Ini adalah kisah seorang pengusaha sukses yang bernama Aryan Bram Wijaya, yang menyamar sebagai pelayan Restoran untuk mengejar cinta seorang wanita cantik.
Karena ia ingin mencari wanita yang benar benar tulus mencintainya, bukan cinta dengan hartanya saja.
Sampai pada akhirnya ia bertemu dengan wanita karir yang cantik yang bernama Calista Mahendra, mereka sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama.
Wanita itu sangat mencintai Aryan tanpa memandang statusnya yang hanya sebagai pelayan.
Tapi disisi lain Louis Mahendra ayah Calista sangat tidak menyukai pelayan tersebut, dia tidak mau kalau anaknya hidup susah dengan lelaki yang tidak tepat.
Akankah cinta mereka berakhir bahagia? ikuti terus ceritanya ya.
mohon dukungannya semua.🙏🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putry Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Aryan sudah sampai di kediamannya, ia pun masuk dan langsung beranjak menuju ke kamarnya.
Dia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dia mengusap wajahnya. "Hemm aku jadi tidak enak dengan Calista, gara gara aku dia kena marah papah nya" gumam Aryan.
Kemudian ia mencoba untuk menghubungi Calista tapi ponsel nya tidak aktif. "Kenapa tidak aktif ya ponselnya?, jangan jangan dia masih di marahi".
Aryan merasa tidak tenang malam ini karena kejadian tadi. Kalo saja dia memberitahu semuanya dari awal mungkin tidak akan seperti ini, tapi apalah daya nasi sudah menjadi bubur.😁
********
Malam pun sudah terlewat, kini cahaya mentari mulai memunculkan dirinya dari ufuk timur.
Kediaman Mahendra.
Calista sudah bangun dari tidurnya matanya sembab karena menangis semalaman, ia pun langsung beranjak menuju bathroom untuk membersihkan diri.
Setelah membersihkan diri ia langsung mengenakan pakaiannya.
Tok tok tok.
Terdengar suara ketukan pintu, Calista langsung membukakan pintunya.
Mamah berdiri di ambang pintu. "Sayang ayo kita sarapan dulu".
"Aku gak mood mah".
"Calista sudahlah lupakan kejadian semalam, papah hanya emosi".
"Tapi mah papah bener bener keterlaluan!".
Papah pun datang menghampiri mereka."Calista, hari ini kamu akan di antar oleh supir sekalian dia akan mengawasi kamu, kalo sampe kamu bertemu lagi dengan lelaki itu papah gak akan maafin kamu!" kemudian papah langsung beranjak pergi menuruni tangga.
"Mah kenapa sih papah harus seperti itu?" ucap Calista.
"Sayang kamu sabar dulu yah, kalo memang kamu berjodoh dengan Aryan kamu pasti akan bersatu dengan dia".
Mereka pun turun dan menuju ke ruang makan , dan mereka pun menyantap sarapan paginya, hening tak ada suara sedikitpun.
Setelah selesai sarapan Calista langsung berdiri dari duduk nya. "Mah Calista berangkat dulu ya" sambil mencium punggung tangan mamah.
"Hati hati ya calista" ucap mamah.
Calista pun menghampiri papah dan meraih tangannya lalu menciumnya. "Calista berangkat pah".
"iya" papah menjawab singkat.
"Pah apa aku boleh meminta ponsel punyaku?, semua customerku pasti akan menghubungi ku pah" ucap Calista.
"Pahh berikan saja lah, itu kan buat kepentingan pekerjaan calista" ucap mamah
"Papah akan berikan ponsel kamu, tapi kalo nanti kamu masih saja berhubungan dengan lelaki itu, kamu akan terima akibatnya!" jawab papah dengan nada sedikit tinggi.
Lalu papah memberikan ponsel milik Calista.
Calista pun langsung beranjak pergi untuk berangkat kerja, dan hari ini dia di antar oleh supir sekaligus akan mengawasi nya.
********
Kediaman Wijaya.
Di halaman rumah terlihat aryan sedang memandangi motor yang ada di hadapannya. motor Jery yang semalam menjadi korban kemarahan papah Calista. Spionnya sampai patah dan beberapa bagian juga penyok.
Pak Bram keluar dari rumah dan menghampiri Aryan. "Aryan kamu belum berangkat?, kamu pinjam motor jery lagi?.
"Ehh papah iya pah, aku lg pengin naik motor aja".
"Sayang dong motor kamu di anggurin, kenapa kamu gak pake motor kamu aja?".
"Gak apa apa pah, kalo misalnya bang Arnes mau pake motor aku juga gak papa kok, pake aja".
Arnes keluar dari rumah dan tidak sengaja mendengar obrolan mereka. "Gak, aku punya motor sendiri kok" dengan dingin nya lalu ia langsung menaiki motornya, dan melajukannya meninggalkan halaman rumah.
"Sudah lah kamu tau sendiri kan abangmu kaya apa?" ucap papah sambil menepuk bahu Aryan.
"Iya pah, aku sudah terbiasa dengan sikapnya".
Kemudian Pak Bram baru sadar kalo motor jery sedikit rusak. "Loh ini kok spionnya patah begini?, kamu jatuh Yan?". Sedikit khawatir
Aryan garuk garuk kepala, dan menggigit bibir bawahnya. "Hehehe gak pah, semalem ada yang mau nyalip terus nyenggol sedikit jadi patah deh".
"Terus kamu gak kenapa napa?".
"Ya aku gak papa kok pah, papah bisa liat sendiri aku gak luka".
"Mmm iya sih".
"Ya udah pah aku berangkat dulu yah". Aryan menjabat tangan papahnya dan mencium punggung tangannya.
"Kamu langsung ke kantor?".
"Gak pah, lagian hari ini gak ada meeting kok palingan nanti aku akan datang ke salah satu restoran ku pah".
"Ohh ya sudah hati hati ya, jangan ngebut ngebut."
"Iya pah".
Aryan pun menaiki motornya, dan melajukannya dengan kecepatan sedang.