Satria Wira Pratama adalah Seorang pimpinan perusahaan besar yang terkenal dingin dan juga sangat kejam. Tiba-tiba menjadi tak berdaya menghadapi seorang OG yang super ceroboh. Melinda Permata Sari, seorang gadis yang berasal dari keluarga menengah kebawah memiliki tiga adik laki-laki yang super protektif terhadap kakak perempuan mereka.
Jarak usia keempatnya tidak terlalu jauh sehingga sering Linda (Panggilan Melinda ) dicap sebagai seorang play girl karena gonta ganti pasangan.
Kehidupan Linda yang biasa-biasa saja mulai berubah semenjak dia pindah bekerja di sebuah Perusahaan Adi Kuasa di Kota Metropilitan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Dua
Usai dari toko perhiasan, keduanya meninggalkan pusat perbelanjaan menuju ke sebuah butik untuk membeli kebaya untuk acara nanti.
Tidak ada percakapan di dalam mobil, hanya diam tanpa ada yang memulai untuk menghancurkan kecanggungan ini.
"Apakah kamu tidak pernah memakai cincin?" Satria mencoba memecah keheningan di dalam mobil yang sejuk ini
"Tidak," ucap Linda singkat
"Kenapa?"
"Bapak tau sendiri? Saya akan diejek karena jari saya kecil," jawab Linda sambil menikmati jalanan yang penuh dengan mobil berlalu lalang.
"Kenapa tidak memesanya saja?"
"Bapak kira kami orang kaya? Menghabiskan uang hanya untuk membeli cincin kecil agar muat di jari saya?" Tampak di wajah Linda bahwa dia tidak suka jika uangnya habis hanya untuk hal sepele.
"Apakah kamu marah?" Satria menatap Linda sedikit khawatir.
"Untuk apa saya marah? Toh itu kenyataannya. Lagi pula saya tidak suka memakai barang seperti itu." Linda masih asik menikmati pemandangan di luar jendela.
"Baiklah, bisakah kamu tidak memakai bahasa formal jika bicara denganku? Aku calon suamimu." Mendengar kata calon suami, entah kenapa wajah Linda memerah perlahan.
Sebelum sampai di butik, dijalan ada keramaian seperti sebuah perkelahian. Dilihatnya salah satu motor disana. Dan Linda mengenalinya. Itu motor Ferry.
"Bisakah kita menepi dulu pak?" Linda memohon sambil memegang lengan Satria.
Satria tidak paham kenapa Linda meminta untuk menepi. Namun tetap menuruti kemauan gadis itu. Setelah mobil berada di tepi jalan, segera Linda keluar mobil dan menuju ke arah keramaian disana.
Melihat adiknya tengah dikeroyok anggota genk Bayu, Linda pun tidak dapat menahan diri.
Segera Linda ikut mengajar anak buah Bayu dengan ganas. Karena sudah lama dia tidak menghajar orang belakangan ini.
Melihat Linda tengah bertarung disana, Satria pun ikut turun dan membantunya.
Dia juga melihat Ferry yang mulai kelelahan menghadapi lawannya.
Dengan sangat gesit, Linda menghabisi orang yang mengeroyok Ferry. Tinggal satu, diinjaknya kepala orang itu.
"Kenapa lo nyerang adek gue hah! Mana Bayu! Udah minta bubar ya genk loe!" Linda berteriak penuh amarah sambil menjambak rambut pria yang sudah tak berdaya dihadapannya.
Sedangkan yang lainnya sudah terkapar menahan sakit setelah dihabisi oleh Linda juga Satria.
Melihat sisi lain dari Linda, Satria pun terkejut. Tidak habis pikir gadis ceroboh ini bisa sangat galak dan tanpa ampun.
"Hahahaha lo pikir kita takut? Bayu tidak akan pernah memaafkan lo!" Salah seorang pria itu mulai memaki Linda.
"Sudah seperti ini masih bisa tertawa juga b*ngs*t!" Kembali Linda memukul pria itu.
"Kita akan membalas rasa sakit yang diterima Bayu. Ini belum seberapa. Tunggu saja," masih mengusap darah yang mengalir dibibirnya pria itu masih mencibir Linda.
"Bawa mereka!" Perintah Linda kepada bawahannya yang datang setelah dihubungi Ferry.
Linda berjalan menuju Satria dengan sisa amarahnya.
"Apakah anda masih mau menikah dengan saya setelah melihat saya yang seperti ini pak," tanya Linda dengan tatapan tajam ke arah Satria.
"Tentu saja, ini justru menambah rasa sayang ku padamu." Tanpa sadar Satria mengatakan isi hatinya.
"Saya harap anda tidak menyesal"
"Tidak ada kata menyesal masalah pernikahan kita." Kembali Satria meyakinkan Linda.
Satria mengikuti Linda menuju mobil, Linda pun meminta Satria untuk mengikuti mobil yang membawa para pengeroyok Ferry.
Mobil itu menuju sebuah gedung tua tempat biasa kelompok Linda berkumpul. Meskipun tua, namun gedung itu masih terawat dengan baik. Jauh dari kata kumuh dan berantakan.
Memasuki gerbang besar, beberapa mobil dan juga Ferry yang dibonceng oleh rekannya berhenti tepat di halaman gedung itu.
Semua orang yang mengeroyok Ferry, digiring menuju sebuah gudang. Meski gudang, ruangan itu terlihat rapi dan terawat. Keenam orang yang mengeroyok Ferry dilempar ke lantai licin disana.
Linda sudah duduk di kursi dihadapan keenam pria yang sudah babak belur kena amukan Linda. Sedangkan Satria masih bingung apa yang terjadi disini. Tanpa banyak kata Satria berdiri disamping Linda.
"Katakan! Apa mau kalian sampai bermain curang seperti ini!" Nada bicara Linda memang pelan, namun mampu mengintimidasi lawan.
"Apakah kamu pura-pura bodoh Rose!" Teriak salah seorang tawanan itu.
"Jika kalian tidak bicara, mana mungkin aku bisa tau?" Linda dengan entengnya berbicara sambil melipat kakinya.
"Kau sudah membuat Bayu gila! Kau sudah menyakiti Bayu! Karena kamu, Bayu menghancurkan markas kami. Puas kamu menghancurkan semuanya!" Teriak salah satu dari mereka.
"Apa urusannya Bayu mengamuk dengan ku?? Itu bukan urusanku," ucap Linda masa bodo dengan kelakuan musuhnya.
"Tentu itu urusanmu! Karena kau telah membatalkan perjodohan dengannya! "
"Itu masalah dia! Dan apakah dia tidak malu? Selama ini dia dengan gilanya menghabisi rekanku satu persatu!" Linda mulai geram dengan pernyataan bawahan Bayu.
"Itu urusan kelompok Rose!"
"Dan masalah pernikahan adalah urusan pribadiku! Kalian tidak berhak ikut campur! Dan satu lagi. Jika kalian masih main kotor seperti tadi, jangan salahkan jika kami akan menghabisi genk kalian." Ancam Linda, lalu melempar kursi yang ia duduki ke arah orang itu.
Usai memperingatkan orang-orang itu. Linda mengajak Satria meninggalkan gedung. Diikuti Ferry dan anak buahnya yang membawa bawahan Bayu.
Linda langsung menuju butik. Sedangkan anak buahnya, membawa mereka ke tempat tadi mereka dibawa dalam keadaan mata tertutup.
"Satria, apakah kamu tidak takut padaku?" Linda mulai sedikit khawatir jika Satria ketakutan.
"Tentu tidak, kita tetap akan menikah sesuai rencana. Dan kamu tidak usah khawatir. Aku bukan pengecut."
Satria menggenggam tangan Linda mencoba meyakinkannya.
Mendapat respon dan perlakuan dari Satria yang tidak keberatan dengan sisi lain Linda, membuatnya sedikit lega.
Kini Satria paham, asal keberanian Linda melawan kata-kata mamanya. Ternyata memang dia tidak salah memilih perempuan untuk menjadi istrinya. Perempuan yang kuat.
Sampai di sebuah butik, Linda mulai mencoba beberapa kebaya dan gaun.
Berkali-kali Linda mencoba namun belum ada yang pas di hati Satria. Hingga sebuah kebaya putih panjang dengan model yang pas melekat di tubuh Linda. Akhirnya Satria tersenyum melihatnya.
Meski dari tadi kebaya putih semua yang di coba Linda, namun baru ini yang cocok.
Setelah Linda mencoba kebaya, baru Linda mencoba gaun untuk resepsi .
Setelah lama memilih, akhirnya pilihan jatuh pada gaun berwarna peach, dengan taburan berlian disana. Begitu cantik di tubuh Linda, membuat Satria tidak bisa berhenti tersenyum.
"Apakah harus memakai pakaian yang ribet seperti ini pak?" Linda menatap Satria menuntut kepastian.
"Heh!" Satria menatap tajam karena dipanggil pak oleh Linda.
"Maksudku, Sat." Segera Linda membenahi kata-katanya.
"Apakah kurang bagus," tanya Satria.
"Apakah tidak ada yang lebih ringan dari ini? Gaun ini sungguh berat!" Linda mengangkat rok gaun itu sambil memanyunkan bibirnya.
"Tentu sayang, pilihlah yang menurutmu nyaman." Satria mendekati Linda lalu mengecup kening Linda dengan lembut.
Mendapat perlakuan seperti itu, wajah Linda memerah seketika.
"Oke, ini saja. Berada disini terlalu lama membuatku gila," ucap Linda pasrah.
Melihat itu, Satria semakin gemas tidak tahan untuk tidak memeluk Linda.