NovelToon NovelToon
Perjalanan Dewa Terkuat Menuju Puncak

Perjalanan Dewa Terkuat Menuju Puncak

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Xi Nda

Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.

Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.

Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.

Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.

Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Gerbang kota itu terbuat dari batu abu-abu yang sudah ditumbuhi lumut di sudut-sudutnya, dan dua penjaga bersandar pada tombak mereka sambil mengunyah tebu.

Yu Tian berjalan melewati mereka dengan jubah yang separuh hangus dan darah kering di lengan bajunya, dan salah satu penjaga mengangkat alis tetapi tidak berkata apa-apa.

Papan kayu di atas gerbang bertuliskan Kota Liuyun dengan cat merah yang sudah mengelupas. Di balik gerbang, jalan batu yang lebar penuh orang yang berdesakan dan berseru, dan aroma adonan goreng, kecap, dan asap arang menghantam hidungnya sampai perutnya berbunyi nyaring.

Ia berhenti sejenak di tengah arus orang itu, membiarkan mereka melewati bahunya dari kedua sisi. Pedagang kain menggulung dagangan di depan toko, bocah-bocah berlari sambil memegang layang-layang, dan seorang perempuan tua menawarkan kue beras dari keranjang bambu. Tidak ada yang menatapnya dengan takut dan tidak ada yang berteriak "iblis".

'Dunia tidak tahu aku siapa. Sudah lama aku tidak merasakan ketenangan itu.' Ia menyentuh gagang pedang di sabuknya, lalu mengencangkan tali kantong penyimpanan di pinggangnya dan masuk ke gang yang lebih sepi.

Di ujung gang itu berdiri sebuah toko bertulis Rumah Gadai Tiga Koin di papan hitamnya. Aroma kayu tua dan minyak lampu menyambutnya begitu ia mendorong pintu, dan seorang lelaki gemuk berkacamata bulat sedang menghitung manik-manik di balik meja panjang. "Selamat datang. Barang apa yang hendak digadai atau dijual?"

Yu Tian mengeluarkan lima butir batu roh dari kantong dan menjajarkannya di atas meja. Batu-batu itu berpendar putih susu dengan kabut halus yang berputar di dalamnya, dan cahayanya mengisi ruangan itu sampai bayangan di dinding bergeser.

Lelaki gemuk itu menjatuhkan manik-maniknya dengan bunyi gemerincing, mengangkat satu batu dengan dua jari yang gemetar, dan memicingkan mata lewat kacamatanya. "Ini... Kualitas tinggi. Dari mana Tuan memperolehnya?"

"Itu bukan urusanmu." Yu Tian menyandarkan siku ke meja dengan tenang. "Berapa harganya?"

Lelaki itu menelan ludah, dan matanya bergeser cepat ke arah pintu belakang sebelum kembali pada batu itu. Ia menghitung dengan jarinya di udara, berhenti, lalu menghitung lagi. "Seratus tael perak. Untuk kelimanya."

'Harga sebenarnya sepuluh kali lipat dari itu.' Yu Tian menatap wajah pedagang itu, dan ia tahu lelaki itu juga tahu. Tetapi menawar hanya akan membuatnya diingat, dan menjual lebih banyak hanya akan mengundang pertanyaan. Ia menegakkan badan dan mengangguk pendek. "Setuju. Perak, bukan wesel."

Pedagang itu hampir terhuyung karena lega. Ia membuka sebuah peti besi di belakang meja dan menghitung seratus batang perak kecil dengan tangan yang gemetar, menyusunnya ke dalam kantong beludru.

Yu Tian menimbang kantong itu di telapak tangannya, menyimpannya di bawah jubah, dan keluar dari toko tanpa menoleh.

Di toko pakaian dua gang dari sana, ia menukar jubah hangusnya dengan setelan abu-abu polos yang bersih dan sepasang sandal baru, dengan harga lima puluh keping tembaga. Di apotek di pojok jalan, ia membeli segulung perban dan sebotol arak obat.

Ketika ia akhirnya menemukan penginapan di ujung jalan sungai, hari sudah mulai senja, dan lentera-lentera mulai dinyalakan di sepanjang teras kayu. Papan di atas pintunya bertuliskan Penginapan Bambu Hijau.

Seorang lelaki setengah baya bertubuh kecil dengan kumis tipis berdiri di balik meja kayu, dan senyumnya mengembang begitu melihat pelanggan masuk. "Selamat datang di Bambu Hijau, Tuan Muda. Aku Dong, orang sini memanggilku Paman Dong. Mau menginap berapa malam?"

"Satu kamar. Yang paling tenang." Yu Tian meletakkan sebatang perak kecil di atas meja. "Satu tael."

Paman Dong menatap batang perak itu lama sekali, lalu menatap wajah Yu Tian, lalu menatap perak itu lagi. Kumisnya bergerak-gerak. "Tuan Muda... satu tael itu cukup untuk dua bulan penuh di sini. Bahkan dengan sarapan."

"Aku mungkin akan tinggal sedikit lebih lama." Yu Tian menyingkirkan debu dari lengan jubah barunya. "Kalau suatu hari aku menghilang sebelum dua bulan habis, anggap saja sisanya sedekah."

Paman Dong membungkuk begitu dalam sampai keningnya hampir menyentuh meja, dan suaranya bergetar. "Terima kasih, Tuan Muda, terima kasih! Kamar terbaik di loteng belakang, jendelanya menghadap sungai. Anak perempuanku akan mengantarkan air hangat sekarang juga."

"Tidak perlu membungkuk." Yu Tian mengambil kunci yang disodorkan dan menaiki tangga kayu yang berderit tanpa menoleh lagi.

Kamar di loteng belakang itu sempit tetapi bersih, dengan ranjang kayu, meja bundar, dan jendela yang membuka ke arah sungai yang berkilau oleh lentera.

Yu Tian meletakkan kedua pedangnya di atas meja, duduk di tepi ranjang, dan membuka balutan di rusuknya. Lukanya sudah menutup separuh, tetapi tepi kulitnya masih merah dan panas. Ia menuang arak obat, menggertakkan gigi ketika cairan itu menyengat, lalu membalutnya dengan perban baru dan menelan dua pil dari kantong salah satu tetua.

Ia berbaring dengan satu lengan di bawah kepala, menatap langit-langit kayu yang gelap.

'Mayat mereka pasti sudah ditemukan. Sekte itu tidak akan duduk diam.' Ia memiringkan kepala ke arah jendela dan mendengar tawa anak-anak di jalan sungai, bunyi dayung, dan gonggongan anjing di kejauhan. Ia menatap pedang bersegel di atas meja yang berkilau redup oleh cahaya lentera. 'Aku harus berhati-hati. Terlalu lama di satu tempat akan membuat mereka menemukanku.'

1
Naisha Anindya
semangat nulisnya author....
Naisha Anindya
Gaya bahasanya ringan tapi sangat mengalir. Sekali buka halaman pertama, langsung susah buat berhenti baca sampai tamat
Naisha Anindya
Ketegangannya dibangun dengan sangat konsisten. Bikin penasaran di setiap akhir bab dan sukses bikin begadang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!