FOLLOW IG : @LALA_SYALALA13
Demi membiayai pengobatan adiknya yang sakit-sakitan dan melunasi hutang peninggalan orang tuanya, Raina Angela rela melupakan masa lalunya sebagai anak orang kaya dan pergi jauh dari ibu kota.
Lima tahun kemudian dia mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu di sebuah rumah mewah ibu kota. Tanpa disadari, mansion tempatnya bekerja adalah milik keluarga Noah Raja Rajendra yaitu mantan kekasih yang terpaksa Raina tinggalkan secara kejam lima tahun lalu dengan alasan orang ketiga, demi menyelamatkan masa depan pria itu.
Pertemuan tak terhindarkan membenturkan kembali rasa bersalah Raina dengan kebencian serta luka mendalam Noah yang telah berubah menjadi manusia es.
Bagaimana kelanjutannya???
Yukkkk baca yaaaa!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rapat Lagi!
Perkataan Mbok Darmi menohok tepat di ulu hati Raina. Semuanya benar. Bertahan di desa terpencil ini memang memberinya ketenangan dari hiruk-pikuk masa lalu, tetapi ketenangan itu tidak bisa membayar biaya obat adiknya. Ketenangan itu tidak bisa menghentikan langkah para penagih hutang yang perlahan mulai menemukan jejak mereka.
"Berapa gajinya kalau boleh tahu, Mbok?" tanya Raina pelan, keputusannya mulai goyah.
"Saudara Mbok bilang, buat awal saja bisa dapat enam sampai delapan juta sebulan, Na. Itu bersih, makan dan tempat tinggal ditanggung. Kalau kamu mau lembur bantu urus hal lain, bisa ditambah lagi," jelas Mbok Darmi mantap.
Raina menelan ludahnya. Enam juta rupiah sebulan? Di desa ini, untuk mendapatkan lima ratus ribu saja Raina harus memeras keringat mencuci baju puluhan tetangga dari pagi hingga malam sampai jari-jarinya terkelupas.
Uang sebesar itu bisa membelikan Lio obat yang layak, menyewa tabung oksigen yang selalu penuh, dan mungkin... sedikit demi sedikit mencicil bunga hutang mendiang ayahnya agar hidup mereka tidak terus diburu ketakutan.
"Kerjaannya berat, Mbok?" tanya Raina lagi.
"Ya namanya beres-beres rumah mewah, Na. Pasti capek. Tapi Mbok kenal kamu dari kecil sejak kamu pindah ke sini. Kamu itu pekerja keras, nggak pernah mengeluh, bersih, dan sopan. Mbok yakin kamu pasti betah dan disukai sama majikannya di sana." serunya.
Mbok Darmi menggenggam erat jemari Raina. "Gimana, Na? Mbok cuma mau bantu. Kasihan kamu, kasihan Lio. Kamu masih muda, jalanmu masih panjang. Jangan bunuh dirimu pelan-pelan di desa ini." ucap Mbok Darmi memberikan semangat kepada Raina.
Raina memejamkan mata sejenak. Dalam keheningan itu, dia mendengar suara batuk Lio dari dalam kamar. Batuk yang begitu menyiksa dan menyayat hati. Raina tahu, dia tidak punya pilihan lagi. Gengsi, ketakutan masa lalu, dan trauma akan kota ibu kota harus dia buang jauh-jauh demi bertahan hidup.
Raina membuka matanya. Tatapannya kini kembali tajam, penuh tekad bulat yang memancar dari jiwa tangguhnya.
"Baik, Mbok," ucap Raina mantap. "Raina mau terima pekerjaannya. Kapan saya harus berangkat?"
Mbok Darmi tersenyum lega, matanya berkaca-kaca melihat ketegaran gadis di hadapannya.
"Lusa, Na. Anak Mbok yang bakal urus tiket travel kalian dari sini langsung ke ibu kota. Kamu persiapin baju-baju kalian. Biar nanti Mbok bantu kemas-kemas barangnya Lio." ucap Mbok Darmi.
"Terima kasih banyak ya, Mbok. Raina nggak tahu harus balas kebaikan Mbok Darmi pakai apa lagi," ujar Raina dengan nada penuh rasa syukur.
"Nggak usah mikirin balasan, Na. Mbok cuma mau lihat kamu dan Lio bahagia dan aman," kata Mbok Darmi seraya mengusap bahu Raina.
"Ya sudah, Mbok mau pulang dulu, mau nelepon saudara Mbok di Jakarta buat ngabarin hal ini." pamitnya.
"Iya, Mbok. Hati-hati."
Setelah Mbok Darmi melangkah pergi dan menghilang di belokan jalan tanah desa, Raina menyandarkan punggungnya pada pintu kayu yang tertutup. Dia menarik napas panjang, meresapi udara dingin desa yang sebentar lagi akan ditinggalkannya.
Ibu kota.
Tempat di mana ayahnya pernah dihormati, sebelum akhirnya dihancurkan oleh rekan bisnisnya sendiri hingga depresi dan mengalami kecelakaan maut. Tempat yang telah merenggut kebahagiaan masa remajanya. Dan kini, tempat itu pula yang menjadi satu-satunya harapan bagi Raina untuk menyambung hidup adiknya.
Raina melangkah kembali ke kamar Lio. Dia duduk di tepi ranjang, menatap wajah adiknya yang tertidur lelap karena kelelahan setelah batuk.
"Lio," bisik Raina pelan, mengusap dahi adiknya dengan lembut.
"Kita bakal balik ke ibu kota. Kakak janji, Kakak bakal lindungi kamu. Apapun yang terjadi di sana nanti, Kakak nggak akan membiarkan siapapun menyakiti kita lagi." ucap Raina.
Raina tahu perjalanan ini tidak akan mudah. Menjadi seorang pembantu di rumah mewah ibu kota jelas akan menurunkan derajat sosialnya dibanding masa lalunya. Namun, bagi Raina Angela, harga diri tidak diukur dari jabatan atau pakaian yang dikenakan, melainkan dari sejauh mana dia mampu berdiri tegak dan melindungi orang yang dicintainya di tengah badai kehidupan.
Tanpa Raina sadari, di sudut lain ibu kota yang mega politik dan dingin, sebuah takdir baru tengah menunggunya. Sebuah takdir yang menghubungkan kembali benang-benang masa lalu dengan sosok pria berhati beku yang telah menutup pintunya rapat-rapat dari dunia luar yaitu Noah Raja Rajendra.
...****************...
Di sisi lain, di kawasan elit ibu kota, selatan ibu kota, sebuah mansion megah bergaya arsitektur klasik modern berdiri kokoh di balik pagar besi tempa setinggi tiga meter. Cahaya lampu kristal raksasa yang menggantung di ruang makan utama memantulkan pendar kemewahan di atas meja makan marmer sepanjang empat meter. Namun, di balik segala keindahan dan kesempurnaan visual tersebut, atmosfer di dalamnya terasa begitu dingin dan mencekam.
Noah Raja Rajendra duduk tegak di salah satu ujung meja makan. Pria berumur dua puluh delapan tahun itu mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung rapi hingga siku, menyingkapkan jam tangan mewahnya yang bernilai miliaran rupiah. Rahangnya yang tegas, hidung mancung yang simetris, serta tatanan rambut hitam pekat yang disisir rapi ke belakang mempertegas paras tampannya yang nyaris sempurna. Namun, matanya yang tajam bak elang terasa sangat kelam dan berjarak. Tidak ada kehangatan, tidak ada emosi.
Noah memotong daging wagyu steak di piringnya dengan gerakan yang sangat presisi, lalu menyuapkannya tanpa minat.
"Noah, kamu mendengarkan Mama, kan?"
Suara bernada menuntut itu memecahkan keheningan ruang makan. Nyonya Eleonora Rajendra, wanita paruh baya yang tetap anggun dengan gaun sutra dan perhiasan mutiara di lehernya, meletakkan pisau dan garpunya dengan dentang halus yang sengaja diperjelas.
Noah tidak langsung menjawab. Dia mengunyah makanannya perlahan, menelannya, lalu menyapu sudut bibirnya dengan kain serbet putih sebelum akhirnya menatap sang mama.
"Aku dengar, Ma," jawab Noah singkat. Suaranya berat, dalam, dan datar tanpa intonasi.
"Kalau kamu dengar, kenapa diam saja?" Nyonya Eleonora mendengus pelan, menunjukkan rasa tidak puasnya.
"Mama cuma minta kamu meluangkan waktu besok malam. Tante Siska mau datang membawa Clarissa. Clarissa itu lulusan dari luar negeri, perawakannya cantik, keluarganya juga punya bisnis properti ternama. Sangat sepadan untuk bersanding dengan CEO Rajendra Group." seru mama Eleonora.
Noah terkekeh sinis, sangat tipis hingga hampir tak terlihat di wajahnya yang kaku. "Aku sibuk, Ma. Besok malam ada rapat akuisisi saham perusahaan tekstil di Daerah B."
"Rapat lagi, rapat lagi!" Nyonya Eleonora menepuk meja pelan, matanya menatap sang putra dengan rasa gemas sekaligus jengkel karena alasan yang selalu sama saja.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
semangat author yah