NovelToon NovelToon
Cinta Lama, Dendam Baru

Cinta Lama, Dendam Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Cilia

Tujuh tahun lalu, Kirana Ayu Pradipta ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya, Raditya Alamsyah Wibowo. Kirana pergi tanpa tahu kebenaran, membangun hidup dan kariernya dari nol, tumbuh jadi perempuan tegar yang tak lagi percaya cinta. Tujuh tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai rival bisnis dalam tender proyek properti terbesar di Jakarta. Radit yang dingin berusaha merebut kembali hati Kirana, sementara Kirana harus memilih antara membalas dendam, melindungi perusahaannya, atau membuka hatinya lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

XVII - Nama yang Hilang

Kirana duduk lama, sambil menatap amplop di pangkuannya sebelum akhirnya ia memutuskan untuk membukanya,

Lampu ruang tamu ia biarkan redup, cuma lampu meja kecil yang menyala di sudut sofa, yang penting ada penerangan yang cukup untuk membaca, tapi tetap cukup gelap untuk membuat ruangan itu terasa seperti persembunyian. Apartemennya hening, cuma terdengar detak jam dinding dan sesekali klakson mobil dari jalan raya di bawah apartemennya.

Tangannya sedikit gemetar saat mengeluarkan tumpukan kertas dari dalam amplop, bentuk kertas-kertas itu mirip dengan yang ia temukan di gudang arsip beberapa hari yang lalu, tapi kali ini, jauh lebih lengkap.

Lembar pertama yang ia baca adalah sebuah memo internal, dicetak pada Januari 2019, dengan kop surat Wibowo Group tercetak jelas di bagian atas.

Memo Rahasia — Strategi Akuisisi Lahan Pesisir Utara

Sehubungan dengan rencana ekspansi Wibowo Group ke kawasan pesisir utara, perlu dilakukan pendekatan khusus terhadap Pradipta Development yang menguasai sebagian besar lahan strategis di area tersebut. Mengingat Bambang Pradipta menolak tawaran akuisisi sebanyak dua kali, disarankan pendekatan melalui skema investasi yang dirancang untuk melemahkan posisi keuangan mereka secara bertahap, sehingga akuisisi lahan bisa dilakukan dengan harga jauh lebih rendah setelah perusahaan tersebut mengalami kesulitan finansial.

Kirana merasakan napasnya tercekat. Rencana yang tertulis jelas, hitam di atas putih, skema yang sengaja dirancang untuk menghancurkan bisnis ayahnya demi ekspansi Wibowo Group.

Ia mengingat malam-malam terakhir bersama ayahnya, bagaimana pria yang selalu terlihat gagah itu kehilangan berat badan dalam beberapa bulan terakhir hidupnya, bagaimana ia sering terbangun tengah malam untuk memeriksa laporan keuangan yang sama berulang kali, mencari-cari kesalahan yang tidak pernah ia temukan. Dulu, Kirana mengira itu cuma kebiasaan dari seorang pengusaha yang teliti. Sekarang ia tahu, ayahnya mungkin sudah merasakan sesuatu yang tidak beres, cuma terlambat menyadari siapa dalang di baliknya.

Ia membalik halaman berikutnya. Salinan lengkap perjanjian investasi antara Pradipta Development dan PT Cahaya Nusantara Investama, dokumen yang sama seperti yang ia temukan di gudang arsip, tapi kali ini halamannya utuh. Nama penanggung jawab transaksi tertera jelas di bagian bawah halaman, lengkap dengan tanda tangannya.

Hartono Wibowo.

Nama itu tertulis jelas. Kirana menatapnya, membandingkan tulisan itu dengan yang ada di dalam ingatannya, dengan tanda tangan Hartono yang pernah ia lihat di beberapa dokumen kerja sama antara kedua perusahaan mereka belakangan ini. Sama persis. Goresan huruf H yang sama, sampai ke setiap lekukan yang ada di tulisan tersebut, semuanya sama persis.

Ia meraih laptopnya, membuka folder rapat proyek gabungan bersama Wibowo Group, mensejajarkan tanda tangan Hartono di layar dengan yang ada di kertas fotokopi di tangannya.

Identik.

Ia melanjutkan membaca lembar-lembar berikutnya. Korespondensi email antara Hartono dan pihak-pihak yang terlibat dalam PT Cahaya Nusantara Investama, catatan transfer dana yang menunjukkan bagaimana perusahaan cangkang itu didanai langsung oleh Wibowo Group, bahkan laporan yang secara eksplisit menyebut keberhasilan strategi tersebut dalam “melemahkan Pradipta Development hingga bangkrut, membuka jalan bagi Wibowo Group mengakuisisi sebagian besar aset lahan mereka dengan harga jauh di bawah nilai pasar.”

Kirana meletakkan dokumen-dokumen itu perlahan, tangannya gemetar karena kemarahan yang mulai membakar setiap sudut tubuhnya.

Tujuh tahun ia hidup dalam kesedihan. Kematian ayahnya yang mendadak, kehancuran bisnis keluarga. Sekarang semuanya jelas. Ini bukan sekadar nasib buruk. Ini pembunuhan yang direncanakan dengan matang, konspirasi bisnis yang merenggut nyawa ayahnya lewat stres yang sengaja diciptakan.

Keluarga Wibowo.

Keluarga Radit.

Ia teringat kata-kata Radit, kebenaran ini bisa menghancurkan lebih banyak orang daripada yang kamu bayangkan, dan sekarang ia memahami apa yang selama ini pria itu coba sembunyikan.

Radit tahu. Ia pasti sudah tahu, atau setidaknya mencurigai kebenaran ini, sejak lama. Dan meski begitu, ia memilih diam dan membiarkan Kirana terus bekerja sama dengan keluarga yang telah menghancurkan hidupnya.

Anehnya, di tengah kemarahan sebesar ini, Kirana tidak merasakan amarah yang sama tertuju pada Radit. Bukan karena ia memaafkannya, tapi karena kemarahan yang jauh lebih besar kini terarah pada satu nama yang tertulis jelas di dokumen itu, nama yang selama ini bersembunyi di balik reputasi terhormat sebagai salah satu pengusaha properti paling besar di Jakarta.

Ia teringat setiap kali Radit menatapnya, setiap kali pria itu menahan diri di ambang pengakuan yang tidak pernah ia ucapkan. Sekarang, semuanya jadi lebih masuk akal. Bukan sekadar kepengecutan, melainkan beban seorang anak yang tahu bahwa ayahnya sendiri dalang dari tragedi yang menghancurkan keluarga perempuan yang ia cintai.

Radit memilih pergi tujuh tahun lalu bukan karena ia berhenti mencintai Kirana. Ia pergi karena tahu, tentang apa yang sedang dilakukan ayahnya, dan memilih cara paling buruk untuk menghindarinya — diam-diam, tanpa penjelasan, meninggalkan Kirana sendirian menanggung semua akibat yang disebabkan oleh ayahnya.

Ia meraih ponselnya, ibu jarinya berhenti di atas nama Radit. Ada dorongan untuk meneleponnya sekarang juga, ia ingin membentak dan menuntut penjelasan. Tapi ia menarik tangannya kembali. Ia sadar, kalau ia menelepon sekarang, dengan kemarahan yang masih membara, ia tidak akan bisa berpikir jernih.

Sekarang, yang ia butuhkan bukan konfrontasi emosional.

Yang ia butuhkan sekarang adalah strategi yang matang.

Ia teringat ayahnya, sosok yang selalu tenang menghadapi tekanan, yang pernah berkata padanya, “Kirana, orang yang menang bukan yang paling keras teriak. Tapi yang paling sabar dan selalu menunggu sampai waktu yang tepat.” Kalimat itu dulu terasa seperti nasihat biasa dari seorang ayah pada anaknya. Sekarang, kalimat itu terasa seperti wasiat.

DRRT.

Ponselnya bergetar di atas meja. Ia melihat nama Dimas di layar.

Gimana keadaan lu sekarang? Lu baik-baik aja, kan? Gua bisa dateng kalau lu butuh temen ngobrol.

Kirana menatap pesan itu lama. Pengumuman mengenai lamaran Radit dan Valerie, yang beberapa jam lalu terasa seperti bencana terbesar dalam hidupnya, kini terasa sangat kecil dibandingkan apa yang baru saja ia ketahui tentang kematian ayahnya.

Aman, Dim. Cuma butuh waktu sendiri malam ini. Makasih udah peduli.

Ia memotret setiap halaman dokumen itu dengan tangan yang masih gemetar, memastikan ada salinan aman tersimpan sebelum memutuskan langkah selanjutnya. Siapa pun yang mengirim paket ini, entah demi kebenaran atau demi motif tersembunyi, telah memberinya senjata yang selama tujuh tahun ini tidak pernah ia miliki.

Bukti.

Ia butuh memverifikasi keaslian dokumen ini. Butuh mencari tahu siapa yang mengirimkannya dan apa motif di baliknya. Dan yang paling penting, butuh memutuskan kapan dan bagaimana ia akan menghadapi Hartono Wibowo dengan kebenaran yang kini ia genggam.

Ia menimbang untuk menelepon Nadia, menceritakan semuanya malam ini juga. Tapi ia menahan diri. Ini bukan sekadar curhat soal patah hati yang bisa diselesaikan lewat telepon larut malam. Ini keputusan yang butuh kepala dingin.

Ia meraih buku catatan kecil dari laci mejanya, mulai menulis daftar langkah yang harus ia ambil.

*Pertama**, cari kenalan di firma hukum yang bisa memverifikasi keaslian dokumen tanpa membocorkan isinya ke pihak lain.*

*Kedua**, cari tahu siapa pengirim paket ini — orang itu mungkin punya informasi lebih banyak tentang kejadian tujuh tahun lalu.*

*Ketiga**, jangan bertindak gegabah sebelum semua bukti benar-benar terkumpul dan terverifikasi, sebelum ia yakin tidak ada celah bagi Hartono untuk lolos dari konsekuensi akibat keslaahannya di masa lampau.*

Ia menutup buku catatan itu, menyadari betapa berbeda dirinya sekarang dibanding perempuan yang menangis di lantai apartemen beberapa hari yang lalu. Kesedihan itu belum hilang. Tapi di atasnya, sesuatu yang lebih keras dan lebih tajam, mulai tumbuh di dalam dirinya.

Ia berdiri, mengumpulkan dokumen-dokumen itu satu per satu dan menyimpannya kembali ke dalam amplop dengan hati-hati. Selama tujuh tahun ia mencari jawaban tanpa pernah benar-benar berani mengejarnya. Sekarang, jawaban itu sudah ada di tangannya.

Ia menyimpan amplop itu di dalam brankas kecil miliknya, yang selama ini cuma berisi dokumen penting perusahaan dan beberapa perhiasan dari ibunya.

...****************...

Sebelum akhirnya tertidur, Kirana memejamkan matanya erat-erat, membayangkan wajah ayahnya. Bukan lagi dengan kesedihan yang selama ini ia bawa, melainkan dengan tekad kuat untuk membongkar kebusukan Hartono.

Aku akan mencari tahu kebenaran ini sampai tuntas, ia berjanji pada dirinya sendiri, pada ayahnya yang telah tiada, dan juga pada tujuh tahun luka yang akhirnya menemukan penjelasannya. Dan aku tidak akan berhenti sampai Hartono Wibowo mempertanggungjawabkan semua yang telah ia lakukan.

1
Dian Meilani
bagus kk , pnasaran alurnya gimana
m.marsela
kalau masih sayang, kenapa melepaskan sih duit, kepo banget sama alasannya ninggalin kirana
Ade Chubi
Radit hebat 👍
Ade Chubi
selalu nyerang pihak perempuan nya ,kalo menyerang Radit , Valerie tau akan konsekuensinya 😂😂
Cilia: Radit punya kuasa ka😂
total 1 replies
m.marsela
padahal ada orang baru yang siap untuk selalu ada
tapi orang yang pernah memberi luka justru masih selalu memenangkan ruang di hati.
Cilia: Terlsdang masa lalu selalu menang ka… huhu
total 3 replies
Raudhatul Zannah
buat penasaran kak ceritanya, semangat ya kak
Ery Sithi Badriyyah
seru bgt ceritanya
Ery Sithi Badriyyah
seru ceritanya lanjut yuk
white star ⭐
bikin ketagihan membacanya
mary dice
Nah gitu dong Kirana 🔥🔥 ditunggu gebrakan-gebrakanya melawan m
para musuh 💪💪
Arni Arlinawati pratiwi
semangat anak ku sayang..
helena
lanjut thoor
m.marsela
Fix lanjut baca, penasaran banget
Putri Ayu/PqxxyZ
Sangat merekomendasi ceritanya... Yang belum baca wajib baca sih ini
Cilia
Penjelasannya bisa dibaca di bab-bab selanjutnya! Makin seru loh😆
Putri Ayu/PqxxyZ
terjadi salah paham ya...tapi kenapaa gak dijelasin sih malah ilang 😊
Putri Ayu/PqxxyZ
yuk bisa yuk cari cowok selain Raditya...💪💪 🤭
Cilia
Terimakasih atas dukungannya kak❤️
Raudhatul Zannah
semangat kak
Wawan
Satu iklan dan mawar buat mu Thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!