Isabella Catherine Davis, dikhianati oleh pria yang ia cintai dan saudari angkatnya. Di penjara, di siksa hingga meninggal. Saat dia menganggap itu adalah akhir segalanya. Ternyata keajaiban yang tak pernah terbayangkan terjadi padanya. Dia mengulang kembali waktu ke masa lalu dan dia bersumpah akan membalas setiap pengkhianatan, tetes air mata dan penderitaan yang ia alami pada mereka yang sudah berkhianat. Lalu apakah Isabella akan berhasil mengubah segalanya? Atau kelahirannya hanya akan mengulang luka lama terbuka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hamzari20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Makan Siang Yang Menyenangkan
Arion dan Isabella tiba di salah satu Restoran ternama, tempat yang tak pernah Isabella datangi karena itu milik De Luca.
Di kehidupan pertamanya. Isabella paling anti menyentuh hal yang berkaitan dengan De Luca hingga pada makanan dan tempat usahanya mereka.
Sebegitu bencinya dia pada De Luca dan sebegitu tak sukanya dia berhadapan dengan Arion, semua hal tentang pria itu tak pernah sekalipun Isabella sentuh hingga dia bertunangan dan menikah dengan Darel.
"Melamun apa? Kita di sini untuk makan Isabella dan bukan untuk mencari lamunan!" kata Arion, nada suaranya tak pernah benar-benar ramah dan itulah yang Isabella suka dari Arion. Pria itu tidak menutupi kekurangan nya.
"Aku hanya merasa Restoran ini bagus dan aku menyukai makanannya!" puji Isabella, menunjuk pada steak yang ia pesan.
"Kalau suka makanlah dan aku akan pesanan kan yang lain jika kamu mau," kata Arion.
Arion bukan pria romantis seperti Darel yang suka berpura-pura. Pria itu menunjukkan semuanya lewat perbuatan walaupun ucapannya kerap kali pedas.
Isabella ingat hari itu, saat dia hampir celaka karena tempat pemotretan yang kurang teliti membuat Isabella hampir tertimpa lampu led di sana. Untung Arion sigap dan berhasil menyelamatkan dia dari kecelakaan.
Dan saat semua sudah terjadi Arion hanya bilang."Seharusnya kamu itu lebih hati-hati! Kalau aku tidak bisa menjaga kamu aku akan merasa bersalah."
Arion tak menyalahkan, dia hanya khawatir dan merasa kesehatan juga keselamatan nya adalah hal yang paling dia takuti.
"Untuk apa kamu tersenyum? Ada sesuatu yang lucu?" suara Arion kembali terdengar dingin.
"Tidak ada yang lucu, aku hanya merasa makan siang ini menyenangkan!" jawaban itu membuat Arion menatap jengah.
"Makanlah! Kamu terlihat kurus dan rapuh seperti kaca!" ketus Arion. Dia benar-benar tidak bisa mengekspresikan dirinya sendiri.
"Baik-baik! Mau coba?" tawar Isabella, setengah menggoda Arion.
"Makan saja! Aku sudah lebih dari cukup!" tolaknya. Walaupun Isabella jelas melihat telinganya memerah.
Isabella memaksa, dia menyodorkan steak itu ke bibir Arion. Matanya hanya menatap datar tapi dia tetap tak bisa menolak.
Menerima suapan dari tangan Isabella. Arion menikmati itu dengan wajah datar, demi menutupi rasa senang yang membuncah dalam dadanya.
Isabella terkekeh pelan, dia melihat bagaimana lucunya Arion saat melahap makanan itu dengan ekpresi datar seperti kanebo kering.
Makan siang itu usai, dengan keusilan Isabella di dalamnya. Dan Arion hanya menuruti perintah yang di minta Isabella.
Setelah makan siang itu. Mereka tiba di salah satu pusat perbelanjaan megah di sana. Beberapa store dengan bangunan mewah berdiri tegak dan kokoh.
"Selamat datang Tuan dan Nona Muda De Luca!" salah seorang pegawai lama menyambut kedatangan Arion De Luca. Salah satu tamu vvip di butik itu.
"Tunjukkan koleksi gaun mewah kalian sekarang!" tanpa basa-basi dan terdengar tegas.
Pegawai itu mengangguk, dia memerintahkan beberapa pegawai lain untuk membantu menyambut pelanggan mahal mereka sekarang juga.
Ruang tunggu yang mewah dengan fasilitas komplit menjadi tempat ternyaman saat ini. Dan Isabella menikmati jamuan dari butik itu dengan tenang.
Teh hangat di sediakan dengan cepat. Aroma menenangkan dari teh itu menguar memenuhi indra penciuman Isabella.
"Kamu lelah sekarang?" tanya Arion, melihat Isabella menghirup aroma teh itu dengan mata terpejam.
"Aku hanya menikmati Aroma teh, ini enak!" pujinya.
"Bagus kalau suka," hanya itu jawaban Arion, dan Isabella mulai terbiasa.
Beberapa gaun mahal terpampang di sana. Isabella harus memilih satu di antaranya untuk acara peresmian pertunangan dan penentuan tanggal pernikahan nya dengan Arion.
Acara akan di adakan secara langsung dengan banyaknya mengundang wartawan jadi dia harus tampil memukau juga menunjukkan bahwa kali ini dia tak akan lagi salah memilih pasangan.
**
Malam harinya.
Isabella kelelahan, dia melihat paperbag yang ada di atas meja, itu adalah gaun yang dia pilih dengan satu gaun sebagai hadiah pertunangan dari Arion.
Tanpa sadar, mata Isabella mulai terpejam erat karena rasa kantuk dan lelah membuat Isabella langsung tertidur tanpa drama Insomnia.
Sedangkan di sisi lain.
BRAK!
"Dasar anak bodoh, membuat mereka hancur saja tidak becus!" suara dinginnya menyapa melebihi udara malam itu.
"Lalu bagaimana sekarang?" salah satu orang di sana bertanya.
"Cari cara untuk menyelamatkan anak bodoh itu dari tangan De Luca dan Davis!"
Kedua orang itu mengangguk, mereka akhirnya membuat rencana untuk melepaskan Lyra dan Darel dari tangan Isabella.
Malam semakin pekat. Di balik dinding-dinding penjara yang dingin. Aroma besi tercium pekat dan menyesakkan.
Langkah kaki teratur dengan hoodie yang membalut tubuh dan kepalanya.
"Maaf, anda tidak bisa masuk!" cegah penjaga.
Dia menunjukkan kartu akses dan itu mengejutkan mereka hingga segera membuka jalan.
"Maaf, silakan!" katanya, mempersilakan.
Dia berjalan masuk, berderap pelan semakin dalam melewat lorong-lorong gelap dan pengap.
Dia dalam penjara.
Lyra meringkuk kedinginan di sudut penjara yang gelap, tubuhnya gemetar ketakutan dengan air mata yang terus jatuh.
Di balik pintu penjara. Isabella melihat semuanya, penderitaan Lyra di sana dimana dulu dia pernah merasakan hal sama.
"Penderitaan ini belum selesai, Lyra!" bisik Isabella dengan suara dingin.
Isabella memukul pintu besi itu dengan pemukul kayu, dan suara nyaring langsung membuat Lyra tersentak.
Lyra mendongak, wajahnya pucat pasi saat melihat Isabella di sana. Antara benci, marah dan kesal juga dendam membalut jadi satu di mata Lyra saat tatapan itu bertemu dengan Isabella.
Lyra bangun. Kakinya gemetar pelan tangannya menopang tubuh di dinding penjara yang dingin.
"Untuk apa kamu datang? Mau mengejek? Belum puas kamu?" desis Lyra dengan nada marah.
"Aku hanya menjenguk, memang tidak boleh?" tanya Isabella dengan nada acuh.
"Pergi! Aku tidak butuh belas kasihanmu," usir Lyra.
"Memang siapa yang mau kasihan padamu? Aku datang hanya untuk melihat penderitaan orang yang tidak tahu diri!" ketus Isabella, matanya berkilat benci.
Lyra menyerang Isabella dari balik pintu penjara. Namun, tak akan pernah bisa dan hanya menghasilkan bunyi nyaring pada pintu penjara.
"Jika aku bebas, bersiaplah untuk mati!" teriak Lyra, wajahnya menunjukkan ancaman yang tak main-main.
"Aku tunggu bagaimana kamu membunuh aku!" bisik Isabella, mencengkram erat dagu Lyra yang terlihat tirus.
Isabella menyentak Lyra, dan membuat wanita itu jatuh tersungkur di lantai penjara yang dingin dengan mata berkilat benci.
"Kau akan mati di tangan ku Isabella! Tunggu saja!" teriaknya lantang.
Namun, Isabella tak terpengaruh karena dia sebenarnya menunggu orang itu untuk keluar dari persembunyiannya, karena dia yakin. Dia akan keluar untuk membebaskan Lyra.