Aku tak ingin seperti ibuku. Mencintai tanpa batas dan diluar logika bahkan rela mati demi cinta. Tapi nasib yang membawaku menjalani hidup bahkan lebih parah dari Ibuku.
~Tiara Purnama ~
Gadis sederhana yang kuliah sambil bekerja membantu Ibunya membesarkan dan menyekolahkan adik - adiknya dan hidup dengan Bapak Tiri yang pemalas, suka mabuk-mabukan dan suka memukuli ibunya.
Melihat Ibunya yang begitu tersiksa dibuat suaminya membuat Tiara bertekad tidak ingin sepertinya Ibunya.
Tapi alangkah malang nasibnya, disuatu acara kampus Tiara di jebak oleh temannya. Mereka mengajak Tiara ke sebuah club malam, memberi Tiara minuman beralkohol dan malam itu Tiara berakhir di sebuah kamar hotel dengan seorang pria.
Bagaimana kelanjutan kisah hidup Tiara??
Lanjutkan kisahnya...
Selamat membaca.. semoga kalian suka 😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda siregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baby Boy
Ridho segera melaju menuju alamat yang diberikan Dian kepadanya tadi. Dengan kecepatan tinggi dia menembus jalanan.
Untung saja hari ini hari libur, lalu lintas tidak begitu ramai dan macet. Dengan lancar Ridho bisa segera sampai di alamat yang tertera di kertas yang diberikan Dian tadi di Cafe.
Setelah sampai di parkiran Ridho segera naik ke lantai paling atas seusai dengan tulisan Dian.
Ridho menekan bel berulang kali tetapi pintu apartemen tidak juga terbuka. Ridho juga menghubungi nomor handphone yang tertulis di kertas tapi tetap tidak aktif nomornya.
Ridho turun lagi ke lantai bawah dan mencari petugas keamanan dan pengelola apartemen.
"Pak tolong informasi Bapak Bintang Prakasa apakah ada di apartementnya?" tanya Ridho dengan nafas yang menderu karena baru selesai berlari.
"Bapak Bintang? Beliau tidak terlihat beberapa hari ini Pak" jawab petugas keamanan.
"Apakah Bapak tau dimana beliau saat ini?" desak Ridho.
"Waduh Pak kami tidak tau karena beliau sering pergi ke luar kota ataupun luar negeri. Kalau saya boleh tau ada keperluan apa ya Pak?" tanya petugas.
"Ada berita sangat penting Pak, mengangkut nyawa seseorang. Maaf saya tidak bisa jelaskan disini. Begini saja tolong catat nomor hp saya, nanti kalau beliau sudah pulang tolong suruh hubungi saya, penting" tegas Ridho.
"Baik Pak, akan saya sampaikan pada beliau" jawab Petugas.
Ridho keluar dari ruang keamanan dan segera meraih ponselnya.
"Halo Mbak Dian" ucap Ridho.
"Halo.. gimana Dho, ketemu sama Bintang?" tanya Dian tidak sabar.
"Mas Bintangnya gak ada Mbak, Di telepon juga gak aktif" lapor Ridho.
"Iya Dho, aku juga dari tadi ngubungin dia tapi gak aktif ponselnya" jawab Dian.
"Ya sudah Mbak, aku mau balik ke Rumah Sakit, gak mungkin nungguin Mas Bintang sampai pulang. Bisa jadi dia sedang ke luar kota atau bahkan luar negeri" ucap Ridho.
"Bisa jadi Dho. Tiara bersalin di Rumah Sakit mana Dho?" tanya Dian.
"RS. Kasih Ibu Mbak" jawab Ridho.
"Ya udah Dho. Aku akan ke sana, sampai ketemu di sana ya" balas Dian.
"Baik Mbak" Ridho menutup ponselnya dan kemudian melaju kembali ke RS. Kasih Ibu.
Tiga jam sudah berlalu dari dia tadi meninggalkan Tiara di RS. Ridho melihat Tari sudah tidak ada lagi di depan ruang bersalin.
Ridho menghubungi Tari.
"Tar kamu dimana?" tanya Ridho.
"Aku di ruang bayi Dho" jawab Tari.
"Tiara sudah melahirkan?" tanya Ridho terkejut.
"Sudah, anaknya laki-laki ganteng banget. Cepetan deh kamu ke sini. Lihat anaknya Tiara" perintah Tari.
"Tiaranya dimana?" tanya Ridho.
"Dia masih di ruang bersalin, pemulihan" jawab Tari.
"Ya sudah aku ke ruang bayi ya. Tunggu di situ" balas Ridho.
Setelah menutup panggilannya dengan Tari, ponsel Ridho berdering kembali.
"Halo Mbak" ucap Ridho.
"Dho Mbak sudah sampai di Rumah Sakit. Kamu dimana?" tanya Dian.
"Ruang bayi Mbak" jawab Ridho.
"Tiara sudah lahiran?" tanya Dian terkejut.
"Sudah. Mbak langsung ke sini aja" perintah Ridho.
"Oke, Mbak ke situ ya" balas Dian.
Ridho dan Dian sampai di ruang bayi. Mereka melihat hanya dari dinding kaca
"Yang mana anaknya Tiara Tar?" tanya Ridho.
"Tuh yang putih pipi tembem. Ganteng kan" Tari menunjuk ke box bayi yang ada di ujung.
"Wah gantengnya anak Tiara" puji Dian.
Tiba-tiba seorang perawat keluar dari ruang bayi.
"Keluarga Ibu Tiara?" tanya Perawat.
"Iya Sus" jawab Ridho.
"Bapak suaminya?" tanya Perawat.
"Bukan Sus, saya temannya" jawab Ridho.
"Suaminya mana?" tanya Perawat.
"Suaminya lagi ke luar kota Sus" jawab Dian langsung.
"Kalau begitu Bapak saja yang mengadzankan putranya Ibu Tiara. Kasihan dari tadi belum di adzan kan" perintah Perawat.
"Baik Sus" jawab Ridho.
"Kalau begitu mari masuk Pak" ajak Perawat
Ridho masuk kedalam ruang bayi mengikuti perawat dari belakang. Tak lama dia mendekat ke box bayi anak Tiara.
Perawat mengangkat bayi tembem itu kemudian memberikannya kepada Ridho dengan perlahan.
Ridho menerimanya dengan sangat hati-hati. Kemudian mulai mengadzankan bayi itu di telinga sebelah kanannya.
Setelah selesai adzan Ridho menatap bayi tersebut lama.
Maaf sayang Om sudah berjuang mencari keberadaan Papa kamu tapi Om tidak menemukannya. Kalau memang takdir yang membuat kalian tidak bertemu biarlah Om saja yang menggantikannya. Mulai hari ini Om akan menjadi Bapak kamu. Ucap Ridho di dalam hati.
"Ibu Tiaranya sudah di pindahkan ke ruang rawat inap Pak. Sebentar lagi putranya juga akan di antar pada Ibunya untuk belajar menyusu" ucap Perawat.
"Baik Sus, saya akan menemui Ibu bayi ini" jawab Ridho.
Ridho menemui Tari dan Dian di luar ruangan bayi.
"Kata Perawat Tiara sudah dipindahkan ke ruang rawat inap" ucap Ridho.
"Coba tanya Dho ruangan berapa?" tanya Dian.
"Sebentar ya Mbak" jawab Ridho.
Ridho kembali ke dalam ruang bayi dan bertanya dimana ruangan Tiara. Tak lama dia kembali keluar menemui Dian dan Tari.
"Ruang Kasih Sayang kamar 101 Mbak" ucap Ridho.
Mereka berjalan menuju ruangan tersebut. Begitu mereka sampai di ruangan itu Tiara sudah berbaring di atas tempat tidur.
Walau letih karena baru selesai proses lahiran tapi pancar bahagia sangat terlihat dari wajahnya.
Tari mendekat ke Tiara.
"Putra kamu ganteng sekali Ra" ucap Tari.
Tiara tersenyum mendengar pujian Tari.
"Siapa dulu Ibunya" balas Tiara.
"Selamat ya Tiara atas kelahiran Putra kamu, semoga kelak anak itu menjadi anak yang soleh dan menjadi pembela kamu di dunia dan akhirat" ucap Dian.
"Aamiin.. Terimakasih Mbak Dian" jawab Tiara.
"Selamat Ra, kamu sudah menjadi Ibu" ucap Ridho.
"Terimakasih Dho" balas Tiara.
"Kata Perawat tadi, sebentar lagi anak kamu akan dibawa ke sini. Mau belajar menyusu katanya" ujar Ridho.
"Iya, aku udah kangen sama Dia. Tadi belum puas lihatin wajahnya" balas Tiara.
"Baby Boy, kamu mau kasih nama apa Ra?" tanya Tari.
"Tegar, aku akan buat namanya Tegar. Aku ingin dia menjadi anak yang tegar sesuai dengan namanya. Kuat menghadapi apapun di dunia ini" jawab Tiara.
"Tegar? Bagus aku suka nama Tegar. Semoga dia menjadi anak yang tegar ya" sambut Ridho.
"Hanya Tegar, pendek banget namanya" sambut Tari.
"Belum ke fikiran nama panjangnya apa. Nantilah aku fikirkan lagi, sementara namanya Tegar dulu nanti baru ditambah nama belakangnya" jawab Tiara terlihat sedang berfikir.
"Gak pakai Prakasa di belakangnya?" tanya Dian.
"Pra... Prakasa?" Tiara terlihat terkejut mendengar pertanyaan Dian.
"Iya Prakasa seperti nama keluarga Papanya" sambung Dian.
"Mmm.. Mbaaaak Dian. Mbak kok bisa tau? tanya Tiara.
"Maaf Ra, aku yang kasih tau Mbak Dian" jawab Ridho.
.
.
BERSAMBUNG
🤣🤣
top bgt si roy
tunjukan siapa dirimu.