cukup berpengaruh. Dia bisa mengatasi masalah Papa kamu"
Keisya semakin senang mendengarnya. Masalah yang dimaksud adalah saat Papanya harus ke luar kota tempo hari. Setelah kepulangannya, Papanya masih sangat sibuk sampai sekarang.
Dan sekarang, setelah mendengar masalah itu bisa teratasi, Keisya lega. Sangat lega.
"Syukurlah"
Bastian mendekatkan wajahnya, mengendus pelan aroma rambut terurainya dengan matanya yang terpejam.
"Rambut kamu memang selalu seharum ini?"
"Hum?" Keisya mendongak, langsung bertemu tatap dengan sepasang iris tajam yang juga tengah menatapnya dengan lekat.
Perlahan pupil mata Keisya melebar. Dia kaget dan baru sadar dengan posisi mereka saat ini. Dia mengerjap, langsung mundur menjauh tanpa menoleh.
Tanpa tahu jika dia hampir menabrak sebuah manekin yang berada tepat di belakangnya.
Bastian dengan sigap meraih pinggang Keisya dan menariknya ke arahnya. "Sangat ceroboh" dia pun sama kagetnya dengan apa yang hampir terjadi. "Lain kali hati hati. Kalau kamu tertimpa bagaimana?"
Gerutuan Bastian sama sekali tidak di tanggapi oleh Keisya. Dia sedang bingung dengan dirinya sendiri.
Bagaimana tidak, jantungnya sekarang berdebar gila gilaan. Ada gelitik aneh dalam tubuhnya, yang ia tidak ketahui apa namanya.
Ada apa dengannya?
Inikah debaran yang sering Sisi katakan jika sedang jatuh cinta pada lawan jenis?
Tapi bagaimana bisa? Bagaimana mungkin debaran ini terjadi karena teman Papanya?
\=\=\=\=\=
Ruangan di salah satu hotel itu tampak mewah dengan segala dekorasinya. Tampak elegan dan mewah. Semuanya tampak berkelas dan mahal. Tidak heran Papanya memilihkan Keisya gaun yang sangat mahal.
Keisya suka saja sebenarnya dengan pakaian yang dipakainya sekarang, hanya saja ada satu bagian yang sedikit membuatnya risih.
Belahan dadanya cukup rendah. Dan juga tanpa lengan. Seumur hidupnya dia belum pernah berpakaian seterbuka ini, dan itu cukup mengganggunya.
"Kamu ga nyaman yah?" Gunawan bertanya pelan. Mereka sudah berada di dalam, diantara orang-orang penting dan berkuasa.
"Cuma belum terbiasa aja. Tapi selebihnya aman. Aku nyaman pakainya"
Gunawan mengangguk paham. Dia membawa putrinya itu untuk menyapa beberapa orang yang dikenalnya.
"Wah, putrimu sangat cantik. Kau benar-benar pandai menyembunyikan berlian" puji salah satu pria seusia Gunawan.
"Kalian terlalu berlebihan"
Keisya hanya mengangguk sambil tersenyum simpul.
"Bagaimana kalau aku kenalkan dengan putra sulungku? Siapa tahu mereka berjodoh, dan kita bisa berbesan"
Gunawan tertawa kecil merespon ucapan yang ia anggap sebagai lelucon itu. Dia sama sekali tidak menanggapinya dengan serius.
Namun tidak bagi sati orang. Dia sangat kesal dengan perkataan tersebut.
"Tidak bisa" semua orang menoleh ke arah sumber suara.
Disana Bastian berjalan mendekat, dengan auranya yang begitu dominan. Gambaran Bastian yang semua orang tahu selama ini.
Bastian berdiri di samping Keisya, yang sekarang berdiri di antara dirinya dan Gunawan. Gadis itu kembali melihatnya tanpa berkedip.
Apakah dia setampan itu malam ini sampai membuat Keisya terpesona?