Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.
Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Malam itu, setelah meninggalkan restoran, Regan tidak langsung pulang ke rumah pribadinya. Sejak kembali ke Indonesia beberapa hari yang lalu, ia memang lebih sering menginap di rumah orang tuanya. Rumahnya sendiri hanya sesekali ia datangi jika ada keperluan mendesak.
Mobil hitamnya perlahan berhenti di halaman luas pekarangan rumah. Regan turun sambil merapikan lengan kemejanya yang sebenarnya masih agak lembap.
Begitu ia melangkah masuk ke dalam rumah, Farah yang kebetulan sedang bersantai di ruang keluarga langsung menoleh. Kening wanita paruh baya itu seketika berkerut dalam.
"Lho? Regan?" panggil Farah heran.
"Iya, Ma?" sahut Regan sambil melepas sepatu.
"Itu... kenapa baju kamu basah begitu?" tanya Farah sambil menunjuk bagian depan kemeja putranya.
Regan menunduk sekilas, menatap noda basah bekas air pel malam tadi, lalu senyuman tipis mendadak terbit di bibirnya.
"Oh, ini? Tadi ketumpahan air minum di mobil, Ma. Gak sengaja."
Jawabannya terdengar sangat lempeng dan santai. Namun, keanehan justru terjadi setelahnya. Sejak mengucapkan kalimat itu, Regan malah terus-menerus tersenyum sendiri sembari berjalan masuk.
Farah yang memperhatikan gelagat aneh putranya langsung memasang wajah sangar sekaligus heran.
"Kamu kenapa sih, Reg?"
"Hm? Kenapa apanya, Ma?"
"Kok senyum-senyum gak jelas begitu? Serem Mama liatnya," ucap Farah bergidik.
Regan hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Gak kenapa-kenapa, Ma. Lagi dapet rezeki aja."
Farah semakin menyipitkan mata curiga. "Regan... kamu gak lagi makin gila, kan?"
Bukannya tersinggung, Regan malah terkekeh pelan mendengar tuduhan ibunya.
Belum sempat Farah kembali menginterogasi, Gani muncul dari arah dapur sambil membawa nampan berisi dua cangkir kopi hangat. Pria paruh baya itu menatap anak dan istrinya bergantian.
"Ada apa sih ini? Berisik banget."
Farah langsung menunjuk-nunjuk anak laki-lakinya dengan dagu.
"Itu tuh, Pa. Lihat anak bujang kamu."
"Kenapa lagi sama Regan?" tanya Gani tenang, meletakkan nampan di meja.
"Kayaknya anak kamu udah mulai stres deh, Pa."
Gani mengalihkan pandangannya pada Regan, menatap putranya dari atas sampai bawah.
"Emangnya kamu habis ngapain, Reg?"
Regan tidak menjawab, senyumnya justru malah makin melebar. "Ah, Mama bisa aja. Regan aman kok, Pa."
Farah menggeleng-gelengkan kepala, bersedekap dada. "Tuh, Papa lihat sendiri, kan? Ditanya baik-baik malah senyum-senyum begitu. Fix, stres ini mah."
Gani tertawa kecil mendengar omelan istrinya, lalu menyerahkan secangkir kopi kepada Farah. "Ya syukurlah kalau cuma senyum-senyum, Ma. Daripada dia pulang-pulang ke rumah malah nangis bombay, kan lebih repot."
Farah mendengus pelan, menerima cangkir kopinya. "Papa juga ah, bukannya bantuin Mama selidiki ini anak."
Regan menarik kursi di ruang makan yang menyatu dengan ruang keluarga, lalu duduk dengan posisi santai. Sisa senyuman manis masih tercetak jelas di wajah tampannya. Bayangan saat Arin mengamuk dan menepuk wajahnya menggunakan kain pel basah tadi siang kembali terlintas dengan jelas di benaknya.
Entah mengapa, alih-alih merasa terhina atau kesal karena diperlakukan kasar oleh seorang office girl, kejadian itu justru membuat suasana hati Regan malam ini jauh lebih hidup.
Melihat putranya yang lagi-lagi melamun sambil tersenyum sendiri, Farah hanya bisa mengelus dada sambil beristighfar.
"Ya Allah... besok fix Mama seret kamu ke dokter kejiwaan, Reg."
Regan langsung tertawa renyah, tawa lepas yang sudah lama sekali tidak didengar oleh kedua orang tuanya.
"Ma, Regan sehat walafiat, suer deh."
"Iya, sehat," cibir Farah ketus. "Sehat-sehat yang bikin Mama khawatir."
......................
Malam semakin larut, menyisakan keheningan yang kian pekat di area mes karyawan. Di atas kasur busa yang tipis, Zayyan sudah tertidur lelap dengan embusan napas yang teratur.
Perlahan, Arin bangkit dari tempat tidur agar tidak menimbulkan suara. Ia melangkah ke kamar mandi untuk mengambil air wudu, lalu mengenakan mukena putihnya yang warnanya sudah mulai memudar dimakan waktu.
Di sudut kamar yang sempit dan sederhana itu, Arin menggelar sajadahnya. Ia mulai menunaikan salat malam dengan khusyuk, menumpahkan segala keluh kesah yang berkecamuk di dadanya.
Usai mengucapkan salam terakhir, Arin tidak langsung beranjak. Ia tetap bersimpuh di atas sajadah. Kedua tangannya terangkat ke dada, sepasang matanya terpejam rapat.
"Ya Allah..." bisik Arin, suaranya mulai bergetar samar di tengah kesunyian malam. "Terima kasih karena Engkau masih menjaga hamba dan Zayyan sampai detik ini. Tolong mudahkanlah langkah kami di kota ini, lapangkanlah rezeki kami, dan jagalah anak hamba di mana pun ia berada."
Arin menarik napas pelan, mencoba menahan sesak yang mendadak menyerang dadanya.
"Ya Allah... jika memang boleh hamba meminta, jauhkanlah kami dari segala keburukan. Jangan biarkan orang-orang dari masa lalu hamba kembali hadir dan mengusik kehidupan kami lagi. Hamba cuma ingin hidup tenang membesarkan anak hamba, Ya Allah. Amin..."
Begitu kedua telapak tangannya mengusap wajah untuk mengakhiri doa, pertahanan batin Arin runtuh seketika. Air mata yang sejak siang tadi mati-matian ia bendung, kini luruh begitu saja membasahi pipinya.
Ia menundukkan kepala dalam-dalam. Kedua bahunya bergetar hebat menahan tangis yang tersendat di tenggorokan. Selama ini Arin selalu bertekad untuk terlihat kuat dan tegar di depan Zayyan, tetapi di hadapan Sang Pencipta, ia tidak mampu lagi menyembunyikan rasa takut, lelah, dan cemas yang teramat sangat.
"Ibu...?"
Panggilan lirih bersuara serak itu seketika membuat Arin terlonjak kaget. Ia buru-buru menyeka air matanya dengan ujung mukena.
Saat menoleh, ia mendapati Zayyan sudah terduduk di atas kasur sambil mengucek matanya yang masih setengah terpejam.
"Eh, Zayyan... Kok bangun, Nak?" tanya Arin, berusaha sekeras mungkin membuat suaranya terdengar biasa saja meski wajahnya sudah sembap.
Zayyan menatap ibunya dengan tatapan polos sekaligus khawatir. "Ibu kenapa nangis?"
"Enggak kok, Ibu gak apa-apa, Sayang. Cuma kelilipan aja tadi," dusta Arin sambil tersenyum tipis. "Suara Ibu ganggu tidur kamu ya?"
Zayyan mengangguk pelan. "Iya, suara Ibu kedengaran pas doa tadi."
Arin mengembuskan napas panjang, lalu perlahan melepas dan melipat mukenanya dengan rapi. Ia melangkah mendekati kasur busa, lalu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke arah sang putra.
"Sini, ibu peluk biar tidur lagi..."
Zayyan langsung merangkak mendekat dan menubrukkan tubuh kecilnya ke pelukan sang ibu. Ia mendekap pinggang Arin erat-erat.
Arin membalas pelukan itu tak kalah erat, menyandarkan dagunya di bahu kecil Zayyan sambil mengusap rambut putranya dengan penuh kasih sayang. Rasa hangat dari tubuh anaknya perlahan menyalurkan kekuatan baru ke dalam jiwanya yang sempat rapuh.
"Ya udah, yuk tidur lagi. Besok kan Zayyan harus bangun pagi," bisik Arin lembut.
"Iya, Ibu."
Arin mengecup lama puncak kepala Zayyan, lalu perlahan merebahkan tubuh mungil itu kembali ke atas kasur. Ia ikut berbaring di sampingnya, memeluk erat sang putra dalam dekapan hangat hingga perlahan-lahan keduanya kembali terlelap.