Di hari anniversary mereka yang ketiga tahun, Grizla ingin menaikkan jabatan suaminya dari Manager menjadi CFO dalam diam.
Tapi malam itu, ia terpaksa mengurung niatnya karena ibu dan adiknya ikut campur di hari perayaan anniversary mereka.
Dan lebih menyakitkan lagi, mertuanya itu membawa wanita asing bersama mereka yang membuat ia tidak nyaman dan membuat ia ragu harus menyerah posisi itu.
Lama kelamaan, suaminya mulai bersikap dingin, tidak ada keharmonisan ruma tangga yang ia dambakan. Akhirnya suaminya selingkuh dengan wanita tersebut yang ternyata satu kantor dengannya, alasan selingkuhnya adalah ia menginginkan seorang anak.
Plot twist-nya adalah, perusahaan itu miliknya, yang mengangkat suaminya sebagai manager adalah dirinya melalui orang Kepercayaan yang menjadi CEO sementara di perusahaan G' Jaya.
"Hari ini buka matamu lebar-lebar, siapa yang telah mengangkat derajatmu!" - Grizla
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
"Saya sudah menyelesaikan arsip tahun pertama, Bu Siska. Saya sedang mengetik ringkasannya," jawab Antonio gugup, matanya sesekali mencuri pandang ke arah Nyonya G yang kini berdiri tepat di depan meja kayu tempat laptop berada.
Grizla mengulurkan tangannya yang terbalut sarung tangan brokat hitam, mengambil salah satu lembar dokumen yang baru saja diketik Antonio. Ia membacanya sekilas, lalu melempar kertas itu kembali ke atas meja dengan gerakan meremehkan.
"Kerja Anda lambat sekali, Antonio," ucap Nyonya G. Suaranya terdengar jernih namun begitu mengintimidasi melalui ruang gudang yang bergema. "Apakah menyortir kertas tua saja membutuhkan energi sebanyak ini sampai wajah Anda terlihat seperti pengemis di jalanan?"
Kalimat tajam itu menghantam telinga Antonio. Kata 'pengemis' seolah memutar kembali ucapannya sendiri kepada Grizla di dapur semalam: *'Kalau bukan karena uangku, kau sudah mati kelaparan di jalanan!'*
Antonio menelan ludah yang terasa berpasir. Tubuhnya menegang. *'Kenapa... kenapa kata-katanya terasa seperti balasan?'* batinnya berteriak histeris. Ia menatap lekat-lekat ke arah bibir Nyonya G yang terpoles lipstik merah menyala. Bentuk bibir itu, cara wanita itu mengucapkan kata-perkata... semuanya terasa sangat tidak asing.
"Maaf, Nyonya G. Gudang ini sedikit luas dan debunya cukup tebal, jadi saya—"
"Saya tidak butuh alasan," potong Grizla dingin. Ia melangkah satu tindak lebih dekat ke arah Antonio, membuat aroma parfum mahal—yang sangat jarang dibaui Antonio namun terasa familier—menyeruak di antara bau apek gudang.
Grizla sedikit menurunkan kepalanya, menatap Antonio dari balik celah kacamata hitamnya yang sengaja diturunkan seujung kuku. "Di perusahaan ini, saya membayar hasil, bukan proses yang penuh keluhan. Jika Anda merasa pekerjaan di lantai bawah ini terlalu berat untuk harga diri Anda yang setinggi langit itu..." Grizla menjeda kalimatnya, memberikan senyuman sinis yang begitu mematikan. "...Anda tahu di mana pintu keluar."
Antonio terpaku di tempatnya berdiri. Detak jantungnya berpacu gila-gilaan. Tatapan dari balik kacamata itu, senyuman sinis itu... semuanya membuat kepingan puzzle di kepalanya mendadak berputar.
*'Tidak... ini tidak mungkin. Grizla sedang di rumah, memakai daster robek, menangis karena uang belanjanya kupotong. Wanita di depanku ini adalah miliarder pemilik Arwana Group! Tapi... kenapa rasanya semirip ini?!'* batin Antonio berteriak, keringat dingin mengucur deras di punggungnya.
Melihat Antonio yang malah bengong dan menatapnya dengan pandangan penuh kecurigaan, Grizla kembali menaikkan kacamata hitamnya dengan anggun.
"Siska, urus sisa dokumen di sini. Saya muak berlama-lama di tempat pengap ini dengan orang yang tidak kompeten," ujar Grizla berbalik badan, bersiap meninggalkan gudang.
"Baik, Nyonya," jawab Siska sigap.
Sebelum benar-benar melangkah keluar, Grizla menghentikan langkahnya di ambang pintu, menoleh sedikit tanpa berbalik penuh. "Oh ya, Antonio. Saya dengar dari Boni, Anda memiliki masalah finansial karena gaya hidup yang berlebihan? Saran saya... belajarlah hidup hemat mulai malam ini. Makanlah apa yang ada, bahkan jika itu hanya sepotong tempe goreng."
Deg!
Dunia Antonio rasanya runtuh seketika. Kalimat terakhir Nyonya G bagai hantaman gada yang tepat mengenai ulu hatinya. "Tempe goreng? Dari mana Nyonya G tahu tentang menu makan malam di rumahnya?!"
Sebelum Antonio sempat mencerna keterkejutannya atau mengeluarkan sepatah kata pun, Nyonya G sudah melangkah pergi, menyisakan suara ketukan sepatu hak tingginya yang perlahan menghilang di lorong tangga, meninggalkan Antonio yang berdiri membeku dengan wajah pucat pasi seperti mayat.
Antonio berdiri terpaku di tengah gudang yang sunyi. Papan jalan di tangannya terlepas, jatuh mencium lantai beton dengan suara retakan yang nyaring.
"Tempe goreng...?" bisik Antonio, suaranya tercekat di tenggorokan.
kuy.. yg banyak geh ...😭
yg banyak lagi to Les... nanggung bacanya..
tak kasih kopi nih.. biar terang kontestrasinya... 😂😂🤭
yg semangat upnya, tak kirim kopi..💪
jgn kelamaan grizla yg disiksa di rumah hantu itu..