Park Soo-jin, siswi baru yang pindah ke SMA Haneul di Seoul, menghadapi beban berat: biaya sekolah dan pengobatan ayah yang terus menumpuk. Saat kehabisan pilihan, ia menemukan sebuah lowongan dengan bayaran tinggi—namun tugasnya tak terduga: menjadi pemburu hantu sekolah.
Di siang hari, ia adalah siswi biasa yang berusaha mengikuti pelajaran. Di malam hari, ia menyusuri koridor sepi, ruang kelas terbengkalai, dan lorong gelap untuk menenangkan arwah yang belum tenang. Awalnya hanya demi uang, perlahan Soo-jin menyadari tugas ini mengajarkannya lebih dari sekadar keberanian: setiap bayang memiliki kisah, dan setiap perjuangan punya makna.
Akankah ia mampu bertahan menyeimbangkan kehidupan sekolah dan rahasia kelam yang tersembunyi di balik tembok sekolahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Beban dalam Satu Malam
Setelah keluar dari halaman sekolah dan sampai di pinggir jalan yang sepi, Min-woo membuka kunci sepeda motornya yang terparkir di bawah pohon. Ia menoleh ke arah Soo-jin yang berdiri memegang tasnya, lalu menepuk jok belakang motornya.
“Ikutlah dengan ku, aku akan mengantarmu pulang. Ini sudah larut malam,” ajaknya dengan nada yang tidak bisa ditolak.
Soo-jin menggeleng cepat sambil melangkah mundur sedikit. “Tidak perlu, itu hanya akan merepotkanmu. Aku sudah biasa berjalan kaki pulang sendiri.”
Min-woo tertawa kecil, lalu menggeleng kepala. “Yaaaa… jarak dari sini ke rumahmu cukup jauh. Apa kau yakin ingin berjalan kaki? Kalau di tengah jalan bertemu sesuatu yang tidak diinginkan gimana?”
Mendengar kalimat itu, Soo-jin langsung mendengus kesal sambil memukul pelan lengan baju Min-woo. “Aiiisshhh… kau jangan menakutiku begitu!”
“Hahaha… ya sudah, ayo ikut dengan ku saja. Lebih aman dan cepat,” bujuk Min-woo sambil tersenyum melihat reaksi gadis itu.
Soo-jin terdiam sejenak, mempertimbangkan ucapan Min-woo. Ia sadar suasana sudah sangat gelap dan perasaannya masih belum pulih sepenuhnya setelah kejadian tadi. Akhirnya ia mengangguk pelan.
“Hmmm… baiklah.”
Mesin sepeda motor menyala dengan suara halus, memecah keheningan malam yang sunyi. Min-woo menyerahkan helm cadangan berwarna hitam yang masih terlihat rapi kepada Soo-jin.
“Pakai ini, jangan sampai angin malam membuatmu masuk angin,” katanya sambil memastikan helmnya terpasang dengan benar.
Soo-jin mengenakannya dengan hati-hati, lalu duduk di jok belakang dengan posisi yang agak kaku. Ia belum terbiasa naik sepeda motor apalagi dengan teman laki-laki, jadi tangannya hanya berpegangan pada sisi jok, tidak berani memegang punggung atau pinggang Min-woo.
Min-woo menyadari hal itu dan tersenyum kecil di balik helmnya. “Pegang saja pundakku atau pinggangku kalau takut jatuh. Jangan kaku seperti itu, nanti malah terasa tidak nyaman.”
Soo-jin hanya mengangguk malu, lalu perlahan melingkarkan kedua tangannya memegang bagian pinggang Min-woo dengan canggung. Begitu ia memegang erat, motor itu pun mulai melaju perlahan meninggalkan pinggir jalan yang gelap.
Mereka melintasi jalanan yang mulai sepi, hanya diterangi lampu jalan yang terpasang berjauhan. Angin malam berhembus lembut menerpa wajah dan tubuh mereka, membawa hawa sejuk yang perlahan menghilangkan sisa rasa dingin dan ketegangan yang masih tersisa setelah kejadian tadi.
Selama perjalanan, tidak banyak kata yang terucap. Suara mesin motor dan desiran angin menjadi pengiring perjalanan. Namun bagi Soo-jin, keheningan ini justru terasa nyaman. Di balik punggung Min-woo, ia merasa perlindungan yang membuat hatinya tidak lagi berdebar kencang seperti saat di dalam gedung tua tadi. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang perlahan kembali teratur, dan rasa nyeri di bahunya pun terasa semakin berkurang.
Setelah sekitar dua puluh menit perjalanan, Min-woo memperlambat laju motornya dan berhenti tepat di depan gang kecil tempat rumah sewa Soo-jin berada. Ia mematikan mesin, lalu menoleh ke belakang.
“Sudah sampai,” ucapnya pelan.
Soo-jin segera melepas helm dan menyerahkannya kembali. “Terima kasih banyak sudah mengantarku. Kalau tidak ada kamu, mungkin aku harus berjalan cukup jauh sendirian.”
Min-woo menerima helm itu sambil tersenyum tipis. “Tidak apa-apa. Lagian memang lebih aman begini. Ingat, mulai besok kita kembali ke kehidupan biasa di sekolah. Jangan biarkan ada yang mencium keanehan dari sikap kita.”
“Aku mengerti,” jawab Soo-jin sambil mengangguk mantap. “Kamu juga hati-hati dalam perjalanan pulang.”
Min-woo menyalakan kembali mesin motornya, lalu melambaikan tangan sebentar. “Istirahatlah yang cukup. Besok kita bertemu lagi di kelas.”
Ia pun melaju pergi meninggalkan Soo-jin yang masih berdiri di depan gang itu. Setelah sosok motor itu menghilang di tikungan jalan, Soo-jin baru berbalik dan melangkah masuk ke dalam, membawa perasaan campur aduk: lelah, lega, dan sedikit rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Begitu masuk ke kamar dan mengunci pintu rapat-rapat, ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur. Matanya menatap langit-langit kamar, memikirkan segala peristiwa yang terjadi hanya dalam satu malam. Perlahan-lahan, rasa kantuk mulai menyerang, membawanya ke dalam istirahat yang sangat dibutuhkannya.
Tidak butuh waktu lama bagi Min-woo untuk tiba di depan rumahnya. Begitu motor melambat dan masuk ke halaman, matanya langsung menangkap sosok yang sudah berdiri menunggu di ambang pintu—ibunya, dengan wajah yang tampak cemas sekaligus tegas.
Min-woo mematikan mesin, memarkirkan motornya dengan rapi, lalu melepas helm dan menyisir rambutnya yang berantakan tertiup angin. Belum sempat ia melangkah mendekat, suara ibunya sudah terdengar lebih dulu.
“Darimana kamu? Sudah Ibu katakan, Ayahmu pulang hari ini. Kenapa kamu baru pulang selarut ini?” tanya ibunya, nada bicaranya mengandung kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan.
Min-woo hanya menunduk sebentar, tidak menjawab sepatah kata pun. Ia melangkah melewati ibunya begitu saja, seolah tidak mendengar pertanyaan itu, dan langsung masuk ke dalam rumah .
“Yaaaa… Min-woo!” seru ibunya sambil mengikuti dari belakang, suaranya sedikit meninggi karena kesal. “Ibu sedang bicara padamu!”
Belum sempat Ibu Min-woo melangkah lebih jauh, dari arah ruang tamu muncul sosok Ayahnya dengan langkah berat dan wajah yang sudah memerah menahan amarah. Begitu melihat Min-woo yang baru saja menutup pintu, ia bergerak cepat dan—
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat tepat di pipi kiri Min-woo. Suaranya terdengar jelas di seisi rumah. Min-woo terhuyung sedikit ke samping, lalu segera memegang pipinya yang terasa perih dan panas, matanya menatap Ayah dengan tatapan campuran sakit dan marah yang tertahan.
“Ini yang kau dapatkan dari sekolah? Pulang selarut begini?” bentak Ayahnya dengan suara menggelegar. “Katakan padaku, apa saja yang sebenarnya kau lakukan di luar sana? Ayah membiayaimu untuk belajar dengan baik, bukan untuk main-main sembarangan! Bahkan kau juga sering bolos dari les musik yang sudah Ayah bayar mahal-mahal!”
Min-woo mengangkat wajahnya, napasnya memburu. Suaranya terdengar bergetar menahan emosi: “Sudah berulang kali aku katakan… aku tidak suka musik! Aku tidak ingin menjadi musisi! Itu cita-cita Ayah, bukan keinginanku sendiri!”
Tanpa menunggu jawaban lagi, ia berbalik badan dan melangkah cepat menuju kamarnya, lalu membanting pintu hingga berdentum keras.
“Min-woo! Ini semua untuk kebaikanmu! Dengarkan kata Ayah!” teriak Ayahnya dari luar, namun tidak ada jawaban lagi.
Ayah Min-woo berdiri terpaku, lalu memalingkan wajah ke arah istrinya yang hanya bisa diam dengan mata berkaca-kaca.
“Ini hasil didikanmu sendiri!” ucapnya dengan nada kecewa dan tajam. “Kau tidak bisa mengurus anak ini dengan baik, sampai dia tumbuh menjadi anak yang membangkang dan tidak tahu diri!”
Ibu Min-woo hanya menunduk, air matanya akhirnya jatuh membasahi pipi. Ia tidak berani membela diri, juga tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi karena ia sendiri pun tidak mengerti apa yang sedang disembunyikan oleh anaknya.
Di balik pintu kamar yang terkunci rapat, Min-woo bersandar di dinding, masih memegang pipinya yang terasa sakit. Di dadanya, rasa sesak bercampur dengan beban ganda: pertengkaran dengan orang tua, dan kenyataan bahwa ia tidak bisa menjadi apa yang diharapkan oleh Ayahnya. Malam itu terasa jauh lebih berat dari pada tugas apa pun yang baru saja ia selesaikan.