NovelToon NovelToon
Karena Kamulah Yang Tuhan Takdirkan

Karena Kamulah Yang Tuhan Takdirkan

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.8
Nama Author: leni septiani

Lima bulan sebelum pernikahan Rara dan Devan terlaksana, Rara memergoki tunangannya itu tengah berada di rumah saki bersama seorang perempua hamil, awalnya ia mengira itu saudara nya, namun kenyataan pahit harus terpaksa ia telan mengetahui bahwa wanita yabg bersamanya adalah istrinya, wanita yang dinikahi devan satu tahun yang lalu. Dunia Rara seakan berhenti detik itu juga, sakit tentu saja iya rasakan, kecewa apa lagi, Rara tidak tahu harus bagaimana lagi hidupnya tak lagi sma, Rara yang dulu periang kini berubah menjadi pendiam dan berkali kli masuk rumah sakit karena terlalu lelah karena pikirannya. Angga yang kebetulan menjadi dokter yang menangani Rara dan juga seorang sahabat dari Riri, kakak Rara berniat menjodohkan keduanya Angga tentu saja bahagia karena bagaimana pun ia memang sudah diam-diam menyimpan hati pada perempuan cantik pemilik cafe tempat dirinya makan siang di jam istirahatnya. Angga tidak ingin menyerah meskipun gadis itu tidak juga memberikan kepastian meski berkali-kali dirinya mengungkapkan perasaannya. Rara hnya tidak ingin menerima laki-laki itu di saat hatinya masih bersemayam laki-laki masa lalu yang telah menggoreskan luka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leni septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22

Dua minggu sudah berlalu dari acara lamaran malam itu, membuat Angga tidak segan lagi untuk menyatakan secara gamblang tentang perasaan cinta dan bahagianya. Angga pun tak ragu lagi untuk menunjukan sikaf manja dan posesifnya kepada Rara, awalnya Rara memang merasa risih tapi Rara mulai terbiasa dengan semua keposesifan tunangannya itu. Dan mungkin ini adalah sifat asli seorang Angga yang tidak pernah ia perlihatkan kepada orang lain selain keluarga dan ditambah dengan Rara saat ini.

Hari ini Rara sudah memiliki janji dengan Angga pergi ke butik untuk melakukan fitting gaun pengantin untuk ia kenakan dihari bahagianya nanti. Rara sedikit bersyukur karna dulu saat bersama Devan ia belum sempat melakukan fitting gaun pengantin, karna kalau sudah, mungkin itu akan membuat Rara merasa sedikit nyeri dihatinya karena kembali mengenang kenangan sosok Devan dan pernikahannya yang gagal.

Saat mobil yang Angga kendarai memasuki kawasan parkir sebuah butik terkenal yang akan menjadi tempat untuk merancang gaun pernikahannya, dada Rara berdetak lebih cepat dari biasanya. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa gugup memasuki butik ini. Namun saat masuk kedalam entah kenapa perasaan gugup itu hilang dan digantikan dengan perasaan bahagia melihat deretan gaun pengantin yang terpajang manis di tubuh patung.

Dari sekian banyak gaun pengantin yang terpajang mata Rara langsung berbinar saat melihat satu gaun berwarna merah maroon tanpa lengan dan sedikit manik-manik di bagian dada begitu terlihat manis dan cantik. Dan satu lagi gaun cantik yang menarik perhatian Rara, yaitu gaun berwarna biru muda tanpa lengan juga namun bedanya yang ini dihiasi Bungabunga dibagian pinggangnya, tapi gaun yang lainnya juga tak kalah bagus dan cantik namun entah kenapa Rara begitu menyukai kedua gaun tadi.

“Ada yang kamu suka, sayang?” Tanya Angga lembut, Rara dengan antusias menganggukan kepalanya tanpa menengok kearah Angga yang berada disampingnya.

“Kak apa boleh aku memilih gaun warna lain?” Tanya Rara pelan.

“Maksudnya?” Tanya Angga tak paham.

“Aku mau gaun warna lain, gak mau yang warnanya putih,” ucap Rara hati-hati.

“Gak apa-apa sayang, kamu pilih warna yang kamu suka, toh ini juga untuk resepsi pernikahan kita jadi gak harus selalu warna putih.” Jawab Angga lembut sambil mengelus lembut rambut panjang Rara yang terurai.

“Mbak boleh saya coba yang merah itu?” Tunjuk Rara kepada mbak Sisi pemilik butik, sekaligus teman Angga saat kuliah dulu, Sisi tersenyum lalu mengambilkan gaun yang ditunjuk Rara.

“Silahkan keruangan itu untuk dicoba, dan nanti akan ada salah satu karyawan saya yang membatu” ucap Sisi mempersilahkan. Rara mengangguk dan berjalan menuju ruang pas dengan diikuti salah satu karyawan butik untuk membantunya mengenakan gaun pengantin yang lumayan berat dan juga ribet.

“Kak Angga!” Panggil Rara saat keluar dari ruang pas, yang kini sudah berganti mengenakan gaun pengantin merah maroon, pilihan pertamanya. Angga memperhatikan Rara dari atas hingga bawah dan kembali lagi keatas, tanpa mengucapkan satu katapun, membuat Rara sedikit khawatir Angga tidak menyukainya.

“Kak Angga, gak suka?” Tanya Rara hati-hati sambil menundukan kepalanya.

“Aku suka kok. Kamu cantik banget pakai gaun itu, aku sampe pangling dan gak sanggup berkata apa-apa,” ucap Angga jujur, mendengar itu membuat pipi Rara memerah karena malu.

“Kamu mau yang itu aja?” Tanya Angga lembut.

“Ada satu lagi yang mau aku coba, boleh?” Tanya Rara yang mendapat anggukan dari Angga.

Setelah Rara kembali masuk kedalam ruang ganti, Angga duduk kembali di sofa yang tersedia dan kembali mengutak-atik ponsel nya, setelah menunggu agak lama akhirnya Rara keluar dari ruang pas sudah menggunakan gaun warna biru muda yang sangat pas dikenakan oleh Rara. Angga sampai tidak berkedip melihatnya. Rara terlihat manis dan semakin cantik dengan gaun pengantin biru muda ini.

“Kak Angga!” Panggil Rara untuk ketiga kalinya sambil menepuk pelan lengan Angga.

“Udah kamu pilih yang ini aja Ra, kamu cantik banget sumpah!” Puji Angga tulus.

“Jadi mau yang ini aja?” Tanya Sisi, Rara menatap Angga sebentar lalu mengangguk.

“Terus jasnya mau disamain warnanya?” Tanya Sisi kepada Angga.

“Terserah kamu aja gimana cocoknya Si. Aku pecaya kamu lebih paham soal fashion,” ucap Angga sebelum akhirnya pamit untuk pulang.

Sekeluarnya dari butik, Rara dan Angga memutuskan untuk mampir kerestorant terlebih dahulu untuk makan siang yang sebenarnya sudah terlewat beberapa jam yang lalu, sebelum akhirnya kembali lagi pada pekerjaannya masing-masing. Sepanjang perjalanan menuju restorant Angga yang sedang mengemudi sesekali menatap kearah Rara yang tengah sibuk dengan ponselnya, entah apa yang gadis itu lakukan sampai membuat dirinya sesekali tersenyum kearah ponsel yang digenggamnya, hingga mobil yang Angga kendarai sampai di depan restorant yang mereka tuju, Rara masih saja terpokus pada ponselnya itu sampai tidak menyadari bahwa mobil yang di tumpanginya telah berhenti.

“Sayang turun yuk,” ajak Angga lembut.

“Oh, udah sampai,” gumam Rara sambil melirik sekeliling yang ternyata memang sudah berada di tempat parkir restoran yang mereka tuju.

“Udah dari lima menit yang lalu kita sampai!” beritahu Angga sedikit menyindir. “Terus kenapa kita gak turun?” tanya Rara polos.

“Dari tadi juga aku udah ajak kamu turun, tapi kamunya malah asik sama ponsel, sampe aku gak dipeduliin!” Sindir Angga ketus, lalu keluar dari mobil dan berjalan masuk kedalah restorant terlebih dahulu, meninggalkan Rara yang kini tengah terkekeh geli melihat Angga yang sedang cemberut. Rara berjalan menyusul sang tunangan yang kini tengah merajuk, dan setelah mendapati leleki itu sudah duduk dimeja kosong yang berada agak pojok, Rara tersenyum geli lalu menghampiri Angga yang masih memanyunkan bibirnya.

“Permisi, apa boleh saya duduk disini?” Tanya Rara seramah mungkin.

“Tidak, saya sedang menunggu seseorang!” jawab Angga ketus tanpa menoleh kearah Rara yang kini makin terkekeh geli melihat tunangannya itu seperti anak kecil yang merajuk karna tidak dibelikan mainan, sungguh lucu menurut Rara.

“Kalau boleh saya tahu, siapa yang sedang anda tunggu?” Tanya Rara ditengah kekehannya.

“Tunangan saya.” Jawab Angga singkat.

“Oh kalau begitu, izinkan saya duduk disini, karna saya sedang ingin membujuk tunangan saya yang sedang merajuk,” ucap Rara lagi, dan kembali terkekeh melihat Angga yang masih enggan menatapnya.

Setelah keduanya menyebutkan pesanannya pada pelayan, Angga kini kembali memalingkan wajahnya tidak mau menatap Rara, sedangkan Rara tidak hentinya membujuk Angga agar tidak marah lagi, namun Angga masih saja tidak merespon, membuat Rara menghela napas berat. Bagi Rara membujuk Angga lebih susah dari pada membujuk anak kecil. Setelah makanan pesanan keduanya sampai Rara menatap Angga yang tidak menyentuh makanannya sedikitpun akhirnya kembali menghela napasnya

“Sayang, makan dulu ya?” Bujuk Rara lembut. Mendengar panggilan ‘sayang’ yang diucapkan Rara membuat senyum Angga merekah, matanya pun menatap Rara berbinar. Selama dua minggu pertunangan mereka memang belum pernah sekalipun Rara mengucapkan kata itu, hingga saat ini Angga mendengar panggilan ‘sayang’ untuk pertama kalinya keluar dari mulut Rara entah kenapa Angga merasa sangat bahagia, terkesan lebay memang tapi percayalah jika kata itu keluar dari mulut orang yang paling kalian cintai, kata sederhana itu akan sangat berbeda dan istimewa.

“Coba ulangi,” pinta Angga dengan wajah tak percaya.

“Ulangi apa?” Tanya Rara bingung.

“Yang tadi.” jawab Angga pelan.

“Sayang, makan dulu ya,” ucap Rara mengulang perkataannya tadi, membuat Angga semakin mengembangkan senyumnya, lalu mengangguk dan segera melahap makanannya, namun pandangannya tidak lepas dari wajah cantik Rara yang juga sedang menikmati makanannya dengan wajah yang sedikit merona.

Setelah keduanya selesai makan, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ketempat kerja masing-masing. Angga tentu saja mengantarkan Rara ke cafenya terlebih dahulu, baru setelah itu ia melajukan mobilnya menuju rumah sakit yang berada disebrang café milik Rara. Setelah melihat mobil Angga telah memasuki parkiran rumah sakit Rara segera saja masuk kedalam cafenya dan berniat untuk pergi keruangannya menemui Tania dan menyelesaikan pekerjaannya yang sedari tadi ditinggal.

Mengurus café memang tidak terlalu repot kecuali saat melayani pelanggan yang ramai berdatangan. Tapi meskipun begitu, memiliki café sendiri juga tidak bisa begitu saja bersantai-santai ada beberapa hal yang harus di kerjakan meski tidak sebanyak pekerjaan karyawan kantoran. Sebenarnya Rara maupun Tania bisa jika mengurusnya sendiri tapi diawal mereka mendirikan café ini, keduanya sudah sepakat untuk mengurusnya bersama sampai nanti mereka membuat cabang café ini.

Keduanya memang sudah merencanakan untuk membuka cabang di dekat kampus tempat keduanya berkuliah dulu, namun niat itu terpaksa harus ditunda terlebih dahulu karna terhalang dengan mengurus persiapan acara pernikahan Rara dan Angga yang akan dilaksanakan dua bulan lagi. Dan setelah pernikahannya terlaksana barulah rencana pembukaan cabang itupun akan didiskusikan lagi. ‘Rania’s café’ adalah nama cafenya gabungan dari nama Rara dan juga Tania tentunya, yang kini sudah berdiri selama kurang lebih tiga tahun, dengan banyak pelanggan yang semakin bertambah dan tentunya pendapatan yang juga makin bertambah setiap bulannya. Bukan hanya coffe dan cake saja yang tersedia di café ini namun juga menu lainnya pun tersedia disini.

Rara membuka pintu ruangannya lalu masuk dan menelisik mencari keberadaan Tania,

namun nihil, tania tidak ada ditempatnya hingga suara ‘cklek’ mengalihkan perhatian Rara lalu muncul Tania dari balik pintu sambil membawa satu cangkir Hot Chocolate ditangannya.

“Gimana?” Tanya Tania saat sudah meletakan cangkir Hot Chocolatenya di atas meja. Tania duduk di sofa yang tersedia dan menatap Rara yang duduk di kursi kerjanya dengan raut penasaran.

“Apanya?” Tanya Rara tidak paham membuat Tania berdecih pelan karna kesal dengan sahabatnya.

“Fitting bajunya,” ucap Tania singkat, langsung pada inti pertanyaannya.

“Lancar kok.” jawab Rara seadanya, membuat Tania mengangguk-angguk kecil.

“Terus yang lainnya?” Tanya Tania lagi, Rara menghela napas pelan sebelum akhirnya menjawab pertanyaan sahabat keponya ini.

“Besok aku mau nyari gedung sama Kak Angga, terus nyari W.O, catring, cetak undangan dan juga ngurusin yang lainnya. Mungkin untuk beberapa hari kedepan aku bakalan jarang ke café, dan mungkin aku juga akan nyerahin pekerjaan aku sama kamu sementara aku ngurusin pernikahan.” jelas Rara panjang lebar.

“Kamu ngurusin pernikahan ini sendiri? gak sama orang tua kamu dan juga Dokter Angga?” Tanya Tania tak percaya.

“Hmm, tadinya Mama sama Mamanya Kak Angga yang mau ngurusin segala persiapannya, dan aku tinggal terima beres. Tapi aku gak mau, aku juga ingin terlibat, ini adalah pernikahanku dan aku ingin aku turun tangan sendiri untuk mempersiapkan semua ini, bukannya aku gak mau dibantu, tapi kamu tahu lah gimana maksud aku.” Jelas Rara yang dibalas anggukan oleh sahabatnya itu.

“Ok aku ngerti kok, tapi kalau kamu butuh bantuan jangan sungkan bilang sama aku ya, aku pasti akan bantu kamu, dan soal pekerjaan biar aku yang hendle kamu gak perlu mikirin café, kamu fokus sama pernikahan kamu dulu aja saat ini,” ucap Tania tulus, Rara tersenyum mendengar pengertian dari sahabatnya itu dan berjalan mendekat lalu memeluk Tania erat. Rara bersyukur karna memiliki sahabat sebaik dan sepengertian Tania.

“Makasi ya Tan, aku beruntung banget punya kamu,” ucap tulus Rara dalam pelukan Tania.

“Tapi Dokter Angga bantuin kamu kan?” Tanya Tania setelah melepaskan pekukannya.

“Ya bantuinlah, ya kali nggak, yang nikah kan bukan cuma aku!” Jawab Rara agak sewot.

“Ya kali aja gitu dia sibuk sama pasien-pasiennya,” ucap Tania.

“Kak Angga udah izin kok. Paling datang kalau lagi ada yang darurat aja, selebihnya udah ada yang gantiin Selama persiapan pernikahan.” jelas Rara mengakhiri obrolannya, lalu keduanya kembali sibuk dengan pekerjaannya masing-masing yang tertunda.

Tidak terasa hari sudah malam, café pun sudah tutup, namun Rara masih berkutat dengan laptopnya, sedangkan tania sudah pulang sedari tadi. Karyawan yang lainnya pun sudah pulang tinggal menyisakan Reno, Chef sekaligus saudara Rara dan juga merangkap sebagai orang kepercayaan Rara dan Tania yang juga pemegang kunci café dan bertanggung jawab atas karyawan yang lain. Rara sengaja lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya dan sekaligus untuk menunggu Angga yang masih berada di rumah sakit untuk menjemputnya.

“Belum selesai Ra?” Tanya Reno dari ambang pintu ruang kerja Rara.

“Belum, Bang dikit lagi.” jawab Rara tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.

“Gimana persiapan pernikahannya?” Tanya Reno lagi.

“Sejauh ini si lancar, cuma aku masih bingung buat nyari tempat katring yang enak dan murah dimana,” ucap Rara sambil membereskan laptopnya dan mengecek ponsel yang berdering, yang ternyata adalah pesan dari Angga yang memberitahu bahwa dirinya sudah ada di café, dan dengan cepat Rara membalas agar Angga masuk dan langsung keruangannya. Sedangkat Reno masih setia berdiri diambang pintu sampai sebuah tepukan dipundaknya mengharuskan Reno menengok kebelakan untuk melihat siapa orang yang menepuknya.

“Eh, Dokter Angga, sudah datang ternyata?” Reno tersenyum dan menjabat tangan Angga.

“Iya Bang, baru selesai dirumah sakit, Abang belum pulang?” Tanya Angga basa-basi.

“Gimana mau pulang, kalau calon penganten itu nahan Abang untuk pulang,” ucap Reno sambil menunjuk Rara dengan dagunya, membuat Rara seketika menatap tajam Abangnya itu.

“Jadi kamu gak ihklas nemenin aku Bang? Yaudah pulang sana, aku juga gak butuh Abang!” Usir Rara sinis.

“Iyalah sekarang gak butuh aku karena udah ada Dokter Angga. Gitu ya, katanya saudara, tapi pas udah ada calon suami, saudara dilupain. Lama-lama aku pecat juga kamu jadi saudara aku Ra,” ucap Reno pura-pura kesal.

“Siapa juga yang mau jadi saudara Abang, gak ada untungnya!” Sinis Rara.

“Wah sembarangan kamu, harusnya kamu bersyukur dan bangga punya saudara ganteng kayak Abang, udah gitu jago masak lagi,” sombong Reni

“Ganteng apaan kayak gini, kalau nyebelin iya. Dan asal kamu tau Bang, jago masak aja gak cukup kalau ngeluluhin hati satu cewek aja Abang gak bisa.” Sindir Rara membuat Reno akhirnya bungkam dan menatap Rara tajam sedangkan yang ditatap hanya tersenyum tipis dengan wajah yang menantang.

“Awas kamu Ra, liat aja aku bakal buktiin sama kamu kalau aku bisa luluhin dia,” ucap Reno dengan yakin.

“Ok, gandeng dia ke pernikahan aku, Bang,” ucap Rara sebelum akhirnya pergi meninggalkan Reno yang masih terpaku ditempatnya, sedangkan Rara dan Angga sudah berjalan menuruni tangga.

Rara menghentikan langkahnya di tangga terakhir dan menengok kebelakang dan meneriakan untuk Reno tidak lupa mengunci pintu café sebelum akhirnya pergi menaiki mobil Angga yang akan mengantarnya pulang kerumah.

“Yang, tadi kenapa Bang Reno langsung diem pas kamu nyuruh buat gandeng dia ke pernikahan kita. Terus ‘dia’ yang dimaksud itu siapa?” Tanya Angga penasaran.

“Ada deh, hehe.” Jawab Rara cengengesan, membuat angga mendengus kecil lalu menarik hidung Rara gemas.

“Besok jadikan kan?” Tanya Angga dengan pandangan masih memperhatikan jalan.

“Jadi, aku juga udah ngeberesin kerjaan aku, supaya nanti Tania gak terlalu kerepotan.” jawab Rara yang dibalas anggukan mengerti oleh Angga.

“Jam Sembilan aku jemput kamu ya, sekarang kamu masuk dan langsung istirahat ya,” ucap Angga lembut sambil mengelus pelan puncuk kepala Rara.

“Kamu gak mau mampir dulu?” Tanya Rara.

“Gak usah, aku langsung pulang aja, udah malam juga ini,” tolak Angga halus.

“Ya udah kalau gitu, kamu hati-hati dijalannya ya, kalau udah sampe kabarin aku jangan lupa!” Pesan Rara sebelum akhirnya Angga melenggang pergi melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah Rara.

Setelah bertunangan, Angga memang tidak mengijinkan Rara untuk berangkat dan pulang sendiri. Dan tugas antar jemput Rara adalah kegiatan baru yang Angga lakukan beberapa minggu ini tepatnya dari semenjak acara pertunangan itu belangsung. Meskipun beberapa kali Rara menolak untuk diantar jemput Angga karna tidak ingin merepotkan, namun Angga tetap keras kepala ingin mengantar jemput Rara, meskipun dalam keadaan lelah habis bekerjapun Angga dengan senang hati untuk mengantarkan Rara pulang terlebih dahulu.

Rara bersyukur mendapatkan calon suami seperti Angga selain manja, ternyata Angga juga begitu perhatian dan pengertin kepadanya. Rara hanya berharap bahwa pernikahannya akan berlangsung lancar, tidak ada hambatan dan gangguan seperti dulu yang berakibatkan batalnya pernikahan. Dan Rara juga berharap agar setelah menikah nanti pun tidak ada yang berubah dari Angga, Rara sangat berharap semoga rumah tangganya kelak akan selalu dilimpahi kebahagian melebihi saat ini.

1
Felycia R. Fernandez
romantis...
paling suka liat matahari terbenam
Tiwik Firdaus
berjuang terus angga
Miss Typo
ikut bahagia
Miss Typo
Dokter cintaku, kau sembuhkan sakit ku dgn resep cintamu
eeeeeaaaa 😁
Miss Typo
semoga Angga bisa secepatnya mengobati luka di hati Rara
Miss Typo
dokter Angga gercep
Miss Typo
semua mendukung Rara dgn Angga
Miss Typo
dokter cinta akan mulai beraksi 😁
Miss Typo
sweet bgt si Angga
Miss Typo
Rara gk pendiam dia gitu karna hatinya terluka
Miss Typo
dah lah Ra ngapain inget sm mantan tunangan kayak gitu, walaupun cinta tp gak tegas dh nikah setahun bahkan istrinya sdh hamil gk ngomong apa", coba kalau gk kepergok sm Rara, sampe hari pernikahan jujur gk tuh
Miss Typo
move on pelan" dan coba buka hati
Miss Typo
semoga Angga bisa mengobati luka di hati Rara
Miss Typo
baru awal dh nangis 😭
tuh ortu Devan gk setuju sm Rara atau gmn sich, kok bisa"nya baru seminggu tunangan mlh di jodohkan sm orang lain, dan Devan jg harusnya tuh bicara sm keluarga Rara dr awal gk jadi cowok pengecut kayak gitu, masak dh nikah setahun msh ada rencana nikah sm Rara 😤
Yanti Anin
dokter cinta yg betul iyakan thor
Yanti Anin
jadian nih kayaknya
Caca Princes Koesyanto
the lounge untuk
Ningsih Abdullah
Pendek amat novelnya
Yayoek Rahayu
kok bisa ya....namanya jg dunia halu....apa aja bisa terjadi
Iyah Permata
pendek amat certa nya seson ke dua harus ada lah di sini juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!