"Kamu, Istriku! Namamu Senja, Aku ingat itu."
Naurally Senja Hafidza. Seorang santri Wati yang pernah mondok di salah satu pesantren dekat pesisir Pangandaran. Merasa terkejut tatkala seorang pria berwajah tampan namun berambut gondrong dan berpenampilan bak berandal, yang memang pernah la temui beberapa kali di pantai tempat ia menghafal Al-Qur'an ketika sore hari. Tiba-tiba hadir di depannya dan mengakui bahwa Senja adalah Istrinya.
"Maaf, kita baru beberapa kali bertemu dan dalam ketidak sengajaan. Mana mungkin saya adalah Istri Saudara."
Sedangkan di posisi laki-laki tersebut, yaitu Keindra Alif Hibridzi, saat ini ia sedang mengalami amnesia, pasca bangun dari koma, akibat kecelakaan motor beberapa bulan yang lalu. Di dalam ingatannya, hanya menyisakan seorang nama saja yaitu Senja. Parahnya lagi, di ambang halusinasinya, Senja adalah seseorang yang pernah ia nikahi dan saat ini adalah Istri Sah nya.
UJUNG OMBAK DI KAKI SENJA. Mari mulai baca saja, Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Saya, Suaminya!
..."Telah ku rayu Illahi, menumpu bisik pada setiap sujudku, Agar membawa kerinduan ini kembali bertuan. Sisa kekuatan dari setiap ujian yang menghampiri adalah bahwa kami masih berdiri di bumi yang sama dan menatap langit yang serupa."...
...-Naurally Senja-...
...🍃🍃🥀🍃🍃...
Tok...tok...tok...
"Siapa Yah! mau Maghrib begini, tidak biasanya ada tamu." Ujar Mama.
"Biar Ayah yang buka pintu," Ayah Senja segera membuka pintu.
"Assalamu'alaikum," terdengar suara laki-laki di luar sana.
"Wa'alaikum salam," eh Nak Anshar!" ternyata Anshar yang datang.
Ayah Senja tetap bersikap ramah pada Anshar, walau berkali-kali mengganggu Senja. Kei yang mendengar nama Anshar segera mendekati Ayah Senja.
"Senja-nya, ada?" tanya Anshar.
"Untuk apa, mencari Senja?" batin Kei.
"Maaf Nak! Senja tidak ada di rumah, ia sedang pergi ke rumah kerabatnya." jawab Ayah Senja.
Mama Senja, perasaannya ketar ketir dan was-was. Raut wajahnya nampak khawatir dengan berdiri mematung di dekat sofa. Mama Senja takut Anshar akan berkelakuan aneh-aneh dan bisa saja memicu emosi kei.
Mama Senja telah mengetahui jika Kei sering berkelahi dengan Anshar sebelum ia pergi ke Singapura. Karena Anshar kerap kali mengganggunya.
"Wah, sayang sekali! padahal saya membawakan makanan kesukaan Senja."
"Maaf Nak Anshar! bukan kami menolak rezeky. Akan tetapi, Senja sudah memiliki suami, tidak pantas rasanya menerima pemberian dari laki-laki lain. Nak Anshar tahu sendiri kan, jika pun Senja ada, ia akan menolak pemberian Nak Anshar!"
Kei merasa lega mendengar itu. Ia tahu, istrinya tidak akan mengkhianatinya, walaupun mereka sedang berjauhan.
"Suami? suami yang mana Pak? Suami yang telah meninggalkannya begitu saja? laki-laki yang mau enaknya saja, habis manis sepah di buang!" ujar Anshar.
Deg!
Kei yang mendengar kata-kata Anshar tidak terima, ia pun meradang. Akhirnya yang Mama Senja Khawatirkan akan terjadi. Kei meminta izin keluar dan menggeser posisi Ayah mertuanya yang masih berdiri di ambang pintu.
"Apa lo bilang? asal lu tahu, gue enggak pernah meninggalkan Senja, apalagi berniat membuangnya." Suara maskulin Kei terdengar memecah keheningan beranda rumah tersebut.
"Wao! akhirnya lu ada di sini, pasti mau menceraikan Senja kan?" kata-kata Anshar makin tidak dapat di tolerir, Kei tersulut emosi.
"Bangsat! enyah lu dari sini."
Bugh!
Bugh!
Kei menyerang Anshar. Begitupun Anshar, ia tidak lantas tinggal diam. Akhirnya terjadilah baku hantam Antara Kei dan Anshar. Ayah Senja yang hendak melerai mereka, malah di tarik sang Istri. Akhirnya Mama Senja berteriak meminta tolong.
Kei dan Anshar sama-sama menyerang, Kei nampak mendapatkan luka di pelipis, Anshar pun sepertinya ia mengeluarkan darah dari sudut bibirnya.
Beberapa tetangga pun mulai keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi di rumah Senja.
"Tolong pisahkan mereka," ucap Ayah Senja.
Namun,
Bugh!
Bugh!
Jgret!
Bala bantuan datang. Beberapa laki-laki tampan, berpostur tinggi 185 cm hingga lebih, berbadan kekar dan memakai kemeja yang tangannya di gulung, serta celana bahan hitam, yang entah datang dari arah mana, kini sedang ikut menghajar Anshar.
"Kalian?" Kei nampak terkejut.
"Ma'af! kami terlambat. Mas!" ujar salah satu laki-laki tersebut.
"Haduh kalian apa-apaan sih? gue masih mampu menghadapinya sendiri." omel Kei. Anshar nampak sudah tidak berdaya.
"Kami tahu, akan tetapi ini perintah dari Bapak dan Mas Willy, agar kami melindungi Mas Kei." Mereka adalah orang-orang suruhan Willy yang mengikuti Kei dari sejak Bandara tadi.
"Hem, ya sudah! bawa orang ini pulang ke keluarganya. Dan kalian, lebih baik kalian pulang ke Jakarta, jangan menyia- nyiakan waktu, untuk menguntit gue."
"Tidak Mas, kami tidak akan pulang. karena pekerjaan kami memang menghabiskan waktu. Kami di bayar untuk menguntit Mas Kei, memastikan keselamatan Mas Kei." jawab tegas salah satu orangnya Willy.
"Terserah kalian, asal jangan merepotkan keluarga di sini,"
Anshar di bawa orang Willy untuk di pulangkan ke rumahnya.
Di saat Kei hendak masuk kembali ke dalam rumah, Adzan Maghrib pun terdengar mengalun merdu di speaker surau terdekat.
"Alhamdulillah!" ucap serempak Kei dan orang tua Senja, para tetangga yang sempat menyaksikan perkelahian tersebut, mereka pun segera masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap Shalat Maghrib.
"Apa dia sering ke sini dan menemui Senja?" Kei menghentikan langkah Ayah dan Mama Senja yang hendak ke kamar.
"Ia Nak! sebaiknya Nak Kei mandi dulu, lalu Shalat! setelah Shalat kita bicara." Ujar Ayah Senja.
"Ia Nak! sekalian nanti kami bantu mengobati lukamu!" Mama Senja ikut bicara.
Kei pun mengangguk! ia segera masuk ke kamar Senja. Mama dan Ayah Senja pun segera ke kamar mengambil peralatan Shalat. Mereka hendak Shalat di madrasah, beberapa orang Willy meminta izin untuk ikut Shalat. Ayah Senja tentu saja amat senang mendengarnya. Ia mengizinkan dengan senang.
Sejuk, damai dan wangi. Kesan pertama Kei saat membuka kamar Senja yang sudah tiga bulan tidak ia masuki. Tatapan Kei langsung menuju ke atas tempat tidur.
Kei tersenyum tipis. Ia mengingat aktivitas di atas ranjang tersebut bersama Senja. Sentuhan, peluk dan kecup tidak pernah absen setiap hari di atas kasur tersebut.
Saling memanjakan dan juga saling bercerita adalah kebiasaan yang membangun chemistry di antara keduanya. Hingga terciptalah Cinta dari Senja untuk Kei dan Kei menikmati setiap proses Senja jatuh cinta padanya kala itu.
"Senja!" desah Kei pelan.
Lalu ia berjalan ke arah tempat tidur. Ia duduk sebentar, menghirup dalam-dalam wangi dari tubuh Senja yang masih tertinggal. Rasa rindunya sedikit terobati.
Dengan tersenyum simpul, Kei melihat handuk, pyama, hingga ke pakaian dalam, kain sarung serta atasan Koko dan juga kopiah berada di atas meja kecil di dekat tempat tidur. Nampaknya, Senja sudah menyiapkannya sebelum pergi.
"Sayang! aku sungguh merindukanmu!"
Kei mengambil handuk, ia menuju lemari, membukanya perlahan. Pakaiannya nampak tersusun rapi di sana. Kei tersenyum. Lalu ia membuka pakaiannya di belakang pintu lemari yang ia buka lebar, mengikuti Senja seperti dulu.
Kei segera mandi. Terdengar Iqomah sudah berkumandang.
Setelah memakai pakaian, Kei bergegas ikut berjamaah bersama mertua dan para orang Willy. ia sudah teringgal satu rokaat maka dari itu Kei menyusul.
Setelah Isya, Kei berbincang dengan Ayah dan Mama mertuanya. Ayah mertuanya membantu mengompres lebam di wajah Kei. Para orang suruhan Willy nampak asik berbincang di halaman belakang, sembari meminum kopi.
"Lalu, mengapa Senja pergi dan tidak menunggu Kei kembali, Yah! Mah?" tanya Kei.
Mama mengulurkan surat yang di titipkan Senja. "Bacalah! Nak kei akan faham setelah membaca surat tersebut."
"Apakah yang membuat Senja pergi dari rumah ini adalah karena orang tadi, Mah?" tanya Kei, sembari mengambil surat dari tangan Mama mertuanya.
"Betul Nak!"
Kei menarik nafasnya pelan, lalu ia membuka sepucuk kertas yang di lipat dengan rapi itu.
Assalamu'alaikum,
Teruntuk Suami ku, Mas Kei.
...*Mas, Senja izin pergi dari...
rumah. Bukan karena marah atau kecewa sebab Mas tidak juga kembali*
...*Akan tetapi Aku pergi demi...
menghindari fitnah, karena ada seorang pria yang bukan mahram ku bersikeras, hendak menemui ku*
...*Aku pergi demi untuk...
menyelamatkan kehormatan ku, dari setiap pandangan dan juga ucapan yang bukan Haknya. Karena hanya Mas Kei-lah yang ber-Hak atas semua ucapan serta pandangan terhadapku*
^^^Dari yang^^^
^^^merindukan mu^^^
^^^-Naturally Senja-^^^
Kei memejamkan matanya sejenak. Lalu ia menarik nafasnya berat. Ia merasa telah menjadi suami yang tidak dapat melindungi Istrinya.
"Mah, Yah! sepertinya Kei harus pergi malam ini juga, untuk menemui Senja." Ujar Kei.
"Sebaiknya besok saja Nak!" cegah Ayah Senja. Kei pun menurut.
Setelahnya mereka berbincang hal lain dengan suasana hangat, termasuk pekerjaan Kei dan alasan Kei terlambat pulang.
Hampir tengah malam, Kei masih berdiri di depan jendela kamar Senja yang masih terbuka. Wajahnya menengadah ke atas langit. Serpihan masa sebelum amnesia kembali membentuk serpihan puzzle.
"Aku pernah dalam posisi begini. Hanya itu siang hari dan di luar rumah." gumam Kei.
"Ya Allah, tolong sampaikan kepada malaikat agar membawa kerinduan ini pada bidadari pemilik hatiku."
Di tempat lain, Senja pun sedang melakukan hal yang sama, menatap langit malam yang bertabur bintang dan di hiasi bias cahaya rembulan.
"Ya Rabb, dengan segala kekuatan Mu! bawalah rindu ini pada pemiliknya."
**
Keesokan hari,
"Sudah mau berangkat, Nak?" tanya Ayah Senja.
"Ia Yah! Ayah dan Mama, mau Kei kirimkan helikopter? agar cepat sampai di Jakarta?"
Ayah dan Mama Senja hari ini akan berangkat ke Jakarta, demi memenuhi undangan orang tua Kei.
"Tidak perlu Nak! kami takut!" Ayah Senja menolak dengan halus dan tertawa kecil.
"Baiklah! Ayah dan Mama berangkat bersama mereka saja!" tunjuk Kei pada orang suruhan Willy.
"Insya Allah, Nak! nanti selepas Dzuhur kami berangkat."
"Baiklah Yah, Mah! Kei pergi ya, Alhamdulillah, alamat pastinya sudah Kei temukan."
"Hati-hati di jalan Nak!" ujar Mama Senja. Di balas senyuman oleh Kei dan ia masuk ke dalam mobilnya.
Kini Kei sudah dalam perjalanan. Dua mobil mengikuti Kei dari belakang. Satu mobil lainnya, akan membawa orang tua Senja ke Jakarta.
Butuh waktu sekitar tiga jam setengah, dari rumah Senja ke pondok pesantren tempat Senja berada saat ini.
Kei begitu sumringah, tatkala ia berhasil menemukan alamat yang Mama Senja berikan.
Kei bergegas menanyakan keberadaan Senja pada pengurus pesantren. Namun, mereka mengarahkan Kei ke rumah sang Kyai. Mereka mengira Senja ada di rumah Kyai.
"Assalamu'alaikum, punten!" (permisi) ucap Kei di depan pintu sebelah selatan pesantren, rumah yang terlihat sederhana namun, asri.
Wa'alaikum salam! Mangga." (silakan)
Seorang wanita paruh baya, mengenakan gamis dan kerudung Syar'i abu-abu muncul dari dalam.
"Ia, ada yang bisa di bantu?" tanya wanita tersebut sopan.
"Maaf Umi, apa betul ini rumah Kyai Alfan?" Kei menangkup kedua telapak tangannya takzim.
"Betul! Anak ini siapa?"
"Perkenalkan Umi. Saya Keindra, saya adalah suaminya Senja. Naurally Senja! saya datang kesini ingin menjemput istri saya." ujar Kei dengan sopan.
"Masya Allah, ini teh suaminya Senja. Mari masuk Nak!"
"Terima kasih Umi. Sepertinya tidak perlu, saya sedang terburu-buru karena harus kembali ke Jakarta." tolak Kei halus.
"Oh seperti itu Nak! akan tetapi Neng Naura tidak menginap di rumah ini, ia menginap di rumah Putri Umi, Nok Eha namanya, di luar pondok pesantren ini, tidak terlalu jauh, hanya berjarak sepuluh menit dari sini. Jika Nak Keindra hendak ke sana, nanti Umi minta santri putra menemani." Ujar istri Kyai.
"Baik Umi. Terima kasih banyak, maaf merepotkan," balas Kei.
"Tidak Nak! tidak merepotkan. Alhamdulillah, Umi dapat bertemu langsung dengan suami Neng Naura, seandainya ada Abah, pasti akan merasa senang juga, akan tetapi Abah sedang ada pertemuan di pesantren sahabatnya."
"Lain kali Umi, Insya Allah saya mampir lagi kemari." tandas Kei dengan tersenyum santun.
Istrinya Kyai pun memanggil dua orang santri putra, ia meminta untuk mengantarkan Kei ke rumah putrinya, di mana Senja berada saat ini.
Setelah berpamitan, Kei segera menuju ke tempat di mana istrinya berada dengan mengikuti dua santri putra yang mengendarai sepeda motor.
Dari kejauhan nampak Senja sedang berdiri di depan rumah minimalis, Kei tersenyum bahagia. Jantungnya mulai berdegup tidak karuan.
"Sayang!"
Kei segera turun dari mobil, setengah berlari ia menghampiri Senja. Namun, senyuman Kei pudar seketika, ketika melihat senja tidak sendiri. Seorang laki-laki muda yang usianya tidak jauh dari Kei, sedang berdiri menghadap ke arah Senja, namun berjarak.
Senja sedang tersenyum malu-malu Sembari menundukan wajahnya.
"Sayang!" panggil Kei. Setelah ia berada di dekat Senja.
"Ma--Mas Kei!" Senja menoleh dan ia terkejut melihat Kei, sudah berada di hadapannya.
"Siapa dia, Neng?" tanya si laki-laki. Senja diam, ia memandang wajah Kei dengan sendu.
"Saya, Suaminya!" tegas Kei membuat laki-laki tersebut menatap Senja dan Kei bergantian.
Bersambung...
bikin nge drop dan malas bacanya...
walau ujung cerita nya bahagia...
TERNYATA QYANA BKN 11-12 DGN RHAILLA, TTPI 1-100,, SEMUANYA ULAH LICIK ILLA RUPANYA..
BETUL KATA SENJA, MASA KLO UDH NIKAH MSH NONGKRONG DI CLUB BRSAMA LKI2 YG BKN MAHRAMNYA, MMG HRS DISELIDIKI...
KOQ KEI PELUKAN MA RILLA, ADA APA...??