sinopsis :
Mendadak Nisa harus Menikah menggantikan posisi kakak'Nya yang membatalkan pernikahannya seminggu sebelum hari pernikahan,
Akankah pernikahan Nisa berjalan lancar"..?
akankah kakak'Nya menyesali keputusannya"..?
ikuti Terus Novel "Menikahi Calon Suami kakak'ku" untuk mengetahui cerita selengkapnya 🤗❤️
🖋️ Noor Hidayati 💫
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor Hidayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama Merawat Bayi Kakak'ku
Rudi Nisa dan Rani keluar dari kamar Suraya dan langsung ke kamar masing-masing,
Setelah sebelumnya Bidan sudah pamit lebih dulu setelah memastikan ibu dan bayinya sehat.
Sementara ibu terus menemani Suraya yang masih lemah.
Hari ini terasa sangat melelahkan bagi mereka, meskipun sebelumnya Suraya sulit melahirkan tapi akhirnya Suraya melahirkan dengan normal dan bayinya juga sehat tanpa kurang suatu apapun, Nisa sangat bahagia menyambut kelahiran bayi kakak'Nya karena nantinya bayi itu akan dirawat olehnya.
"Ibu... ternyata melahirkan begitu sakit, kini aku sadar dengan perbuatanku, susah payah ibu melahirkan ku, merawatku hingga dewasa tanpa ayah di sisi ibu, tapi aku tidak pernah mendengarkan nasehat ibu, aku selalu membangkang, meninggikan suara sebelum ibu selesai bicara, membuat malu ibu dengan membatalkan pernikahan ku dengan Rudi, dan yang lebih parah aku mempermalukan ibu dengan memiliki anak diluarnikah, hiks hiks hiks," Isak tangis Sura ya pecah di pundak ibu.
"Minta ampunlah pada Allah nak, dosamu pada ibu bisa ibu maafkan, tapi dosamu pada Allah kamu harus benar-benar bertaubat pada-NYA, laksanakan shalat taubat mohon ampun pada-NYA, Allah maha pengasih dan maha penyayang, jika kamu bertaubat dengan sungguh - sungguh Allah pasti akan mengampunimu," tutur ibu.
Suraya mengangguk dengan tangis yang masih sesenggukan.
*****
Pagi Hari.
Aku sedang mencoba memandikan bayi kak Suraya, aku harus membiasakan diri untuk melakukan ini karena setelah ini kami lah yang akan mengurus bayi kak Suraya sesuai kesepakatan.
Aku sedikit takut karena ini pertama kalinya memandikan seorang bayi
Dengan sangat hati-hati dan sedikit was was aku mencoba membalikkan si bayi untuk menyantuni punggungnya.
"Hati - hati.." triak Mas Rudi yang tiba-tiba masuk ke kamar mandi.
"Tidak begitu cara memegangnya," ujar Mas Rudi langsung mengambil bayinya
Aku hanya diam melihat Mas Rudi yang sangat lihai dalam menggendong bayi.
"Begini cara memegangnya, dia masih sangat merah jadi harus sangat berhati-hati menggendongnya," Mas Rudi mengambil alih pekerjaan ku.
"Bagaimana Mas bisa tau? dan kenapa tangan Mas begitu lemas seperti sudah terbiasa menggendong bayi?"
"Jiwa kebapaan," jawab Mas Rudi tersenyum
Nisa tersenyum menggelengkan kepala dan ikut memandikan sang bayi.
Sesekali mereka bergurau sambil menciptakan air ke arah masing-masing
Mereka begitu bahagia seperti merawat bayi mereka sendiri
Sedangkan dari kejauhan Suraya memperhatikan mereka yang terlihat seperti keluarga yang sempurna dengan kehadiran seorang bayi.
"Kak Suraya kok berdiri disini, apa kakak membutuhkan sesuatu?" tanya Rani yang tiba-tiba berdiri di belakang Suraya.
"Ee.. a.. aku ingin ke kamar mandi,"
Suraya kembali terdiam melihat Nisa dan Rudi yang berjalan semakin mendekat dengan bayi di gendongan Rudi.
Suraya terus melihat mereka dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Eh kak Suraya, gimana keadaannya kak kenapa berduri disini?" tanya Nisa khawatir.
"Aku sudah lebih baik, aku ingin ke kamar mandi,"
"Baiklah kalau begitu hati - hati, aku akan memakaikan baju Dedek dulu,"
Suraya mengangguk pelan.
Aku masuk dan melihat Mas Rudi sudah memakaikan baju ke Dedek bayi.
Aku begitu senang melihat Mas Rudi yang sudah terlihat sangat piawai dalam mengasuh bayi,
Pikirku kalau kita punya bayi sendiri aku tidak perlu khawatir lagi karena Mas Rudi sudah pandai mengurus bayi.
"Kenapa senyum - senyum sendiri?" tanya Mas Rudi yang melihat Nisa senyum - senyum sendiri.
"Aku sedang menatap suamiku," jawab Nisa manja.
Rudi tersenyum dan menaruh bayinya lalu melangkahkan kakinya kearah Nisa.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Mas Rudi sembari memegang kedua lengan Nisa dengan tatapan tajamnya.
"Aku sedang berfikir... Selain suamiku pandai dalam ilmu agama, suamiku juga pandai dalam mengurus bayi, aku sangat bersyukur memiliki suami sepertimu Mas,"
"Dulu aja pas nikah nangis - nangis, sekarang muji - muji," ledek Mas Rudi
Nisa hanya tersenyum mengingat momen itu.
"Cieee... yang lagi tatap - tatapan nggak liat kami disini," ledek Rani yang sudah berdiri di pintu diikuti kak Suraya yang ada di belakangnya.
"Biarin orang natap suami sendiri bukan natap suami Orang," ucap Nisa tertawa.
Suraya yang mendengar ucapan Nisa langsung menurunkan pandangannya.
Nisa memang sama sekali tidak menyindir Suraya, tapi Suraya yang sedang menatap Rudi merasa Nisa sedang menyindir dirinya.
"Baiklah aku keluar dulu, Dek.. inget pesan Mas ya..." ucap Mas Rudi lalu meninggalkan kamar.
"Memangnya apa pesan Mas Rudi?" tanya Rani penasaran.
"Mas Rudi bilang jika Asi Kak Suraya sudah keluar, kak Suraya harus menyusui Dedek bayi,"
"Untuk apa aku memberinya Asi? toh aku tidak akan lama bersamanya," jawab Suraya dengan penuh kesedihan.
"Meskipun kakak tidak akan lama bersama bayi kakak, tapi selama kakak ada disini sebaiknya kakak menyusuinya, daripada tidak sama sekali," ucapku
"Jika aku memberinya Asi kami akan terikat satu sama lain, aku akan semakin sulit jauh darinya" ucap Suraya meneteskan air mata.
"Seorang anak memang harus memiliki ikatan batin pada ibunya, anak ini tetap anak kak Suraya, aku tidak akan pernah merebutnya dari kakak, aku akan tetap memberi pengertian jika kak Suraya adalah ibu kandungnya, sebelum kakak menemukan lelaki yang menerima keadaan Kakak dengan ikhlas, bayi ini akan bersama ku, jika kakak ingin menemuinya, bahkan jika kakak ingin mengambilnya sekalipun kakak bisa mengambilnya kapan saja, tidak ada bedanya anak ini bersamaku atau bersama kakak, kita adalah saudara, anak kakak anaku juga, begitupun sebaliknya,"
Suraya yang mendengar ucapan Nisa perlahan mengambil bayinya, ia mulai mencoba memberinya Asi.
"Mas Rudi bilang Menyusui Dapat Menghapus Dosa Ibu,
Menyusui tidak hanya penting untuk bayi, tetapi juga penting bagi ibu, Ini adalah tindakan ibadah, karena menyusui diperintahkan langsung oleh Allah SWT melalui Al-Quran, dan dapat membawa seseorang untuk lebih dekat dengan Allah SWT.
Kesulitan yang dihadapi seorang ibu selama masa kehamilan dan menyusui akan menghapus dosa-dosanya dan menaikkan pangkatnya sebagai hadiah.
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda :
“Kesengsaraan terus memengaruhi pria beriman atau wanita beriman dalam dirinya sendiri, anak-anaknya, dan kekayaannya, sampai dia bertemu dengan Allah tanpa dosa.” - Muslim, Ahmad dan Tirmidzi.
"Kamu sekarang pinter ya Nis?" ucap Suraya tersenyum tipis.
"Masih harus banyak belajar kak,"
"Kamu beruntung dapat Rudi yang bisa membimbingmu ke arah kebaikan,tidak seperti aku.. aku malah tersesat begitu jauh dari jalan Allah," isak Suraya.
"Yang sabar kak, semua manusia mendapatkan ujian sesuai kemampuannya,"
Kak Suraya mengangguk dengan senyuman pahitnya.
Bersambung...
itu adus apa namah?