NovelToon NovelToon
Rajawali Sakti Dari Pesisir Selatan

Rajawali Sakti Dari Pesisir Selatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Dikelilingi wanita cantik / Identitas Tersembunyi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: Ebez

Jenar Karana harus mengejar para pembunuh yang telah mencelakai guru nya, Resi Mpu Tagwas dan membawa lari Mustika Naga Api milik Padepokan Pesisir Selatan. Menurut Resi Mpu Tidu, di kotak kayu yang menjadi tempat Mustika Naga Api ini tersimpan mengenai rahasia tentang dirinya.



Berbekal sepasang pedang pemberian eyang gurunya Maharesi Siwanata yang disebut sebagai Pedang Taring Naga dan Pedang Awan Merah serta ilmu kanuragan yang tinggi, Jenar Karana memburu gerombolan pembunuh itu yang konon katanya berasal dari Kerajaan Pajajaran.



Berhasilkah Jenar Karana melakukan tugasnya untuk merebut kembali Mustika Naga Api yang juga menyimpan rahasia jati diri nya? Temukan jawabannya dalam kisah RAJAWALI SAKTI DARI PESISIR SELATAN, tetap di Noveltoon kesayangan kita semua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Apa Syaratnya, Gusti Putri? "

Limbu Jati dan Jenar Karana dengan segera membalas penghormatan mereka sambil turut membungkukkan badan. Meskipun ada perbedaan keyakinan antara mereka, ini bukanlah sesuatu yang perlu dipermasalahkan.

Pada masa itu, pengikut Buddha dan Siwa hidup rukun berdampingan satu sama lain. Mereka tetap menganut agama yang dianut tanpa merendahkan agama orang lain hingga masyarakat Medang rukun dan damai. Bahkan jika ada yang sedang kerepotan membangun tempat ibadah, tak peduli agama yang dianut, mereka membantu tanpa pandang bulu.

"Danghyang tidak perlu berterimakasih pada kami, ini sudah kewajiban kami", ucap Jenar Karana segera.

" Buddha sungguh welas asih...

Ini semua adalah suratan takdir. Jika tanpa pertolongan dari pendekar berdua, mungkin aku dan kedua murid ku ini sudah menjadi korban keganasan Si Kandaga itu ", lanjut Danghyang Wratsangka.

"Aku sebenarnya penasaran, Danghyang. Kenapa orang-orang ini seperti sedang memburu mu? ", tanya Limbu Jati mengungkapkan rasa penasarannya.

" Panjang ceritanya, Pendekar..

Oh iya, apa pendekar berdua punya tempat bermalam? Kami sudah terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan, ingin beristirahat barang sejenak ", Danghyang Wratsangka menatap penuh harap pada Limbu Jati dan Jenar Karana bergantian. Wajah tua nya nampak letih, pun juga Mahyan dan Kadya yang terlihat sangat kelelahan.

" Kelompok kami bermalam di tengah hutan kecil ini, Danghyang..

Jika kau bersedia, silahkan ikuti kami kesana. Kalian bisa beristirahat dengan aman di sana ", lanjut Jenar Karana yang membuat Danghyang Wratsangka, Mahyan dan Kadya tersenyum lega.

Mereka pun segera kembali ke tempat rombongan Jenar Karana bermalam.

Kedatangan mereka berlima membuat Wanapati dan Gelarsena terkejut. Pun juga dengan Si Kundu yang sedang asyik mengorek bara api mencari singkong bakar nya.

Setelah Jenar Karana menjelaskan duduk permasalahannya, Wanapati dan Gelarsena memaklumi.

"Kalau begitu, silahkan ikut beristirahat disini Danghyang. Silahkan cari tempat yang ingin kau jadikan sebagai tempat bermalam", sambut Wanapati dengan ramah.

Malam berlalu dengan cepat, seolah-olah berlari mengejar pagi yang sudah mulai menunjukan tanda-tandanya di ufuk timur. Semburat rona jingga di langit timur diiringi oleh kokok ayam jantan menjadi bukti bahwa hari baru telah tiba.

Setelah membereskan barang bawaan, rombongan ini meninggalkan tempat bermalam itu menuju ke arah Kota Kadipaten Bhagawanta. Tak butuh waktu lama, mereka sampai di ibukota kadipaten kecil yang terletak di barat Mataram ini.

Sesuai dengan omongan yang terucapkan tadi malam, Danghyang Wratsangka memisahkan diri dari rombongan ini di ujung jalan.

"Semoga Buddha memberikan umur panjang untuk pendekar sekalian. Semoga kelak kita berjumpa lagi", ucap Danghyang Wratsangka sambil membungkukkan badan.

" Aku juga berdoa semoga Danghyang Wratsangka bisa mencapai apa yang menjadi tujuan. Hati-hati di jalan Danghyang.. ", sahut Jenar Karana dengan sopan.

Danghyang Wratsangka tersenyum tulus sebelum berbalik arah bersama dengan dua pengikutnya. Tak lama kemudian keduanya menghilang di ramainya orang yang berlalu lalang di jalanan Kota Bhagawanta.

Wanapati segera mengajak Jenar Karana, Limbu Jati dan Si Kundu ke kediaman ayahnya, Senopati Wanaraja, yang ada di selatan Istana Bhagawanta. Bersama dengan Gelarsena, mereka berlima pun bergegas menuju kesana.

Begitu mereka sampai di pintu masuk kediaman Senopati Wanaraja, seorang gadis muda dengan wajah cantik mengenakan pakaian ksatria putri sedang bertarung melawan dua orang prajurit. Terlihat gadis muda itu begitu luwes mengayunkan pedangnya yang membuat dua prajurit itu nampak kewalahan meladeni permainan pedangnya.

Thhrrrraaaaaannggg!!

Dhhaaaaaasssss dhhaaaaaasssss..

Ooouuuuuuuuggggghhh..!!!

Dua prajurit itu tersungkur setelah menerima dua tendangan keras dari putri ksatria ini.

"Ampun Gusti Putri, kami sudah tidak sanggup lagi. Latihannya sampai disini saja.. ", ucap salah satu prajurit sambil meringis memegangi perutnya.

" Tapi kita baru bertanding 50 jurus, kenapa minta berhenti? Payah sekali kalian ini..!! ", jawab si putri ksatria yang tidak ingin latihannya berhenti.

" Gusti Putri Widowati sangat hebat, kami berdua bukan tandingan Gusti Putri.. ", sergah satu prajurit lainnya segera.

" Tapi... "

EHHEEMMMM EHHEEMMMM...!!!!

Suara deheman keras ini membuat si putri ksatria yang memiliki nama Dewi Widowati ini langsung menoleh ke arah sumber suara. Mata nya melebar tatkala ia melihat sosok yang berdiri di pintu masuk itu.

"Kangmas Wanapati, kau pulang...! ", teriak Dewi Widowati sambil menyarungkan pedangnya dan berlari ke arah pintu masuk kediaman Senopati Wanaraja.

Dua prajurit yang menjadi lawan latih tanding Dewi Widowati itu pun langsung menghela nafas lega.

" Jangan terlalu memaksa mereka, Widowati..

Kemampuan mereka masih dibawah mu. Jika kau terus memaksa orang untuk menjadi lawan latih tanding mu, itu sama juga kau menindas mereka ", nasehat Wanapati sambil tersenyum.

" Ini juga untuk meningkatkan kemampuan beladiri mereka, Kangmas.

Kalau mereka cuma bermalas-malasan saja tidak ada pekerjaan, bisa bisa mereka menjadi lembek seperti kue kukus ", jawab Dewi Widowati tak mau kalah.

Wanapati hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar jawaban adik perempuan nya. Sedangkan Dewi Widowati langsung melirik ke arah Jenar Karana yang sedari tadi hanya diam saja.

Sejak awal kedatangan Wanapati bersama Jenar Karana dan yang lainnya, penampilan pemuda berkulit kuning ini sudah menarik perhatian nya. Sekalipun pakaian nya sedikit lusuh termakan usia namun tak bisa menyembunyikan ketampanan pemuda ini. Tubuh nya juga nampak kekar dengan otot-otot yang menonjol menjadi penambah nilai tersendiri bagi penampilan Jenar Karana.

"Oh ini adalah kawan ku yang telah menyelamatkan nyawa ku di Watak Bagelen...

Perkenalkan namanya Jenar Karana dari Padepokan Pesisir Selatan. Dia ini adalah calon pengawal Gusti Dyah Rangga ke Galuh Pakuan awal purnama depan", Jenar Karana menangkupkan telapak tangannya ke depan dada sambil membungkuk hormat pada Dewi Widowati usai Wanapati menerangkan dirinya.

"Kalau yang belakang itu Saudara Limbu Jati. Dia juga saudara seperguruan dari Jenar Karana ini... "

Belum selesai Wanapati bicara, Si Kundu yang sejak awal terpesona dengan kecantikan Dewi Widowati langsung maju di depan Jenar Karana dan membungkukkan badannya.

"Kalau hamba Kundu, Gusti Putri. Kawan karib Jenar Karana dan adik seperguruan dari Kakang Limbu Jati.. "

"Aku tidak tanya kau... ", jawab Dewi Widowati dengan ketus.

Omongan Dewi Widowati sontak membuat Si Kundu kehilangan suaranya. Melihat sikap Si Kundu yang memalukan, Limbu Jati segera menggelandang tangannya agar ia minggir ke belakang.

"Bikin malu saja.. ", geram Limbu Jati lirih namun masih terdengar di telinga Si Kundu. Dasar Si Kundu keras kepala, ia masih berusaha membela diri.

" Aku kan cuma memp...

Jlleeeeeeggg...

Waduhh biyung, kaki ku....!! "

Limbu Jati yang tidak tahan lagi melihat sikap Si Kundu yang tak mengerti tata krama di kalangan bangsawan, langsung menginjak keras jempol kaki nya Si Kundu yang sebesar pisang klutuk. Akibatnya pemuda sepantaran Jenar Karana ini langsung mengaduh kesakitan. Jempol kakinya sakit bukan main seperti baru ditimpa batu besar.

Erangan Si Kundu langsung memantik perhatian semua orang termasuk Jenar Karana yang langsung menoleh ke belakang.

"Ada apa Kakang Limbu? Kenapa Si Kundu teriak teriak begitu? ", tanya Jenar Karana segera.

" Ada nyamuk di ujung jempol kakinya. Kau kan tahu aku paling benci dengan nyamuk, jadi ku injak nyamuk nya.. ", jawab Limbu Jati sekenanya.

" Eh Kang Limbu, tidak ada nyamuk ya di jempol kaki ku. Itu hanya alasan mu saja agar bisa menginjak nya bukan? ", protes Si Kundu segera.

" Sudahlah Ndu, jangan dibikin panjang. Ingat pesan Guru, kau harus patuh pada ku dan Kakang Limbu selama perjalanan. Apa kau ingin pulang ke Padepokan Pesisir Selatan? ", ancam Jenar Karana dengan halus. Dia paling tahu kalau Si Kundu paling takut jika disuruh pulang.

" Ya ya jangan begitu Nar..

Iya-iya deh aku tak akan mempermasalahkan ini lagi. Aku ikut apa yang kau katakan ", ujar Si Kundu pasrah. Saat ia melirik ke arah Limbu Jati, pemuda berbadan gempal terlihat tersenyum penuh kemenangan dan Si Kundu pun dongkol setengah mati melihatnya tapi ia tak berdaya.

" Maafkan ketidaksopanan kawan hamba Gusti Putri. Dia dari dusun, kurang tahu sopan santun dan tata krama para bangsawan. Mohon Gusti Putri memaklumi ", ucap Jenar Karana dengan penuh hormat.

Hemmmmmmmmm....

" Minta maaf? Boleh saja. Tapi ada syaratnya yang harus kau penuhi.. ", balas Dewi Widowati sambil tersenyum kecil. Tentu saja Jenar Karana kebingungan dengan maksud Dewi Widowati. Segera ia bertanya pada adik Wanapati itu,

" Apa syaratnya Gusti Putri? "

1
🗣️🏡s⃝ᴿ GueJoe🦅
Blondo wong jowo iki 🤭 klo Belanda negara di Eropa 😄
Mujib
/Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile/
Mujib
🤣🤣🤣
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee/
Mujib
😅😅😅
Mujib
👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕
Mujib
💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!