Bertemu sebagai dokter dan pasien, dengan first impression yang baik dan meninggalkan kesan berbeda. Edward (31), dokter dengan status duda terlibat dengan urusan pribadi pasiennya, Cahaya Sekar Janitra (24).
Entah karena sumpah atau memang takdir Tuhan. Ketertarikan itu berubah menjadi perasaan mendalam saat Edward menolong Cahaya dari jebakan calon suaminya.
====
"Bilang apa kamu? Om? Aku dokter pribadi kamu."
"Dokter dan pasien, berlaku kalau lagi di ruang praktek. Di luar itu, ya bukan dokter aku. Sesuai dengan penampilan, cocok aku panggil Om. Om dokter, gimana om?"
------
Hai, ketemu lagi di karya aku yang kesekian. Baiknya baca dulu Diam-diam Cinta dan Emergency Love
Ikuti sampai tamat ya dan jangan melompat bab. sampai bertemu di setiap babnya 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Siapa Pasiennya
Bab 1
“Padahal aku bisa berangkat sendiri. Ada ojek, banyak taksi online. Nggak mungkin aku nyasar mbak, hari gini siapa yang nggak tahu GPS.”
“Nggak pa-pa, kamu diantar pak Eman. Mbak udah bayar kok. Dia ojek langganan komplek. Nanti pulangnya sama mbak.”
Cahaya menghela nafasnya mendengar perintah Andin -- sang kakak, usai mengakhiri panggilan telepon. Hampir satu bulan tinggal di Jakarta, meski belum pernah pergi jauh selain keluar kompleks itu pun pakai sepeda listrik. Pernah dua kali ke supermarket dan mall, tentu saja didampingi Andin juga Dani -- kakak iparnya. Tadi pagi sudah mengecek dengan maps, lokasi ke rumah sakit dari tempatnya sekarang tidak sampai satu jam berkendara.
Ada hal yang tidak biasa ia rasakan semenjak pergi dari rumah. Biasanya apa yang dilakukan selalu dilayani. Mbok Yem yang setia khusus mendampingi dan menyiapkan kebutuhannya sejak ia masih kecil dan Pak Mardi supir yang selalu siap menemani dan mengantar kemana pun ia beraktivitas.
Berbeda dengan Andin yang berani melawan dan menentang perintah Wira -- Romo, Cahaya gadis yang patuh. Sekolah dan kuliah di tempat pilihan orangtuanya. Mungkin karena kondisi fisik tidak sesehat Andin, akhirnya pasrah mengikuti aturan keluarga. Tepatnya aturan Romo Wira.
Kesabaran ada batasnya, tidak setuju dengan pemikiran kolot orang tuanya di mana hidup selalu diatur dan jodoh pun sudah disiapkan. Apalagi waktu pernikahan sudah semakin dekat, hanya beberapa bulan lagi. Berada diantara gen z dan generasi milenial, dengan pola pikir mengikuti perkembangan zaman, tentu saja tidak setuju dengan konsep perjodohan. Keluhan dan protesnya tidak diterima. Saat Cahaya lebih vokal dan menentang, malah kena marah.
“Mau ikut jejak mbakmu yang tidak tahu diri itu? Lihat hidupnya sekarang, kerja ngurusin orang sakit. Suaminya Cuma karyawan biasa dan tinggal di perumahan. Kalau dia nurut, hidupnya sudah enak. Dihormati banyak orang, jadi istri bupati.”
“Ibu nggak bisa bantu kamu, di rumah ini romo kalian yang punya kuasa. Sebagai istri, ibu hanya bisa patuh. Jangan melawan nduk. Kamu beda, kamu tidak seperti Andin. Tetap di sini, ikut apa perintah romo.”
Meninggalkan rumah artinya mengakhiri hubungan keluarga. Mungkin dicoret dari kartu keluarga dan ahli waris. Cahaya yakin bisa hidup bahagia dengan pilihannya saat ini. Buktinya Andin saja bisa.
“Mbak Aya.”
Terdengar teriakan dari luar.
“Iya.” Aya memakai cardigan melapisi blouse. Lengkap dengan sling bag berisi dompet dan ponsel. “Bentar pak, aku kunci pintu dulu.”
Ojek langganan yang biasa disewa ibu-ibu komplek termasuk Andin sudah menunggu di depan pagar. Kunci pintu disimpan di tempat yang disepakati agar tidak saling kecarian siapapun yang akan pulang lebih dulu. Sebelum naik, ia memakai masker dan helm yang disodorkan.
“Mbak Andin bilang saya gak boleh ngebut, terus cari jalan kampung biar adem dan nggak ngebul.”
“Eh, jangan pak. Lewat jalan raya saja, sekalian saya hafalkan jalan. Di Jakarta jalan berangkat dan pulang, bisa beda,” tutur Cahaya. Tutur katanya mencerminkan aksen jawa yang sangat kental.
“Itu besok-besok aja mbak Aya, sekarang sesuai pesanan mbak Andin. Berangkaatttt!”
***
...Geng Pria Terkutuk...
Asoka Harsa : Anji, Rama marah-marah tuh. Punya dosa apa situ 😀
dr. Rendi Oye : Anak gadis mana lo bawa kabur, Ren
Asoka Harsa : Anak kosan juragan kampung sawah kayaknya
Dokter vampir : Jadi, Anji kencan nggak izin sama orangtua si gadis. Anjirr banget nih orang
Anji nggak pake ng : Apa sih pagi begini udah rame. Si Oka udah ribut aja ngajak ngerumpi, nggak ada pasien yang harus dibedah lagi apa ya. Ini lagi si vampire, mulutnya nakal. Sentil nihhh
dr. Rendi : Nji, jangan telat loh. Kebiasaan kalau shift 2 suka telat
Dokter vampire : pagi apaan, ini matahari lagi lucu-lucunya
Anji nggak pake ng : Iyakah, maklumlah lagi kasmaran. Dari tadi Cuma haha hihi video call sambil balas chat 🤣Jangan begitu Ren, nggak apa telat juga. Buktinya lo nungguin banget si Yuli telat. Ngaku dah
dr. rendi Oye : Tahan, nggak usah dibalas
Dokter vampire : jangan disahutin, orang gak jelas
Asoka Harsa : 🤣
Anji nggak pake ng : Dasar vampire, duda karatan. Gue sumpahin jodoh lo makin deket. Dapat berondong, manja nggak ketulungan bikin lo bingung dan bucin sebucinnya
dr. Rendi Oye : gue aminkan ya
Asoka Harsa : Saya aminkan untuk masalah jodoh
Dokter Vampire : Rendi nyebelin akut, padahal tadi gue dukung sekarang menusuk dari belakang
Bibir Edward berdecak membaca pesan grup. Ponselnya sering bergetar, bukan hanya pesan japri tapi ramai pula obrolan grup. Ada grup resmi sebagai dokter di SM, grup gabungan seluruh nakes, grup alumni kuliah dan sekolah dan paling konyol adalah grup yang pernah dibuat Anji sebagai kumpulan pria terkutuk penghuni UGD. Hanya ada 4 penghuni grup, karena mereka cukup lama bertugas di UGD. Saat ini ia dan Asoka Harsa sudah ada praktek spesialis. Meski sampai sekarang masih di jadwal piket UGD, karena praktek poli tidak setiap hari.
“Pagi menjelang siang, dok,” sapa suster yang membantunya praktek di poli rawat jalan mengekor Edward masuk ke ruangan.
“Siang. Berapa pasien hari ini?” Edward mengalungkan stetoskop di kerah snelli lalu duduk di kursi kerja kerjanya. Hari ini jadwal prakteknya dimulai pukul sepuluh dan pagi tadi ia visit untuk pasien rawat inap.
“Yang sudah terdaftar ada 12 pasien, dok.”
“Oke, kita mulai ya.”
“Baik, dok.”
Hampir tengah hari saat pasien terakhirnya memasuki ruangan.
“Selamat siang, dokter Edward.”
“Selamat siang, silahkan duduk.” Pandangan Edward tertuju pada dua perempuan yang memasuki ruangan dan sudah duduk di hadapannya. Salah satunya memakai seragam perawat dengan nama tag “Andin Azmi J.”
“Pasiennya ….” Edward mengalihkan pandangan menatap layar komputer untuk melihat data pasien.
“Adik saya dok, Cahaya Sekar Janitra.”
\=\=\=\=\=
Uhuyy, semoga suka dengan kisah Edward ya. Kisah ini berkisar saat Rama baru punya bayi kembar ya
Jangan lupa lempar sandal biar tahu masih ada yg mampir untuk baca 😊
😛😛
ini mana nih rombongan kk Darma...
kapan surat penangkapan nya datang
janji setelah ini kau masuk penjara yg bener itu 🤣🤣🤣