Sebelum membaca jangan lupa di Favoritin ❤️ dulu ya kakak.
"Maaf aku hanya mampu menjadi pengagum rahasia mu dan seseorang yang senantiasa melangitkan namamu" Ryeana.
Ryeana Allura Clarabelle adalah remaja SMA yang sangat mencintai sahabat laki-lakinya sejak SMP. Ryeana adalah tipe gadis yang sangat sulit dimengerti, dia akan terlihat dingin dan cuek didepan orang baru. Dan akan terlihat hangat di depan orang terdekatnya.
Ryeana bukanlah tipe gadis yang mau menunjukkan perasaannya secara frontal, gadis itu lebih memilih memendam dan menyalurkan rasa cinta dan sukanya lewat cara rahasia dia sendiri.
Jadi, mungkinkah bagi seorang gadis remaja seperti Ryeana berhasil mendapatkan cinta yang sangat diinginkannya dari sahabat laki-lakinya itu ?
Ikuti dan baca terus novel "Cinta Ryeana" dan jangan lupa kasih komentar mu di setiap Bab.
Happy Reading 🌻
Follow Instagram : @nona_rie
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hertati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ryeana-22
Katakanlah aku berlebihan, aku memang bodoh. Sudah sangat jelas sakit tapi aku lebih memilih bertahan untuk tetap mencintainya. Aku sangat sayang dia. Aku mencintainya sangat dalam, bahkan teramat dalam. Lalu salahkah aku?
Aku berharap kalian menjawab tidak.
Setelah melihat adegan tadi hati ku nyeri, mata ku memanas, aku ingin menangis tapi aku kembali mengingat, ini bukan kamar yang bisa aku jadikan tempat mengadu.
Aku ingin ke kelas, tapi suasana kelas tak memungkinkan, disana ricuh akibat ulah manusia yang tidak ku kenal.
Aku berjalan tanpa arah, pikiran ku sedang kacau. Aku hanya ingin menyendiri.
Rooftop. Benar tempat itu, semoga saja disana kosong. Harap ku.
Aku mempercepat langkah ku agar segera sampai. Setelah tiba disana, sesaat aku mengedarkan pandangan ku ke sekitar, aku tidak mau orang lain melihat ku menangis, akan sangat memalukan. Sepi. Sangat beruntung, aku bisa menangis sepuas ku. Aku terduduk disalah satu kursi yang entah siapa menyediakan disitu, yang jelas ada beberapa kursi yang terletak tak beraturan dan dua meja yang disatukan letaknya.
Aku menelungkupkan wajah ku di atas meja dengan kedua tangan sebagai lapisnya, aku menangis sepuas yang aku mau.
Cairan bening yang encer jatuh begitu saja mengotori wajahku, aku mengeluarkan sapu tangan seseorang yang kemarin pernah memberikannya saat aku menangisi orang yang sama.
Surrrttttt. Ah lega sekali cairan itu keluar dari hidung ku. Aku kembali memasukkan ke dalam saku rok ku.
Aku mengangkat wajahku setelah mataku mulai memanas karena tak ada lagi air mata yang ingin turun. Mungkin jatah air mata untuk hari ini sudah habis, pikir ku bodoh.
Semilir angin begitu sejuk menampar pipiku yang panas, walau masih sesenggukan aku merasa sedikit lega. Aku mengedarkan mataku ke sekitar ternyata ada sebuah gitar terletak disudut itu. Aku tidak tahu itu milik siapa, yang jelas itu sangat menyenangkan.
Diam-diam aku mengambilnya, aku menelisik tubuh gitar itu. Dalam hati aku berpikir, siapa pemilik gitar yang sangat cantik ini.
Sudahlah tidak penting siapa pemiliknya, yang jelas aku ingin bermain dan bernyanyi.
Dia hanya dia di duniaku.
Dia hanya dia di mataku.
Dunia terasa telah menghilang.
Tanpa ada dia di hidupku.
Sungguh sebuah tanya yang terindah.
Bagaimana dia merengkuh sadarku.
Tak perlu ku bermimpi yang indah.
Karena ada dia di hidupku.
Ku ingin dia yang sempurna.
Untuk diriku yang biasa.
Ku ingin hatinya.
Ku ingin cintanya.
Ku ingin semua yang ada pada dirinya.
Ku hanya manusia biasa.
Tuhan bantu ku tuk berubah.
Tuk miliki dia tuk bahagiakan ya.
Tuk menjadi seseorang yang sempurna untuk dia.
Leganya....
Aku menghentikan petikan ku pada senarnya. Seru sekali rasanya menyampaikan rasa lewat lagu, batin ku.
Prok. Prok. Prok.
Suara tepukan tangan terdengar dari belakang tubuhku. Jelas, Aku terkejut karena seingatku ruangan itu sepi. Aku menoleh ke belakang dan melihat kak Dino berdiri sambil bersandar di pintu masuk rooftop.
Aku tersenyum kikuk ketika dia tersenyum sambil berjalan mendekati posisi ku.
"Eh Kak." sapa ku kaku.
"Suara Lo ternyata bagus juga ya. " Pujinya. Aku hanya tersenyum saja. Memangnya apalagi yang bisa ku lakukan. Aku meletakkan gitar yang berada dipelukkan ku ke atas meja.
"Kenapa dihentikan? Boleh request 1 lagu lagi gak?" Pintanya memelas. Hah, kenapa wajah kak Dino terlihat menggemaskan begitu, batin ku.
"Boleh asal ada imbalannya" ucap ku bercanda. Dia terkekeh lucu.
"Boleh" katanya sambil duduk disebelah ku.
"Mau imbalan apa?" Katanya lagi.
"Eh, canda kak. Serius. " ucap ku segan. Aku memang bercanda mana mungkin aku beneran meminta imbalan karena sebuah lagu.
"Jadi mau dicandain atau diseriusin nih?" Godanya. Aku hanya tertawa kecil saja. Ada-ada saja, pikirku.
"Secret love tahu?" Tanyanya dan aku mengangguk sambil mengambil gitar itu kembali. Aku tidak keberatan bernyanyi sebanyak apapun, aku suka bernyanyi dan bermain musik apalagi gitar, suasana galau memang sangat pas bernyanyi.
Ooh, we know this, we got a love that is homeless.
Why can't you hold me in the street?
Why can't I Kiss you on the dance floor ?
I wish that we could be like that
Why can't we be like that?
Cause I'm yours
Kami berdua bernyanyi dengan sangat bebas. Terkhusus Kak Dino, aku tak menyangka ternyata dia memiliki suara bass yang sangat bagus.
Awalnya memang satu lagu tapi lama kelamaan jadi tambah terus. Ckckck, dasar ya.
"Sudah jam pulang, balik yuk." Ajaknya setelah lagu terakhir selesai.
Hah? Aku tercengang. Pulang? Memangnya ini sudah jam berapa? Aku melirik jam tangan ku dan benar sudah pukul 13.15 artinya aku bolos dari jam istirahat kedua sampai pulang. Mampus, cari mati ini namanya.
"Ri kenapa ? " cecar Kak Dino ketika aku tak merespon perkataannya tadi.
Aku menatap wajah Kak Dino teramat shock, bagaimana ini kalo Pak Simarmata ngadu ke Kakak ku, dan Kakak ngadu ke Papa, alamat neraka ini.
"Kak, serius ini jam pulang? " Kak Dino mengangguk mantap.
"Yakin?" Dia mengangguk lagi.
"Ada apa ?" Tanyanya bingung.
"Ahhh bisa mati aku ini Kak. Artinya dari tadi aku bolos les terakhir dong, mampus, mampus, mampus" ucap ku merutuki kebodohan ku yang teramat yah begitulah.
Tunggu! Kenapa kak Dino tertawa ? Apa ada yang salah dengan ku?
"Kak kenapa ketawa?" tanya ku bingung
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lo lucu juga ya. Tenang gak usah panik gitu. Lo gak bolos sendirian kok. Ada gue" kata Kak Dino masih diselingi kekehan.
"Kakak gak panik ? " tanya ku dan Kak Dino menggeleng.
"Udah sering bolos?" tanya ku lagi
"Pernah bolos tapi ya gak sering juga sih." Cengir Kak Dino.
"Udah pulang yuk, biar gue anterin" ajak Kak Dino.
"Eh gak pa-pa kak, aku bisa pulang sendiri kok" ucap ku sungkan.
"Udah Ayok. Anggap imbalan yang tadi" ucapnya sambil menarik tanganku.
"Terus gitar ini gimana?" Ucap ku sebelum mengikuti langkahnya.
"Itu gitar gue, kalo Lo mau kemari pake aja." ucapnya sambil mengambil gitar dari tangan ku dan meletakkan kembali ketempat semula dimana aku mendapatkannya.
Kak Dino kembali dengan menarik tangan ku. Aku hanya bisa diam, memperhatikan tangan ku yang ditariknya.
Kami berjalan menuju kelas XI IPA 1 mengambil tas Kak Dino karena kelas dia yang lebih dulu kami lewati. Setelah itu kami turun ke lantai dua, menuju kelas ku. Sekolah sudah kelihatan sepi, tinggal beberapa orang saja yang tinggal, mungkin anak-anak ekskul, batin ku.
Setibanya di kelas, ruangan itu sudah kosong. Aku masuk dan Kak Dino menunggu diluar pintu. Aku merogoh laciku, mana kala ada barang yang tertinggal.
Aku mendapati sebuah amplop surat bewarna biru muda. Aku tidak tahu itu milik siapa. Tidak ada nama pengirimnya. Langsung saja Aku membuka amplop itu dan mendapati kertas surat bewarna peach.
"Ri, kenapa?" Tanya Kak Dino menghampiri ku. Mungkin aku terlalu lama membaca surat itu, hingga lupa ada seseorang yang menunggu. Aku menggeleng dan melipat surat itu kembali lalu memasukkan ke dalam tas ku.
Aku mengajak Kak Dino keluar dari kelas dan pulang. Setibanya diparkiran aku kebingungan untuk naik ke motor Kak Dino, pasalnya itu terlalu tinggi. Sedangkan aku memakai rok, tidak mungkin duduk menyamping. Kalau duduk cowok rok ku pasti naik ke atas. Aku bingung.
"Kenapa Ri?" Tanya Kak Dino sepertinya dia menyadari kebingungan ku.
"Aku duduknya gimana kak?" ucap ku malu. Dia terkekeh sebentar lalu mengeluarkan jaket dari dalam tasnya.
"Nih tutup pakai ini aja" katanya. Ternyata Kak Dino perhatian, dia paham yang ku butuhkan.
"Terima kasih kak" ucap ku dan dia mengangguk sambil menghidupkan motornya.
Ini kedua kalinya Kak Dino mengantarkan aku pulang ke rumah. Dia cowok pertama yang mengantarkan ku pulang ke rumah dengan pakaian sekolah. Nicholas belum pernah sama sekali.
Selama diperjalanan suasana tetap seperti kemarin. Hening. Aku tidak mengerti cara membuka obrolan, apalagi kami baru kenal. Apa yang bisa ku bahas dengannya.
Kami tiba dirumah ku. Aku turun dan mengembalikan jaketnya kembali.
"Ini Kak. Makasih ya udah antar aku pulang" ucap ku sopan. Kak Dino mengangguk.
"Aku masuk duluan ya Kak" pamit ku langsung berbalik.
"Ri tunggu" panggilnya berhasil menghentikan langkah ku, aku berbalik menghadapnya dengan satu alis terangkat.
"Boleh minta pin BBM atau Wa gak?" ucapnya malu-malu. Terlihat dia menggaruk tengkuknya salah tingkah. Aku menahan tawaku.
"Maaf kak. Aku gak pakai sosial media. " Ucapku berhasil membuat dia melotot.
Aku yakin pasti dia mikir aku ini aneh, secara di zaman sekarang siapa yang tidak pakai sosial media, nenek-nenek saja mungkin sudah banyak yang pakai.
"Nomor telepon aja ya kak" ucap ku sambil mengeluarkan ponsel ku. Dia mengangguk dan mengetik nomor ponselnya. Sepertinya ia menghubungi lewat ponsel ku, buktinya ponselnya berdering.
"Uda masuk. Thanks ya" ucap Kak Dino. Aku mengangguk, setelah itu dia pamit pulang dan aku masuk ke dalam rumah.
fokusnya ttep ryeana & nicho
trs kok alex nyalahin ryeana?
emosi sih emosi tpi g mesti nyalahin orang lain kan..