NovelToon NovelToon
Bos Hyper Itu Mantanku

Bos Hyper Itu Mantanku

Status: tamat
Genre:Obsesi / CEO / Romantis / Tamat
Popularitas:191.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kinamira

"Jika Bos mengajak kamu berhubungan apa kamu bersedia?" "Berhubungan?""Berhubungan intim. Itu adalah salah satu syarat diterima kerja di sini.""Hah?" Lily Gabriella tak pernah menyangka tempat ia melamar pekerjaan karyawan kecil dan bergaji besar tak ada bedanya dengan orang-orang yang dibayar menyenangkan pelanggannya.
Meski tau persyaratan itu, mau tak mau ia harus menerima demi biaya pengobatan ibunya. Namun dalam sekejap ia langsung menyesal saat tau mantan kekasihnya Axton Fernando adalah bos Hyper itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kinamira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

"Lepas Axton!" teriak Lily memberontak.

Namun, bagaimana pun ia melawan, tenaganya tak kuat melawan Axton.

Cengkraman satu tangan Axton sudah membuat Lily tak mampu menggerakkan tangannya.

Axton beralih mencium leher Lily, membuat Lily mendongak, melihat orang-orang memperhatikan, begitu juga Maria yang berdiri dengan tatapan tajam namun hanya diam, seolah tak berani protes.

Di pandang seperti itu dalam kondisi intim jelas sangat memalukan.

Lily mendongak, melihat cengkraman Axton, namun matanya lebih tertuju pada hiasan dinding tepat di atasnya.

Dengan sisa jari-jari yang bergerak bebas, ia mendorong bingkai hiasan dinding itu ke atas, dan berusaha memastikannya lepas dari pengaitnya.

Usaha yang dilakukan tak gagal. Bingkai itu jatuh menimpa mereka. Yang berhasil membuat Axton spontan menyentuh puncak kepala Lily memastikan ujung bingkai itu tak mengenai Lily.

"Ah, Ly. Kamu baik-baik saja?" sahut Axton menatap Lily cemas.

"Gila kamu menanyakan itu!" sentak Lily mendorong Axton menjauh.

Lily hendak bergegas pergi dari sana. Namun, Axton kembali menangkap tangannya, membuat Lily semakin menatapnya kesal.

"Sepertinya aku memang terlalu baik padamu," ucap Axton dingin.

Lily mengerutkan keningnya, menggeleng kepala. "Sikapmu memang baik, sangat baik Axton, tapi kelakuanmu menjijikkan!" ucapnya penuh penekanan.

Axton memejamkan matanya, rahangnya mengeras, satu tangannya yang menggantung mengepal kuat, sedangkan tangan lainnya mencengkram kuat tapi tetap memastikan Lily tidak kesakitan.

Axton kembali menatap Lily. "Lepaskan pakaianmu!" perintahnya penuh penekanan.

Lily mengerutkan keningnya, menatap semakin tak suka.

Sementara Axton melanjutkan. "Layani aku, jika menolak, kamu tau akibatnya!" ucapnya menekan kalimat ancamannya.

Lily mengepalkan tangannya. Menatap penuh kebencian. "Mereka benar-benar mirip. Sama-sama mengancamku dengan keluarga, tapi meminta hal yang sama bertentangan," batin Lily.

Wajah Ibunya dan Luna bermunculan dalam benaknya, membuat air matanya jatuh berlinang. Merasa kedua orang yang disayangi itu, tak pa tas menderita karenanya.

Namun, rasa lelah juga hadir. Ia bertahan dengan segala kesedihan dan luka beberapa tahun ini, membuat setiap harinya merasa lelah.

Lily membuka mulut, mengulum senyum tipis. "Kalau begitu lakukan saja."

Axton mengerutkan keningnya, bingung dengan maksud ucapannya.

Lily melanjutkan. "Dan perlu kamu ingat, aku lelah, aku capek, aku masih di sini, karena memang masih di beri kehidupan."

Axton yang merasa sesuatu yang berbeda dari tatapan dan suara Lily, membuatnya perlahan melepaskan cengkramannya.

"Jika kau berani menyentuh Ibu dan Luna, maka hari itu, akan menjadi hari terakhirmu melihatku hidup! Dan aku pergi dengan penuh kebencian padamu, Axton!" ucap Lily dengan tenang, namun membuat Axton tak berkutik.

Pria itu seolah terhipnotis setiap kata yang terlontar, hingga melepaskan tangan Lily sepenuhnya.

Setelah itu, Lily bergegas pergi, tanpa ada halangan lagi dari Axton.

Dalam langkah Lily pergi, Axton memperhatikan dengan bibir terkatup rapat, namun batinnya penuh tanya.

"Lily benar-benar memendam sebuah luka. Dia benar-benar membenciku, tapi apa yang membuatnya membenciku?" batin Axton menyadari sangat jelas tatapan kebencian itu.

Namun, Axton terlalu bingung, ia merasa tak melakukan kesalahan apapun yang merugikan untuk Lily.

"Hal apa Ly? Kenapa tatapanmu seperti itu?" batin Axton berusaha mengingat kembali apa yang telah terjadi sebelumnya.

Axton menghela nafas kasar, menyisir rambutnya ke belakang. "Bukannya tatapan itu milikku? Bukannya aku yang harusnya marah? Kamu yang mengkhianati aku lebih dulu Lily," batinnya semakin risau.

Tatapan Lily tapi terus terulang dalam pikirannya membuatnya merasa tersiksa sendiri.

Axton mengusap kasar wajahnya. Lagi-lagi ia gagal, ia kalah. Ia tak bisa menindas Lily begitu saja. Lily hanya menatapnya, dan ia sudah kalah dengan perasaannya.

"Kamu pulang terlalu lama Axton."

Kalimat Lily sebelumnya kembali terngiang, saat ia berusaha mengingat. Hal itu membuat bola mata pria itu melebar.

"Pulang terlalu lama, dan tak ada kabar. Apa itu? Ya, aku juga belum menjelaskan apapun tentang kondisiku di sana pada Lily," batin Axton kembali menatap ke arah Lily pergi.

"Aku harus menjelaskannya. Sekalipun aku yang terlihat mengemis, tak apa. Aku tidak bisa hidup tanpa Lily," batin Axton dengan penuh tekad segera menyusul ke arah Lily pergi tadi.

"Ada yang lihat Lily ke mana?" tanya Axton.

"Tadi ke lift, menuju lantai satu pak," sahut seseorang dengan cepat.

Axton segera berlari ke lift, menekan angka satu, berharap ia segera sampai.

"Lily marah, dia pasti akan pulang," batin Axton mengetahui sikap wanita itu.

Setelah pintu lift terbuka, dengan penuh keyakinan. Pria itu berlari keluar ke pintu utama.

Pandangannya langsung bergerak ke area parkiran motor sembari tetap berlari. Namun, langkahnya perlahan berhenti saat melihat di parkiran itu ada Lily di atas motor, serta Leon yang tampak berbincang.

"Lagi, aku melihat ini lagi," batin Axton mengepalkan tangan, dengan sorot matanya penuh kecemburuan.

Axton diam memperhatikan. Hingga suara teriakan Lily terdengar samar di tempat Axton namun gerakan Lily membuat Axton tau mereka ribut.

"Sudah ku bilang itu bukan urusanmu, Leon!" sentak Lily menepis tangan Leon yang menggenggam tangannya.

"Tapi, Ly. Axton jelas melec*hkanmu tadi. Sebaiknya kamu keluar dari sana. Biar aku yang menghidupi kalian," sahut Leon membujuk.

"Itu menjijikkan!" sahut Lily penuh penekanan, mengungkapkan perasaan merinding mendengar tutur kata itu.

"Ly, ini demi kamu."

"Aku bisa bekerja, dan tidak akan pernah bergantung pada pria. Pria sepertimu hanyalah sampah!" sahut Lily ketus.

Lily yang duduk di motornya menarik kendaraannya itu ingin pergi. Namun, Leon terus menahannya.

"Lily. Sesampainya aku, Pak Axton lebih buruk. Dia tidur dengan sembarangan wanita, dan sebaiknya kamu bukan bagian wanita-wanita itu," sahut Leon terus berusaha membujuk.

Lily mendelik. "Kalian sama. Jangan merasa dirimu lebih baik. Kalian sangat sama."

Lily mendorong Leon kembali, dan hendak pergi dari sana. Namun, motor yang sempat ingin dijalankan terhenti saat melihat Axton di depannya.

"Astaga, menjengkelkan sekali," batin Lily merasa semakin lelah.

"Mau ke mana? Ini bukan jam istirahat, apalagi jam pulang sekolah," ucap Axton meletakkan satu tangannya di kepala motor.

Lily menghela nafas pelan, tak menyahut, merasa tak lagi memiliki energi untuk itu.

Axton berbalik menatap Leon, dan menyahut. "Maaf sebelumnya Pak Leon. Mari kita bicara lagi, soal kerja sama," sahutnya membuat Lily menatapnya sinis.

"Rencana jahat apa lagi di otak manusia ini," batinnya.

Leon terdiam beberapa saat, menatap Axton, lalu melirik Lily.

"Em, baik Pak. Boleh, kapan kita bicaranya?," jawabnya.

"Sekarang."

Meski cukup bingung, Leon hanya mengangguk mengiyakan. Bagaimana pun usahanya sangat penting, dan ia tak boleh menolak kesempatan itu.

Axton kemudian melepaskan tumpuan tangannya dari motor Lily, mengulum senyum lembut pada wanita itu.

"Mau pulang? Pulang saja. Bagaimana pun kamu baru sembuh," tuturnya lembut.

Dengan sikap masa bodohnya. Wanita itu mengendarai motornya dengan perlahan semakin menjauh dari tempat itu.

Tanpa basa-basi, Axton langsung menyahut. "Investasi lima miliar, keuntungan 70 dan 30. Kau 70, aku 30, bagaimana?"

"Hah?" Leon langsung terkejut. Itu jelas sangat berbeda jauh dengan kontrak yang dia tawarkan, dan baginya itu tak masuk akal.

"Syaratnya jangan ganggu Lily, dia milikku!" lanjutnya dengan tegas.

1
Rika Adja
keren lily👏👏👏
lanjut thor
Ati Ati
endingnya keren
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
ardiana dili
lanjut
Ati Ati
Tamat riwayatnya pak tua🤣🤣
Ati Ati
ikatan batin dengan ibunya, semoga jumpa dengan Lily,Alin nya
Ati Ati
gimana ya perasaan nya nanti jika tahu itu adalah putri nya,SDH dihina padahal tu bocah g bersalah,jadi sedih ingat Alin
Ati Ati
Alin anaknya Lily dan Axton
Mita Paramita
akhirnya mereka menikah 😍
Susi Akbarini
😍😍😍😍😍

yg semangatttt
Susi Akbarini
duuhhh..
awalnya senyum2..
pas akhir nyesek jga
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Leon ketemu pasangan ny biar mereka sama sama bahagia
❥␠⃝ ͭ🍁MI-🅨🅤🅛🅘🅐🅝🅣🅨👻ᴸᴷ
Luna sekecil itu bisa bijak menghadapi kerumitan hubungan orang tuanya wujudkan keinginan nya Lily kamu berhak bahagia bukan cuma demi Luna dan Lana tapi demi semuanya suatu saat pasti Luna kembali padamu seperti dulu lagi Leon udah mulai sadar ingin menebus kesalahan dimasa lalu jadi ayah yang baik untuk Luna tanpa mengganggu hubungan mu dengan Axton
ardiana dili
lanjut
Susi Akbarini
saabbbrrrr Axton...


😍😍😍😍😍😍
ardiana dili
lanjut
Susi Akbarini
jadi ingat pas aku kecil..
hidup di tengah rumitnya hub ortu

🙏🙏🙏💪💪💪
Susi Akbarini
leon ada andil dlm hal ini....

andaikan dia gk nglarang lun adekat axton..
pastai lily akan bawa 2 anknay saat ktmu axton..
kasihan luna..



🙏🙏🙏💪💪💪💪
Mita Paramita
yaudah Lily sekarang hidup bahagia aja sama Lana & axton. biar Luna sama Leon kn kalo kangen bisa maen
ardiana dili
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!