Anita dijual oleh kekasih juga sahabat baiknya pada seorang pria tua. Hingga suatu hari ia mendapati diri tengah berbadan dua dan terusir dari rumah. Hidup penuh derita dilalui Anita dengan tetap mempertahankan janin dalam rahimnya.
Sampai anak itu tumbuh besar dan menjadi seorang anak jenius yang mampu membawa Anita dalam kehidupan lebih baik. Anak yang dilahirkan itu pula, membawa Anita untuk bertemu lelaki yang sudah merenggut kesuciannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasihat Untuk Anita
Kembalinya Diandra, jelas bukan kabar menyenangkan dan pasti akan menjadi bumerang untuknya. Seorang perempuan dengan ambisi besar, melakukan banyak cara untuk bisa mencapai tujuan, itulah Diandra yang dikenal oleh Reno setelah perkelahian hari itu.
Di rumah, Anita dipertanyakan tentang seperti apa hubungannya dengan Reno. Tentu, pernikahan bukanlah sebuah permainan, di mana Anita bisa menerima hanya karena putranya. Divya dan Harish ingin memastikan, jika penerimaan yang ada juga bukan atas sebuah penekanan.
"Kamu benar-benar mencintainya, Sayang?" lembut Divya membelai rambut putri cantik kini bersandar kepala pada pangkuannya.
"Iya, Ma. Mungkin aneh, tapi aku merasakan cinta dan ketulusannya. Dia tidak seperti apa yang orang pikirkan, dia bisa membuatku bahagia. Mama juga melihatnya sendiri tadi kan?" sahut Anita tersenyum, seakan ia tengah menangkap bayang senyuman Reno dalam pikiran.
"Ya, mama melihatnya. Kamu tahu, kami sangat terkejut karena ternyata dia bisa tertawa. Kami juga lebih terkejut saat tahu laki-laki itu adalah Tuan muda," jawab Divya.
"Mama menyukainya? maksudku ... apa mama dan papa menyukainya? aku tidak ingin menikah kalau hanya aku yang bahagia nanti," serius Anita.
"Ya, asalkan dia bisa membahagiakan kamu juga Arga. Kami hanya berhak memberi restu," sahut wanita masih setia membelai rambut putrinya.
"Papa juga tidak mempermasalahkan siapa laki-laki itu, meskipun dia bukanlah pengusaha atau orang berada. Asalkan dia bisa menyayangi kamu, menerima kamu dan membawa kamu ke jalan lebih baik, kenapa tidak?" timpal Harish.
"Tapi ini bukan karena terpaksa, atau karena Arga kan?" tanya Harish ingin meyakinkan.
"Bukan, Pa. Karena aku juga membutuhkannya," sahut Anita.
Divya dan Harish saling tatap, mengukir senyum satu sama lain. Keduanya percaya jika Anita sudah memiliki kedewasaan, sanggup menilai apa yang baik dan tidak. Untuk sebuah pernikahan, mereka hanya bertugas untuk memberikan restu dan mendoakan untuk sebuah kebahagiaan, serta kelanggengan.
Menasihati Anita tentang pernikahan, tentang apa yang harus dan tidak ia lakukan, tentang bagaimana cara untuk menjadi seorang istri, yang tak begitu baik memiliki kecemburuan terlalu berlebih. Apa lagi, Reno adalah seorang pengusaha yang tak akan pernah lepas dari wanita dalam hidup serta pekerjaannya.
Kalau Anita cemburu berlebihan, maka bukan tak mungkin hubungan akan hancur begitu saja tanpa sanggup untuk diselamatkan. Tak ada laki-laki yang ingin memiliki seorang istri pencemburu buta, mereka juga butuh ruang sendiri menurut Harish.
Tak mengapa untuk cemburu, karena itu memang diharuskan. Namun, bukan berarti cemburu dengan tak masuk akal, sehingga membatasi ruang gerak suami dan menjadikannya muak, cemburulah dengan kewajaran. Divya pun menceritakan tentang dirinya yang tak henti belajar untuk mengerti dan memahami suaminya, bahkan hingga detik ini.
Ketika laki-laki berubah menjadi api karena emosi, maka istri harus bisa menjadi air. Mendengarkan ketika suami marah, bukan melawan dengan amarah sama. Karena api dan api hanya akan menimbulkan kobaran besar, yang mungkin tak akan bisa mudah padam dan justru menghabiskan banyak hal.
Anita memahami setiap perkataan orang tuanya, dia pun ingin untuk kehidupan rumah tangganya bersama Reno baik-baik saja. Berterima kasih untuk penerimaan keluarga atas Reno dan memaafkan segala pernah dilakukan, Anita menyadari jika pernikahan bukan hanya tentang dua orang saja.
Ya, meskipun Reno punya kuasa dan sanggup mengendalikan siapa saja yang dia inginkan, tapi Anita ingin untuk lelaki dicintainya itu bisa diterima oleh kedua orang tuanya tanpa memandang siapa diri Reno, dan hanya melihatnya sebagai laki-laki yang begitu ingin menjadikannya pendamping hidup.
...----------------...
Detik berganti menit dan jam, Lisa menunggu di lobi seorang diri. Menantikan seseorang yang tengah dibawa oleh anak buah Tuannya, Lisa tersenyum begitu melihat kehadiran beberapa orang sekarang. "Silakan ikut saya, Tuan sudah menunggu Anda di kamar." Lisa berucap sopan, mengarahkan tangan kanan untuk perempuan berambut panjang itu mengikutinya.
"Maaf, boleh aku bertanya? Tuan siapa yang kalian maksud?" tanya perempuan dengan aroma parfum menyengat, bersama memasuki elevator.
"Reno Hardian Syahputra, Anda pasti pernah mendengarnya." Lisa menekan tombol lantai.
"Ha?! benarkah?!" terbuka lebar mulut dengan kedua mata terbelalak. "A—apa aku sudah cantik? bagaimana penampilanku?"
"Sangat," singkat Lisa. "Minumlah ini,"
"Apa itu?" tanyanya menunjuk sebutir obat dari tangan Lisa.
"Ini akan membantu Anda untuk memuaskan Tuan muda. Dengan begitu, peluang Anda akan semakin besar berada di sisinya. Bukankah Anda menginginkan hal itu?" jelas Lisa.
Perempuan di sampingnya tersenyum lebar, tak berpikir langsung menelan sebutir pil dari tangan Lisa bersama sebotol kecil air mineral. Siapa yang tak ingin ada di samping Reno, walau itu hanya untuk dijadikan selir saja. Semua perempuan berlomba untuk bisa dekat dengannya, bersama harapan tinggi dilakbungkan.
Reno masih duduk di kamar hotel. Ketukan pintu dari luar, mengayunkan satu jari untuk bodyguardnya membukakan pintu. Lisa masuk ke dalam, tentu dengan seseorang yang tak hentinya membetulkan pakaian dan juga tatanan rambut sedari tadi.
Langsung berpamitan begitu selesai melaksanakan tugasnya, Lisa dan bodyguard yang ada di dalam tadi pun meninggalkan kamar hotel, tanpa lupa menutup kembali. Bodyguard berjaga di depan pintu, ada dua orang. Lisa pergi ke kamarnya, mengurus hal lain yang harus dikerjakan di hari itu juga.
Gaun merah ketat menunjukkan lekukan tubuh ramping, terpampang di hadapan lelaki dengan segelas minuman di tangan. Ia duduk melipat kaki bersama punggung bersandar, gelas berada di atas lutut dan mata mengamati seksama tiap jengkal tubuh yang siap disuguhkan untuknya. "You look so beautiful," ucap Reno menarik ujung bibir kanan ke atas bersama mata menyusuri tiap jengkal keseksian yang sengaja ditonjolkan.
"Terima kasih banyak, Tuan." Perempuan berambut panjang berwarna coklat tua itu tersenyum bangga.
Reno meneguk minuman dalam gelas hingga tuntas, berdiri lalu menghampiri. Jarinya membelai lembut sisi wajah perempuan di depannya, Reno sekali lagi menaikkan ujung bibir kanan atas. "Aku memiliki aturan dalam permainan!" kata Reno, sembari jari tetap membelai wajah dibubuhi riasan.
"Tidak ada sentuhan bibir, dan aku bermain dengan sangat kasar!" timpalnya.
"Ya?" tersentak perempuan kini mengangkat pandangan.
"Aku juga tidak menyukai kontak mata!" ucap Reno, segera pandangan diturunkan oleh perempuan di depannya.
Reno membungkuk ke arah meja, menuangkan dua gelas minuman lalu diberikan pada seseorang yang sengaja dibeli hari ini. Meminta agar minuman dalam gelas seketika dihabiskan, Reno mengisinya kembali. Sekarang, penutup mata dipasangkan olehnya dengan kalimat-kalimat rayuan ia keluarkan.
Pujian tentang kecantikan serta keindahan tubuh pun, diucapkan dengan sangat baik oleh Reno. Pakaian dibuka perlahan, jari membelai lembut setiap kulit hingga suara nikmat terdengar dari bibir berhias lipstik nude.
Tinggalkan like, komentar dan vote "kalau mau". Terima kasih banyak.
ap ms ad seosean 2 ny