Dylan pemuda berhati luhur, baik, polos juga tampan. Ia memiliki kepintaran yang luar biasa juga hobbi yang suka berganti-ganti mengikuti mood-nya. Dylan juga tidak pernah membanggakan diri sebagai putra konglomerat.
Karena suatu skandal ia di buang papanya ke daerah terisolir jauh dari kata modern sebagai hukuman, ia hanya boleh kembali bila ia sudah berhasil.
Di dusun ini Dylan bertemu gadis cantik yang bernama Lili seorang guru yang mengabdikan diri di pedalaman, Lili tunangan Defri Kakak sepupu Dylan yang sudah meninggal. Hingga karena suatu kesalahpahaman keduanya menikah, tanpa cinta.
Ayu seorang gadis cantik putri seorang pria terkaya di dusun sangat membenci Lili dan terobsesi dengan Dylan. Ayu dan komplotannya berusaha menghancurkan rumah tangga Dylan dan Lili.
Mampukah Dylan menjadi seorang lelaki yang penuh kasih dan tanggung jawab? Untuk Lili, papa dan penduduk dusun.
Mampukah Dylan meraih cinta, kehormatan dan kepercayaan....
Nb: Maaf jika banyak kesalahan, karena saya baru mencoba untuk menulis.
Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syafridawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penasaran
Setibanya di rumah Andrian, Lili disambut hangat oleh Azizah Lili di peluk dan bertubi-tubi di cium.
"Sayang ... Tante rindu sekali. Mengapa kali ini kamu begitu lama baru pulang?" tanya Azizah merangkul bahu Lili.
"Aku ... di sekolah begitu banyak kegiatan, Tan. Sekarang aku sudah pulang!" ucap Lili merangkul lengan Azizah. Lili melihat ke sekeliling ruangan, ia penasaran dengan putra mereka yang bandal tapi pintar! Itu pujian yang Defri berikan.
"Iya ... pulang! tapi besok sudah kembali lagi. Kenapa ga dari kemarin-kemarin sih, kamu mampirnya?" tanya Azizah. Mendorong Lili duduk di kursi meja makan.
"Kamu pasti lapar. Ayo, makan! Tante sudah masakin, menu kesukaan kamu." Azizah menyendokkan nasi, sayur dan berbagai jenis makanan yang begitu mewahnya. Jauh berbeda saat ia tinggal di dusun semua serba sederhana.
Azizah menyuapi Lili, awalnya Lili enggan akan tetapi azizah terus memaksanya.
"Andaikan, Mami masih hidup ... aku juga seperti ini." Batin Lili menikmati setiap suapan yang diberikan Azizah.
Mereka berdua bercerita banyak hal, akan tetapi mereka tidak pernah berbicara mengenai pribadi Lili.
"Apakah Lili ... sudah menikah?" batin Azizah melihat seutas cincin di jari manisnya.
"Bu, apakah kamar Den Dylan di bersihkan lagi dan di ganti seprainya" salah satu ART bertanya.
"Tidak usah Mbok! Semalam baru di ganti, anaknya juga tidak ada ga bakalan kotorlah." Ucap Azizah.
Lili melihat sekelumit bayangan kesedihan dan kerinduan di wajah cantik Azizah.
"Tante, boleh ga aku tidur di kamar Dylan?" pinta Lili.
"Hm ... kamar tamukan banyak, Nak. Mengapa harus di kamar Dylan? Anak cerewet itu akan marah, bila ada yang menyentuh barang-barangnya." Ucap Azizah bersemangat namun kemudian ia adalah termenung ....
"Baiklah, tidurlah di kamar Dylan. Tante senang! Kamar itu sudah enam bulan kosong, lagian dia tidak akan marah karena dia tidak akan tahu." Ucap Azizah.
"Iya, rahasia kita berdua Tante!" ucap Lili.
Keduanya tersenyum dan melingkarkan jari kelingking.
"Mbok, tolong ... suruh Mbak Puji angkat koper Lili ke kamar Dylan, ya Mbok!" perintah Azizah kepada kepala ART yang sudah berumur.
"Baik, Bu." Jawab si Mbok.
LIli dan Azizah melanjutkan berbincang perjalanan dan pengalaman Lili di Puak. Baru kali ini, Lili banyak bicara dengan Azizah ada kenyaman dan ia merasa ingin selalu dekat dengan Azizah.
Hingga ia menceritakan kisahnya selama empat tahun terakhir bersama Mak Upik, Ucok dan penduduk dusun.
"Bagitu bahagianya Lili, syukurlah! Ia sudah bisa melangkah maju meninggalkan dukanya. Kehilangan orang-orang terkasihnya." Batin Azizah.
"Mak Upik orang yang luar biasa baik dan dermawan, Tan. Dari Mak Upiklah, Lili belajar bercocok tanam dan berbagai hal di dusun, yang membuat segalanya lebih mudah. Penduduk juga begitu luar biasanya." Ucap Lili.
"Anak didikku juga pintar-pintar, Tan. Sekarang, sejak Ucok datang ke dusun, PLTD sudah aktif kembali. Ucok Benar-benar pria yang baik dan luar biasa pintar Tante. Semua penduduk menyayanginya, termasuk Emak." Kedua retina Lili berbinar saat ia berbicara tentang, Ucok.
"Apakah kamu juga menyayangi Ucok, Nak? " tanya Azizah. Senyum malu-malu Lili sudah menjawabnya.
"Lili, sudah jatuh cinta dengan pria itu. Aku harap ia mampu membahagiakan Lili melebihi Defri, ponakanku." Batin Azizah.
"Ucok ... aku juga merindukan Ucok, putraku." batin Azizah mengingat bayangan wajah putranya yang tampan.
"Syukurlah bila begitu, Nak!" Ucap Azizah ikut senang.
Akan tetapi Lili tidak mengatakan bahwa ia sudah menikah dengan Ucok. Ia takut dan sedikit malu, karena awal pernikahan mereka karena kesalahpahaman.
Malam semangkin larut, Lili sudah merebahkan tubuhnya di pembaringan Dylan.
Lili mengamati sekitar kamar. Tempat tidur ukuran king size, kamar mandi yang sangat luas. Wall closet yang sangat besar, penuh dengan deretan sepatu, sandal, buatan brand terkenal, pakaian yang penuh dengan berbagai model, berbagai jenis topi, jam tangan dan asesoris pria lain . Semuanya mahal dan semuanya branded bukan kaleng-kaleng.
"Selera Dylan luar biasa!" Batin Lili.
Ia memasuki kamar mandi yang sangat mewah, dengan bathtub dan shower yang cantik, kamar miliknya pun kalah mewahnya Lili membersihkan dirinya.
Di sudut ruangan terdapat sebuah meja belajar atau kerja, dengan komputer canggih dengan berbagai alat dan perlengkapanya, lengkap dengan kursi putar nyaman.
Di nakas Lili melihat foto Om Andrian dan Tante Azizah berpelukan mesra di bawah pohon bunga sakura, semasa masih muda keduanya. Di nakas sebelah kiri tempat tidur, Lili melihat foto seorang pemuda dengan sepeda motor besar, seperti seorang pembalap sayangnya ... Pria ini memakai Helm, kaos oblong, jaket denim dan denim sobek. Deg!
"Aku seperti pernah melihatnya!" Batin Lili menatap foto.
Lili mengalihkan pandangannya ke sudut ruangan. Ada sebuah lemari kaca di dalamnya penuh dengan berbagai piala,
Ia menghampiri lemari kaca tersebut.
"Juara 1 balapan sepeda motor, juara 1 lomba matematika, juara 1 otomotif, juara 1 karate, juara 1 berenang, juara 1 membaca Al-Quran, dan banyak lagi .... " Batin Lili.
Ia termangu, "Mengapa anak sepintar Dylan tidak selesai kuliahnya?" batin Lili.
Lili melihat di samping komputer sebuah foto. Deg! Kembali jantungnya seakan terhenti
Dua orang pria yang sedang berangkulan. "Defri dan ... Ucok, tapi tidak mungkin? Mungkin hanya sekedar mirip. Sayangnya ... Dylan selalu menoleh ke samping." Batin Lili.
Lili mencoba memejamkan matanya. Pikirannya menerawang, ia merasa heran dengan putra Andrian.
"Siapakah sebenarnya Dylan? Mengapa ia tidak pernah betah tinggal di rumah? " Batin Lili terus berfikir.
"Kasihan, Om dan Tante! Kelak ... bila aku bertemu dengannya aku akan memarahinya." lirih Lili.
Lili merasa nyaman tidur di kamar Dylan, ia merasa dekat dengan Ucok.
Azan Subuh berkumandang, seperti biasa ia menunaikan kewajibannya sebagai Muslim. Azizah memperhatikan Lili ia begitu senang melihat Lili.
"Andaikan Lili benar-bebar putriku? Aku pasti begitu bahagianya.
"Akh, kalau saja Ucok anak yang baik, aku pasti akan menjodohkan mereka. Sayangnya ... Ucok rada nakal. Apa kabarnya anakku itu? Dia benar-benar tidak menghubungiku." Azizah termenung.
"Sayang .... !" Andrian menyentuh bahu istrinya
"Iya, Bang! " Azizah tersenyum lembut menatap suami yang sudah 28 tahun ia dampingi.
"Ada apa?" tanya Andrian walaupun, ia tahu istrinya merindukan putra mereka.
"Tidak ada, lihatlah! Putri Aziz dan Li Hwang benar-benar anak yang baik, andaikan ia putri kita?"
"Sayang ... bukankah dia sekarang sudah menjadi putri kita juga?" tanya Andrian.
Azizah tersenyum dengan lembut.
"Iya .... "
Mereka makan bersama, penuh kasih dan cinta. Andrian melihat Azizah begitu bahagianya bersama Lili.
Akhirnya pasangan suami istri yang baik itu mengantarkan Lili ke bandara,
seperti biasa mereka memulai drama saling peluk dan cium, kata-kata nasihat dan deraian air mata.
Lili menyewa mobil pick up dari bandara untuk mengangkat berbagai barang yang ia bawa ke Puak.
Jam 21.00 WIB, ia sampai di Dusun Puak yang ia rindukan. Lili melihat dusun yang penuh kehangatan, suasananya yang damai, orang-orangnya yang baik dan ramah, murid-muridnya yang lucu, Mak Upik yang selalu menantinya pulang dengan anyaman juga Ucok suami yang ia rindukan siang dan malam.
Ada yang berbeda kali ini karena ada Ucok yang menantikan kepulangannya, Puak sudah terang benderang, ia melihat sepanjang sisi jalan terdapat tiang-tiang listrik yang sudah tertanam. Namun, belum berfungsi.
"Wah, wajah Puak mulai berubah! Baru sepuluh hari aku tinggalkan." Batin Lili.
Dari kejauhan, ia melihat siluet suaminya duduk di bawah temaram cahaya lampu PLTD yang memandang ke arahnya.
"Apakah Ucok menantikanku?" batin Lili
Deg deg deg
Debaran di jantung Lili semangkin keras. Mobil pick up berhenti tepat di depan rumah Mak Upik.
"Mobil pick up siapa? Ada perlu apa malam-malam begini? " batin Dylan, mengamati mobil yang berhenti di depan rumah Mak Upik.
Seorang wanita yang berdandan modis ke luar dari dalam mobil, Dylan terus mengamatinya.
Deg!
"Liliku ... benarkah itu Liliku?" teriaknya tanpa sadar. Ia berlari menyongsong Lili.
"Sayang .... " hanya satu kata yang mampu Dylan ucapkan.
"Abang, aku pulang! Ma-" kata-kata Lili terputus saat Dylan sudah merengkuhnya ke dalam pelukannya. Membungkam semua kata yang ingin diucapkan Lili.
Dylan menciumi dan memeluknya dengan erat tanpa kata.
"Lili, aku merindukanmu ... sangat merindukanmu." Ucap Dylan memandang istrinya bagaikan mimpi.
"Ehm ... Ehm .... " Pak Supir, merasa minder ia seperti dikacangi.
"Aduh, seperti nonton film India aja!Haaallloo! Ga kasian apa? Aku kan jomblo!" batin si supir ngenes.
"Maaf, Nak. Mari masuk! " Mak Upik mempersilakan Bang Supir masuk ke rumah. Mak Upik sudah menyuguhkan minuman dan makanan buat si supir.
Pak Supir sudah lelah mengangkat semua barang-barang yang di bawa Lili. Sementara si empunya masih asyik bermesraan dengan suaminya.
"Woi, aku juga mau .... !" teriak hatinya.
"Maafkan anak-anak saya, Nak! Mereka sudah lama tidak bertemu. Apa lagi mereka masih pengantin baru." Ucap Mak Upik, si supir masih terus mengawasi pasangan yang lagi kasmaran.
"Memang sudah berapa lama Mak, mereka tidak bertemu?" tanya Bang Supir.
"Sekitar sebelas harianlah, Nak." Jawab Mak Upik dengan jujur kacang ijonya.
"What? Sebelas hari saja seperti itu? Bagaimana kalau setahun? Ancor Minahh! " Ucap si supir geleng-geleng kepala.
Bersambung ....
Terima kasih jangan lupa like, comen dan vote-nya 🤗😘
menarik