NovelToon NovelToon
Ning Abigail

Ning Abigail

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:11
Nilai: 5
Nama Author: blue_era

Di pesantren Queen Al-Falah, Abigail, seorang Ning yang dingin dan penuh talenta, lebih memilih kopi dan kesibukan pondok daripada cinta. Ia adalah permata yang tersembunyi di balik sikap judes dan penampilannya yang sederhana. Namun, takdir berkata lain ketika sang kakek menjodohkannya dengan seorang Gus Abdi Ndalem, partnernya dalam tim multimedia dan hadroh. Di antara jadwal padat, sholawat, dan misteri masa lalu, Abigail harus membuka hatinya untuk cinta yang tak pernah ia duga. Mampukah ia menemukan kehangatan di balik dinginnya ndalem dan kerasnya hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Al-Fattah Menyerbu Queen Al-Falah: Perjodohan di Ujung Tanduk

[Keesokan harinya, tiba-tiba pesantren Queen Al-Falah digemparkan dengan kedatangan seorang Gus dari pesantren Al-Fattah. Gus tersebut datang menemui Gus Faiq dan sowan ke ndalem menemui Abah Yai Hamdan. Kedatangannya ini rupanya untuk membicarakan hal penting, yaitu tentang perjodohan dirinya dengan Ning Abigail.]

[Tidak ada yang mengetahui kedatangan Gus dari pesantren Al-Fattah dengan niat dan tujuan untuk apa. Para kang keamanan ndalem tengah beserta mbak ndalem di ndalem tengah pun digemparkan dengan kedatangan Gus Ar dari pesantren Al-Fattah. Mereka tidak tahu apa maksud dari kedatangan Gus Ar ini.]

Kang Resya: "Eh, itu siapa ya? Kok kayaknya penting banget?"

Kang Salim: "Nggak tahu. Mungkin ada urusan sama Abah Yai."

Mbak Aisyah: "Itu kan Gus dari pesantren Al-Fattah. Ngapain ya ke sini?"

Mbak Fatimah: "Jangan-jangan mau ngelamar Ning Abigail?"

Kang Resya: "Wah, bisa geger nih kalau beneran."

[Hanya Abah Yai Hamdan dan Nyai Dewi yang menemui Gus Arya. Sementara Gus Rasya dan Ning Nida berada di kamar. Namun, mereka berdua juga sangat terkejut dengan kedatangan Gus Ar dari pesantren Al-Fattah setelah mereka mendengar dari mbak ndalem. Abah Yai yang paham akan tujuan dan niat baik Gus Ar, cucu dari sahabatnya yaitu Kyai Hamid, mempersilakan Gus Arya untuk duduk. Gus Ar, dengan sifat dan karakternya yang mirip dengan Ning Abigail, namun jika bersikap dengan orang tua nadanya bisa dilembutkan, langsung to the point, bicara tentang perjodohannya dengan Ning Abigail. Ia mengaku menyukai Ning Abigail. Abah Yai Hamdan juga kaget kalau cucu pertama dari sahabatnya Kyai Hamid itu juga menyukai cucunya.]

Gus Arya: (dengan sopan) "Assalamualaikum, Yai."

Abah Yai Hamdan: (menjawab dengan senyum) "Waalaikumsalam, Le. Silakan duduk."

Gus Arya: (duduk dengan sopan) "Matur nuwun, Yai. Sebenarnya kedatangan saya ke sini ingin menyampaikan maksud dan tujuan saya, Yai."

Abah Yai Hamdan: "Maksud dan tujuan apa, Le?"

Gus Arya: "Saya ingin meminta izin kepada Yai untuk mengkhitbah Ning Abigail."

[Abah Yai Hamdan menghela napas panjang. Ia tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini. Ia menatap Gus Arya dengan tatapan yang sulit diartikan.]

Abah Yai Hamdan: (dengan nada bijaksana) "Sabar, Nggeh, Le... Abah tasih dereng sanjang ten Ning Abigail, Nek sampean gelem Le, sampean coba nyedaki Bijel. Sampean kan ngerti Bijel watake keras. Kabeh lanangan akeh seng nyedaki, tapi ora ono seng kuat ngadepi sikap, watak, lan kelakuane Bijel, Le..."

Abah Yai Hamdan: (melanjutkan) "Sampean coba nyedaki utawa ngajak ngobrol Abine sek. Nek Abine ws ngekei restu, ben sampean direwangi Abine ngomong ten Bijel."

Gus Arya: (dengan nada tulus) "Nggih, Yai. Matur nuwun. Kulo cuma tanglet, Kulo takut nek Ning Bijel sampun nggadah pasangan. Saking sayang lan tresnane Kulo ten Ning Bijel, sampek Kulo mriki Yai."

[Ya, laki-laki yang berbicara dengan Abah Yai Hamdan adalah Gus Arya, cucu pertama dari Kyai Hamid pesantren Al-Fattah, pesantren yang pernah didatangi Ning Abigail saat menyambangi Zahira temannya di pondok. Dan ucapan Kyai Hamid benar adanya, Kyai Hamid ingin menjodohkan cucu pertamanya dengan cucu Kyai Hamdan. Perjodohan itu sudah pernah direncanakan sejak Ning Abigail masih dikandungan, tapi sampai sekarang belum terungkap dan belum banyak yang tahu.]

Abah Yai Hamdan: (dengan nada bijaksana) "Sek, Nggeh, Le... Sampean enteni Gus Rasya Abine Bijel. Engko sampean ngomong apik-apik ten Gus Rasya."

Gus Arya: (mengangguk) "Nggih, Yai."

[Abah Yai Hamdan meminta tolong mbak ndalem memanggil Gus Rasya, anaknya, dan Ning Nida, menantunya, yang ada di kamar. Setelah dipanggil, mereka keluar menuju ruang tamu.]

Ning Nida: (dengan nada heran) "Lho, itu siapa, bi? Kok kayaknya penting banget?"

Gus Rasya: "Nggak tahu, Mi. Kita ikut aja apa kata Abah."

[Tidak lama kemudian, Gus Rasya dan Ning Nida selaku orang tua dari Ning Abigail pun menemui Gus Arya selaku cucu pertama dari Kyai Hamid. Setelah semuanya berkumpul di sana, Gus Arya langsung bilang tentang niat dan tujuannya, yaitu ia meminta restu untuk mengkhitbah Ning Abigail. Lalu ia juga menjelaskan kalau ia sudah meminta restu juga dari Abah Yai Hamdan, dan Abah Yai Hamdan juga menyetujui.]

Gus Arya: (dengan sopan) "Assalamualaikum, Gus, Ning."

Gus Rasya: "Waalaikumsalam. Silakan duduk, Nak."

Ning Nida: "Jadi, ada perlu apa ya?"

Gus Arya: (dengan nada mantap) "Saya datang ke sini ingin meminta restu kepada Gus dan Ning untuk mengkhitbah Ning Abigail. Saya sudah meminta restu kepada Abah Yai Hamdan, dan beliau juga sudah menyetujui."

[Gus Rasya dan Ning Nida saling bertukar pandang. Mereka tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini. Mereka berdua merasa bingung, karena mereka tahu betul bagaimana karakter Ning Abigail.]

[Lalu, kedua orang tua Abigail, Gus Rasya dan Ning Nida, menyetujui, tapi Gus Arya yang harus bicara sendiri ke Ning Abigail. Gus Arya juga menyerahkan berkasnya tentang pindahannya ke pesantren Queen Al-Falah, untuk mengabdi di sini sekalian pengen kenalan lebih dekat dengan Ning Abigail. Ia juga meminta izin ke Abah Yai Hamdan dan yang lainnya untuk tempat tinggalnya di ndalem barat, karena ia ingin agar lebih dekat dengan Ning Abigail juga agar ia lebih bisa menjaga Ning Abigail. Ia berjanji tidak akan ngapa-ngapain selain menjaga Ning Abigail saja.]

Gus Rasya: "Gus dan Ning setuju dengan niat baik kamu, Nak. Tapi kamu harus bicara sendiri dengan Abigail. Gus nggak bisa memaksakan kehendak Abigail."

Ning Nida: "Iya, Nak. Abigail itu keras kepala. Kamu harus sabar menghadapinya."

Gus Arya: "Nggih, Gus, Ning. Saya mengerti. Saya siap menghadapi segala tantangan."

Gus Arya: (dengan sopan) "Kalau begitu, saya mohon izin untuk pindah ke pesantren ini. Saya juga ingin tinggal di ndalem barat, agar bisa lebih dekat dengan Ning Abigail."

[Keluarga ndalem semuanya akhirnya tahu tentang kedatangan Gus Arya ke pesantren Queen Al-Falah, yaitu untuk mengkhitbah Ning Abigail. Mulai dari Abah Yai Hamdan, Nyai Dewi, Abi Rasya, Umi Nida, Gus Arka, Gus Arzan, Gus Ivan, Gus Atha, dan Gus Faiq akhirnya sudah mengetahui semua tentang kedatangan Gus Arya.]

Abah Yai Hamdan: "Ya sudah, Le. Abah serahkan semuanya sama kamu. Abah cuma bisa berdoa semoga kamu berhasil meluluhkan hati Abigail."

Nyai Dewi: "Semoga Abigail bisa menerima kamu dengan baik, Nak."

Gus Rasya: "Kami semua mendukung kamu, Nak. Jangan menyerah ya."

Ning Nida: "Kami percaya kamu bisa membahagiakan Abigail."

Gus Arka: "Semangat, Gus! Jangan kasih kendor!"

Gus Arzan: "Kalau butuh bantuan, jangan sungkan-sungkan bilang sama kita."

Gus Ivan: "Kita siap bantu kamu merebut hati Abigail."

Gus Atha: "Kita semua ada di belakangmu, Gus!"

Gus Faiq: (dengan tatapan dingin) "Semoga berhasil."

[Suasana di ndalem tengah menjadi tegang. Semua orang menantikan bagaimana reaksi Ning Abigail terhadap kedatangan Gus Arya dan niatnya untuk mengkhitbah dirinya.]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!