Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Mobil sedan perak milik Raka berhenti di depan sebuah gudang tua yang terbengkalai.
Gudang ini terletak di kawasan pelabuhan yang sepi dan jauh dari pemukiman penduduk ibu kota.
"Turun sekarang, kita sudah sampai di tempat yang aman."
Raka membuka pintu belakang dan menarik kerah kemeja pria pelelang itu dengan cukup kasar.
"Ampun Tuan, tolong jangan bunuh saya di tempat sepi begini."
Pria itu meronta ketakutan karena mengira Raka akan membuangnya ke laut untuk menghilangkan jejak.
"Kalau aku mau membunuhmu, aku sudah membiarkan Tuan Kusuma menembak kepalamu di club malam tadi."
Astiana turun dari kursi depan dan menatap pria itu dengan wajah datar andalannya.
"Masuk ke dalam dan jawab semua pertanyaan kami dengan jujur kalau kau masih ingin hidup."
Pria itu langsung mengangguk cepat dan berjalan masuk ke dalam gudang dengan langkah bergetar.
Di dalam gudang yang remang-remang itu hanya ada sebuah meja drum besi bekas dan beberapa kursi kayu lapuk.
"Siapa namamu, Tuan."
Astiana bertanya sambil menarik satu kursi dan duduk di hadapan pria tersebut.
"Nama saya Leo, Nona muda."
Leo duduk gemetar sambil meremas kedua tangannya yang berkeringat dingin.
"Bagus, Tuan Leo, sekarang ceritakan semua yang kau tahu tentang PT Bintang Zamrud."
Astiana memulai interogasi dengan nada suara yang sangat tenang namun mengintimidasi.
"Mereka bukan perusahaan biasa, Nona, mereka adalah monster berwujud korporat."
Leo menelan ludahnya yang terasa sangat kering di tenggorokan.
"Perusahaan itu adalah kedok utama untuk mencuci uang hasil kejahatan Keluarga Adibrata."
"Mereka menjual barang antik palsu, menyelundupkan senjata, dan menyewa pembunuh bayaran untuk menyingkirkan pesaing."
Raka yang berdiri di sebelah Astiana langsung menyalakan laptop tipisnya di atas drum besi.
"Dan Tuan Kusuma adalah salah satu anjing peliharaan kesayangan mereka yang mengurus pekerjaan kotor itu."
Leo melanjutkan penjelasannya dengan suara yang semakin mengecil karena ketakutan.
"Kau bilang Tuan Kusuma adalah anjing peliharaan, lalu siapa majikan utamanya."
Raka bertanya sambil mengetik sesuatu di keyboard laptopnya dengan sangat cepat.
Tak tak tak.
"Semua orang di dunia bawah tanah memanggilnya Nyonya Besar."
Leo menjawab sambil melirik ke kanan dan ke kiri seolah takut ada yang mendengarnya.
"Tidak ada yang berani menyebut nama aslinya sembarangan karena itu sama saja dengan mencari mati."
Astiana mendengarkan cerita itu dengan ekspresi wajah yang tidak berubah sama sekali.
"Cara kerja mereka sangat pengecut dan kotor."
Astiana memberikan komentar singkat yang langsung membuat Leo mengangguk setuju.
"Mereka bersembunyi di balik kekuasaan dan menggunakan uang untuk membungkam semua kebenaran."
Astiana lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan cincin perak berukir elang dan ular.
Sring.
Cincin itu memantulkan cahaya lampu bohlam kuning di atas mereka.
Dia melempar cincin itu tepat ke pangkuan Leo yang sedang duduk tegang.
Trak.
"Apakah kau mengenali cincin ini, Tuan Leo."
Mata Leo langsung terbelalak sangat lebar melihat benda perak yang jatuh di pangkuannya itu.
"Ini... ini cincin otoritas milik Tuan Kusuma, bagaimana bisa benda ini ada pada Anda."
"Aku mengambilnya secara paksa sebelum dia jatuh pingsan tadi."
Astiana menjawab dengan sangat santai seolah mencuri dari bos mafia adalah hal yang biasa.
Leo menatap Astiana dengan pandangan ngeri bercampur rasa takjub yang luar biasa.
"Cincin ini adalah tanda akses mutlak ke lingkaran dalam Nyonya Besar."
Leo mengembalikan cincin itu dengan tangan bergetar ke atas meja drum besi.
"Siapapun yang memegang cincin ini bisa masuk ke fasilitas rahasia mereka tanpa perlu diperiksa."
"Nona Astiana, aku sudah berhasil menemukan informasi tentang Mansion Bukit Hijau."
Raka tiba-tiba menyela pembicaraan mereka dan memutar layar laptopnya agar Astiana bisa melihatnya.
"Sistem keamanan data mereka lumayan bagus, tapi tidak cukup kuat untuk menahan peretas bayaranku."
Di layar laptop itu terlihat sebuah peta digital dari kawasan perumahan super eksklusif.
"Kawasan Bukit Hijau adalah kompleks perumahan konglomerat yang dijaga ketat oleh tentara bayaran."
Raka menunjuk sebuah titik merah di puncak bukit pada peta digital tersebut.
"Dan tebak siapa pemilik rumah paling besar yang berada tepat di tengah kawasan itu."
"Nyonya Besar dari Keluarga Adibrata."
Astiana menjawab dengan nada yang sangat yakin dan tanpa ragu.
"Tepat sekali, namanya adalah Miranda Adibrata."
Raka menekan tombol enter dan memunculkan foto profil seorang wanita paruh baya berwajah dingin dan elegan.
"Dia adalah saudara perempuan dari kepala Keluarga Adibrata saat ini."
Astiana menatap foto wanita di layar laptop itu dengan tatapan mata yang sangat saksama.
Wajahnya sangat persis dengan wanita yang dia lihat di dalam mobil sedan hitam di depan Stasiun Gambir waktu itu.
Deg.
Jantung Astiana kembali berdetak kencang dan liontin kristal di balik bajunya terasa sedikit hangat.
"Miranda Adibrata."
Astiana menyebut nama itu perlahan untuk menanamkannya dalam ingatannya seumur hidup.
"Apakah kau yakin wanita ini adalah orang tua kandungmu, Nona Astiana."
Raka bertanya dengan nada sedikit khawatir melihat perubahan ekspresi serius di wajah Astiana.
"Aku belum tahu pasti apa hubungan darahku dengannya, Tuan Muda Raka."
Astiana menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu yang keras.
"Tapi liontin peninggalan kakekku bereaksi kuat saat mobilnya lewat kemarin sore."
"Itu adalah bukti yang lebih dari cukup bagiku untuk pergi menemuinya dan meminta penjelasan."
"Menemuinya bagaimana, Nona, kau tidak bisa masuk ke Mansion Bukit Hijau begitu saja."
Leo kembali menyela pembicaraan dengan nada yang sangat panik dan pesimis.
"Tempat itu adalah benteng pertahanan sungguhan, lalat saja tidak bisa lewat tanpa izin Nyonya Miranda."
"Aku punya ini."
Astiana mengangkat cincin perak Tuan Kusuma itu tinggi-tinggi di depan wajah Leo.
"Aku akan menggunakan cincin ini sebagai bukti bahwa aku adalah utusan baru dari Tuan Kusuma."
Raka langsung mengebrak meja drum besi itu merasa sangat tidak setuju dengan rencana gila ini.
Brak.
"Itu terlalu berbahaya, Astiana, kau bisa mati ditembaki di dalam sana."
Raka berteriak frustrasi karena gadis ini selalu memilih jalan yang paling mengancam nyawa.
"Mereka punya puluhan penembak jitu dan pengawal bersenjata lengkap di setiap sudut mansion."
"Aku tidak takut pada senjata api murahan mereka, Tuan Muda."
Astiana membalas tatapan khawatir Raka dengan sorot mata yang sangat tajam dan tidak terbantahkan.
"Kakekku sudah mengajariku cara membaca arah peluru sebelum aku bisa membaca huruf abjad."
Raka terdiam bungkam mendengar pernyataan yang terdengar sangat mustahil itu.
selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣