HIATUS
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesedihan Anin
"Apa dia mengira kita adalah tim penyelesai masalah ?" tanya Ans
"Ans kamu tahu sendirikan bagaimana Oma atau lebih jelasnya direktur ? dia tidak bisa dibantah, yang harus kamu lakukan hanya membimbing Elvan dengan benar agar tidak terjadi kesalahan !" perintah Kevin yang hanya dijawab anggukan oleh asistennya.
"Lagipula saya sudah memeriksa nilainya selama ia kuliah diluar Negeri dan dia lumayan pintar. Jadi selama saya tidak ada, semuanya kupercayakan padamu termasuk dia" ucap Kevin
"Baiklah setelah tuan Elvan datang saya akan melayaninya secara profesional" ucap Ans dengan wajah datarnya.
"Kalau begitu aku pergi dulu" ucap Kevin sembari masuk kedalam mobilnya.
Setelah melajukan mobilnya dan meninggalkan area perusahaan. Kevin mengambil ponselnya dan mencari nama seseorang.
Setelah mendapatkanya Kevin segera menekan tombol hijau di layar benda pipih yang dipegangnya dan tidak butuh waktu lama panggilan Kevin di jawab oleh seseorang diseberang sana.
"Halo.. assalamualaikum" ucap Anin setelah menjawab panggilan dari Kevin
"Waalaikumsalam, kamu dimana? saya akan menjemputmu karena ada yang ingin saya bicarakan" ucap Kevin
"Saya juga ingin mengatakan sesuatu padamu, Saya menunggumu di halte bus dekat kontrakanku" ucap Anin
"Baiklah Saya menuju kesana" ucap Kevin dan mematikan sambungan telponnya.
Belum lama Anin meletakkan ponselnya kini ponselnya kembali bergetar. Anin segera mengeser tombol hijau pada benda pipih yang dipegangnya setelah mengetahui siapa penelpon tersebut.
"Halo, assalamualaikum, ada apa kau menelfonku ?" tanya Anin
"Apa yang kamu lakukan dibelakangku ?" bentak Tari
"Memangnya ada apa ?" tanya Anin yang tidak tahu apa alasan Tari membentaknya dan terdengar sangat marah.
"Kamu masuk peringkat pertama pencarian di intenet dengan judul gadis hamil yang imut" jawab Tari ketus,
"Gadis hamil yang imut ?" tanya Anin lirih sembari mencoba mengingat sesuatu, dan refleks Anin membulatkan matanya Setelah mengingat kejadian tadi malam.
Anin tidak menyangka video dirinya tersebar begitu cepat.
"Ia itu nama panggipanmu" ucap Tari ketus
"Tapi kenapa kamu bisa hamil? itu bukan anaknya Vito sibaj*ngan itu kan? bukankah kalin sudah putus ?" rentetan pertanyana keluar dari mulut Tari tanpa ia sadari.
Tanpa menjawab pertanyaan Tari, Anin memutuskan sambungan telponnya secara sepihak. Dan itu membuat Tari semakin kesal dibuatnya.
Anin segera Mencari dan membuka Video tentang dirinya, membuatnya tidak menyadari dan mendengar suara klakson mobil yang dibunyikan Kevin.
Kaevin menghampiri Anin dan langsung mengambil kopernya, "Naiklah" perintah Kevin membuat Anin tersadar dari lamuannya.
Anin hanya menuruti perkataan Kevin dan berjalan menuju mobil, saat akan membuka pintu belakang kemudi, Kevin segera menegurnya.
"Duduklah didepan karena saya bukan supirmu !" ucap Kevin dengan wajah datarnya.
Setelah keduanya berada didalam Mobil, Kevin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
lama mereka terdiam membuat susana menjadi hening.
"Saya ingin mengatakan sesuatu" ucap keduanya bersamaan dan mata mereka bertemu.
"Katakanlah !" ucap keduanya lagi-lagi serempak membuat keduanya kembali terdiam.
Kevin kembali fokus mengemudikan mobilnya, sedangkan Anin mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil dan memandangi bangunan-bangunan pencakar lagit yang dilewatinya.
Kevin mengambil sesuatu di jok depan mobilnya dan memberikannya pada Anin.
Anin mengambil amplop yang diberikan Kevin dan segera membuka nya "untuk apa ini ?" tanya Anin setelah mengetahui isi amplop tersebut.
"Saya tahu, berapapun jumlah uang yang saya berikan tidak akan bisa menebus apa yang telah saya ambil darimu. Tapi setidaknya tulisan sebuah angka agar saya bisa tenang" ucap Kevin
"Saya tidak membutuhkannya" Anin mengembalikan cek kosong yang diberikan Kevin.
"Saya tetap akan memberikannya" ucap Kevin tak terbantahkan.
"Kemarin malam Ana menelfonku dan menerima lamaranku" ucap Kevin
Anin hanya menganggukan kepalanya mendengar perkataan Kevin "Kamu takut saya akan menganggumu? sebab itu kau memberiku cek kosong untuk membeli ketenangan hatimu?" Anin tersinggung dengan perkataan Kevin barusan.
Seakan-akan mengatakan bahwa Anin adalah wanita penganggu hubungan orang.
"Bisakah kau tidak berfikir negatif ? saya hanya merasa bersalah, dan hanya ini yang bisa Saya lakukan untukmu." ucap Kevin
"Baiklah, jika dengan mengambil cek kosong ini bisa membuatmu merasa tenang, saya akan menerima nya. Tapi selamanya cek ini akan tetap kosong." ucap Anin
Kevin menatap Anin dengan tatapan herannya, ia tidak menyangka masih ada gadis yang tidak tergiur dengan uang di kota sebesar ini.
"oh iy, bukankah kau juga ingin mengatakan sesuatu ?" tanya Kevin yang masih fokus menyetir.
"Lupakan saja" jawab Anin singkat dan beralih kebenda pipihnya yang sedang bergetar di tangannya.
"Apa ibu sudah mengetahui tentang kehamilanku ?" batin Anin
Anin segera mengeser tombol merah yang menandakan ia menolak panggilannya.
Bukannya Anin tidak ingin menjawab telpon dari ibunya, hanya saja Anin belum siap mendengar omelan ibunya yang super duper galak itu.
Anin mengalihkan pandangannya keluar jendela sembari mengelus perutnya yang masih rata.
Anin juga sekali-kali menatap pria tampan tapi terlihat sangat dinggin yang berada di sampingnya saat ini.
"Sayang pria di samping ibu ini adalah ayahmu, dia adalah orang yang sangat sempurna dan adil bagi ibu. Maafkan ibu karena tidak bisa melindungimu, kita bertiga hanya memiliki kehidupan yang sangat singkat. Hanya dengan kamu menghilang dia akan merasa bahagia, karena ibu tidak ingin membebaninya." batin Anin sembari mengelus perutnya.
TBC
Jangan lupa meninggalkan jejak