PERANG TANPA PAHLAWAN
Ardan hanyalah seorang pemuda biasa dari desa kecil yang tidak pernah membayangkan dirinya akan menginjakkan kaki di medan perang. Ia bukan bangsawan, bukan kesatria terpilih, dan tidak memiliki kekuatan istimewa. Baginya, kehidupan sederhana bersama keluarga sudah lebih dari cukup.
Namun semuanya berubah ketika perang pecah dan desanya menjadi salah satu korban pertama. Kehilangan rumah dan keluarganya membuat Ardan bergabung dengan militer, bukan demi kejayaan, melainkan hanya untuk bertahan hidup.
Di medan perang, ia menemukan kenyataan yang jauh lebih mengerikan daripada cerita tentang kepahlawanan. Ia menyaksikan sahabat-sahabatnya gugur, desa-desa terbakar, dan ribuan manusia saling membunuh tanpa benar-benar memahami alasan mereka berperang.
Seiring waktu, Ardan naik pangkat dari prajurit biasa hingga menjadi seorang komandan. Setiap kenaikan pangkat memberinya kekuasaan lebih besar, tetapi juga tanggung jawab yang semakin berat. Setiap perintah yang ia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3 — Tombak Pertama
Sebelum fajar, seseorang menendang tiang tenda dan berteriak dengan suara yang membuat semua orang terlonjak bangun.
"BANGUN! BANGUN, PEMALAS! MATAHARI TIDAK MENUNGGU KALIAN!"
Ardan membuka mata dalam kegelapan, jantungnya berdebar sebelum otaknya sempat memahami apa yang terjadi.
Di sekelilingnya, dua belas orang lain terhuyung bangun, saling menabrak dalam ruang sempit tenda.
Kael sudah berdiri lebih dulu, entah bagaimana rambutnya masih rapi.
"Selamat datang di hari pertama," katanya sambil menguap, "dari sekian ratus hari yang akan terasa seperti ini."
Di luar, dingin pagi menusuk kulit.
Kabut tipis menggantung di atas lapangan latihan, dan obor-obor menyala di sepanjang pagar kayu.
Ratusan pemuda lain sudah berbaris, bernapas membentuk kepulan putih.
Ardan dan Tobin berdiri di antara mereka, canggung, tidak tahu harus menghadap ke mana.
Seorang lelaki berjalan di depan barisan. Tubuhnya besar, wajahnya keras seperti batu yang terus terpapar cuaca.
Kumis tebalnya sama seperti sersan pendaftaran, dan bekas luka serupa juga menghiasi wajahnya, seolah Karhold hanya memproduksi satu jenis wajah untuk para sersannya.
"Aku Sersan Brogan," katanya, suaranya menggelegar tanpa perlu berteriak.
"Dalam enam minggu ke depan, aku akan mengubah kalian, para petani dan tukang kayu dan penjual ikan, menjadi sesuatu yang bisa berdiri di garis depan tanpa langsung mati. Aku tidak menjanjikan kalian akan menjadi pahlawan. Aku hanya menjanjikan kalian punya peluang lebih besar untuk pulang."
Ia berhenti di depan seorang pemuda kurus yang gemetar hebat.
"Kau. Nama."
"D-Denny, Pak."
"Denny. Kau takut?"
"Y-ya, Pak."
"Bagus." Brogan melangkah lagi. "Siapa pun yang bilang tidak takut adalah pembohong atau sudah mati. Yang membedakan kalian nanti bukan siapa yang paling berani. Tapi siapa yang tetap berdiri di tempatnya meski takut."
Ia berhenti di depan gudang senjata, sebuah bangunan panjang beratap rendah. "Ambil tombak kalian. Sekarang."
---
Tombak itu lebih berat daripada yang Ardan bayangkan.
Panjangnya hampir dua kali tinggi badannya, dengan mata besi di ujungnya yang berkilau tumpul.
Ketika ia mencoba mengangkatnya seperti mengangkat sabit, ujungnya justru mengayun liar dan hampir mengenai kepala Tobin yang berdiri di sampingnya.
"Woi!" Tobin melompat mundur.
"Maaf!"
"Ganti pegangan," kata Kael dari belakang mereka, sambil menunjukkan caranya sendiri. Tangannya jauh lebih rileks di gagang kayu itu.
"Jangan cengkeram seperti mencekik ayam. Biarkan bobotnya bekerja untukmu."
Ardan mencoba lagi. Sedikit lebih baik.
Latihan pagi itu adalah barisan.
Berdiri rapat bahu-membahu, tombak ditegakkan, lalu diturunkan serentak ke posisi menyerang atas aba-aba.
Sederhana di atas kertas.
Dalam praktiknya, kekacauan.
"TURUN!" teriak Brogan.
Sebagian barisan menurunkan tombak lebih cepat. Sebagian lebih lambat. Ujung tombak saling bertabrakan, seseorang menjerit ketika gagang mengenai pelipisnya, dan seluruh barisan runtuh seperti kartu domino.
"BERDIRI LAGI! DARI AWAL!"
Mereka mengulanginya. Lagi. Lagi. Matahari mulai naik, dan keringat membasahi punggung Ardan meski udara masih dingin. Lengannya gemetar setiap kali mengangkat tombak, ototnya berteriak protes.
"TURUN!"
Kali ini sedikit lebih rapi. Tetap tidak sempurna, tetapi Brogan mengangguk tipis, satu-satunya bentuk pujian yang mungkin akan mereka dapatkan hari itu.
---
Siang hari, mereka diberi waktu istirahat singkat untuk makan. Sup yang dijanjikan Kael memang seburuk yang ia katakan, cairan keruh dengan potongan sayur yang tidak jelas jenisnya, tetapi Ardan memakannya sampai habis. Perutnya terlalu lapar untuk protes.
"Kau bergerak lumayan untuk orang yang baru pertama pegang tombak," kata Kael, duduk di sebelahnya di atas balok kayu.
"Kau sudah pernah?"
"Aku pemanah, bukan tukang tombak. Tapi ayahku pemburu. Dia mengajariku memegang apa pun yang punya gagang sejak aku bisa berjalan." Kael memutar sendoknya di dalam mangkuk tanpa benar-benar berniat memakannya. "Kau dari Elar, kan?"
Ardan mengangguk pelan.
"Aku dengar apa yang terjadi di sana." Kael tidak menatapnya, matanya fokus pada mangkuk.
"Aku tidak akan bertanya apa-apa. Hanya ingin bilang, aku juga kehilangan sesuatu di Harven. Rumahku, bengkel ayahku, semuanya."
"Keluargamu?"
"Selamat. Mereka mengungsi ke utara sebelum semuanya terjadi. Aku yang memilih ke sini." Untuk pertama kalinya sejak Ardan mengenalnya, senyum Kael memudar sepenuhnya, hanya sesaat, sebelum kembali seperti topeng yang dipasang ulang.
"Lucu, kan? Aku bisa saja aman bersama mereka. Tapi aku terus memikirkan orang-orang yang tidak seberuntung keluargaku."
Ardan tidak tahu harus berkata apa. Tetapi untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sendirian dalam sesuatu yang sulit ia jelaskan.
"Terima kasih," katanya akhirnya, "sudah membuat Tobin tertawa kemarin malam."
Kael mengangkat alis. "Itu bukan usaha keras. Aku memang lucu."
"Kau memang sombong."
"Itu juga bakat alami." Kael menyeringai, dan kali ini senyum itu terasa lebih nyata.
---
Sore harinya, latihan berlanjut dengan hal yang lebih berat: sparing menggunakan tombak kayu berlapis kain, melawan sesama rekrut.
Ardan berhadapan dengan seorang pemuda bertubuh besar bernama Farin, mantan tukang daging dari sebuah kota kecil di utara.
"Jangan cemas," kata Farin sambil menyeringai, mengangkat tombak latihannya. "Aku akan pelan-pelan."
Ia tidak pelan-pelan.
Pukulan pertama membuat Ardan terjungkal ke tanah, punggungnya membentur pasir dengan keras hingga napasnya sempat terhenti. Sorak-sorai kecil terdengar dari rekrut lain yang menonton.
"Bangun," kata Brogan, berdiri di pinggir arena dengan tangan bersedekap. "Perang tidak menunggu kau siap."
Ardan berdiri, dadanya masih sakit. Ia mengangkat tombaknya lagi.
Kali ini ia mencoba mengingat gerakan sabit, bukan gerakan menombak yang diajarkan pagi tadi.
Ketika Farin maju, Ardan tidak menghadapinya secara langsung, melainkan bergeser ke samping, seperti menghindari batang gandum yang terlalu tebal untuk dipotong sekaligus. Ujung tombaknya menyentuh rusuk Farin sebelum lelaki itu sempat mengoreksi arah.
Farin terkesiap. "Lumayan."
Mereka bertukar beberapa pukulan lagi, dan Ardan jatuh dua kali lebih banyak daripada berhasil menyerang. Tetapi di akhir hari, ketika tubuhnya penuh memar dan setiap otot terasa seperti dipukuli, ia menyadari sesuatu.
Ia tidak berpikir tentang Elar sepanjang sparing itu. Untuk beberapa menit, pikirannya hanya berisi gerakan, jarak, dan napas.
Malam itu, berbaring di tikar dengan tubuh sakit di mana-mana, Ardan mendengarkan suara Denny menangis pelan di sudut tenda, mencoba tidak terdengar.
Tidak ada yang menegurnya.
Beberapa orang lain juga terdengar terisak, atau terjaga dengan mata kosong menatap langit-langit.
Kael berbisik dari tikarnya, cukup pelan agar hanya Ardan dan Tobin yang mendengar.
"Kalian tahu apa yang kupelajari hari ini?"
"Apa?" bisik Tobin.
"Kita semua akan mati kalau sendirian." Suara Kael kehilangan nada bercandanya sejenak.
"Tapi mungkin, kalau kita saling menjaga, beberapa dari kita akan pulang."
Tidak ada yang menjawab.
Tetapi dalam kegelapan itu, Ardan meraih tangan Tobin di satu sisi, dan mendengar Kael menggeser tikarnya sedikit lebih dekat di sisi lain.
Tiga orang asing seminggu lalu. Kini, entah bagaimana, mulai terasa seperti sesuatu yang lain.
Minggu kedua di Karhold, Ardan mulai belajar sesuatu yang tidak diajarkan Sersan Brogan di lapangan latihan: cara mengingat nama.
Ia belajar itu dari Kael, yang entah bagaimana sudah hafal nama semua orang di tenda dua puluh tiga hanya dalam tiga hari.
"Kenapa penting?" tanya Ardan suatu sore, ketika mereka duduk membersihkan tombak setelah latihan.
"Karena kalau kau mengenal seseorang," jawab Kael sambil menggosok mata tombaknya dengan kain, "kau akan berusaha lebih keras untuk memastikan dia tidak mati di sampingmu." Ia menunjuk dengan dagu ke arah Denny, si pemuda kurus yang masih sering gemetar di setiap sesi sparing.
"Kalau dia hanya 'anak kurus di tenda dua puluh tiga', mudah untuk tidak peduli kalau dia jatuh dan tidak bangun lagi. Tapi kalau dia 'Denny, yang dulu bekerja di toko roti ayahnya, yang paling suka menceritakan resep kue almond', kau akan menariknya berdiri."
Ardan menatap Kael lama. "Kau memikirkan ini semua sendiri?"
"Aku memikirkan banyak hal saat memanah. Target diam lama sekali."
Malam itu, Ardan mulai menghafal.
Denny, si tukang roti kurus dari kota kecil bernama Pell.
Farin, mantan tukang daging bertubuh besar yang ternyata sangat takut pada laba-laba.
Orin, lelaki paling tua di tenda mereka, dulunya nelayan, dengan tiga anak menunggunya pulang.
Vess, yang jarang bicara tetapi selalu menyisihkan separuh rotinya untuk anjing liar yang berkeliaran di sekitar barak.
Satu per satu, wajah-wajah asing itu mulai punya bentuk. Punya cerita. Punya alasan untuk hidup, dan alasan bagi Ardan untuk peduli apakah mereka hidup.
---
Latihan semakin berat seiring minggu berjalan. Selain tombak, mereka mulai diajari formasi: bagaimana berdiri berdempetan dengan perisai, bagaimana menahan serangan kavaleri dengan ujung tombak menghadap keluar, bagaimana bergerak sebagai satu kesatuan alih-alih dua belas orang yang panik sendiri-sendiri.
Brogan tidak pernah memuji secara terbuka, tetapi Ardan mulai memahami bahasanya.
Anggukan singkat berarti cukup baik.
Diamnya lebih lama dari biasa berarti benar-benar buruk.
Dan suatu hari, setelah barisan mereka berhasil menahan serangan tiruan tanpa satu pun yang roboh, Brogan berkata sesuatu yang mendekati pujian.
"Kalian tidak lagi seperti sekumpulan ayam."
Dari mulut Brogan, itu setara dengan pesta kemenangan.
Kael merayakannya dengan menyelundupkan sebotol kecil anggur murahan dari seorang pedagang di barak, dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak Elar terbakar, Ardan tertawa.
Benar-benar tertawa, bukan hanya senyum tipis yang dipaksakan, ketika Kael mencoba menirukan cara Brogan berjalan dan hampir tersandung tiang tenda sendiri.
Tobin, yang duduk di sampingnya, menyenggol bahunya. "Kau terdengar seperti dirimu lagi."
"Aku tidak tahu apakah aku masih diriku yang dulu."
"Kau tidak harus jadi diri yang dulu." Tobin menatap api unggun kecil di tengah tenda. "Mungkin kau hanya sedang jadi diri yang baru. Itu tidak selalu buruk."
Ardan tidak menjawab, tetapi menyimpan kalimat itu di suatu tempat di dalam dirinya.
---
Bukan semua orang di Karhold berteman baik. Ada juga Garrek.
Garrek adalah rekrut dari tenda sebelah, bertubuh tinggi dengan rahang persegi dan mata yang selalu mencari kelemahan orang lain.
Ia anak seorang pedagang kaya di kota provinsi, dan tidak pernah lupa mengingatkan orang lain akan hal itu.
"Petani," katanya suatu pagi, menghalangi jalan Ardan menuju gudang senjata. "Aku dengar kau dari desa yang habis dibakar. Pantas saja kau begitu bersemangat main perang-perangan."
"Aku tidak main," jawab Ardan datar, mencoba melewatinya.
Garrek menahan bahunya. "Kau tahu kenapa orang-orang seperti kalian selalu ada di garis depan? Karena kalian murah. Tidak ada yang menangis kalau seorang petani mati. Tapi kalau seorang anak pedagang mati..." Ia menyeringai. "Itu baru kerugian."
"Menyingkir, Garrek." Suara Kael muncul dari belakang, nadanya kehilangan nada bercanda yang biasa.
"Atau aku akan bilang pada Brogan kau menghabiskan waktu latihan untuk berdebat soal harga diri daripada memegang tombak dengan benar."
Garrek menatap Kael sejenak, menimbang, lalu mendengus dan berjalan pergi.
"Jangan dengarkan dia," kata Kael setelah Garrek cukup jauh. "Orang seperti itu hanya merasa besar kalau membuat orang lain merasa kecil."
Tapi kata-kata Garrek menempel di kepala Ardan lebih lama daripada yang ia mau akui.
*Kalian murah.* Ia memikirkan wajah-wajah di tenda dua puluh tiga, satu per satu yang baru saja ia hafal namanya. Denny. Farin. Orin. Vess.
Apakah nyawa mereka benar-benar dihitung berbeda dari nyawa seorang bangsawan?
---
Minggu keenam, hari terakhir sebelum penempatan, Sersan Brogan mengumpulkan seluruh rekrut di lapangan utama.
"Besok," katanya, suaranya lebih berat dari biasa, "kalian bukan lagi rekrut. Kalian prajurit Valdren. Sebagian dari kalian akan ditempatkan di sini, mempertahankan Karhold. Sebagian akan dikirim ke garis depan di dekat Sungai Aldis, tempat pasukan Ravharn sedang mendorong maju."
Ia berjalan menyusuri barisan, menatap satu per satu wajah muda di depannya.
"Aku sudah melatih rekrut selama dua puluh tahun. Aku tahu wajah kalian sekarang, penuh semangat, penuh keyakinan bahwa kalian sudah siap." Ia berhenti.
"Kalian belum siap. Tidak ada yang pernah benar-benar siap. Tapi aku sudah melakukan yang aku bisa untuk memastikan kalian punya peluang."
Ia mengangkat suaranya. "Ingat ini: tombak kalian bisa menyelamatkan nyawa kalian. Tapi orang di sebelah kalian, yang menjaga sisi yang tidak bisa kalian lihat sendiri, itu yang benar-benar akan membuat kalian pulang. Jaga dia. Dan biarkan dia menjaga kalian."
Malam itu, daftar penempatan diumumkan. Ardan berdiri berdesakan bersama yang lain di depan papan pengumuman, jantungnya berdebar saat matanya menyusuri nama-nama.
*Ardan — Sungai Aldis, Resimen Ketiga.*
*Tobin — Sungai Aldis, Resimen Ketiga.*
*Kael — Sungai Aldis, Resimen Ketiga.*
Ia menghembuskan napas yang tidak ia sadari sedang ia tahan. Mereka tetap bersama.
Di sampingnya, Kael membaca nama yang sama dan menyeringai, meski matanya tidak sepenuhnya menyembunyikan kecemasan. "Sungai Aldis. Aku dengar itu tempat pertempuran paling sengit sekarang."
"Kau takut?" tanya Tobin.
"Tentu saja aku takut." Kael menepuk pundak mereka berdua, satu tangan di masing-masing bahu. "Tapi setidaknya aku takut bersama teman-temanku."
Ardan menatap papan pengumuman sekali lagi, ke nama-nama yang berjajar, banyak di antaranya sudah ia hafal wajah dan ceritanya. Denny, ditempatkan di Karhold. Farin dan Orin, juga ke Sungai Aldis. Vess, ke garis pertahanan utara.
Ia mengingat kata-kata Brogan. *Orang di sebelah kalian yang akan membuat kalian pulang.*
Besok, mereka akan berangkat menuju medan perang sungguhan, bukan lagi latihan tiruan dengan tombak berlapis kain.
Ardan tidak tahu apa yang menunggu di Sungai Aldis.
Tetapi untuk pertama kalinya sejak malam Elar terbakar, ia tidak merasa sepenuhnya sendirian menghadapinya.