Mega pernah berharap, cintanya pada Bayu yang tumbuh di usia remajanya akan berkembang menjadi cinta dewasa seiring bertambahnya usianya. Tapi kenyataan berkata lain, terpisah jarak dan waktu membuat kisah cintanya kandas di tengah jalan.
Seiring waktu berjalan, Mega mulai menata hatinya kembali dan berdamai dengan masa lalunya. Lima tahun berlalu, Mega pulang kembali ke tanah kelahirannya sebagai seorang dokter. Bukan lagi remaja tanggung yang manja dan cengeng seperti ucapan seseorang padanya dulu.
Pertemuannya kembali dengan Fajar Anugrah, seorang Insinyur Pertanian, pemilik banyak lahan dan perkebunan di desanya mulai mengusik hatinya. Sama-sama memiliki keinginan kuat untuk memajukan desanya, dengan latar belakang profesi yang berbeda. Ada tawa, ada benci, ada cinta di balik cerita luka masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RisFauzi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Mas bos demam
Sore hari, langit terlihat cerah. Mega mengangkat tangannya, menaikkan kelepak bajunya saat merasakan angin yang berembus menerpa lehernya.
Mega menolehkan wajahnya, dari ujung gang hingga pertengahan menuju keluar jalan raya, ramai pohon-pohon besar berbaris membuat jalan yang mereka lewati terasa teduh dan nyaman.
Angin sejuk yang bertiup menerpa dedaunan, seolah melambaikan tangan padanya. Daerah ini masih tetap sama seperti dulu, hanya rumah-rumah penduduknya saja yang bertambah banyak. Lebih ramai tidak seperti dulu waktu Mega masih remaja, hanya beberapa rumah saja yang ada.
“Mas Warno, nanti antar Saya di puskesmas saja ya. Kebetulan motor Saya masih ada di sana,” ucap Mega saat motor yang dikendarai Warno sudah melintasi jalan besar dan menuju simpang jalan yang mengarah ke puskesmas.
“Oh, nggak jadi diantar ke rumahnya bu dokter toh?” jawab Warno sambil menolehkan wajahnya.
“Iya, Mas. Turunkan Saya di puskesmas saja,” ucap Mega lagi.
“Siap bu dokter!” jawab Warno cepat. “Ehm, bu dokter tidak keberatan kalau kita mampir dulu ke apotik. Soalnya jalan menuju puskesmas nanti melewati apotik.”
“Ya, nggak apa-apa. Kita mampir dulu ke apotik, biar mas Warno bisa cepat pulang dan mengantar obat buat mas Fajar. Lagi pula ada si mba yang nunggu diantar pulang juga,” sahut Mega setuju.
“Astagfirullah! Lupa tadi mampir di ojek simpang, bu dokter. Wah! Mba Astri pasti nungguin ini bu dokter,” ucap Warno menoleh ke belakang lagi sambil menepuk jidatnya, hingga motor yang dikendarainya menjadi oleng tiba-tiba.
“Eh, hati-hati mas!” ucap Mega terkejut. “Bicaranya ngadep depan saja, nggak usah noleh terus gitu. Bahaya loh!”
“Maaf, maaf bu dokter. Saya khilaf,” ucap Warno sambil meringis.
Huff, hampir saja jatuh! Warno nyengir menyadari kesalahannya, bisa diamuk mas bos kalau sampai terjadi apa-apa sama bu dokter akibat kelalaiannya.
Pasalnya baru pertama kalinya Warno melihat mas bosnya itu pulang berduaan dengan seorang wanita di dalam mobilnya, apalagi dalam keadaan sakit. Ia tahu persis kalau mas bosnya itu tidak akan membiarkan dirinya berdekatan dengan wanita lain setelah putus dengan Astri beberapa tahun yang lalu.
“Memang mba Astri itu siapanya mas Fajar, pacarnya bukan?” tanya Mega penasaran mengingat sikap Astri yang seolah tidak menyukai kehadirannya di dekat Fajar.
“Duluu,” jawab Warno cepat. “Sekarang sudah bukan pacar mas bos lagi, lah sudah putus lama kok.”
“Oh, gitu.” Mega tersenyum mendengar jawaban Warno. “Ternyata dia juga pernah pacaran toh, kenapa dulu suka marah kalau lihat aku dekat dengan adiknya. Harusnya dia tahu dan nggak perlu bersikap jutek seperti itu sama aku,” gumam Mega dalam hati.
“Iya, sekarang lihat mas bos sudah sukses mau balik lagi jadi pacar. Ya ditolak lah sama mas bos!”
“Sok tahu Kamu, Mas.”
“Bukan sok tahu, bu dokter. Kenyataannya memang begitu,” ucap Warno lagi.
Berbincang dengan Warno membuat Mega jadi tahu banyak tentang keseharian Fajar, timbul sepercik rasa kagum pada lelaki itu. Lelaki pekerja keras yang bisa dikatakan sukses di usianya yang masih terbilang muda.
Tiba di apotik, Warno segera menebus obat sesuai resep yang ditulis Mega. Setelah itu ia mengantar Mega ke puskesmas untuk mengambil motornya yang ditinggal di sana karena harus mengantar Fajar dengan mobilnya.
“Terima kasih mas, hati-hati di jalan. Kalau sudah sampai rumah nanti, bilang sama mas Fajar cepat diminum obatnya. Sebelumnya, paksa buat makan apa saja biar ada kekuatan. Suruh istirahat, jangan paksa kerja terus.” Mega berpesan pada Warno.
“Siap, bu dokter. Kalau begitu Saya pamit pulang dulu,” ucap Warno berpamitan sambil menganggukkan kepalanya.
Mega lalu mengambil kunci kontak motornya, menghidupkan mesin dan segera berlalu dari puskesmas pulang menuju rumahnya.
Begitu pula halnya dengan Warno, setelah memasuki halaman rumah Fajar dilihatnya Astri masih duduk di teras rumah bersama Sri di sampingnya. Sementara Fajar tidak terlihat kehadirannya di situ.
“Assalamualaikum,” ucap Warno mengucap salam yang segera dibalas cepat oleh Astri dan Sri secara berbarengan.
“Waalaikum salam.”
“Kok lama banget datangnya sih, No. Masa nganter pulang gitu doang sampai hampir dua jam,” protes Astri melihat kedatangan Warno.
“Mas bos mana, Sri. Aku bawa obatnya ini,” tanya Warno pada Sri tanpa menghiraukan ucapan Astri padanya.
“Istirahat di dalam kamarnya,” jawab Sri sambil mengarahkan dagunya ke dalam rumah.
“Hei Suwarno! Kamu dengar nggak sih Aku nanya apa?” seru Astri kesal sambil menghentakkan kakinya.
“Ck, kebiasaan!” ucap Warno menoleh pada Astri. “Sabar mba, biar Aku kasih obatnya dulu sama mas bos. Setelah itu baru Aku antar mba pulang,” ucap Warno lalu bergegas masuk ke dalam kamar pribadi Fajar.
“Ya sudah kalau begitu. Sekalian Aku juga mau pamit pulang sama mas Fajar,” ucapnya menyusul Warno dari belakang.
Tok tok!
“Mas bos, ini obatnya sudah ada.” Warno mengetuk pintu kamar Fajar yang tertutup rapat.
Tidak ada sahutan, Warno kembali mengetuk pintunya. Kali ini lebih keras dan lama. Akhirnya karena sudah berulang kali tidak mendapat sahutan dari Fajar, Warno memberanikan diri membuka pintunya dan terkejut mendapati Fajar tertidur dengan tubuh menggigil, suhu tubuhnya panas tinggi dan berkeringat dingin.
“Mas bos!”
“Mas Fajar!” Astri menerobos masuk dan langsung meraba kening Fajar. “Bagaimana ini, No. Badannya mas Fajar panas banget,” ucapnya panik.
“Sri, cepat hubungi dokter Rendra. Bilang kalau mas bos demam,” teriak Warno pada Sri yang masih berada di teras rumah, yang langsung bergegas masuk mengangkat telepon rumah dan segera menghubungi nomor ponsel dokter Rendra yang tertera di buku kecil di samping telepon rumah.
“Nggak diangkat No, sudah tujuh kali dihubungi. Masuk tapi nggak diangkat,” ucap Sri dengan nada muram masih dengan memegang gagang telepon di tangannya.
“Bukannya yang Kamu antar pulang tadi dokter, No. Kenapa tidak coba minta tolong dia saja kalau dokter Rendra nggak bisa dihubungi,” sela Astri menimpali.
“Ya, benar itu No. Aku setuju dengan usul mba Astri, cepat Kamu panggil dia supaya datang kesini lagi,” ucap Sri dengan wajah sedikit cerah.
“Ya sudah, Kamu jaga mas bos ya Sri biar Aku panggil bu dokter ke rumahnya,” ucap Warno menyetujui saran Astri. “Mba Astri apa mau ikut pulang sekalian?” ucap Warno di ambang pintu melihat pada Astri yang duduk di dekat kaki Fajar.
“Nggak jadi, No. Aku mau nunggu mas Fajar selesai diobati, biar nanti Aku telpon Bayu buat jemput.”
Warno melirik sekilas pada Fajar, jika mas bosnya itu bangun dan tahu ada Astri di dalam kamarnya pasti lelaki itu akan memarahinya habis-habisan.
Warno sebenarnya juga tidak suka melihat Astri ada di sana, duduk sambil sesekali mengusap keringat di kening Fajar. Tapi saat ini ada yang lebih penting untuk dikerjakannya ketimbang marah dan mengusir Astri keluar dari kamar Fajar. Pergi menjemput bu dokter Mega segera.
🌹🌹🌹