NovelToon NovelToon
Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mandul / Konflik etika
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Vitamaya

Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.

Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.

Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku ingin memakan mu lebih banyak lagi

Malam semakin larut ketika meja makan akhirnya bersih dari piring-piring kosong dan sisa canda yang masih menggantung di udara.

Zulfa berdiri di depan wastafel, membilas gelas terakhir sambil menggulung lengan bajunya sedikit ke atas. Rambutnya masih terikat sederhana, beberapa helai jatuh di sisi wajah.

Arslan bersandar di kusen pintu dapur sambil melipat tangan di dada. Tatapannya tak lepas dari sang istri yang baginya selalu terlihat menggoda.

"Kamu ngapain lihat-lihat begitu?" tanya Zulfa tanpa menoleh.

"Lagi menikmati pemandangan."

Zulfa mendengkus kecil.

"Pemandangan apa?"

"Pemandangan ciptaan Tuhan yang begitu indah."

Jawaban itu membuat sudut bibir Zulfa terangkat. Namun ia pura-pura sibuk mencuci.

Arslan mendekat perlahan.

Langkahnya tenang, tapi penuh siasat.

Begitu sampai di belakang Zulfa, ia langsung memeluk pinggang istrinya dari belakang dan menyandarkan dagu di bahu istrinya.

"Aku belum selesai," protes Zulfa pelan.

"Biarin."

"Nanti piringnya jatuh."

"Jatuhin aja."

Zulfa tertawa hingga giginya yang rapi dan putih terlihat.

"Kamu ini kenapa sih manja banget malam ini?"

Arslan memejamkan mata sejenak, menikmati hangat tubuh istrinya.

"Kenapa kamu cantik banget, sih?"

Bukannya menjawab pertanyaan sang istri, Arslan justru sibuk merayunya.

"Karna kamu ngeliatnya dengan cinta."

Arslan tertawa, "Cintaku gak akan habis buat kamu."

"Gak usah nge-gombal, deh." Sambil menyikut pelan perut suaminya hingga Arslan meringis sambil tertawa.

"Kenapa kamu nggak suruh bik Atik atau pelayan lain buat beresin semua?" 

"Kasian mereka, seharian sudah ku suruh buat beres-beres rumah. Pasti mereka capek banget jadi biarin aja mereka istirahat dulu. Lagian cuciannya cuma sedikit, kok." Kata Zulfa sembari membersihkan sisa piring terakhir.

Arslan membalikkan tubuh istrinya, menghadap ke arahnya, "Kamu baik banget sih jadi orang, pelayan mana yang nggak betah punya majikan seperti kamu." 

"Jaman sekarang cari pelayan yang bisa dipercaya dan kerjanya bagus itu susah. Jadi sebisa mungkin kita harus bikin mereka betah kerja sama kita." Ucap Zulfa lembut.

"Pelayan aja nyaman kerja sama kamu, apalagi aku yang sudah jadi suami mu bertahun-tahun." Seperkian detik kemudian Zulfa menjepit hidung mancung suaminya, "mulai lagi nge-gombalnya ..." 

Arslan tertawa, "tapi kamu suka kan di gombalin!" Seru Arslan.

"Sedikit." Jawab Zulfa singkat.

"Kok sedikit." Arslan tak terima. Namun, tiba-tiba Zulfa mencium bibir suaminya secara singkat seraya tersenyum. 

Arslan tertegun sejenak. Matanya membesar, seolah tak percaya istrinya baru saja mencuri ciuman lalu bersikap seolah tak terjadi apa-apa.

Zulfa berbalik lagi, hendak mengambil lap kering di samping wastafel. Namun baru satu langkah, pergelangan tangannya sudah lebih dulu ditahan Arslan.

"Kamu pikir habis bikin aku begini, terus bisa kabur?" suara Arslan rendah namun sarat godaan.

Zulfa menahan tawa. "Memangnya kenapa?"

"Kenapa?" Arslan mendekat, menunduk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Kamu udah nyalain api duluan terus main kabur gitu, aja."

"Pede banget. Api yang mana? Api kompor sudah ku matiin." Zulfa pura-pura polos.

Arslan menyipitkan mata. "Api yang ini."  

Arslan menunjukkan letak yang di maksud, membuat kedua mata Zulfa otomatis turun menatap arah Arslan menunjuk. Pipi Zulfa langsung bersemu merah. Ia berusaha melepaskan tangannya, tapi Arslan justru menariknya pelan hingga tubuh mereka saling menempel.

"Masih ada piring yang belum dikeringin," bisik Zulfa, mencari alasan.

"Nggak usah banyak alasan," balas Arslan tenang. "Aku pengen cepat makan kamu ..." Arslan mengerlingkan matanya, "Atau kamu duluan yang mau makan aku." 

 "Kamu ini ya..." Zulfa mengalungkan kedua tangannya di leher Arslan, lalu Arslan lebih dulu mengecup bibir istrinya lembut. Singkat, namun cukup membuat napas Zulfa tertahan. Ketika pria itu hendak menjauh, Zulfa justru menarik kerah kausnya berusaha menahan.

"Kok berhenti?" tanyanya lirih.

Kini giliran Arslan yang tersenyum menang. "Kamu kan suka yang sedikit-sedikit?"

Zulfa menatap lurus ke matanya. "Khusus yang kayak gini suka yang banyak-banyak." Arslan tak lagi memberi kesempatan istrinya menggoda lebih jauh. Ia memeluk Zulfa erat, lalu memagut bibir ranum sang istri dengan penuh kasih sayang. 

"Ayo kita lanjut di kamar," takut ada yang ngintip," gumamnya pelan.

Zulfa yang panik langsung mengedarkan kedua matanya kesekitar, takut ucapan Arslan benar. Lalu Arslan yang sedang tertawa langsung berbisik pelan, "Kalau mau main di dapur, besok, kita suruh semua pelayan keluar."

"Ih dasar ... Sukanya yang aneh-aneh." Arslan meringis kesakitan tatkala perut berototnya di cubit istrinya. 

"Udah mulai main kasar yaa ... Awas kamu!!" Zulfa langsung berlari ke lantai dua dan masuk ke dalam kamarnya.

Sesampainya di kamar Zulfa langsung menyuruh suaminya untuk mandi terlebih dahulu. Walau hasratnya sedang tinggi tetapi Arslan memilih untuk menuruti perintah sang istri, sebab ia juga tidak nyaman dengan tubuhnya yang terasa kotor setelah seharian bekerja.

Zulfa mematikan lampu utama. Hanya lampu tidur yang menyala redup, memberi suasana hangat dan tenang. Zulfa duduk di tepi ranjang sambil mengoleskan pelembap ke tangan, kaki dan kebagian tubuh lain yang terbuka.  Arslan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Sama sekali tak berniat memakai apa pun dari lemarinya.

Sebab begitu melihat istrinya,  Arslan langsung tergoda dan menghampiri sang istri. Arslan tak lagi berkata-kata. Ia hanya duduk di belakang Zulfa, lalu menarik tubuh perempuan itu agar bersandar di dadanya.

"Arslan..."

"Hm?"

"Aku belum selesai."

"Biarin."

"Kamu sukanya maksa ya."

Arslan terkekeh pelan. Arslan memiringkan kepala, lalu mengecup bibir istrinya lagi. Kali ini singkat namun penuh arti. "Habis kamu sukanya di paksa." Zulfa tersenyum mendengarnya. 

"Btw ada hal yang ingin aku bicarakan." Ucap Zulfa terdengar serius.

Arslan bangkit dari tidurnya, meraba meja nakas untuk mengambil air minum, "Hal apa?" Tanyanya.

"Ngomong-ngomong, kamu punya relasi bisnis yang berstatus duda dan kaya raya, nggak?" Hampir saja Arslan menyemburkan minuman yang sudah masuk ke dalam mulutnya. Ia bahkan hampir tersedak minumannya sendiri.

"Kenapa tiba-tiba kamu nanya-nanya duda?" Arslan memicingkan mata, curiga. 

"Aduh maaf ya sampai bikin kamu kaget begitu." Zulfa menepuk-nepuk halus bahu suaminya yang sedang terbatuk. 

"Itu si Mutia minta dicarikan jodoh, katanya dia pengen dapat suami yang persis kayak kamu."

"Kalau pengen dapatnya yang kayak aku, tampan, setia dan kaya raya mah susah. Kamu tau kan kalau aku ini, limited edition!" Sontak saja ucapannya membuat Zulfa geram karna nada suaranya yang terdengar sombong.

"Ih ... Dasar!!" Gumam Zulfa.

"Kan kamu sendiri yang bilang begitu." Kata Arslan lagi mengingatkan Zulfa.

"Intinya, Ada apa enggak?" Tegas Zulfa lagi, kembali ke pokok permasalahan.

"Ya nggak ada lah kalau yang nyarinya persis kayak aku. Harus membelah diri dulu dong, aku-nya!!" Celetuk Arslan, asal bicara.

"Andaikata kamu bisa membelah diri pun, tidak akan aku biarkan siapa pun memiliki mu." Zulfa berjalan ke arah Arslan dan merengkuh wajah suaminya, lalu Arslan berkata,

"Iya ... iya istriku yang paling cantik seantero jagad raya. Pokoknya Arslan cuma milik Zulfa seorang." Arslan tersenyum sambil meraih tangan istrinya, lalu mengecup punggung tangannya lembut.

"Balik lagi ke Mutia," ujar Arslan, mencoba terdengar serius. "Kalau duda kaya raya sih ada beberapa. Tapi..."

"Tapi apa?" Zulfa menatap penuh harap.

"Tapi nggak ada yang setampan aku."

"Ih, Arslan!" Zulfa memukul pelan bahu suaminya, membuat pria itu tertawa puas.

"Ya sudah, nanti aku bantu carikan yang paling cocok untuk Mutia. Yang penting orangnya baik, bertanggung jawab, dan nggak aneh-aneh."

"Nah, gitu dong dari tadi." Zulfa merapikan kerah baju tidur suaminya. "Kasihan Mutia. Dia bilang pengen cepat nikah."

Arslan menatap istrinya lekat-lekat. "Kamu ini ya... selalu mikirin orang lain."

"Memangnya salah?"

"Nggak salah." Arslan mengusap pipinya pelan. "Makanya aku makin sayang."

Zulfa terdiam sesaat, lalu menyandarkan kepala di dada bidang suaminya.  "Aku juga makin sayang sama kamu kalau sikapmu selalu semanis ini."

Dan seperkian detik kemudian, mereka saling memandang dan tersenyum lalu kembali berpagutan. Kali ini lebih dalam, lebih menuntut satu sama lain. Perlahan Arslan mulai merajai tubuh Zulfa yang masih berbalut kain, tali yang menggantung di tubuh istrinya, ia turunkan secara perlahan untuk memudahkan aksesnya masuk lebih dalam ke tubuh istrinya. 

Desahan merdu mulai keluar dari mulut Zulfa tatkala ia merasakan sisi tubuhnya yang menonjol mendapatkan usapan hangat dari lidah dan tangan suaminya. Kali ini Arslan tak mengijinkan Zulfa untuk memakannya lebih dulu. Kedua mata sayu itu menatap wajah Zulfa yang terlihat menikmati permainannya.

 "Aku ingin memakanmu lebih banyak lagi," ucap Arslan dengan suara seraknya. Arslan menurunkan tubuhnya hingga wajahnya sampai di antara dua kaki Zulfa yang terbuka lebar.

Perlahan namun pasti celana segitiga itu sudah turun hingga ke mata kaki Zulfa. Dan Arslan menenggelamkan wajahnya disana. Cukup lama dan berirama. Arslan sedang menikmati permainannya.

Tak lama kemudian suara indah Zulfa mulai terdengar nyaring tatkala ia merasakan sensasi luar biasa yang membuat seluruh tubuhnya menegang. Jemarinya refleks mencengkeram seprai di bawah tubuhnya, sementara napasnya datang tak beraturan.

"Arslan..." lirihnya, memanggil nama suaminya dengan suara bergetar.

Pria itu mendongak sejenak sambil mengusap sisa cairan di bibirnya, menatap wajah sang istri yang memerah dengan sorot mata penuh kemenangan sekaligus kelembutan. Ia selalu menyukai saat Zulfa tak lagi mampu menyembunyikan perasaannya.

Arslan kembali naik, merangkak mendekati tubuh istrinya perlahan. Ia mengecup bibir Zulfa singkat, lalu lebih lama, seolah ingin menenangkan debar jantung yang sama-sama tak terkendali.

"Kamu cantik sekali malam ini," bisiknya serak di sela ciuman.

Zulfa menatap suaminya dengan mata setengah terpejam. "Kamu selalu bilang begitu."

"Karena memang begitu." Arslan menyapu helaian rambut yang menempel di pipi istrinya. "Dan aku nggak akan bosan mengatakannya."

Zulfa tersenyum kecil, lalu melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami. "Kalau begitu jangan cuma ngomong, buktikan lagi..."

Arslan mengangkat alis, "Berani menantangku?"

Sebagai jawaban, Zulfa menarik tengkuk pria itu dan menciumnya lebih dulu. Kali ini penuh keberanian, penuh rasa rindu yang sejak tadi tertahan.

 "Kali ini aku yang akan makan kamu."

Tawa pelan Arslan pecah di sela napas mereka. Arslan melepas lilitan handuknya. Ia lalu memeluk tubuh istrinya erat, membawa Zulfa tenggelam dalam kehangatan yang hanya mereka miliki.

Malam semakin larut. Di kamar yang remang dan sunyi itu, dua hati yang sempat digelayuti curiga akhirnya kembali saling menemukan tempat kenyamanan. Bukan hanya lewat sentuhan, tetapi lewat cara mereka saling menenangkan, saling meyakinkan, bahwa di tengah badai apa pun—mereka masih memilih untuk saling bersama.

***

Setelah pertempuran yang hebat dan berlangsung lama, mereka saling terlelap dengan posisi Zulfa tidur menyamping membelakangi suami. Sedangkan Arslan memeluk tubuh istrinya dari belakang, seperti kebiasaannya setiap malam. Lengan kokohnya melingkar di pinggang Zulfa, wajahnya bersandar di tengkuk perempuan itu, menghirup aroma rambut yang membuatnya selalu merasa tenang.

Jam dinding menunjukkan pukul 01.17 dini hari.

Keheningan malam pecah oleh getaran pelan dari ponsel yang diletakkan di atas nakas.

Drettt ...

Drett ...

Arslan terbangun lebih dulu. Matanya masih berat saat meraih ponsel itu dengan gerakan hati-hati agar tak membangunkan istrinya.

Namun begitu melihat nama di layar, kantuknya lenyap seketika. 

Fathiya.

Kening Arslan berkerut. Panggilan itu terputus, lalu masuk lagi. Dan lagi. Arslan duduk perlahan di tepi ranjang. Ia menoleh ke arah Zulfa yang masih tertidur membelakanginya. Dengan hati-hati ia berdiri, mengambil ponsel, lalu berjalan keluar kamar. Pintu ditutup nyaris tanpa suara.

Namun beberapa detik setelah itu—mata Zulfa terbuka. Ia tak benar-benar tertidur nyenyak sejak tadi.Perempuan itu menatap sisi ranjang yang kosong dan masih terasa hangat.

Zulfa bangkit perlahan, dadanya dipenuhi firasat yang tak mampu ia jelaskan.

***

1
Lasa Hardianti
Mampir thorr, jujur ceritanya seru banget🥹😭
Vitamaya: terimakasih kak 🥰
total 1 replies
ciber ara
rekomen banget 👍👍
ciber ara
nexxtt💪💪💪
ciber ara
oalah sedihnya 😭
ciber ara
awalnya udh kek nya udh sedih 😭
Vitamaya: terimakasih kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!