Saling selingkuh, mewarnai kehidupan rumahtangga Dave, dan Alana.
Hingga keduanya menyadari adanya cinta pada diri masing-masing, disaat rumahtangga yang mereka jalani, berada diujung tanduk. Dan cinta itu semakin kuat, dengan kehadiran sikembar Louis, dan Louisa.
Ikuti kisah cinta Alana, dan Dave yang merupakan saudara tiri.
IG. Popy_yanni.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon popyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memanggil papa.
Suasana tampak hening saat perjalanan menuju proyek, ketika melewati danau, Dave meminta laura untuk menghentikan laju kendaraan.
"Kita berhenti, disini saja?!" Pinta Dave, pada wanita itu.
"Baiklah," Jawabnya, dengan menepikan kendaraan roda nempat itu.
keluar dari mobil, dengan langsung menuju arah danau, diikuti oleh CEO cantik itu.
"Wanita yang tadi membuka pintu untukmu itu, dia adalah Ibu dari kedua anakku." Menjawab dengan tatapan mata, tetap menatap kearah danau.
Seketika dia membalikkan badannya, menatap Dave yang tengah menatapnya dengan tatapan penasaran.
"Anak? bukankah, kau mengatakan padaku kalau kau belum menikah, jadi bagaiamana bisa kau memiliki anak?!"
"Dia adalah ALana, adik tiriku. Dan hal itu terjadi, saat aku masih menjalin hubungan dengan Karin."
Dia begitu terkejut, dengan apa yang dia dengar dari laki-laki tampan itu.
"Apakah kalian berdua berselingkuh dibelakang Karin, Dave?"
"Tidak." Jawabnya, tegas.
Aku yang memaksanya, untuk melakukan hal itu. Dan saat dia tahu aku akan menikah dengan Karin, dia memutuskan untuk pergi dari rumah. Dan akupun sama sekali tidak mengetahui, kalau akibat kejadian itu, dia mengandung anakku."
"Tunggu?! jadi apakah kau akan mempertanggung jawabkan perbutanmu, hanya karena kau sudah melakukan hal itu, dan karena anak-anakmu?!" Tanya Laura, yang mencoba untuk menebak, apa yang dipikirkan oleh lelaki tampan itu.
"Iya, bagaimanapun aku harus tetap mempertanggung jawabkan perbuatanku, apalagi sudah ada Louis, dan Louisa diantara kami."
"Tapi kau tidak mencintainya, Dave?! bisa saja anak-anak itu bukan anakmu. Dan mungkin saja saat dia pergi dari rumah, adik tirimu itu melakukan hal itu dengan pria lain," Ucap Laura, yang berusaha mempengaruhi pria itu.
Tersenyum, dengan membalikikkan tubuhnya berhadapan dengan Laura.
"Terima kasih karena kau sudah begitu perduli padaku, tapi aku sangat mengenal adik tiriku itu. Dia tidak seperti yang kau, katakan Laura?!"
Tertawa kecil, saat mendengar apa yang dikatakan Dave.
"Kau terlalu naif Dave, dia pergi dari rumah sudah sangat lama. Tidak menutup kemungkinan dia melakukan hal itu, dengan laki-laki lain. Jadi aku minta, kau jangan terlalu mengambil keputusan dengan gampang mempercayai, kalau kedua anak itu, Adalah anakmu."
Menghembuskan napas, saat mendengar apa yang dikatakan oleh Laura, dan memutuskan untuk menanggapi.
"Ayo kita kembali ke proyek, masih banyak hal yang harus kita bicarakan, tentang pembangunan hotel itu." Ucapnya dengan berbalik, tapi seketika tangannya dicekal oleh CEO cantik itu.
Ada apa, Laura?!"
Menghampiri pria itu, dan memeluk dari belakang.
"Apa yang kau lakukan, Laura?!"
"Biarkan aku memelukmu, Dave?! kau tau, aku tidak menyangkah takdir akan mempertemukan kita kembali, setelah lamanya kita berpisah. Kau tau, setelah meyakini CEO yang akan menjalin kerjasama dengan perusahaan Papaku, adalah kau? aku begitu bahagia. Aku ingin kita kembali bersama, Dave?! aku masih mencintaimu, kalau memang kedua anak itu benar-benar adalah dara dagingmu, aku janji akan menyayangi mereka seperti dara anakku sendiri."
Tersenyum, seraya melepaskan pelukan Laura, pada pinggangnya.
"Kita bicarakan nanti, sekarang kita harus segera kembali keproyek."
"Baiklah..?" Ucapnya dengan mimik cemberut, dan berlalu menuju mobil dengan tetap menggandeng Dave.
****
Walaupun kegundahan tengah menyelimuti, tapi ALana tetap berusaha untuk melupakan masalahnya, dengan menyibukan diri, dengan membersikan rumah.
Louis, dan Louisa tengah mencari Ibunya. Kedua bocah itu merasa jenuh didalam rumah, dan ingin bermain diluar>
"Maa..?!" Panggil Louisa, dengan menyambangi Ibunya, saat Alana tengah merapikan meja.
"Ada apa?!"
"Bolehkah kami bermain diluar< rumah? kami sangat bosan didalam terus?!" Dengan mimik cemberut, dan tatapan memohon menatap Alana.
Menghembuskan napas kasar, sebenarnya dia enggan untuk mengijinkan kedua anaknya, tapi melihat tatapan memohon kedua bocah itu, membuat dia tidak rela.
"Baiklah? tapi janji pada Mama, kalau kalian tidak akan pergi menemui Paman Tampan."
"Bukan Paman tampan, Mama?! Tapi Papa?!" Ucap Louis, dengan mimik cemberut.
"Oke, maksud Mama, Pa..pa." Jawab ALana, yang begitu kaku saat menyebut Dave, dengan sebutan Papa.
Dan tidak boleh main, terlalu jauh.
"Kami janji, akan main disekitar sini saja. Dan tidak akan pergi, menemui Paman Tampan." Seru Louis, meyakinkan Ibunya.
"Baiklah, kalau begitu pergilah!" TItah Alana dengan senyuman kecil, seraya melanjutkan kembali kegiatannya.
Dia terus mengintai kediaman kecil itu. Dan saat memastikan Louis, dan Louisa telah pergi, dengan cepat Jhon masuk kedalam toko kue kecil itu, dan memastikan tidak ada siapapun yang melihatnya. Menutup pintu rumah, dan menguncinya. Dan mencari keberadaan Alana.
"Louis.., Louisa..., apakah ada yang ketinggalan?!" Tanya Alana dengan sedikit berteriak, saat mendengar suara langkah kaki, dan mengirah itu adalah kedua anaknya.
"Alana..?" Panggil Jhon Pelan, saat sudah berada didekat wanita itu.
"Jhon..., kau datang? sejak kapan kau datang?!" Bertanya dengan senyuman kecil diwajahnya, dan sama sekali tidak menaruh curiga pada pria itu
"Kau pasti bahagiakan, sekarang?" Senyuman sinis Alana, dengan raut wajah yang sudah memerah.
"Apa maksudmu, Jhon?! aku tidak mengerti?!" Jawab Alana dengan menghentikan kegiatannya, dan tatapan penasaran menatap pria itu
Tidak menjawab apa yang ditanyakan Alana, menghampiri wanita itu, mencengkram tangannya dengan kasar, dan menghempaskan kelantai.
Terjatuh kelantai, dengan kepala sedikit membentur lantai rumah. Rasa takut seketika menyelimuti Alana, dengan apa yang baru saja dilakukan Jhon padanya. Apakagi saat melihat raut wajah pria itu yang begitu memerah, membuat rasa takut pada takutnyab semakin menjadi.
"Jhon...?! Kau kenapa?! apa salahku?" Bertanya, dengan berjalan ngesot kebelakang.
Senyuman sinis membingkai diwajah tampan itu, saat mendengar apa yang ditanyakan Alana.
"Kesalahanmu karena kau sudah menerima pria itu, Alana?! aku tidak menyangkah, kau sangat murahan. Dan dengan gampangnya kau memberikan tubuhmu, pada pria itu. Dan setelah dia menikmati dirimu, dia bebas pergi dengan wanita lain. Dan aku rasa kau tidak ada beda jauhnya, dengan wanita-wanita malam."
Rauta wajahnya seketika berubah pucat, dan dia tahu apa yang dipikirkan Jhon tentangnya.Dan Alana sangat tahu, dirinya tengah dalam bahaya. Bangun dari jatuhnya, dan dengan cepat dia menghampiri pintu, dan berusaha membuka. Seketika kepanikan menyelimuti dirinya, saat mendapati pintu rumah telah terkunci, dan Alanapun hanya bisa menangis, dan berteriak minta tolong, saat Jhon berjalan menghampirinya.
"To...long, to....long?!" Teriaknya yang begitu menggelegar, dengan airmata yang terus mengalir karena rasa takut yang teramat sangat.
Senyuman sinis membingkai diwajahnya, saat mendengar teriakan Alana.
"Percuma kau menangis Alana, karena tidak ada yang akan mendengarnya."
"Aku mohon, Jhon? jangan lakukan ini padaku, jangan...?!" Dengan deraian airmata, yang terus membasahi pipinya.
Tidak memperdulikan pinta wanita itu, menarik tangan Alana dengan kasar, saat wanita itu berusaha menghindar, dan menghempasnya dengan kasar kelantai.
****
Louis, dan Louisa yang tengah bermain disekitar rumah begitu terkejut, saat mendengar teriakan mita tolong, dan mereka meyakini itu dalah Alana.
"Kakak?! sepertinya itu suara Mama, ayo kita kembali kerumah."
"Ayoo?!" Jawab Louisa, dengan berlari bersama adiknya kembali kediaman mereka. Dan saat tiba dirumah, mereka mendapati rumah tengah terkunci dari dalam.
"Mama....Mama.....?!" Teriak keduanya, dengan menggedor-gedor pintu rumah, saat mendengar teriakan Alana.
"To...long?"
Raut wajah keduanya semakin terlihat pucat, saat mendengar teriakan minta tolong Ibunya, dan mereka meyakini kalau Ibunya tengah dalam bahaya.
"Kakak..., ayo kita panggil Papa..?" Ucap Louis, pada saudara perempuannya.
"Ayooo..?!" Dengan berlari kencang, menyambangi Dave dilokasi proyek
****
Saat tiba dilokasi proyek, kedua anak itu langsung mencari keberadaan Dave, dengan raut wajah yang terlihat begitu panik."
"Paman, dimana Papa?!" Tanya louisa, pada salahsatu buru.
"Papa, Papa siapa?"
Saat memalingkan wajah, Louis mendapati keberadaan ayahnya yang tengah berbincang dengan Laura, dan juga Daven.
"Papa...?!" Panggilnya dengan segera menyambangi pria itu, dan airmata sudah menetes.
"Louis? Kau kenapa? Kenapa kau menangis?" Dengan nada, yang terlihat begitu penasaran.
"Papa, tolong Mama, Paa? tolong Mama..?!" Timpal Louisa, dengan menangis.
"Mama?! Mama, kenapa?!" Dengan raut , wajah semakin penasaran.
"Sekarang Paa? ayo kita pulang..?" Dengan menarik tangan pria tampan itu, meninggalkan lokasi proyek.
Walaupun terlihat begitu penasaran, Dave memutuskan untuk meninggalkan lokasi itu.
"Laura, Daven, aku pulang. Sepertinya ada hal, yang tidak beres." Pamitnya, dengan berlalu begitu saja.
Laura terus menatap kepergian Dave, yang telah pergi bersama kedua bocah kecil itu. Dan dia meyakini kedua anak itu, adalah anak dari Dave.
"Apakah kedua anak itu, adalah anak dari Dave?!"
"Iya Nona, itu adalah anaknya Tuan Dave. Louis, dan Louisa."
****
Saat tiba didepan rumah, Dave bersama kedua anaknya, langsung berlari kearah pintu. Dan betapa sangat terkejutnya Dave, saat mendengar terikan minta tolong dari Alana.
"Alana..?! Alana...?!" Teriaknya, dengan berusaha membuka pintu rumah itu.
Dave semakin terlihat begitu panik, saat mendapati pintu rumah terkunci, dan dia memutuskan untuk menendang pintu itu.
"Kalian berdua minggir, Papa akan menendang pintu itu." Ucapnya, dengan memundurkan langkahnya.
Saat kedua anak itu bergeser, Dave langsung menendang pintu rumah itu dengan kuat.
"BRAAAKKK..?!" Hingga pintu rumah itu, seketikan l terbuka.
Masuk kedalam rumah, dengan mencari keberadaan Alana dengan kepanikan yang teramat sangat, dan betapa sangat terkejutnya dia, saat melihat seorang pria yang tengah yang berusaha menodai Alana.