Tiga tahun berbakti sebagai istri seolah tak ada artinya bagi Aira ketika Radit diceraikannya secara mendadak tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka.
Demi kehadiran sekretaris cantik, Aira terpaksa melangkah menembus hujan deras membawa kopernya. Kemalangan tak berhenti di situ; di tengah jalan ia diserang sekelompok preman hingga tak berdaya.
Di saat kritis, sosok pria tinggi bertato bernama Lucas datang menyelamatkannya. Namun, pertolongan itu membawa takdir baru. Dalam pengaruh obat akibat dijebak, Lucas membawa Aira ke hotel. Dengan bisikan "Jangan takut, aku mandul," Aira yang hancur akhirnya memejamkan mata dan pasrah.
Esok harinya, Aira pergi memulai hidup baru dari nol—mencari kontrakan dan pekerjaan. Namun beberapa minggu kemudian, garis dua di alat tes kehamilan meruntuhkan dunianya. Jika Radit sudah lama tak menyentuhnya, maka janin itu jelas milik Lucas. Lantas, apakah pengakuan mandul itu hanya kebohongan manis, atau ada rahasia besar yang sengaja Lucas sembunyikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Setelah menyelesaikan semua proses administrasi dan menerima resep obat dari dokter, Aira mulai merapikan pakaian serta barang-barangnya.
Tubuhnya sudah jauh lebih bugar dan siap untuk meninggalkan kamar VVIP tersebut.
Saat Aira hendak melangkah, Lucas mendorong sebuah kursi roda bernuansa medis ke hadapan mereka.
"Pakai kursi roda?" tawar Lucas lembut sembari menatap Aira dengan raut wajah penuh perhatian.
Aira tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak usah, Lucas. Aku bukan orang sakit parah, lagipula kakiku masih sangat sanggup berjalan."
"Baiklah kalau begitu," jawab Lucas mengalah.
Pria itu lantas meraih jemari Aira dan menggenggamnya rapat-rapat, menyalurkan kehangatan serta perlindungan mutlak saat mereka berjalan menyusuri koridor VIP rumah sakit menuju area lobi.
Saat mereka memutar di persimpangan koridor utama menuju bagian pendaftaran, dua sosok yang sangat familiar tiba-tiba muncul dari arah berlawanan.
Radit dan Mila tampak sedang berjalan santai menuju poli kandungan untuk kontrol rutin kehamilan Mila.
Mata Radit seketika membelalak kaget saat mengenali wanita yang berjalan beriringan dengan seorang pria jangkung bertubuh atletis di depannya.
Emosi dan rasa iri yang terpendam mendadak membuncah di dada Radit begitu melihat Aira tampak begitu anggun dan terawat.
"Wah, wah, lihat siapa ini!" ejek Radit dengan nada sinis, menghentikan langkahnya tepat di tengah koridor hingga menghalangi jalan.
Mila yang berada di sampingnya ikut bersedekap dengan tatapan merendahkan.
"Ternyata mantan istriku yang katanya 'suci' ini cepat sekali dapat gantinya," tambah Radit sembari tertawa remeh, matanya menatap tajam ke arah Lucas yang mengenakan pakaian santai namun berelemen mahal.
"Pantas saja kamu sombong, Aira. Ternyata sekarang kamu sudah beralih profesi jadi simpanan om-om kaya demi bisa bergaya di rumah sakit mewah ini?"
Mila menyeringai licik, menimpalinya dengan suara melengking.
"Iya nih, Mas! Dulu saja pura-pura teraniaya, eh sekarang malah menjual diri karena tidak ada pria terhormat yang mau sama wanita mandul seperti dia!"
Mendengar tuduhan keji dan hinaan dari mulut mantan suaminya itu, rahang Lucas seketika mengeras.
Aura dingin yang mencekam dan mematikan langsung menguar dari tubuh sang pemilik hotel.
Tanpa memberi aba-aba atau kata peringatan sedikit pun, Lucas melangkah maju satu langkah.
Bugh!
Satu pukulan mentah dan sangat keras menghantam tepat di rahang kanan Radit!
Krek!
Suara remukan tulang dan dentuman keras bergema di sepanjang koridor.
Tubuh Radit seketika terpental ke belakang hingga menghantam dinding, lalu ambruk ke lantai marmer dengan darah segar yang mengucur deras dari mulutnya.
Dua buah gigi depannya bahkan langsung lepas dan meluncur jatuh di atas lantai!
"Aaaaakh! Mas Radit!" teriak Mila histeris, langsung berlutut panik melihat suaminya mengerang kesakitan sembari memegangi mulutnya yang berdarah-darah.
Aira yang menyaksikan pemandangan itu bukannya takut, melainkan justru tertawa terbahak-bahak dari balik maskernya.
Rasa puas dan lega yang luar biasa membuncah di dalam dadanya melihat pria biadab yang dulu menginjak-injak harga dirinya kini tersungkur hina di tanah.
Aira melangkah mendekat, lalu menepuk pelan lengan Lucas yang masih mengepal erat.
"Sudah, Lucas. Ayo kita tinggalkan mereka. Jangan kotori tanganmu lebih lama untuk sampah seperti dia," ucap Aira santai dengan tawa yang masih tersisa.
Aira lalu berpaling menatap Mila yang gemetaran dan Radit yang merintih kesakitan di lantai.
Dengan suara keras dan lantang yang sengaja digema-gemakan di sepanjang koridor rumah sakit, Aira melambaikan tangannya dengan ekspresi sangat puas.
"Dah! Bye-bye, pelakor!" seru Aira lantang tanpa rasa takut sedikit pun.
Suara teriakan Aira seketika memancing perhatian belasan pasien, perawat, dan pengunjung rumah sakit yang berada di sekitar area tersebut.
Dalam hitungan detik, pandangan jijik dan kasak-kusuk pedas dari para pengunjung langsung tertuju ke arah Mila dan Radit.
"Ternyata cewek itu pelakor toh? Kasihan banget suaminya sampai rontok giginya begitu!" bisik seorang ibu-ibu pengunjung dengan nada pedas.
"Pantas saja kena pukul, sudah salah, mulutnya tidak disekolahin lagi! Malu-maluin banget di rumah sakit!" sahut pasien lainnya sembari menunjuk-nunjuk Mila yang wajahnya mendadak merah padam menahan malu luar biasa.
Di tengah kehebohan dan gunjingan riuh dari orang-orang sekitar, Lucas merangkul pinggang Aira dengan mesra, lalu membawa calon istrinya berjalan dengan langkah gagah meninggalkan pasangan sialan itu yang tenggelam dalam kehancuran dan rasa malu.
Pintu mobil itu tertutup rapat, meredam seluruh hiruk-pikuk dan rintihan konyol Radit di area rumah sakit.
Randy dengan sigap mengunci pintu dari panel kemudi, lalu mulai melajukan mobil membelah jalanan kota yang cerah.
Di kursi belakang yang luas, Aira menghembuskan napas lega.
Tawa kecilnya pelan-pelan mereda, digantikan oleh raut wajah yang lebih serius saat ia menoleh menatap pria gagah di sampingnya.
"Lucas," panggil Aira lembut.
Lucas yang sedang mengusap kepalan tangannya yang sedikit memerah bekas menghantam wajah Radit, langsung menoleh.
"Iya, ada apa, sayang? Ada yang terasa sakit lagi?"
"Bukan. Aku mau minta satu hal padamu. Tolong rahasiakan dulu statusku sebagai calon istrimu. Cukup untuk satu bulan ini saja."
Lucas berkerut dahi, menatap wanita di depannya dengan tatapan bingung sekaligus tidak terima.
"Sayang, kenapa? Kenapa harus disembunyikan lagi? Aku ingin seluruh dunia tahu kalau kamu itu milikku, apalagi setelah apa yang dilakukan mantan suamimu tadi."
Aira memegang tangan Lucas, menatap manik mata pria itu dengan penuh ketulusan.
"Lucas, aku ingin membuktikan pada diriku sendiri dan pada mereka semua orang. Kalau aku bisa berdiri tegak di atas kakiku sendiri. Aku ingin orang-orang menghargai karya dan kemampuanku sebagai seorang Chef, bukan sekadar karena aku calon istri dari pemilik hotel ternama."
Lucas terdiam sejenak. Mendengar nada bicara Aira yang begitu mantap dan mandiri, kejengkelan di dadanya perlahan melunak. Pria itu menghembuskan napas pasrah.
"Baiklah, kalau itu keinginanmu, aku akan turuti," ucap Lucas mengalah, lalu menyunggingkan senyum misterius.
"Tapi ada syaratnya."
"Syarat apa?" tanya Aira curiga.
"Besok aku akan menemanimu seharian di dapur hotel," jawab Lucas santai tanpa beban.
Mata Aira seketika membelalak sempurna saat mendengar perkataan Lucas.
"Lucas! Ini tidak lucu! Bagaimana dengan meeting-mu? Bagaimana dengan klien-klien pentingmu kalau kamu malah menemaniku nongkrong di dapur seharian?"
Bukannya menjawab, Lucas justru mengikis jarak di antara mereka secara mendadak.
Pria itu memajukan tubuhnya, memotong jarak hingga embusan napas hangatnya terasa mengusap kulit pipi Aira.
Wajah tampannya kini berada tepat beberapa milimeter saja di depan bibir Aira.
Deg!
Jantung Aira berdetak kencang seperti drum yang dihantam bertubi-tubi.
Tubuhnya membeku, terhipnotis oleh tatapan tajam nan memabukkan milik sang bos besar.
"Aku tidak peduli," bisik Lucas rendah dengan suara baritonnya yang dalam, tepat di depan bibir Aira sebelum mengecupnya dengan penuh kehangatan yang manis.
Mobil mewah milik Lucas akhirnya berhenti di area parkir eksklusif penthouse miliknya.
Setelah melalui hari yang penuh dengan kejutan dan ketegangan di rumah sakit, Aira merasa sedikit lega dan ingin segera merebahkan tubuhnya di tempat yang tenang.
Namun, begitu pintu lift pribadi terbuka tepat di lantai penthouse, langkah kaki Aira mendadak terhenti.
Seorang wanita berparas cantik dengan kulit putih mulus dan pakaian seksi yang membentuk lekuk tubuhnya sudah berdiri santai di dekat pintu utama.
Wajah wanita itu langsung berbinar begitu melihat sosok sang pemilik penthouse.
"Lucas! Aku merindukanmu!" seru wanita itu dengan suara manja.
Tanpa ragu, ia melangkah cepat dan langsung menghambur memeluk tubuh tinggi Lucas.
Deg!
Melihat pemandangan di depan matanya, dada Aira terasa seperti dihantam sesuatu yang dingin.
Secara refleks, Aira mengendurkan jarinya dan melepaskan genggaman tangannya dari jemari Lucas.
Lucas yang merasakan pelepasan itu seketika tersentak.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, pria itu langsung meraih kembali jemari Aira dan menggenggamnya jauh lebih erat, seolah tak mau wanita itu menjauh sedikit pun darinya.
Dengan gerakan tegas namun hati-hati, Lucas mendorong pelan tubuh wanita seksi itu agar menjauh dari dadanya.
"Merin, ada apa? Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Lucas dengan nada suara yang dingin dan menusuk.
Wanita bernama Merin itu menyunggingkan senyum manis yang tampak sedikit dipaksakan.
"Lucas, kenapa kamu selalu saja dingin padaku. Aku kan sengaja datang jauh-jauh ke sini karena merindukanmu."
Merin kemudian memalingkan pandangannya ke arah Aira yang berdiri di samping Lucas dengan pakaian sederhana dan masker yang masih menutupi sebagian wajahnya.
Merin menatap Aira dari atas sampai bawah dengan sorot mata merendahkan.
"Oh, Pembantu baru ya?" cetus Merin santai tanpa dosa. Ia lalu menyodorkan tas belanjaan bermerek yang dipegangnya ke arah Aira.
"Pembantu, bawa ini masuk ke dalam dan rapikan di meja."
Mendengar dirinya diandai-andaikan sebagai pembantu, Aira menelan ludah.
Perasaan canggung dan tidak enak hati mendadak menguasai dirinya.
Ia melirik genggaman tangan Lucas yang begitu protektif, lalu berbisik pelan pada pria di sampingnya.
"Lucas, lebih baik aku—"
"Diam, sayang," potong Lucas cepat dengan suara lembut namun tegas, menahan Aira agar tetap berdiri tegak di sisinya.
Panggilan manis yang keluar dari mulut Lucas seketika membuat mata Merin membelalak lebar karena terkejut.
"Sayang?! Maksud kamu apa, Lucas?!" pekik Merin tak terima, wajah cantiknya mendadak berubah keruh.
"Siapa wanita ini sebenarnya?"
"Merin, dia." Lucas terdiam sejenak.
Rahang pria itu mengeras. Pikirannya bergejolak hebat.
Ia ingin sekali berteriak dan mengumumkan kepada Merin bahwa Aira adalah calon istrinya, wanita yang sedang mengandung anak kembar tiganya.
Namun, bayangan janji yang baru saja ia buat di dalam mobil tadi, bahwa ia akan merahasiakan status Aira selama satu bulan.
Lucas mengepalkan tangannya yang bebas, memeras amarahnya sendiri demi menghormati keinginan Aira.
"Dia Chef pribadi dan Head Chef di hotelku," ucap Lucas akhirnya dengan nada berat dan datar. Pria itu kemudian menatap Merin dengan tatapan mematikan.
"Dan, kamu, tolong pergi dari sini sekarang juga."
"Apa?! Kamu mengusirku demi seorang chef?!" seru Merin tak percaya.
"Randy!" panggil Lucas tegas tanpa menghiraukan protes Merin.
"Antar Merin keluar dari area penthouse sekarang!"
Randy yang berdiri siaga di dekat pintu lift langsung melangkah maju dengan sigap.
"Baik, Pak."
Randy menganggukkan kepalanya sopan ke arah Merin, lalu membukakan pintu lift.
"Mari, Nona Merin. Saya antar Anda turun."
Dengan wajah merah padam menahan kekesalan dan malu, Merin melengos kasar.
Ia menghentakkan kakinya tinggi-tinggi sambil melangkah masuk ke dalam lift yang sudah dijaga oleh Randy.
Begitu pintu lift tertutup rapat, suasana di koridor eksklusif itu kembali hening.
gimana Radit, ternyata kamu yang mandul 🤣🤣 jadi anak siapa yang dalam kandungan Mila? kan pelacur murahan yah 🤣🤣
niat hati menjatuhkan chef Aira, kamu yang akan menghadapi kekuasaan Lucas
mama kandung yang waras pasti ga akan mau punya menantu pelacur murahan seperti kamu, jadi jelas sekali chef Aira kelasnya jauh di atas kamu