Dave merupakan CEO di perusahaan properti. ia dikenal sabagai bos yang arogan. Setiap penjualan yang tidak mencapai target, ia tidak ragu untuk memecatnya. Sudah banyak karyawan yang menjadi korbannya.
Disisi lain, ada seorang wanita pekerja keras, lembut dan baik hati. Namanya Emma. Ia seorang kurir pengantar pizza.
Emma tinggal bersama dua adiknya yang masih sekolah di SD. Ibunya sudah lama meninggal. Tepatnya saat melahirkan adiknya yang terakhir. Ayahnya adalah seorang penjudi yang selalu kalah. Hutangnya sangat banyak.
Emma memilih tinggal di sebuah apartemen dengan harga sewa yang terjangkau. Ia akan bekerja kerasa untuk memenuhi kebutuhan hidup dan ia tak peduli pada ayahnya.
Perusahaan properti, perkembangannya selalu menurun. Ayahnya Dave, langsung ambil alih pimpinan. Ia menegur keras kearoganan Dave.
Sebagai pembelajaran hidup, ayahnya membuat Dave bekerja ditempat pamannya dan disitulah ia mendapat pelajaran hidup dari Emma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 18
Dave dan Emma dalam lima ratus meter lagi akan sampai di toko. Sementara, rintik hujan sudah mulai jatuh dari awan.
Dave perlahan memutar gas, agar skuter lebih melaju cepat sampai ke toko. Walaupun ini pertama kalinya ia menaiki kendaraan itu, dengan beberapa bimbingan Emma, ia bisa mengatasi rasa takutnya.
Tepat saat mereka sampai toko, hujan turun sangat lebat. Dave memarkirkan skuter di dekat ruang tunggu kurir. "Syukurlah, kita sampai sebelum hujan semakin deras," ucapnya.
Di jok belakang, sambil meringis kesakitan, Emma turun dari skuter. Lalu berjalan sedikit pincang ke kursi panjang yang tak jauh dari sana.
"Emma, kakimu masih sakit ?" tanya Dave. Ia masih mengkhawatirkan perempuan itu. Emma sudah mengatakan kalau ia baik-baik saja, tapi bagi Dave, perkataan itu belum bisa membuatnya lega.
"Aku baik-baik saja, Dave," jawab Emma. Ia duduk sambil meluruskan kakinya. Rasanya lebih enakan sedikit.
Dave menghampiri Emma. Ia lalu duduk di dekatnya. "Emma, sekali lagi aku minta maaf," ucapnya.
"Cukup Dave, tidak perlu kamu meminta maaf terus," jawab Emma. "Lagian kamu juga tidak sengaja. Tidak perlu khawatir, ini cedera ringan saja," lanjutnya.
"Walaupun aku tidak sengaja, tapi aku merasa bersalah kepadamu. Seandainya tadi aku bisa menguasai skuter, mungkin aku tidak menabrakmu."
"Sudah Dave. Kamu tidak bersalah. Lupakan saja apa yang terjadi di taman tadi."
Mereka terdiam beberapa saat, sambil mendengarkan suara hujan. Suaranya menutupi suara dapur yang mulai memanggang pizza dan hawa dingin terasa menyentuh ke tubuh.
"Terima kasih ya, Emma," ucap Dave membelah suara hujan yang memenuhi ruangan.
"Terima kasih untuk apa ?" Emma tampak bingung.
"Karena kamu sudah mau membantuku belajar mengendarai skuter. Sejujurnya, seumur hidupku, aku belum pernah mengendarai skuter. Ini pertama kalinya aku melakukannya," jelas Dave. "Sekali lagi aku berterima kasih padamu," lanjutnya sambil tersenyum hangat.
Melihat tatapan Dave yang berbinar, Emma bisa merasakan ketulusan dari sana. Ia sama sekali tak melihat sisi keangkuhan dan arogan Dave. Senyuman hangatnya, rasanya mampu meluluhkan hatinya. Pria yang ia anggap pria sombong dan angkuh di hari pertama, tiba-tiba berubah lembut di hari kedua ini.
Entah kenapa jantung Emma berdegup kencang. Ia lalu memalingkan wajah dengan tersipu malu. "Kamu tidak perlu berterima kasih. Yang terpenting kamu sekarang bisa mengendarai skuter," ucapnya.
"Sejujurnya Emma, sejak hari pertama kita bertemu. Aku selalu mendapat pelajaran darimu. Aku—"
Seorang perempuan dari dapur tiba-tiba memotong perkataan Dave. "Pizza pengantaran kalian sudah siap," ucap perempuan itu.
Sontak Emma ingin berdiri dan mendekat ke meja di samping dapur. Sambil merintih kesakitan ia bersusah payah untuk bangun.
"Jangan dipaksakan, Emma," ucap Dave. Ia tak tega melihat perempuan itu. "Lebih baik kamu istirahat dulu. Biar aku saja yang menyelesaikan pekerjaan ini," lanjutnya.
"Tidak apa-apa, aku masih sanggup." Emma mencoba memaksakan dirinya. Ia merintih kesakitan merasakan nyeri yang luar biasa pada kaki kanannya.
"Sudah. Kamu jangan terlalu memaksakan," ucap Dave sambil berdiri. "Kamu duduk saja disini. Aku akan menyelesaikan pekerjaan ini." Dave lalu berjalan menuju meja samping dapur.
Sepertinya benar kata Dave. Jangan terlalu memaksa, batin Emma. Ia pun kembali duduk dikursi dan mengawasi pekerjaan rekannya.
Setengah jam berlalu. Hujan diluar sudah berhenti, kini menyisakan hawa dingin yang belum hilang sepenuhnya. Dave yang sejak tadi sibuk menata pizza untuk diantarkan beberapa saat lagi, juga sudah menyelesaikan pekerjaannya.
"Emma, ayo kita antarkan pizza ini," ucap Dave. Ia menghampiri Emma yang duduk di kursi.
Emma mencoba berdiri. Ia masih meringis kesakitan. "Sepertinya kamu harus mengantarkan pizza-pizza itu sendirian," ucapnya.
"Sendirian ? Aku tidak bisa mengantarkannya tanpamu."
"Tapi kakiku masih sakit. Aku tidak mau nantinya menghambat pekerjaan ini."
Dave terdiam. Ia tak tega kalau terlalu memaksa Emma untuk ikut mengantar pizza. Perempuan itu terlihat masih kesakitan.
"Aku yakin kamu bisa melakukannya sendiri," ucap Emma sambil mengulurkan ponsel pengantaran ke rekannya.
Dave menerima ponsel itu dengan berat hati. "Tapi aku tidak janji bisa mengantarkan pizza-pizza ini secepat dirimu," ucapnya.
"Tenang saja, Dave. Aku tahu itu." Emma kembali duduk dikursi. "Lebih baik kamu segera berangkat," lanjutnya.
Dave berjalan menuju skuter. Didalam hatinya ia masih ragu untuk melakukan pengantaran sendiri. Tapi harus mau gimana lagi, Emma juga masih kesakitan sepertinya perempuan itu belum mampu banyak bergerak.
Dave menghela napas sejenak di atas skuter. Ia meyakinkan dirinya bahwa mampu menyelesaikan pekerjaan di hari keduanya ini. Tidak lama kemudian ia melaju perlahan meninggalkan toko.
...----------------...
Setelah melalui perjuangan panjang mengantar pizza sendirian, dari kejauhan tampak Dave sudah kembali. Kali ini ia mengantarkan pizza cukup lama, berbeda saat melalukan pengantaran dengan Emma yang selalu cepat dan selesai tidak sampai sesore ini.
Dave sampai di toko pukul lima sore. Tempat itu sudah sepi dan tulisan tutup terlihat di jendela depan. Beberapa karyawan juga tampak keluar dari toko menuju halte bus.
Dave langsung memasukkan skuter ke ruang tunggu kurir. Setelah mematikan mesin, ia langsung menghela napas lega. Ternyata melakukan pengantaran sendiri sangat melelahkan. Ia lalu turun dan menuju kursi.
Dave duduk sambil menyadarkan tubuhnya, tulang belakangnya yang terasa kaku langsung meregang. Rasanya sangat nyaman. Ia istirahat sejenak disana hingga lelahnya berkurang.
Banyak hambatan yang dialami Dave selama pengantaran pizzanya, hingga ia harus memakan waktu sangat lama. Untuk pertama kali, ia melakukan pengantaran sendiri. Biasanya ia dipandu Emma, tapi kali ini ia harus melihat rute sendiri. Beberapa kali ia salah berbelok dan juga salah jalan. Tentunya itu akan membuat waktunya terbuang sia-sia hanya untuk kembali ke rute yang benar.
Hambatan kedua Dave, ia belum mahir dalam berkendara. Ia masih sangat berhati-hati. Tidak seperti Emma yang lihai dalam menyalip dan berani melaju sangat cepat di hiruk pikuk jalanan kota.
"Gimana Dave pengantaran pizza hari ini ?" tanya Pak Hudson yang baru saja sampai lantai bawah dan melihat keponakannya duduk sendirian didekat dapur.
"Sangat melelahkan paman," jawab Dave.
"Tidak apa-apa lelah sedikit." Pak Hudson duduk di dekat Dave. "Semakin lama juga kamu akan terbiasa mengantar pizza sendirian."
"Emma sudah pulang dari tadi, Paman ?" tanya Dave. Entah kenapa ia ingin tahu keberadaan perempuan itu.
"Emma selalu pulang pukul tiga sore."
"Kenapa tidak seperti yang lainnya ? Kenapa dia bisa pulang lebih awal ?"
"Karena Emma punya pekerjaan lain, selain pekerjaannya disini."
"Kenapa paman mengijinkan Emma pulang lebih awal ?"
"Karena pekerjaan Emma sudah selesai. Tidak ada alasan lain bagi paman untuk menolaknya."
"Padahal kakinya masih sakit. Kenapa dia memaksakan diri untuk bekerja ? Pasti paman menggajinya rendah, ya ?"
"Tidak."
"Lalu kenapa Emma harus bekerja lagi ? Padahal pekerjaan ini menurutku sudah sangat melelahkan."
"Emma itu bukan seperti kamu. Dia tidak punya privilege dari kedua orang tuanya. Dia itu sekarang tinggal bersama kedua adiknya. Ibunya sudah meninggal dan ayahnya, yang paman tahu, tidak mau mengurus keluarga. Dengan kondisinya yang terbatas, mau tidak mau Emma harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Lagian juga anak itu sudah bekerja lama bersama paman. Dia selalu ulet dan bekerja keras, tidak seperti kamu yang selalu mengeluh. Kalau kamu tahu, mencari orang seperti Emma di kota ini sangat sulit.
Paman tidak mau menjadi halangan untuk karyawan paman yang sudah bekerja keras. Kalau memang pekerjaan benar-benar sudah selesai, kenapa paman harus memaksanya bekerja hingga larut ?"
Dave menyimak dengan seksama penjelasan panjang dari pamannya. Ia tak menyangka kalau Emma memiliki kehidupan yang sangat jauh berbeda dari hidupnya. Ia juga merasa kagum dengan perempuan yang baru dikenal dua hari itu. Ternyata Emma sangat bekerja keras dan ulet. Tidak heran jika dirinya santai saat mengantar pizza, perempuan itu akan sangat marah.
Disisi lain, Dave merasa bersalah karena telah menabrak Emma hingga kesakitan. Walaupun itu tidak sengaja, tapi kejadian itu menjadi beban dihatinya. Ia menyadari kelalaiannya itu pasti membuat Emma banyak terganggu oleh rasa sakit selama bekerja.
"Eeehh...ngomong-ngomong Paman. Emma bekerja dimana ?"
"Setiap sore dia bekerja di restoran yang tidak jauh dari apartemennya."
"Uooh begitu. Aku pulang dulu ya paman." Dave seketika berdiri dan berjalan meninggalkan Pak Hudson.
Reaksi keponakannya, membuat Pak Hudson cukup terkejut. "Kamu tidak mau pulang bersama paman ?" tanyanya.
"Tidak perlu paman. Aku akan pulang sendiri naik bus," sahut Dave. Ia terus berjalan menuju halte. Tidak lama kemudian sebuah bus berhenti. Pintu otomatis terbuka, pria itu segera masuk kedalam bus.