NovelToon NovelToon
Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama / Cintamanis
Popularitas:19M
Nilai: 4.9
Nama Author: Rifani

Novel ini adalah lanjutkan dari novel ISTRI KECIL SANG PEWARIS. Sengaja di pisah karena novel ini di khususkan untuk kebahagiaan rumah tangga Gabrielle dan Elea setelah semua masalah hidup terselesaikan. Di novel ini Elea akan memulai hidup barunya sebagai seorang mahasiswi. Dia juga akan belajar menjadi seorang model dan juga desainer dari Grandma Clarissa. Juga akan mengisahkan tentang usaha Gabrielle dan Elea dalam memiliki momongan hingga pada akhirnya mereka di beri tiga pewaris seperti yang pernah di lihat Elea dulu.

Novel ini mengandung banyak keuwuan, kebucinan dan juga kelucuan. Harap kepada para pembaca untuk tidak muntah paku ketika membaca bagian-bagian berbahaya tersebut.

Terima kasih dan selamat tersesat dalam dunia halu bersama penulisnya. Salam kiss kiss onlen dari emak termanis se-Mangatoon 😘😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

My History

Elea dengan begitu fokus menggoreskan pensil di atas kertas putih saat Safira memintanya menggambar sesuatu yang tengah dia pikirkan. Jari tangannya yang lentik nampak menari indah ketika Elea mulai masuk ke dalam alam khayalannya. My History, mungkin hanya sesimpel itu judul dari gambar yang sedang Elea buat. Tapi terlepas dari judul sederhana tersebut, tersimpan satu memori panjang yang selama ini membayangi pikirannya.

"Aku pernah memakai gaun seperti ini ketika Kak Iel mengajakku bersumpah di hadapan Tuhan. Dan aku juga pernah melihat bayangan Mama Sandara yang begitu bahagia ketika berdiri di sisi Ayah Bryan dengan memakai gaun seperti ini juga. Mungkinkah gambaran gaun ini bisa aku wariskan padamu, Flow?" gumam Elea.

Florence, calon princes kecilnya yang dia lihat akan segera hadir, membuat Elea tak tahan untuk menjadikannya model dari gaun pengantin yang sedang dia gambar. Flow, begitu Elea memanggilnya. Gadis itu akan menjadi gadis yang sangat polos dimana akan berada dalam keposesifan kakak-kakaknya kelak. Entah bayangan ini nyata atau tidak, yang jelas Elea akan sangat menantikan hari-hari bahagia tersebut. Dia ingin putrinya menjadi gadis paling bahagia di muka bumi. Biarlah jika orang akan menyebutnya berlebihan, Elea hanya tidak mau putrinya mengulang kisah suram yang pernah di alami olehnya, Mama-nya, dan bahkan Grandma-nya. Flow harus bahagia.

"Elea, kau bicara apa barusan?"

Suara Lusi membangunkan Elea dari lamunan. Dia kemudian menoleh, menatap sekilas lalu melanjutkan tugasnya menggambar.

"Aku sedang bicara dengan dunia imajinasiku, Kak. Gaun ini ingin aku persembahkan untuk putriku kelak," jawab Elea tanpa ragu.

Untuk beberapa detik Lusi nampak terdiam bingung. Tapi sedetik kemudian dia tersenyum. Lusi tentu belum lupa kalau Elea mengidap penyakit kista, tapi dia mencoba menutupi hal tersebut dengan memuji hasil gambarnya yang memang terlihat sangat cantik dan elegan.

"Putrimu pasti akan sangat bangga jika tahu kalau ibunya telah mempersiapkan gaun yang begitu indah. Aku jadi iri melihatnya."

"Hmm, jangan iri-iri Kak, tidak baik. Lagipula Kakak dan Paman Gleen memiliki bakat bibit unggul. Aku jamin anak-anak kalian nanti akan sangat cantik dan tampan."

"Tapi pasti tidak akan secantik dan setampan anak-anakmu dan Kak Gabrielle, Elea. Bibit kami berdua masih kalah jauh," sahut Lusi.

"Tidak apa-apa meskipun kalah jauh, Kak. Yang penting rajin membuatnya dengan tutorial yang tepat. Aku yakin sekali hasilnya pasti tidak akan mengecewakan!" ucap Elea dengan komuk wajah penuh goda.

Lusi dan Elea sama-sama terkikik pelan setelahnya. Safira dan Kak Ning yang tengah mengawasi murid yang lain sampai penasaran karena ulah dua oknum wanita tersebut. Sejak serangan mental waktu itu, Kak Ning benar-benar sangat menghindari pembicaraan dengan Elea. Dia takut kalau-kalau gadis ini akan mengadukan sesuatu yang jelek tentangnya pada Nyonya Clarissa Wu.

"Ssttt, ssttt."

"Apa?" tanya Safira sambil menatap ke arah Kak Ning.

"Apa yang sedang di bahas oleh Elea dan Lusi?" tanya Kak Ning.

"Mana aku tahu, Kak Ning. Lebih baik kita jangan ikut campur urusan mereka. Kau mau kena serangan mental lagi?" jawab Safira seraya mengendikkan bahu.

"Ihh, apa-apaan kau ini, Safira. Kenapa kau malah menyumpahiku?"

Kak Ning langsung bersungut-sungut. Kesal dengan jawaban Safira, dia memutuskan untuk kembali ke tempat duduk. Namun sayangnya dia hampir dibuat mati jantungan ketika orang yang paling dia hindari tiba-tiba memanggilnya.

"Kak Ning, bisa tolong periksa gambaranku tidak?" tanya Elea.

"P-periksa?"

Safira menahan tawa melihat raut wajah Kak Ning yang terlihat begitu panik begitu Elea bertanya. Dia lalu melanjutkan tugasnya tanpa mempedulikan lagi kondisi Kak Ning yang sudah bermandikan keringat dingin.

Matilah aku. Kenapa kau tidak bertanya pada Safira saja, Elea. Aku benar-benar sangat takut padamu, batin Kak Ning.

Sambil menahan rasa gugupnya, Kak Ning berjalan ke arah Elea. Dia mengatur nafasnya sebelum mulai mengajaknya bicara.

"Em, bagian mana yang harus aku periksa?"

Kening Elea mengerut. Dia heran mengapa suara Kak Ning terdengar sedikit aneh di telinganya.

"Kak Ning, kau itu kenapa? Aku kan hanya memintamu untuk memeriksa tugasku, kenapa suaramu terdengar seperti orang yang akan di hukum mati?"

"Hah?"

Lusi menahan tawa ketika melihat reaksi Kak Ning yang sangat syok mendengar jenis racun yang di lontarkan oleh Elea. Astaga, bisa-bisanya anak ini. Sudah tahu kalau pernyataannya kemarin membuat Kak Ning syok tujuh keliling, tapi masih saja Elea memanggilnya. Sudah bisa dipastikan lah kalau Kak Ning akan bereaksi seperti ini. Elea ada-ada saja.

"Kak Ning sedang tidak enak badan ya?" tanya Elea dengan santainya. Dia memang sengaja membuat wanita ini ketakutan. Karena sejak kejadian kemarin wanita ini masih saja memperlihatkan tampang yang angkuh, seperti tidak belajar dari rasa malu yang dia dapat kemarin.

"Tidak, Elea. Aku baik-baik saja," jawab Kak Ning kemudian pura-pura memeriksa hasil gambar Elea.

"Kau menakutinya, Elea," bisik Lusi mulai kasihan.

"Biar saja, Kak. Sekalian senam jantung,"

Sebagai seorang desiner, Kak Ning tentu saja paham mana gambar yang berbobot dan mana gambar yang hanya modal tampang fisik saja. Saking terpesonanya dia pada hasil tangan Elea, Kak Ning sampai lupa kalau tadi dia sempat merasa segan dengan gadis ini. Meski baru mentahan saja, Kak Ning sudah bisa memprediksi kalau hasil jual dari gaun yang di gambar oleh Elea akan langsung di minati oleh kalangan borju. Benar-benar gambar yang memiliki daya pikat luar biasa.

"Elea, sebelum ini dimana kau kursus menggambar?" tanya Kak Ning penasaran.

"Aku belajar menggambar di atas daun yang masih di penuhi embun, Kak. Dan aku menggunakan jariku yang kurus untuk membentuk pola desain di bagian gaunnya," jawab Elea dengan raut wajah yang sedikit murung.

Astaga Kak Ning, kenapa kau menyinggung masa lalu Elea. Bisa gawat kalau Kak Gabrielle melihat istrinya bersedih. Kau dalam bahaya Kak, batin Lusi panik.

"Menggambar di atas daun yang berembun menggunakan jari?"

Mulut Kak Ning ternganga. Dia tidak menyangka kalau gambar ini memiliki history yang begitu dalam. Dengan tatapan penuh kagum, Kak Ning mengangkat gambar Elea kemudian memamerkannya ke hadapan para mahasiswa yang lain.

"Embun adalah definisi rasa yang menyejukkan. Meski terkesan dingin, nyatanya embun banyak membuat orang lain merasa teduh!" ucap Kak Ning penuh penghayatan. "Elea, idemu sungguh luar biasa. Di tugas pertamamu kau mampu berimajinasi dengan sesuatu yang begitu menyentuh. Aku suka karyamu dan aku akan menantikan kapan gaun ini akan masuk rumah produksi!"

Raut mendung di wajah Elea langsung berganti cerah begitu mendengar pujian Kak Ning. Dia tidak menyangka kalau kisah pahit yang tadi dia ucapkan akan memiliki arti yang begitu mendalam. Entah karena terharu atau karena apa, tiba-tiba saja Elea berlari maju ke depan. Dia lalu memeluk Kak Ning dengan penuh suka cita.

"Terima kasih untuk pujiannya, Kak Ning. Gaun ini memiliki arti yang begitu besar dalam hidupku. Ada beberapa history penuh air mata yang aku gambarkan di sini dan kau bisa mengartikannya dengan begitu baik. Aku menyayangimu, Kak!"

Di peluk seperti itu oleh Elea membuat Kak Ning jadi salah tingkah sendiri. Dia lalu menoleh ke arah Safira yang langsung di balas anggukan kepala olehnya.

"Kak Ning, aku ingin mengajakmu makan malam bersama Grandma Clarissa. Kira-kira Kak Ning ada waktu tidak?" tanya Elea setelah puas memeluk.

"Haaa? M-makan malam?" sahut Kak Ning dengan mata membelalak lebar.

Elea mengangguk.

"Dengan Nyonya Clarissa Wu?"

Elea kembali mengangguk. Dia lalu menyeringai, tidak akan seindah yang kau bayangkan Kak Ning. Begitulah kira-kira niat terselubung di dalam hati Elea.

"Of course, Baby. Anytime."

Setelah itu Elea kembali ke tempat duduknya. Dia lalu tersenyum sambil mengerlingkan mata ke arah Lusi yang tengah menatapnya bingung.

"Kak Ning akan kuajak pergi ke makam Mama Sandara agar dia tahu kesedihan macam apa yang terkandung dalam gaun yang tadi dia puji, Kak. Do'akan dia tidak mati jantungan ya!" bisik Elea.

Tamat riwayatmu Kak Ning, batin Lusi.

🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀

...🍀Jangan lupa vote, like, dan comment...

...ya gengss...

...🍀Ig: rifani_nini...

...🍀Fb: Rifani...

1
Nazema Ardiansyah
lanjutkan ka
Laili Dwi Agustina
Bern dingin seperti beruang kutub tapi pria yang gentleman 👍😍
Laili Dwi Agustina
wow hanya dengan amora ...Bern mengucapkan banyak kata...sudah gak irit bicara👍😍
🦋⃞⃟𝓬🧸Jemiiima__: ‎Halo sahabat pembaca ✨
‎Aku baru merilis cerita terbaru berjudul BUKAN BERONDONG BIASA
‎Bercerita tentang Lucyana yang dikhianati oleh masa lalu, lalu terjebak dalam pernikahan mendadak dengan Sadewa—seseorang yang jauh lebih muda dengan luka sendiri yang membuatnya trauma.
‎Bisakah keduanya bertahan? Ataukah cinta mereka akan menyerah pada masa lalu yang menghantui?
‎Mampir, ya… siapa tahu kamu ikut jatuh hati pada perjalanan mereka.
‎Terimakasih💕
total 1 replies
Jumiah Miah
padahal menunggu knp sampai dsni crtanya pdhal bgus bgt aqu taunya cuma dsni
Yanxy Yanxipl
Gabriel saraf binatang sja di cemburu in benar2 saraf
Dahlia Anjani
sabar Levi... kenapa gk iyakn aja ucapan ellea barusan.. skrg nyselkna..🤣🤣🤣🤭🤭
Dahlia Anjani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Andrea
dah 2 tahun gx update juga ini novel..gx jelas penulis'y😒
Dahlia Anjani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 astaga ellea...
Dahlia Anjani
sabar nun 🤣🤣
Dahlia Anjani
sabaarr sabaarr dokter Jackson hehe
Ailiya Amalia
sangat bagus
Maghfira
mak tolong update lagi dong please 😭😭😭
Tety Yulianti
Luar biasa
Ra Lasminah
Karl dialah musuh dalam selimut
Ra Lasminah
flow seperti elea yg bisa melihat kedepan sedangkan Karl seperti Gabriel ayahnya yg bisa baca pikiran orang karna musuh yg sebenarya adalah pada Karl karna dialah yg mendapatkan kutukan itu
Bundana Irpan Sareng Faizal
❤❤❤❤
Syella Alvionita
Mak, Judul yang punya flow apa ya ? Aku kok cari gak ada
Naura Maryanti
kak tolong lanjutkan cerita nya
Eka Dewi
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!