Cerita ini menceritakan tentang Alfa yang di jadikan sasaran balas dendam seseorang, karena perbuatan Faris Papanya di masa lalu. Tanpa di sadari, Alfa masuk di dalam jebakan yang membuat dia pada akhirnya harus terlibat, dengan seorang wanita yang tak berdosa. Wanita malang yang hanya di jadikan Alat, untuk merusak nama baik Alfa juga keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Ketakutan Shelina.
Di dalam sebuah kamar, Shelina yang masih belum sadarkan diri terbaring di atas tempat tidur, dengan pengawasan dua orang laki-laki yang berada di dekat pintu kamar tersebut. Sedangkan di kamar yang lain, terlihat seorang laki-laki berwajah datar, sedang mengobrol dengan seseorang yang baru saja masuk menghampirinya. Dari obrolan kedua laki-laki itu terlihat begitu serius. Dan ternyata kedua orang itu adalah Faris, bersama salah satu anak buahnya yang sedang membicarakan tentang Shelina, juga orang-orang yang berada di taman dekat hotel berbintang milik Faris.
"Ada apa?" Tanya Faris dengan begitu serius.
"Aku ingin memberitahukan sesuatu Pak." Jawab anak buah Faris yang sedang berdiri tepat di hadapan Faris.
"Tadi aku melihat beberapa orang yang sepertinya sedang mencari wanita itu. Dan saya sempat mendengar salah seorang dari mereka, sedang berbicara dengan seseorang yang dia panggil Pak Farel melewati telpon. Menurutku orang yang bernama Farel itulah yang memerintahkan mereka untuk mencari wanita itu. Dan aku juga dengar, kalau wanita itu akan di lenyap kan apabila dia di temukan." Jelas anak buah Faris panjang lebar, yang membuat Faris langsung mengembangkan senyum yang terlihat aneh.
"Hmmm,, aku sudah pastikan itu. Kalau orang yang aku lenyap kan semalam, bukan si keparat itu." Ujar Faris dengan senyum yang terlihat begitu menakutkan.
"Jadi apa yang harus kita lakukan Pak?" Tanya anak buah Faris dengan begitu sigapnya.
"Tidak perlu melakukan apa-apa. Biarkan saja dia menikmati kelumpuhannya dengan sakit hati yang tidak terbalas." Jawab Faris dengan begitu santainya.
"Apakah wanita itu sudah sadar?" Tanya Faris.
"Aku belum sempat melihatnya Pak. Jadi aku tidak tahu apakah dia sudah sadar ataukah belum." Jawab anak buah Faris.
"Ya sudah,, kalau begitu aku ingin melihatnya sekarang. Karena aku juga tidak tahu siapa sebetulnya wanita itu. Sampai Farel begitu ingin menghabisinya." Ujar Faris sambil melangkah keluar dari kamar.
Faris yang terlihat sudah sangat rapi, melangkah buru-buru menuju kamar, yang berjarak beberapa meter dari kamar yang dia tempati. Di saat melewati kamar Alfa, Faris sempat berpikir untuk memberitahukan Alfa, mengenai keberadaan wanita yang di bawa anak buahnya tadi. Tapi dia kembali mengurungkan niatnya di saat melihat Alfa sedang sibuk bersiap-siap, dari depan pintu kamar yang di tempati oleh Alfa.
"Silahkan masuk Pak!" Ujar salah seorang anak buah Faris yang berdiri tepat di samping pintu, setelah Faris berada di depan pintu kamar tempat Shelina berada.
"Apakah dia sudah sadar?" Tanya Faris sambil menatap Shelina yang sedang terbaring, dengan posisi membelakangi mereka.
"Sudah Pak. Tapi dia tidak mau bersuara, apalagi menatap kita. Dia sepertinya sangat ketakutan." Jawab anak buah Faris yang satunya, sambil menatap ke arah tempat tidur.
"Nona,, jangan takut! Aku tidak bermaksud menyakitimu. Justru aku ingin menyelamatkan dirimu dari incaran anak buah Farel." Faris berkata-kata sambil melangkah mendekat ke arah tempat tidur.
Mendengar kata-kata Faris, dengan perlahan-lahan Shelina pun bangun. Kemudian duduk sambil memeluk kedua kakinya tanpa berani menatap Faris, yang sudah berdiri di samping tempat tidur. Dalam diam Shelina masih merasa ragu dengan perkataan yang di ucapkan Faris. Tapi dia memang tidak punya pilihan lain selain berada di kamar itu. Karena menurutnya, keadaan di dalam kamar itu sedikit membuatnya merasa aman, dari pada berada di luar sana.
"Siapa namamu?" Tanya Faris, namun tidak di jawab oleh Shelina yang masih terus menundukan kepalanya.
Melihat ekspresi Shelina yang penuh dengan keraguan bercampur ketakutan, Faris yang tidak suka banyak berkata-kata dan selalu terlihat datar, mencoba untuk lebih ramah dan sedikit merubah ekspresi wajahnya, untuk bisa membuat Shelina lebih tenang, dan tidak tertekan dengan rasa takutnya.
"Sepertinya kamu seumuran dengan putriku. Aku memiliki seorang putri cantik seperti dirimu. Tapi dia itu selalu banyak tingkah juga banyak bicara. Dan sikapnya itu, yang saat ini membuat kita selalu merindukannya. Karena setelah menikah, dia sudah di bawah suaminya untuk tinggal di Amerika." Faris berkata-kata panjang lebar tanpa menoleh ke arah Shelina, yang sudah mulai tertarik dengan apa yang dia bicarakan.
"Di mana orang tuamu nak?" Tanya Faris setelah menyadari kalau Shelina sudah berani menatapnya. Namun Shelina tetap tidak menjawab apa-apa. Dia hanya menggelengkan kepalanya yang membuat Faris jadi bingung.
"Apa kamu tidak punya orang tua?" Tanya Faris sambil menatap Shelina dengan nada suara yang sangat lembut, juga ekspresi wajah begitu santai. Dan Shelina hanya menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan Faris.
"Nak,, Om tahu saat ini kamu sangat ketakutan dan merasa terancam. Tapi kamu tidak perlu khawatir. Karena Farel ataupun anak buahnya, tidak akan pernah berani datang ke tempat Faris Permana." Ujar Faris yang membuat Shelina langsung mengangkat mukanya, dan memanggil nama Faris dengan tampang yang terlihat begitu kaget.
"Pak Faris.. Apa anda benar-benar pemilik hotel ini..?" Tanya Shelina dengan mata yang terbuka lebar saking kagetnya.
"Iya. Akulah Faris Permana, pemilik hotel ini." Jawab Faris santai.
"Pak Faris,, maafkan aku..! Karena aku sudah mengikuti perintah Ayahku untuk menghancurkan nama baik keluargamu." Ujar Shelina dengan tatapan memohon, sambil menatap Faris yang terlihat sangat kaget.
"Apa kamu Shelina..? Putri angkat si keparat itu..?" Tanya Faris dengan tatapan yang sangat tajam.
"Iya,, aku Shelina. Tolong maafkan aku Pak. Aku sangat terpaksa melakukan semua itu. Karena kalau aku tidak melakukannya, aku akan di bunuh oleh Ayah angkatku." Jawab Shelina dengan air mata yang sudah membasahi wajah cantiknya, saking ketakutan berhadapan dengan Faris.
"Tidak usah meminta maaf..! Semustinya aku yang harus meminta maaf atas semua perbuatan putraku. Aku tahu ini bukan kesalahanmu. Justru aku sedang berusaha mencari keberadaan mu. Tapi kamu sendiri yang malah datang menemui ku." Jawab Faris sambil mengusap-usap kepala Shelina.
Mendapat perlakuan seperti itu dari orang yang sangat di takuti banyak kalangan, membuat Shelina semakin berderai air mata. Dia tidak menyangka, Seseorang yang di anggap sebagai monster, memiliki hati yang sangat tulus.
"Maafkan aku Pak..! Aku janji akan pergi dari sini, dan tidak akan pernah mengganggu kehidupan keluargamu." Ujar Shelina tanpa menatap Faris yang sedang menatapnya.
"Kamu tidak akan pergi kemana-mana. Karena kamu adalah tanggung jawabku saat ini." Jawab Faris yang membuat Shelina langsung menatapnya bingung.
"Tidak usah Pak! Aku tidak ingin menyusahkan mu. Biarlah aku menanggung semua ini. Karena aku juga tidak berhak menyalahkan putra Bapak. Walaupun dia telah merenggut mahkota yang aku jaga selama ini." Ujar Shelina yang membuat Faris semakin merasa bersalah, karena mengingatkan pengalaman buruk yang pernah dia lakukan terhadap Aleta.
"Cepat panggil Alfa ke sini sekarang juga..! Dia harus bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan." Perintah Faris yang membuat mata Shelina seketika terbuka lebar saking kagetnya.
Mendengar nama itu jantung Shelina tiba-tiba berdetak kencang, dengan ekspresi yang terlihat panik. Shelina yang tidak tahu sama sekali siapa laki-laki yang telah merenggut kesuciannya, begitu kaget mengetahui kenyataan, kalau laki-laki itu ternyata Alfa. Pria tampan yang di sebut sebagai orang yang sangat penting, di saat hari terakhir dia bekerja di hotel itu.
plis tor WA ny dh di undang emng si udh lama tapi saya mau baca tor plis jwab ya tor saya mohon sya ska skli cerita ny