Empat belas hari.
Hanya selama itu Ghazi Farhan dan Adzra Hanum saling mengenal sebelum akhirnya menikah melalui proses ta'aruf.
Siapa sangka, pernikahan yang awalnya dipenuhi ketenangan justru berakhir dengan satu talak setelah sepuluh bulan bersama.
Sejak hari itu, Adzra meyakini bahwa dirinya hanyalah perempuan yang pernah gagal menjadi istri.
Sementara Ghazi memilih memikul penyesalan yang bahkan tidak pernah berani ia jelaskan.
Sepuluh tahun berlalu.
Mereka sama-sama belum menikah.
Bukan karena belum ada yang datang, tetapi karena ada luka yang belum benar-benar selesai.
Ketika sakit sang ibu mempertemukan mereka kembali, Ghazi tidak meminta Adzra kembali menjadi istrinya.
Ia hanya meminta satu kesempatan.
"Bolehkah... kita mengulang empat belas hari itu?"
Namun, apakah ta'aruf kedua mampu menyembuhkan luka yang ditinggalkan oleh satu talak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duyung Indahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persimpangan Jalan
Pagi selalu datang dengan cara yang sama.
Namun tidak pernah membawa kehidupan yang sama.
Adzra berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Cahaya matahari merayap pelan melewati kisi-kisi tirai, jatuh di atas meja yang dipenuhi map pasien. Di luar sana, halaman Klinik Arafah Medika mulai ramai. Seorang ibu muda menggandeng anaknya yang masih mengantuk. Seorang kakek duduk tenang di kursi tunggu sambil memutar tasbih kecil di jemarinya.
Pemandangan itu sudah ia lihat hampir setiap hari.
Namun entah mengapa...
Pagi ini terasa sedikit berbeda.
"Dok."
Suara Rina membuat Adzra menoleh.
Perawat muda itu masuk sambil membawa dua map dan secangkir teh hangat.
"Pasien pertama sudah datang."
Adzra mengangguk pelan.
"Terima kasih."
Rina tidak langsung pergi. Pandangannya justru jatuh pada tumpukan berkas yang memenuhi meja.
"Dokter semalam lembur lagi?"
Adzra tersenyum tipis.
"Berkasnya yang banyak."
"Berkasnya memang banyak."
Rina terkekeh pelan.
"Tapi kalau setiap malam dibawa pulang, nanti map-map itu malah merasa lebih diperhatikan daripada dokter sendiri."
Adzra ikut tertawa kecil.
Tawa yang singkat.
Namun cukup membuat ruang kerja yang sejak tadi terasa sunyi menjadi lebih hangat.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Rina kemudian.
"Saya lihat beberapa hari ini dokter sering membuka peta kota."
Adzra terdiam sejenak.
Tatapannya kembali mengarah ke jendela.
"Rina..."
"Menurutmu..."
"...apa yang paling sulit ketika membangun sebuah klinik?"
Rina berpikir beberapa detik.
"Modal?"
Adzra menggeleng.
"Dokter?"
Adzra kembali menggeleng.
"Terus apa?"
Perempuan itu mengembuskan napas perlahan.
"Menjaga niat."
Rina mengernyit.
Adzra melanjutkan dengan suara pelan.
"Awalnya semua orang ingin membantu."
"Semakin besar tempatnya..."
"...kadang kita mulai sibuk menghitung keuntungan."
Ia tersenyum kecil.
"Aku tidak ingin kehilangan alasan kenapa klinik ini dulu berdiri."
Kalimat itu menggantung beberapa detik di udara.
Rina tidak langsung menjawab.
Ia sudah cukup lama bekerja bersama Adzra untuk tahu satu hal.
Atasannya tidak pernah bermimpi memiliki klinik terbesar.
Yang selalu ia inginkan hanyalah...
Pasien pulang dengan hati yang lebih tenang daripada saat mereka datang.
***
Menjelang siang, setelah pasien terakhir selesai diperiksa, Adzra mengambil tasnya.
"Ada kunjungan lagi, Dok?" tanya Rina.
"Iya."
"Ke rumah pasien?"
"Bukan."
Adzra tersenyum.
"Mau melihat masa depan."
Rina tertawa bingung.
"Masa depan?"
"Nanti kalau jadi, kamu juga akan tahu."
***
Bangunan itu berdiri di sudut jalan yang cukup ramai.
Pintu kacanya terkunci.
Cat putih di beberapa bagian mulai memudar dimakan waktu.
Pak Arman, agen properti yang menemaninya, segera membuka pintu.
"Silakan, Dok."
Pintu bergeser perlahan.
Aroma ruangan yang lama kosong langsung menyambut mereka.
Tidak lembap.
Namun cukup membuat Adzra tahu bahwa tempat ini sudah lama kehilangan denyut kehidupan.
Langkahnya menggema.
Tok...
Tok...
Tok...
Ia berhenti di ruangan pertama.
Cukup luas.
Cahaya matahari masuk melalui jendela samping.
Pak Arman mulai menjelaskan ukuran bangunan, harga, dan potensi kawasan sekitar.
Namun suara itu perlahan memudar di telinga Adzra.
Bukan karena ia tidak mendengarkan.
Melainkan karena imajinasinya mulai bekerja.
Ruangan kosong itu perlahan berubah.
Di sudut sana...
Seorang ibu sedang menenangkan anaknya yang demam.
Di dekat jendela...
Seorang bapak lanjut usia tersenyum lega setelah mendengar hasil pemeriksaannya baik-baik saja.
Di meja pendaftaran...
Rina sibuk menyapa pasien dengan senyum yang sama seperti setiap pagi.
Dan di ujung lorong...
Seorang dokter muda sedang belajar bahwa pekerjaan ini bukan sekadar menulis resep.
Adzra mengusap perlahan kusen jendela yang sedikit berdebu.
"Kalau Allah mengizinkan..."
bisiknya nyaris tak terdengar.
"...semoga tempat ini menjadi tempat orang-orang menemukan harapan."
Pak Arman berhenti berbicara.
Entah mengapa kalimat itu membuatnya ikut diam.
Selama bertahun-tahun menjual bangunan, hampir semua orang bertanya tentang keuntungan.
Tentang harga.
Tentang nilai investasi.
Namun perempuan di hadapannya...
Justru berbicara tentang harapan.
***
Di tempat lain...
Ja'far meletakkan sebuah map di atas meja kerja Ghazi.
"Laporan evaluasi kerja sama, Mas."
Ghazi menghentikan pekerjaannya.
"Sudah lengkap?"
"Baru semalam selesai."
Ia membuka halaman pertama.
Bukan angka yang lebih dulu menarik perhatiannya.
Melainkan komentar-komentar yang ditulis para jamaah.
"Saya takut diperiksa dokter. Tapi Dokter Adzra membuat saya merasa seperti sedang berbicara dengan anak sendiri."
"Terima kasih. Karena pemeriksaan itu, penyakit saya diketahui lebih awal."
"Semoga tahun depan tetap bekerja sama dengan klinik yang sama."
Ghazi membaca perlahan.
Tidak ada senyum lebar.
Tidak ada perubahan besar di wajahnya.
Namun jemarinya berhenti cukup lama pada satu nama.
Dokter Adzra Hanum.
Ja'far memperhatikan atasannya.
"Mas..."
Ghazi mengangkat kepala.
"Saya baru sadar sesuatu."
"Apa?"
Ja'far tersenyum kecil.
"Rupanya kita tidak sedang mencari mitra."
"Kita sedang dipertemukan dengan orang-orang yang memang bekerja sepenuh hati."
Ghazi menutup map itu pelan.
Tatapannya beralih ke jendela.
Di luar, langit mulai dipenuhi awan tipis.
Setelah beberapa saat, ia berkata lirih,
"Bisnis yang baik..."
"...bukan hanya meninggalkan keuntungan."
Ja'far menunggu kalimat berikutnya.
Ghazi tersenyum tipis.
"Ia meninggalkan doa."
Ruangan kembali sunyi.
Namun kali ini, sunyi itu terasa hangat.
Karena di dalam hati Ghazi, ada sesuatu yang perlahan berubah.
Bukan lagi tentang penyesalan.
Melainkan keinginan untuk mulai melangkah.
***
Langit mulai meredup ketika Adzra memarkir mobilnya di halaman Klinik Arafah Medika.
Bangunan itu sudah lebih lengang dibanding beberapa jam sebelumnya. Hanya beberapa pasien yang masih duduk menunggu obat, sementara Rina tampak membantu seorang nenek mengenakan kembali sandal yang tadi dilepas sebelum diperiksa.
Adzra tidak langsung masuk.
Ia berdiri beberapa saat di depan papan nama klinik.
"Arafah Medika."
Nama itu sederhana.
Namun setiap kali membacanya, ia selalu teringat pada satu doa yang pernah dipanjatkannya bertahun-tahun lalu.
"Ya Allah... jangan jadikan ilmu ini hanya sebagai jalan mencari penghidupan. Jadikan ia jalan untuk memberi kehidupan."
"Dokter?"
Suara Rina membuyarkan lamunannya.
"Dokter kok berdiri di luar?"
Adzra tersenyum kecil.
"Lagi menikmati pulang."
Rina mengerutkan dahi.
"Menikmati pulang?"
"Iya."
Adzra melangkah pelan memasuki klinik.
"Kalau setiap hari kita hanya sibuk mengejar tujuan..."
"...kita sering lupa bersyukur karena masih diberi tempat untuk kembali."
Rina mengangguk-angguk, meski masih mencerna kalimat itu.
"Kalau begitu..."
Rina tersenyum jahil.
"Besok saya juga mau menikmati pulang."
Adzra terkekeh pelan.
"Asal jangan menikmati pulangnya sebelum jam praktik selesai."
Mereka sama-sama tertawa.
Tawa ringan yang membuat suasana sore terasa lebih hangat.
***
Di kantor Safa Amanah Tour, suara azan Asar baru saja usai.
Sebagian besar karyawan sudah kembali ke meja masing-masing.
Ghazi masih berada di ruang kerjanya.
Map laporan itu belum berpindah tempat.
Seolah masih ada sesuatu yang belum selesai ia baca.
Tok...
Tok...
Tok...
"Mas."
"Masuk."
Ja'far membuka pintu sambil membawa dua cangkir kopi.
"Saya tahu Mas belum tentu mau minum."
"Lalu kenapa dibawa?"
"Kalau tidak diminum Mas, ya saya yang minum dua."
Ghazi menggeleng pelan sambil tersenyum.
"Dasar."
Ja'far meletakkan cangkir itu di meja.
Ruangan kembali sunyi.
Bukan sunyi yang canggung.
Melainkan sunyi yang hanya bisa dimiliki dua orang yang sudah bekerja bersama bertahun-tahun.
Ja'far mengusap tengkuknya.
"Mas..."
"Hm?"
"Bolehkah saya berbicara di luar pekerjaan?"
Ghazi menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Silakan."
Ja'far tidak langsung berbicara.
Ia justru memandang jendela di belakang Ghazi.
"Saya sering bertanya-tanya."
"Tentang apa?"
"Tentang kenapa Allah mempertemukan orang."
Ghazi ikut memandang ke luar.
Jalanan mulai dipenuhi kendaraan yang pulang kerja.
"Apa jawabanmu?"
Ja'far tersenyum kecil.
"Dulu saya pikir..."
"...semua pertemuan pasti berakhir dengan kebersamaan."
"Lalu sekarang?"
"Sekarang saya sadar."
"Kadang Allah mempertemukan dua orang..."
"...supaya keduanya belajar."
Ghazi tidak menyela.
"Belajar apa?"
"Belajar ikhlas."
Kalimat itu menggantung di udara.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Ja'far menyesap kopinya pelan.
"Mas marah?"
Ghazi menggeleng.
"Kenapa harus marah?"
"Soalnya saya membawa-bawa urusan yang seharusnya bukan urusan saya."
Ghazi tersenyum tipis.
"Ada kalanya..."
"...orang terdekat justru melihat sesuatu yang tidak kita lihat."
Ja'far menghela napas lega.
"Saya cuma tidak ingin Mas terus menghukum diri sendiri."
Ghazi menatap sahabat sekaligus rekan kerjanya itu.
Tatapan yang tenang.
Namun menyimpan lelah yang tidak semua orang mampu baca.
"Ja'far."
"Iya, Mas?"
"Apa menurutmu..."
"...setiap kesalahan pantas mendapat kesempatan kedua?"
Ja'far tidak buru-buru menjawab.
Ia justru balik bertanya.
"Kalau Allah tidak membuka pintu taubat..."
"...menurut Mas, masih adakah manusia yang pantas berharap?"
Ghazi menundukkan pandangan.
Lama.
Sangat lama.
Sampai akhirnya sebuah senyum tipis muncul di wajahnya.
"Bicaramu mulai berat."
Ja'far terkekeh.
"Itu tandanya saya terlalu lama dekat Mas."
Keduanya tertawa kecil.
Bukan tawa yang keras.
Tetapi cukup untuk mengusir sesak yang sejak tadi memenuhi ruangan.
***
Di tempat lain, Rayyan baru keluar dari ruang operasi kecil ketika ponselnya bergetar.
"Pak Direktur."
"Rayyan, ada waktu sebentar?"
"Tentu."
Beberapa menit kemudian, ia sudah duduk di ruang direktur.
Sebuah surat diletakkan di hadapannya.
"Undangan rapat."
Rayyan membacanya cepat.
"Safa Amanah Tour?"
"Ya."
"Kerja sama evaluasi program umrah."
Rayyan mengangguk.
Lalu matanya berhenti pada satu nama.
Klinik Arafah Medika.
Direktur memperhatikan perubahan raut wajahnya.
"Kamu kenal dokter penanggung jawabnya?"
"Kenal."
"Bagaimana orangnya?"
Rayyan tersenyum kecil.
"Kalau saya bilang beliau dokter yang baik..."
"...itu sudah banyak yang bilang."
"Lalu?"
"Yang jarang orang tahu..."
"...beliau juga pendengar yang baik."
Direktur mengangkat alis.
"Pendengar?"
"Iya."
"Dokter bisa belajar ilmu dari buku."
"Tapi mendengarkan pasien dengan sungguh-sungguh..."
"...itu tidak diajarkan di bangku kuliah."
Direktur mengangguk pelan.
"Mungkin itu sebabnya pasien mempercayainya."
Rayyan tersenyum.
"Mungkin."
Namun dalam hati ia tahu.
Ada sesuatu yang dimiliki Adzra.
Sesuatu yang membuat orang merasa dihargai, bahkan ketika mereka sedang berada di titik paling lemah dalam hidupnya.
***
Malam menyelimuti kota.
Di rumah, Adzra masih duduk di ruang baca kecilnya.
Denah bangunan yang tadi siang ia survei terbentang di atas meja.
Namun pandangannya tidak sedang tertuju ke sana.
Ia sedang melihat foto lama yang terselip di dalam sebuah buku.
Foto wisuda.
Ia.
Dan beberapa teman kuliahnya.
Adzra tersenyum pelan.
"Waktu ternyata berjalan sejauh ini..."
Ia menyimpan kembali foto itu.
Bukan karena ingin melupakan.
Tetapi karena hidup tidak pernah meminta seseorang tinggal di halaman yang sama.
Ponselnya berdering.
Nama Ja'far muncul di layar.
"Assalamu'alaikum, Dokter."
"Wa'alaikumussalam, Pak Ja'far."
"Maaf mengganggu."
"Tidak sama sekali."
"Saya hanya ingin memastikan."
"Insyaallah Dokter bisa hadir pada rapat evaluasi hari Selasa?"
Adzra membuka agenda di sampingnya.
"Insyaallah."
"Baik."
Ada jeda singkat.
Ja'far seolah ingin mengatakan sesuatu.
Namun urung.
"Pak Ja'far?"
"Iya?"
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Karena selalu menjaga kerja sama ini tetap nyaman."
Ja'far tersenyum tanpa sadar.
"Justru kami yang berterima kasih."
"Dokter dan tim membuat kami belajar..."
"...bahwa melayani tamu Allah tidak cukup dengan niat baik."
"Lalu?"
"Harus dengan hati yang baik."
Telepon berakhir.
Adzra meletakkan ponselnya perlahan.
Di luar jendela, angin malam menggoyangkan dedaunan.
Ia menarik napas panjang.
Ada jalan-jalan yang sedang Allah bentangkan di hadapannya.
Membangun cabang baru.
Memperluas manfaat.
Dan...
Menghadapi pertemuan-pertemuan yang mungkin akan menguji hatinya sekali lagi.
Ia tidak tahu apa yang menantinya pada rapat pekan depan.
Namun ia percaya satu hal.
Takdir tidak pernah datang untuk ditakuti.
Ia datang untuk dijalani, oleh mereka yang bersedia memperbaiki diri setiap kali diberi kesempatan.
**Bersambung**