Dimadu di Hari Pernikahannya. Ditolak mentah-mentah lewat pesan, Naura Kirana, gadis bercadar yang harus menanggung malu di hari pernikahannya.
Demi menyelamatkan keluarga, Cakra, adik mempelai pria terpaksa menggantikan posisi kakaknya.
Namun, alih-alih melindunginya, Cakra yang sejak awal membenci wanita bercadar itu justru langsung membawa dan menikahi kekasihnya sendiri tepat di hari yang sama, memadu Naura di depan mata.
Di balik itu semua, ternyata, Komandan Anggara yang merupakan calon suami Naura, tidak pernah menolaknya, semua terjadi hanya salah paham.
Pembatalan itu murni ulah licik bawahan Anggara yang merupakan seorang wanita yang terobsesi padanya.
Lalu, bagaimana kelanjutan nasib Naura? Apakah Anggara berhasil meluruskan semuanya? bagaimana kisahnya saat tiba-tiba hadirnya seorang gadis yang berusia 6 tahun yang ternyata merupakan anak kandung Naura? siapakah ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tes DNA
Drtt drtt drtt
Tiba-tiba ponsel pria itu berdering. Anggara segera mengangkatnya.
Ternyata, itu panggilan dari markas militer yang memintanya segera pulang. Karena dia sudah pergi cukup lama. Karirnya yang sebagai anggota militer, tentu saja dia tidak punya banyak waktu selalu berada di luar.
Setelah itu Anggara kembali menghampiri Naura.
"Aku harus kembali ke tempat kerja," ujarnya.
Naura mengangguk. "Terima kasih, karena sudah mau mendonorkan darah buat Kiki,"
"Tidak apa-apa, biasa saja," pria itu hanya mengangguk dan ingin pergi.
Namun sebelum benar-benar beranjak, dia kembali menghentikan langkahnya.
"Naura," panggilnya.
"Ya?"
"Jangan terlalu bersedih," tutur pria itu, lalu kembali berbalik pergi.
Deg Deg Deg
Jantung Naura berdebar-debar, entah mengapa setiap kali berhadapan dengan pria itu, jantungnya terasa tidak sehat.
Namun, segera dia menepisnya. Saat ini bukan saatnya untuk memikirkan tentang perasaan, putrinya sedang bertarung dengan maut dan dia tidak ingin memikirkan yang aneh-aneh.
Setelah kepergian Anggara, Bayu mendekati Naura. "Sepertinya pria itu sangat peduli padamu? Siapa dia?"
"Dia... kakak iparku,"
"Tunggu, jangan bilang kalau dia itu mantan calon suami kamu?"
Naura mengangguk pelan, "Iya,"
"Apa aku bisa bilang sesuatu, Naura?"
Mengangguk, "Tentu saja,"
"Apa kau sadar? Pria tadi itu mirip sekali dengan putrimu, selain itu mereka juga memiliki golongan darah yang sama. Kau rasa, apa dia...." menggantung ucapannya.
"Jangan diteruskan, itu cuma perasaanmu saja," potong Naura cepat, sebelum sempat Bayu melanjutkan ucapannya.
_______
Setelah melalui hari yang menegangkan dan kerja keras dari tim medis, akhirnya Kiki terlepas dari masa kritisnya.
Kondisinya sudah sedikit membaik dan gadis kecil itu dipindahkan ke ruang rawat inap.
Saat ini, Naura berada di ruang VIP sedang menggenggam tangan mungil putrinya. Dia berharap putrinya bisa segera sadar, dan kembali seperti semula. Kalau ada yang bertanya bagaimana dia bisa berada di ruangan VIP. Maka dia punya alasan.
Beberapa jam sebelum kejadian.
Tap tap tap
Seorang suster mendorong brankar Kiki keluar dari UGD, dan ingin membawanya ke ruang rawat inap.
"Suster, mau bawa putri saya kemana?" Tanya Naura, heran karena ruangan yang dia pesan berada di lantai bawah, sementara saat ini suster justru membawa putrinya ke lantai paling atas.
Berhenti, dan melihat ke arah Naura. "Saya mau bawa putri ibu ke ruangannya," jawab suster sembari tersenyum.
"Ruangan putri saya ada di lantai bawah, Suster?"
Kembali tersenyum. "Ruangan putri ibu, sudah dipesan diruangan VIP, Bu,"
"Apa? Bagaimana bisa? Saya tidak pernah pesan kamar VIP. Karena saya tidak akan mampu membayarnya nanti," tutur Naura, bingung.
"Ibu tenang saja, sepertinya kamarnya sudah ada yang bayarin,"
"Sudah ada yang bayarin? Siapa?"
"Ibu bisa ke pengurus administrasi langsung, untuk mempertanyakannya,"
Naura yang penasaran, tentu saja langsung pergi mengecek.
Dan ternyata, dia mendapati kalau Anggara yang sudah melunasi tagihannya dan menempatkan putrinya di ruangan VIP. dia ingin menghubungi pria itu untuk bertanya, kenapa dia melakukan semuanya. Akan tetapi Naura tidak punya nomor ponsel Anggara.
Sehingga dia hanya bisa kembali ke ruangan putrinya, berharap pria itu akan datang dan dia akan menanyakannya langsung.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Naura berniat keluar sebentar untuk mencari makan.
Dia sudah sangat lapar setelah seharian tidak makan apa-apa karena sangat khawatir dengan kondisi putrinya
Sepeninggalannya, ternyata Anggara benar-benar datang dan masuk ke ruangan Kiki.
Dia mendekati brankar gadis kecil itu, dan menatap Kiki lama.
Perlahan, tangannya bergerak terangkat, memegangi tangan mungil Kiki.
"Cepat sadar, ibumu sangat khawatir melihat kondisimu yang seperti ini," tutur Anggara pada gadis kecil itu, seolah-olah dia bisa mendengarnya.
Anggara kembali melihat ke arah pintu, memastikan Naura belum kembali.
Dia mengangkat tangannya, kemudian memegangi sehelai rambut Kiki, lalu menariknya perlahan agar tidak membuat gadis itu mungkin bisa kesakitan.
"Maaf, Paman ambil rambutmu buat tes DNA ya?" Tutur Anggara mengusap pucuk kepala Kiki.
dan anggara ayah anakmu...duhhh hanya di novel yang bisa gini.
jatuh cinta pada bapak anak sendiri🤭
masak mencintai org yg mencintai kakaknya terulang kembali..kasihan juga cakra🤭😭
wah sip anggara 👍buruan tes dna kiki biar sgra jls