Alyra Almeera adalah gadis sederhana, Setelah kematian sang ibu, membuatnya menjadi wanita yang senang mengurung dirinya di rumah, dia hanya menghabiskan waktu, dengan melanjutkan bisnis usaha kue milik peninggalan ibunya.
Dahulu saat dia baru saja kuliah di pertengahan semester delapan, tiba-tiba harus menghentikan kuliahnya, akibat terhambat biaya yang bentrok dengan biaya kebutuhan sehari-hari, dia malah terus mendorong sang adik untuk terus sekolah kejenjang yang lebih tinggi. Dia berharap sang adik yang akan meneruskan cita-citanya.
Tidak ada kisah cinta sebelumnya, hingga sang ayah sakit, dia rela jadi pembantu demi biaya pengobatan sang ayah yang tiba-tiba harus di operasi.
Dia hanya mengabdi pada ayah dan adik satu-satunya. Semua kasih sayang hanya tercurah untuk keduanya.
Hingga dia bertemu dengan pria yang bernama Bayu Samudra, juga keluarga lainnya, dia tidak menyangka jika pertemuan setiap hari akan membuat keduanya jatuh cinta.
ikuti kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ekha dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BDS.Chapter 22.(Kekecewaan Bayu)
"Kak Ly?"
Menatap wajah kakak iparnya, menilik seksama dan terlihat sedikit masih terlihat air mata, Murni merasa heran ada apa dengan wajah itu.
Tiba-tiba Lyra memeluk adik iparnya menangis di depan mesin cuci baru mereka, Lyra tidak tahu kenapa ingin menangis saat ini, saat mencerna lebih dalam perkataan dari Bayu.
Padahal semua itu kebenarnya, untuk kali ini dia hanya ingin menangis saja meluapkan sesak yang ada dalam hatinya.
"Kakak baik-baik aja kan?"
Mendengar pertanyaan dan perhatian seperti itu, tangisan Lyra semakin kencang. Murni mengusap punggung kakak iparnya dengan perasaan khawatir.
Ada apa dengan kakak Ly, untuk pertama kalinya aku melihat dia menangis.
Lyra masih dalam isak tangis saat dia merenggangkan pelukannya. menatap manik coklat adik iparnya. Lyra melihat sedikit kesamaan dari ujung mata adik iparnya, ada bayangan Bayu nampak dari bola mata Uni.
Lyra kaget kenapa pria menyebalkan itu ada disana, dia malu saat dia tidak bisa menyembunyikan mata sembabnya.
Mau apalagi sih dia kesini, bukannya dia akan pergi ke hotel lagi.
Lyra mencoba menenangkan tenggorokannya yang masih panas, namun sesak hatinya berkurang.
"Aku mungkin tidak akan pulang sore-sore, kalian baik-baik di rumah."
Suara Bayu terdengar, Lyra sadar dia tidak boleh lebih mengharapkan perhatian itu, itu semua bukan untuknya tapi untuk kedua adik iparnya.
"Ada acara apa kak di hotel, kami bolehkan pergi malam ini, hanya untuk menikmati pasar malam."
Uni untuk pertama kalinya meminta ijin langsung pada sang kakak, dan itu membuat Bayu mau tidak mau harus mau, rela tidak rela harus rela, jika adiknya butuh hiburan juga.
Bayu mengangguk, namun pandangannya tetap pada gadis yang menunduk, dia melihat sisa tangisan di mata gadis itu.
Dan rasanya itu seperti ada jarum jarum kecil tak kasat mata yang menusuk menusuk hatinya. Dia tidak rela melihat air mata itu, padahal secara tidak sadar, dialah pemicunya.
Bayu mendekat, dan Murni mengerti dia turun duluan memberi ruang pada mereka untuk bicara.
"Aduuh aku kebelet nich, kak Ly tunggu sebentar ya."
Pemilik suara serak itu turun tergesa, dia melihat aura asing dari kedua manusia yang berdiri di hadapannya.
Lyra tidak bisa mencegah Uni, dia masih tidak mengerti dengan hatinya, ketika jarak mereka kurang dari lima meter jantungnya merespon sendiri. Dia kesal ada apa dengannya.
"Aku berangkat ke hotel lagi ya."
Suara Bayu terdengar, dan Lyra masih pura-pura cuek, padahal jantungnya loncat loncat, kadang merangkak, kadang terasa ada tabuh gendang.
"Kenapa harus pamit, aku tidak akan meninggalkan kedua adikku kok tuan.
Tenang saja aku akan menjaga mereka dengan jiwa raga ku."
Nyuuut hati Bayu ngilu, mendengar gadis itu memanggil panggilan itu, persetan dengan tuan dia hanya mendengarnya memanggil mas, tapi alasan yang masuk di akal, gadis itu menyatakan kebenaran yang dia ucapkannya tadi.
Bayu kesal dengan dirinya, bodoh, kenapa harus ada alasan seperti tadi, dia jadi harus jauh lagi dengan gadis itu. tapi tidak ada alasan lain, selain itu yang menjaga aman rahasia hatinya.
Bayu mematung melihat gadis itu terdiam, entah kenapa dia ingin mendekat.
"Kenapa menangis?"
"Bukan urusan tuan."
Jawaban Lyra membuat Bayu kesal.
Dia replek memegang tangan gadis itu.
"kenapa kamu berbicara seperti itu."
"terus aku harus jawab apa?"
"Ceehh"
Bayu berdecih kesal, dia kesal, kesal, kesal, dia tidak ingin meninggalkan gadis itu dengan wajah yang kusut.
"kenapa kamu berubah."
"Nggak kok, aku nggak bisa berubah. Aku bukan bunglon. baju ku juga masih sama seperti tadi, nggak berubah jadi power Ranger, jadi spiderman apa lagi berubah menjadi upin ipin."
Bayu ingin tertawa, mendengar penapsiran gadis itu.
"upin ipin kenapa upin ipin?"
"Upin ipin akan berubah sendiri saat dia berperan jadi detektif."
Ucap Lyra santai, dan Bayu ingin tertawa, tapi apa, kenapa berat untuk jauh dari gadis itu, dia ingin selalu dekat, tapi perkataan dia sendiri yang mengubah sikap manis gadis itu.
Bayu tidak bisa membayangkan jika gadis itu tahu niat awal dia cuma hanya ingin balas dendam. meringis dia menggeleng sesak mengingat itu.
"Bukan berubah bentuk baju mu, tapi berubah kenapa kamu memanggil aku tuan lagi."
"Hahaha, terus harus manggil apa, kita hanya setatus dalam kertas, janji mu palsu tuan, yang kamu ucapkan di dalam masjid itu, kamu hanya mengikatku agar selalu dekat dengan adikmu kan, tenang saja, aku tahu kamu akan menikah dengan mbak Sonia kan, dan itu kebenaran."
Lyra tertawa sinis, lalu dia melangkah turun dari sana, ucapannya meremas jantung Bayu, dan saat di tengah tangga Lyra berpapasan dengan Edo yang akan memanggil bossnya, jika persiapan di hotel masih belum kelar.
"Mana Boss kak?"
Lyra tersenyum ketus, sambil menunjuk ke arah rooftop, dan dia melesat ke dalam kamarnya.
Dia merebahkan dirinya di kasur baru, dan itu nyaman sekali. tak menunggu lama dia tertidur di sana. perut kenyang juga unek-uneknya keluar membuat dia cukup tenang.
Berbeda dengan Bayu dia kesal sekali tidak puas mendengar pembicaraan istrinya yang memojokkan kebenarannya.
****
Boking hotel untuk tempat mereka melaksanakan acara tunangan, sudah nampak rame dari siang, dekorasi, dan semacamnya sudah terlihat pada sibuk, membuat Bayu ikut terjun langsung dalam mempersiapkan semuanya.
Dari jamuan, hidangan, dekorasi, dan entertainment pengisi acara sudah masuk dalam daftar boking hotel malam ini.
Bayu sudah memakai pakaian, dan jas yang rapi, untuk memantau langsung acara tunangan mewah itu. tamu-tamu mulai berdatangan puncak acara akan segera di mulai. Namun Sonia nampak menjauh darinya, terakhir kali dia bertemu saat baru datang, dia juga tidak bisa di hubungi, Bayu mendadak tak tenang.
Deg.
Deg.
Jantung Bayu berdebar, sedih, sakiiit, marah, kecewa, melihat sosok pria tampan yang di gandeng pria paruh baya itu, antara percaya dan tidak, pria yang mereka hindari selama ini, nampak berjalan menuju acara pelaminan pertunangan yang di gelar di hotelnya.
Barata Sandoro. Ayah dari Bayu dan kedua adiknya, jalan santai mengantar anak tirinya menuju pelaminan.
itu anak dari wanita yang menghancurkan keluarga mereka.
Bayu tercekat, melihat perhatian sang ayah pada pria yang menjadi musuhnya selama ini, dia ingin menangis jika saja dia sendiri disana.
Para pekerjanya mulai sibuk.
Event planer acara khusus untuk tunangan malam ini, Bayu tak bergeming di tempatnya, Reno sibuk membantu Chef terbaik untuk jamuan makan malam.
Seluruh Cru sibuk dengan tugas masing masing, namun Sonia belum hadir menampakan mukanya.
Tidak lama acara itu di buka dan tamu makin memadati acara pertunangan mewah itu.
"Silahkan para pemilik acara, untuk naik menuju podium, acara ini akan segera di mulai, ya itu acara pertunangan yang waw malam ini, dan kita sambut, wanita terbaik pilihan pengusaha berbakat kita,
Belia Sonia Wirakusma yang akan bertunangan dengan pengusaha ternama Bertos Johan Alexander."
Suara pembawa acara mulai terdengar, dan Bayu masih mematung mendengar nama perempuan yang sama dengan nama wanitanya selama ini.
Dan yang menjadi pertanyaan apa yang membuat pengusaha di bidang Arsitek itu memakai hotelnya.
Langkah perempuan itu nampak gelamour di dampingi wanita cantik yang menggandeng tangannya, wanita yang merenggut masa depan adik-adiknya juga hampir membuat adik-adiknya menjadi gila.
"Sonia."
Dunia serasa berhenti, nadinya berhenti berdetak, napasnya sesak, penglihatannya serasa kabur, wanita cantik yang melambai anggun kearah para tamu nampak senyum mengembang.
Bayu menepis semua itu, Sonia begitu bangga berjalan menuju pelaminan yang di adakan di luar ruangan.
Bayu menahan sesak, dia mencoba beranggapan baik, tidak mungkin Sonia menghianati-nya selama ini, dia menggeleng, Bayu tidak bisa bicara.
Kehancuran hatinya begitu nyata.
Sonia menghianati-nya.
Edo pontang panting mencari keberadaan Bayu, dia terkejut luar biasa, melihat Sonia sosok mempelai acara pertunangan Akbar malam ini.
Mereka baru tahu jika acara itu khusus untuk Sonia sendiri yang dari kemarin begitu antusias.
"Bay, lo dimana sih?"
Hati Edo tidak karuan, melihat kenyataan yang dia lihat di depan sana, semua para pekerja hotel Bayu terperangah melihat Sonia yang menjadi tamu agung dari acara pertunangan malam ini.
Mereka terpukul bagaimana wanita itu menghianati Bosnya dan memilih tunangan dengan pria lain.
**
Persetan dengan lelaki lemah, memang dia lemah, saat mengingat dia tidak dapat berdiri tegar, tidak ada penopang penguat dari kasih sayang ayah.
Bayu termenung di belakang hotel, hatinya terasa di cabik-cabik sesak, dia menangis, tidak bisa di tahan badannya bergetar hebat, menahan sakit yang panas dalam rongga dadanya.
Dia Begitu terpukul, dadanya bagai terkena hantaman palu godam yang menghancurkan hatinya, remuk hancur berkeping-keping melihat kenyataan di depannya.
Johan menang, perseteruan untuk memenangkan tender baru dalam pembangunan hotel baru yang baru saja Bayu miliki, adalah permainan Johan untuk mengelabuinya, lima bulan kebelakang, Sonia menjadi pemantau pembangunan hotel itu, dan mungkin saat itu mereka mulai menghianati-nya.
Bayu ingin berteriak menangis, penghianatan yang sengaja mereka buat untuk menghancurkannya telah benar-benar sukses, Bayu mengaku kalah, hidupnya benar-benar hancur tak ada harapan tersisa, Johan menang mengambil wanita yang dia miliki, bahkan begitu rapi mereka menutup rapat semuanya.
Yang lebih hancur bukan itu, tapi dia sakit melihat kasih sayang yang di tunjukan Barata pada putra tirinya meluluh lantahkan hatinya.
Bayu ingin berteriak menghancurkan semuanya, namun jika dia lakukan itu, Johan semakin menang, dan merasa di atas angin.
Dia meraba kalung berlian untuk Sonia malam ini, yang sudah dia simpan baik untuk hadiah malam ini, namun kini berubah Semua itu lenyap, dengan hati yang telah hancur.
Bayu terduduk menangis, dia tidak tahu rencana mereka untuk menghancurkannya, ucapan Sonia saat menjatuhkan nampan siang kemarin itu pertanda dia sudah menyatakan perang dan kebenaran itu terbukti.
"Bay lo baik-baik saja kan?"
Edo berlari menuju pria yang mengkhawatirkan, terlihat menangis di tempat yang sunyi sendirian.
Edo merasakan apa yang bosnya rasakan, dia dan semua pekerja tahu Sonia menghianati kekasihnya, yang tidak lain boss mereka saat ini.
Tepuk tangan bergemuruh hingga lagu-lagu romantis terdengar. Semakin menghancurkan hati Bayu yang saat ini benar-benar kalah.
"Ki lo bisakan handel semuanya?"
"Bisa kok, Bay."
Edo menenangkan hati sahabatnya, Mata sakit penuh kehancuran terpampang jelas dalam diri Bayu, dia tidak peduli di anggap lemah oleh sahabatnya, pokonya malam ini kehancuran yang benar-benar nyata.
Emosi semakin mendidih melihat sang ayah, dengan tanpa dosa memberikan perhatian pada putra sambungnya, membuat dia benar-benar sakiiitt.
Kemarahan semakin menjadi, saat Bayu melihat putri kecil dari hubungan ayah dengan wanita laknat itu, bergelayut manja pada pangkuan sang ayah.
Bayu tak bisa ungkapkan hatinya malam ini, Johan pria yang usianya di bawahnya mampu mengalahkannya tanpa balasan.
Bayu berjalan lemah menuruni anak tangga.
Dia memakai kacamata hitam untuk menyembunyikan mata yang sembab.
Edo begitu khawatir melihat semua itu.
Dia memberi pengarahan pada semua pegawai untuk lebih hati-hati agar acara itu segera usai dengan tanpa cacat, kasian Boss mereka, semua orang merasa terpukul yang di lakukan Sonia.
Banyak dan hampir semua orang merasa simpati pada Bayu, mereka dengan bangga melihat Bayu tenang, dia tidak mengamuk melihat kekasihnya bertunangan dengan pria lain.
Saat bayu berada di lobby hotel, pria tampan dengan tuksedo abu nampak berjalan berkarisma, baru saja pria tampan itu turun dan dia mencari udara.
"Ayah."
"Assalamu'alaikum nak?"
Akbar memeluk menantunya, dia sesak berada di kerumunan, dia mencari angin segar untuk menghilangkan sesak dalam paru parunya.
Bayu tersentuh pria yang dia anggap musuh memeluknya saat ini, dia merengkuh balasan menikmati pelukan yang benar benar dia butuhkan saat ini.
Mereka melonggarkan pelukan.
Saling bertatap dan senyum meneduhkan hati tercipta dari ayah akbar. "Ayah dapat undangan ke acara ini"
"Ia harusnya ayah pergi dengan Lyra, namun karena dia sudah menikah terpaksa ayah membawa Luna."
"Sekarang mana dia?"
"Aku disini kakak?"
Luna menyodorkan tangannya, dan di sambut Bayu dengan senyuman ramah, "kakak dapat undangan juga?"
Tanya Luna dengan tatapan menyidik, tangan satunya sibuk merapihkan rambut yang tertiup angin."Kakak penyedia tempat acara ini."
"Kakak pemilik hotel ini?"
Bayu mengangguk dan mendapat sorakan riang dari Luna.
"Amaizing Padahal aku berharap bisa bekerja di hotel ini, sahabat sahabat ku mereka begitu antusias ingin masuk dan bekerja di hotel ini, dan aku adik ipar pemilik hotel ini, waw aku bukan mimpikan ayah."
"Kenapa ingin bekerja disini?"
"Kata teman temanku kerja di sini banyak bonus, bonus tip dan bonus banyak pria tampan, ckk."
Jawaban Luna, di akhiri dengan senyum cekikikan. "Husstt nggak sopan berbicara depan kakak mu begitu sayang."
Ayah Akbar menegur sang putri, dan Bayu seolah lupa kehancuran yang melanda hatinya.
"Ayah mendapat undangan dari siapa?"
Dari Johan, dia masih siswa Alumni yang menjadi salah satu murid ayah, ayah juga belum mengucapkan selamat pada mereka nak."
"Apakah Johan tahu tentang putri-putri Ayah?"
"Tidak, ayah baru akan mengenalkan putri ayah Lyra, namun karena kalian sudah menikah ayah nggak jadi membawa dia mengenalkan langsung."
Bayu termenung, entah kebetulan atau tidak jika dia yang maju selangkah memenangkan putri dosen, tertampan saat itu.
"Ayah malam ini aku ingin ayah menginap di rumah kami."
Bayu dengan sungguh-sungguh mengajak mertuanya menginap di rumahnya.
"Horeee aku akan ketemu Uci."
Suara bahagia tercipta dari wajah Luna.
"Kalian disini?"
semoga aja mey jodoh nya derek