⚠️⚠️ NO PLAGIAT!!
UPDATE SETIAP HARI KAMIS & MINGGU JAM 21.00 WIB
Hari-hari bahagia Silvia mendadak hancur begitu saja karena dirinya yang tiba-tiba mengandung anak dari pacarnya.
Di tengah-tengah reputasi buruknya itu, apakah Silvia dapat bertahan?
Yuk pantauin terus ceritanya! 😉
-----
Cerita ini dibuat berdasarkan imajinasi author semata. Jangan lupa untuk like, comment, dan vote ceritanya ya para readers yang budiman..
-----
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Revina Willy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa maksudnya?
"Mawar, kita sudah sampai."
Aku hanya mengangguk pelan tanpa menjawab dengan kata-kata. Pintu gerbang sekolah sudah terlihat jelas di depan mataku. Namun entah kenapa rasanya aku tidak ingin keluar dari dalam mobil.
Karena aku tidak kunjung turun juga, Kak Alex yang berada di kursi kemudi tiba-tiba menoleh ke arahku dan bertanya padaku.
"Mawar, jadinya kamu mau begini terus? Aku tau tuan besar memang keterlaluan, tapi.."
"Sudahlah kak, Kakak ga ada hubungannya dengan urusan keluargaku." Jawabku.
"Maaf, aku cuma cemas. Sejak Nyonya Violet tiada, kamu hampir ga pernah senyum." Ucap Kak Alex lagi.
"Kak!"
Aku menatapnya dengan tajam. Kak Alex tampak terkejut karena itu. Sepertinya dia tak menyangka aku akan tersinggung oleh perkataannya tadi.
"Jaga ucapan kakak! Jangan bawa-bawa ibu dalam masalahku!" Kataku.
Cklak
BRAK
Karena sudah terlanjur kesal, aku langsung membuka pintu lalu melangkah turun dari mobil.
Mungkin karena terlalu banyak menumpuk amarah sejak pagi, tanpa sadar aku jadi menutup pintu mobil dengan sangat keras.
Dari kaca mobil yang transparan, aku bisa melihat raut wajah Kak Alex yang terkejut sesaat pintu mobil terbanting.
Kak Alex adalah pengurus rumah di kediaman Valrose. Dia sudah melayani keluargaku sejak aku masih kecil.
Kak Alex ditemukan oleh ibu ketika dirinya masih berusia 12 tahun. Dalam keadaan sebatang kara dan tak memiliki apapun, Kak Alex yang masih kecil dengan senang hati ikut bersama ibu.
Mungkin bagi Kak Alex, ibu yang saat itu menolongnya adalah seorang malaikat baginya. Kak Alex sangat menyayangi ibu. Karena itu Kak Alex juga sangat menyayangiku yang merupakan anak ibu.
Setelah ibu tiada, hanya Kak Alex satu-satunya orang yang selalu berada di sisiku.
Ayah membenciku karena aku tak pernah mengakui istrinya sebagai nyonya keluarga.
Kak Alex tidak mau aku melawan mereka lebih dari ini. Karena Kak Alex tau jika aku terus melawan keinginan mereka, aku pasti akan lebih menderita.
Huh! Seumur hidupku aku tak akan mau bersikap baik kepada mereka. Ayah bahkan tak menganggapku sebagai anaknya. Bagi ayah aku hanyalah pengganggu dalam kebahagiaannya.
Tidak ada harapan bagiku untuk mendapatkan kasih sayang ayah. Semua kasih sayang itu hanya milik Ryan seorang. Hanya Ryan satu-satunya anak yang ayah akui.
"Mawar!"
Panggilan seseorang memecah lamunanku. Aku langsung menghentikan langkahku dan menoleh ke arahnya.
"Oh? Ternyata si satpam penjaga ya? Di mana nona cantik yang lo jaga waktu itu? Kok ga keliatan?" Kataku sambil tersenyum miring.
Sadar akan maksudku yang tengah mengejeknya, raut wajahnya seketika berubah menjadi marah.
"Gue udah bilang waktu itu kan? Jangan ganggu adik gue!!" Sergahnya.
"Sera.. gue tau kok. Gue ga budek tau! Apalagi pikun, itu bukan gue banget." Balasku.
"Terus kenapa kemarin lo nyiramin teh panas ke Silvi hah?! Oh gue tau! Lo pasti iri karena Silvi pacaran sama mantan lo kan? Duh ga bisa move on ya? Kasian..."
Sera tersenyum getir. Seumur hidupku, baru kali ini aku melihatnya semarah itu.
"Si Silvi itu penting banget ya buat lo?" Tanyaku padanya.
Aku menatap matanya tanpa beralih sedikitpun. Aku benar-benar serius saat ini.
"Asal lo tau, ini cara gue buat nyelametin tuh cewek." Sambungku.
Senyum yang tampak di wajah Sera seketika memudar sesaat mendengar perkataanku. Sepertinya dia benar-benar marah.
"Hah?! Hahaha jadi cara nyelametin orang itu dengan hampir ngerusakin wajahnya ya?" Sindir Sera.
"Sera! Lo bakal ngerti nanti." Kataku.
Aku tersenyum lalu berjalan pergi meninggalkan Sera. Aku tidak tau saat ini dia tengah menunjukkan ekspresi seperti apa. Namun yang pasti, saat ini dia pasti sedang kebingungan.
*POV Mawar end~
"Udah ya Sil, omongan ayah tadi gausah dipikirin."
Itu yang Farel katakan padaku sesaat kami baru tiba di depan sekolah. Farel mungkin tidak ingin membuatku merasa terbebani dengan ucapan Om Ferald tadi.
Aku mengangguk mengiyakan ucapannya. Sejak pagi raut wajah yang Farel tunjukkan tidak banyak berubah. Ini bukan seperti Farel yang kukenal. Lama-lama aku jadi khawatir jika dia begini terus.
"Farel, lo lagi ada masalah ya?" Tanyaku padanya.
Farel menatap mataku sebentar sebelum akhirnya berpaling dariku.
"Ga ada apa-apa kok. Ayo buru masuk kelas! Lo bilang murid teladan ga boleh telat kan?"
Farel tersenyum padaku sebelum melangkah pergi. Entah kenapa barusan Farel tampak seperti sengaja mengubah topik pembicaraan.
Sebenarnya apa yang sedang Farel sembunyikan dariku? Aku tau dia sedang ada masalah saat ini. Aku tidak percaya dengan ucapannya yang mengatakan dirinya baik-baik saja.
DEG
Jantungku tersentak kaget sesaat melihat orang yang sangat ingin kuhindari saat ini tiba-tiba melewatiku.
Aku memang belum melihat wajahnya, tapi aku bisa langsung mengenalinya dalam sekali pandang karena rambut panjangnya yang tebal dan bergelombang itu.
"Mawar.." Gumamku.
Jantungku berdegup kencang menahan rasa gugup dan takut. Semoga saja dia tak sadar kalau aku sedang berada tepat di belakangnya.
Sejak dia berusaha mencelakai ku di kantin kemarin, aku jadi enggan bertemu dengannya lagi. Aku bahkan tidak ingin bertemu dengannya meski hanya berpas-pasan saja.
"Hei!" Panggilnya tiba-tiba.
DEG
"I.. Iya..?"
Ah.. Apa yang kuharapkan? Ternyata sejak tadi dia memang tau kalau ini aku. Kenapa dia memanggilku? Apa lagi yang mau dia lakukan terhadapku?
"Aku udah lama pacaran sama Rendi. Aku lebih tau banyak tentang dia daripada kamu." Ucap Mawar.
Kenapa sih dia? Apa dia sedang memamerkan dirinya yang lebih banyak tau tentang Rendi daripada aku?
"Tatapanmu itu.. Kamu marah sama aku ya?" Tanya Mawar sembari mengerutkan keningnya.
Duh tanpa sadar aku jadi menunjukkan isi hatiku lewat ekspresiku. Aku tak dapat mengontrol raut wajahku sendiri karena terlalu kesal.
Aku menduga kalau Mawar berusaha mencelakaiku kemarin karena rasa cemburunya padaku. Aku masih ingat dengan wajahku yang nyaris terkena siraman air teh panas itu.
Jika dia memang melakukan itu karena rasa cemburu, seharusnya dia melihatku dengan tatapan kebencian ketika bertemu denganku lagi.
Apalagi kemarin aku menggagalkan rencananya itu. Seharusnya dia sekarang melihatku dengan tatapan yang penuh amarah, bukan tatapan yang penuh rasa simpati begitu.
"Kamu Silvi kan?" Tanya Mawar lagi.
"Iya, memangnya kenapa?" Tanyaku balik.
"Terus ikuti logikamu! Jangan terbutakan oleh rasa cinta." Ucap Mawar.
Setelah itu, Mawar tersenyum padaku. Entah kenapa aku merasakan adanya ketulusan dari senyumannya itu.
Tanpa berkata lebih banyak lagi, Mawar lalu berjalan pergi dari hadapanku. Aku tidak mengerti. Apa ucapannya tadi adalah sebuah pesan? Tapi apa maksudnya?