Dear Viona,
Terima kasih, karena telah memberikan warna-warni kehidupan disisa waktuku.
Terima kasih, karena telah mencintaiku dengan tulus.
Mencintaimu adalah hal terindah yang pernah kurasakan.
Bersamamu, kurasakan seperti seorang yang paling sempurna. Memiliki segalanya, dirimu dan cintamu.
Berjanjilah, untuk tidak menangisi kepergianku!
Karena aku selalu ada didekatmu, menjagamu, memelukmu, lewat penglihatan yang kutitipkan padamu.
I Love You, Sasha....
Salam,
Galang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose_Dreamers, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VhieDjar 22
#Intan Pov
Aku sudah tiba di sebuah toko perhiasan ternama yang ada di kota Bandung. Aku memutuskan untuk pergi sendiri, setelah sebelumnya aku berulangkali mencoba menghubungi calon tunanganku tapi tak ada respon darinya.
Aku bergegas masuk kedalam dan mulai menghampiri pelayan toko seraya memilih-milih cincin yang cocok untukku dan juga Fajar. Tapi aku kesulitan memilih cincin yang cocok untukku.
Aku merogoh Tas dan mengambil ponsel didalamnya. Aku mencoba menghubungi Fajar kembali. Setelah beberapa saat menunggu panggilan terhubung, akhirnya Fajar mengangkat telepon dariku.
"Hallo..." terdengar suara dari sebrang telpon
"Kamu dimana sih? Dari tadi gak bisa dihubungi? Bukannya kamu udah janji hari ini mau beli cincin tunangan kita." ucapku kesal pada seseorang disebrang telpon
"kamu di mana sekarang?"
"aku sudah nunggu kamu di toko perhiasan xxx dari tadi tau..." ucapku masih kesal padanya karena dia pasti lupa hari ini.
"ya sudah, aku kesana sekarang..."
Sambungan telponpun langsung di putus sepihak olehnya. Aku menyimpan kembali ponsel kedalam tas.
"Bentar ya mbak, aku nungguin calon tunangan aku kesini..."
Aku bicara pada seorang wanita paruh baya yang sedari tadi sudah dengan sabar memperlihatkan semua koleksi perhiasan milik tokonya kepadaku. Wanita paruh baya yang ku tahu bernama Linda itu tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
Setelah setengah jam lebih menunggu akhirnya Fajar tiba menghampiriku.
"Kok lama sih? " aku menyambut kedatangan Fajar dengan bahagia. Aku bergelayut manja pada lengan kekasihku. Hingga mataku tak sengaja melihat kearah seseorang yang berada tepat dibelakang Fajar.
Deg
Aku melihat Fajar meminta penjelasan.
"Loh, kamu bareng Viona?" ucapku terkejut dengan kehadirannya diantara aku dan Fajar.
Tentu saja aku tak suka dengan kehadiran sahabatku saat ini. Bagaimana tidak, aku sakit hati karena sering memergoki mereka sedang bercanda berdua. Aku juga kesal karena Fajar diam-diam sering memperhatikan Viona dengan tatapan hangatnya.
"Iya, aku sengaja ngajak Viona untuk bantu kamu milih-milih cincin yang cocok untuk tunangan kita." Ucap Fajar
"Gak boleh ya aku bantuin milih?! Ya sudah, aku balik lagi deh kalo gitu..." ucap Viona hendak membalikan tubuhnya tapi segera aku cegah.
"Boleh dong, pilihin cincin yang paling bagus ya buat aku juga Fajar..." ucapku memperlihatkan senyum yang dipaksakan.
Aku menggandeng lengan Viona seraya berjalan mendekati tempat perhiasan yang akan kami pilih.
Aku sengaja berkata seperti itu agar Viona merasa sedih dan tersadar bahwa orang yang dicintainya akan segera bertunangan denganku. Aku tahu sebenarnya Viona juga menyimpan perasaan suka kepada Fajar, dan aku tahu bahwa mereka saling mencintai. Tapi sekali lagi aku tidak bisa membiarkan itu semua terjadi karena aku pun sangat mencintai Fajar.
Selama aku dan Viona melihat-lihat cincin mana yang bagus dan cocok untukku, aku berusaha untuk bersikap baik terhadapnya.
Aku bersikap seolah aku tak mengetahui apa pun diantara mereka, hingga aku tak sengaja melihat Fajar tengah menatap Viona dengan bibir yang terus tersenyum.
"Sayang..." aku menyapa Fajar yang masih tak bergeming dari lamunannya.
"Eh, i-iya... Sudah selesai?" Tanyanya padaku dengan raut wajah terkejut.
"Lagi lihatin apa sih? Sampe gak ngeh kalau aku udah dari tadi ada di samping kamu..." ucapku kesal.
"Gak lihatin apa-apa kok... Hehe" Ucap Fajar tersenyum kikuk, matanya mengedar mencari keberadaan Viona.
"Eh, Viona mana?" Tanyanya setelah ia tak melihat keberadaan orang yang dicarinya.
"Kom kamu nanyain Viona sih, aku loh yang mau tunangan sama kamu..." ucapku,
Aku kesal karena Fajar terus saja memperhatikan Viona.
"Jangan marah gitu dong, aku kan cuma nanya saja." ucapnya seraya menenangkan aku yang mulai memperlihatkan kekesalanku.
"Habisnya kamu dari tadi merhatiin Viona terus, sebenarnya yang mau tunangan sama kamu itu aku atau Viona. Hiks... Hiks," aku tak bisa lagi menahan rasa sakit yang sejak tadi aku tahan. Air mataku seketika tumpah dihadapan Fajar.
"Bukan gitu, Tan... Aku tunangannya sama kamu kok. Harusnya kan kita berterima kasih pada Viona karena dia mau membantu kita memilihkan cincin untuk tunangan kita. Tak seharusnya kamu malah cemburu sama dia..." ucapnya menenangkanku. Aku mengangkat kepalaku untuk menatap mata Fajar seraya menghapus air mataku.
"Aku mau tanya sama kamu, apa kamu cinta sama aku?" ucapku lirih.
Fajar tak langsung menjawab pertanyaanku, entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini.
"Iya..." ucapnya singkat,
"Iya apa?" ucapku, aku ingin mendengar dengan jelas.
"Iya, aku... Cinta sama kamu!" ucapnya dengan nada beratnya. Seketika aku langsung memeluk tubuh Fajar.
Aku melihat Viona berdiri tepat di belakang Fajar, aku tahu dia mendengar yang baru saja Fajar katakan padaku. Seketika itu Viona langsung lari menuju ke luar dari toko.
***
#Author pov
"Vhi,kamu gak apa-apa sayang? Kenapa kamu nangis gini? Amara panik saat melihat kondisi putrinya yang terlihat tidak baik-baik saja.
Viona tak menjawab pertanyaan dari ibunya, dia langsung memeluk Amara. Tangisnya pecah dalam pelukan Ibunya.
Amara membiarkan putrinya menangis dalam pelukannya. Amara merasakan tubuh putrinya kaku dan suhu tubuhnya panas. Tiba-tiba tubuh Viona ambruk terjatuh ke lantai.
Brukkk
"Ah... Vio!!!" pekik Amara seraya mendekati putrinya, Amara mengangkat kepala putrinya lalu memindahkan ke pangkuannya seraya menepuk-nepuk wajah Viona. Tapi Viona tak kunjung terbangun.
Amara membopong tubuh Viona membawanya masuk kedalam mobil. Amara langsung membawa Viona ke rumah sakit terdekat.
***
Amara begitu khawatir dengan keadaan putrinya yang tiba-tiba tak sadarkan diri.
Ia menunggu dokter yang memeriksa Viona keluar dari ruangan. Amara terus berdo'a supaya putrinya baik-baik saja.
Ceklek
Suara pintu terbuka. Amara melihat seorang dokter keluar dari ruang rawat putrinya.
"Gimana keadaan putri saya, Dok?" ucap Amara masih menunjukan kekhawatirannya.
"Putri Ibu tidak apa-apa, dia hanya demam biasa... Mungkin karena kelelahan saja." Ucap dokter Indra yang memeriksa Viona.
"Syukur kalo begitu. Apa sudah bisa di jenguk, Dok? " Tanya Amara
"Oh, silahkan... Saya sudah memberikannya obat, sekarang dia sedang beristirahat." Ucap Dokter Indra
"Terima kasih banyak, Dok..."
"Sama-sama... Kalau begitu saya permisi." Dokter Indra pamit pergi ke ruangannya.
Amara menatap wajah putrinya yang terlihat pucat dan terbaring lemah di atas brankar.
Amara menyentuh wajah pucat pasi milik Viona seraya mengusapnya lembut.
"Sejujurnya ibu tak ingin kamu pergi jauh dari Ibu. Ibu takut kamu sakit di sana dan tak ada yang menjagamu." gumam Amara
Drettt
Drettt
Drettt
Amara mengkerutkan alisnya saat mendengar bunyi ponsel berdering, Amara mengedarkan pandangannya hingga matanya menatap kearah saku celana milik Viona lalu mengeluarkan ponsel dan melihat siapa yang sudah menelepon putrinya.
"Hallo..." sapa Amara,
"Eh, ini Ibu? Vionanya kemana ya?" ucap seseorang disebrang telpon.
Amara diam memikirkan apa yang akan dia ucapkan kepada pemuda diserang telpon.
tapi galang sedikit obsesi sama viona alias shasha..bukan karna galang cinta..karna klo dia cinta pasti akan bertanya gimana perasaan wanitanya..bukan dengan egoisnya bilang nggak mau di tinggalin dan nggak membiarkan wanitanya memilih siapa yang sebenarnya ada di hati wanitanya..