Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.
Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).
Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.
"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."
Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 020 - Pintu Air Terjun Tertutup
Napas Gu Yuan berhembus teratur dan dingin di tengah gemuruh jutaan kubik air terjun yang menderu memekakkan telinga. Ia mencengkeram kerah rompi kulit penjaga senior bernama Bai yang tergeletak pingsan di semak berduri, lalu menyeret tubuh kurus itu masuk ke celah sempit di antara dua bongkahan batu cadas hitam yang tertutup sulur pakis liar.
Di tempat tersembunyi itu, tubuh sang penjaga tidak akan terlihat dari jalan setapak lereng bukit kecuali seseorang memeriksa celah batu secara saksama dengan obor api. Gu Yuan melepaskan ikatan tali sabuk kulit pria tersebut, mengambil kantong kanvas abu-abu kusam berisi garam pemadam formasi, lalu mengikatkannya erat ke sabuk pinggangnya sendiri tepat di samping lempengan cermin perunggu. Tiga bilah belati lempar baja hitam yang tersisa di sarung kulit penjaga juga ia cabut dan selipkan ke lipatan jubah abu-abu bagian dalam sebagai persediaan senjata tambahan.
Setelah mengamankan rampasan logistik yang sangat berharga tersebut, Gu Yuan melompat keluar dari celah batu cadas tanpa menimbulkan suara debu. Tubuhnya merunduk rendah, bergegas melintasi jalan setapak sempit berbatu kapur menuju mulut gua yang masih menganga lebar di balik tirai air terjun yang tersibak oleh gelombang formasi.
Hawa dingin dari dalam perut tebing terasa semakin pekat dan menusuk tulang sumsumnya. Angin gua membawa bau busuk tembaga karat, uap minyak belerang, dan lendir amis yang begitu pekat hingga membuat bulu kuduk di tengkuknya meremang dingin. Gu Yuan melompat melewati undakan ambang batu mulut gua, mendarat dengan mantap di atas lantai marmer hitam yang dingin dan licin oleh lapisan lumut darah yang mengering puluhan tahun.
Di dinding sebelah dalam mulut gua, tepat setinggi dada manusia, terdapat sebuah ceruk batu segi delapan yang bentuk dan ukirannya identik dengan ceruk di dinding tebing luar. Ini adalah pasak jebakan pengunci bagian dalam yang berfungsi mengaktifkan formasi penutup pintu batu air terjun dari dalam gua.
Gu Yuan merogoh sabuk pinggangnya, mengeluarkan kembali pelat perunggu segi delapan pemberian Tetua Mo Cheng, lalu menempelkan permukaannya ke dalam ceruk batu tersebut dengan tekanan yang pas.
Klek… duuunggg!
Batu giok merah darah di tengah pelat perunggu seketika memancarkan kilatan cahaya merah darah yang menyilaukan mata. Suara gemuruh roda gigi batu purba berderak dahsyat dari dalam rongga tebing, disusul suara dentuman berat yang menggetarkan seluruh lantai marmer tempat Gu Yuan berpijak.
Dinding batu setebal dua zhang perlahan bergeser menutup dari kedua sisi lereng, mempertemukan kembali dua lempengan batu cadas raksasa di ambang mulut gua dengan benturan keras yang menutup rapat seluruh celah udara. Bersamaan dengan merapatnya dinding batu tersebut, tirai air terjun raksasa di luar kembali menyatu, menumpahkan deburan jutaan kubik air menderu deras menyelimuti bagian luar tebing dan menghapus seluruh jejak keberadaan pintu masuk gua dari pandangan mata dunia luar.
Cahaya siang yang hangat dan terang seketika terputus total.
Gua altar darah kini diselimuti oleh kegelapan pekat yang dingin, hampa, dan mencekam. Tidak ada seberkas pun sinar matahari yang mampu menembus lapisan dinding batu granit setebal dua zhang tersebut. Keheningan yang menekan seketika menggantikan gemuruh air terjun di luar, mengubah suara deru air menjadi dengungan bas rendah yang bergetar di dalam rongga dada. Di tengah kegelapan total itu, hanya terdengar suara tetesan air rembesan tanah dari langit-langit goa yang jatuh ke genangan lantai marmer: tik… tik… tik…
Perubahan tekanan udara di dalam ruangan tertutup membuat telinga Gu Yuan sedikit berdenging. Ia menarik pelat perunggu pengendali formasi dari ceruk dinding, lalu menyimpannya kembali rapat-rapat ke balik lipatan sabuk kain di pinggangnya.
Gu Yuan berdiri mematung di dalam kegelapan pekat selama beberapa tarikan napas penuh, membiarkan pupil matanya menyesuaikan diri secara bertahap dengan ketiadaan cahaya. Tangannya memeriksa kembali seluruh perlengkapan yang dibawanya: belati berkarat di pinggang, tiga belati lempar di balik jubah, dua butir Pil Penahan Darah, toples salep penghilang bau hutan, kantong garam pemadam formasi, seikat kunci master kuningan, dan lempengan cermin perunggu peninggalan ayah angkatnya. Seluruh modal hidupnya kini telah terkumpul lengkap.
Namun, indra pendengarannya yang tajam menangkap getaran suara asing yang merambat melalui struktur batuan tebing luar.
Meskipun dinding batu setebal dua zhang memisahkan dirinya dari dunia luar, getaran langkah kaki bersepatu bot berat dalam jumlah besar tetap merambat melalui lapisan batu cadas. Suara puluhan prajurit berlarian menaiki jalan setapak berbatu tebing terdengar berderap cepat di bibir air terjun, disusul oleh suara dentang gong peringatan dan teriakan parau para pengawal penegak hukum yang mulai mengepung seluruh pelataran tebing.
Kabar tentang penyamaran penyusup berjubah abu-abu dan pelumpuhan Luo Biao di bilik bawah tanah barak luar rupanya telah meledak menjadi kepanikan nyata di balai dalam. Pasukan pengawal sekte telah mengerahkan puluhan prajurit bersenjata tombak dan busur silang untuk menyisir setiap jengkal semak di lereng tebing air terjun.
Gu Yuan kini terkurung sendirian di dalam gua altar darah yang gelap gulita. Tidak ada jalan keluar ke belakang, dan pintu masuk di depannya telah terkunci rapat oleh dinding batu setebal dua zhang yang di luarnya sedang dikepung oleh puluhan prajurit bersenjata lengkap.
Satu-satunya jalan hidup yang tersisa baginya bukanlah berbalik mundur atau memohon ampun, melainkan melangkah maju ke kedalaman aula altar untuk menyelesaikan sabotase formasi sebelum Tetua Mo Cheng datang membuka pintu batu tersebut dengan kekuatan penuh Fondasi Sejatinya.