Mentari adalah CEO konglomerat besar yang menyamar menjadi karyawan biasa demi mencari cinta sejati. Ia bertemu dengan Bara seorang pekerja yang sangat ulet dan ambisius. Selama tiga tahun ia menjalin hubungan dan diam-diam membantu pria itu membangun perusahaan.
Bara pernah berjanji akan memberikan pernikahan yang megah setelah sukses, tetapi setelah berhasil meraih kejayaan sikap pria itu ternyata berubah.
Pada malam peresmian perusahaan, Vanya, sahabat sekaligus sekretaris Bara menghina dan mempermalukan Mentari. Namun, Bara hanya diam dan berpura-pura tidak melihat.
Kecewa dengan sikap pria itu, Mentari pun pergi dan menghentikan seluruh bantuan yang selama ini diberikannya.
Saat Bara menyesali perbuatannya dan berusaha mendapatkan Mentari kembali, wanita itu telah menemukan kebahagiaan bersama Titan, seorang miliarder yang mencintainya dengan tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 -- Sandiwara Titan
.
Sore itu, Titan mendatangi langsung ruang kerja Mentari di kantor pusat perusahaan besar yang dipimpin oleh wanita itu. Sebagai tunangan Mentari, kehadirannya selalu berhasil menarik perhatian para staf. Setelah Mentari merapikan meja kerjanya, Titan mengajak perempuan itu untuk berjalan-jalan santai menaiki mobil mumpung esok hari sudah memasuki akhir pekan, sebelum nantinya mereka melanjutkan rencana makan malam bersama keluarga Titan.
Mobil yang dikemudikan oleh Titan melaju dengan tenang membelah jalanan kota. Namun, di tengah perjalanan saat melintasi sebuah jalur yang agak sepi, suasana mendadak berubah tegang ketika sebuah mobil hitam tiba-tiba memotong laju kendaraan mereka dan berhenti tepat di depan. Beberapa pria bertubuh besar turun dari mobil tersebut dan langsung mengepung kendaraan mereka.
Mentari mengerutkan keningnya, menghentikan percakapan mereka di dalam mobil. Ia memandang para pria asing itu bergantian melalui kaca jendela, sementara Titan langsung memasang wajah waspada di balik kemudi.
Salah seorang pria mendekat ke arah kaca mobil, lalu mengetuknya dengan kasar sambil menyeringai. “Nona. Keluar dan ikutlah bersama kami dengan baik-baik, Tidak perlu banyak bertanya apalagi melawan. Kalau tidak jangan salahkan kami kalau terpaksa bersikap kasar.”
Mentari dan Titan saling berpandangan sejenak di dalam kabin mobil, membaca situasi berbahaya yang tengah menghadang mereka. Tetapi kemudian tanpa raut gentar sedikitpun, keduanya akhirnya memutuskan untuk turun dari kendaraan guna menghadapi para pria asing tersebut.
Begitu berdiri di luar mobil, Mentari langsung melayangkan tatapan tajam dan melontarkan pertanyaan tegas, “Siapa kalian dan siapa orang yang sudah mengirim kalian untuk Menghadang kami?”
Namun, alih-alih menjawab, para pria bertubuh besar itu malah merangsek maju. Dengan gerakan cepat dan agresif, salah satu dari mereka langsung mengulurkan tangan ke depan, berniat untuk mencekal lengan Mentari secara paksa.
Dengan gerakan yang sangat tangkas Titan segera menarik Mentari sedikit ke belakang, seolah ingin melindunginya. Namun, salah seorang preman justru melayangkan pukulan ke arahnya. Titan menghindar, sementara Mentari bergerak cepat ketika pria lain kembali berusaha mencekal lengannya.
Dengan gerakan yang begitu terlatih Mentari memutar tubuh dan menendang lutut penyerangnya hingga pria itu terjatuh. Tak hanya itu Mentari kemudian menepis tangan pria kedua, memanfaatkan gerakannya sendiri untuk menjatuhkannya ke aspal. Dua orang lainnya mencoba menyerang bersamaan, tetapi Mentari mampu menghindar dan membalas dengan gerakan bela diri yang terlatih.
Titan sempat tertegun melihat kemampuan tunangannya. Ia memang tahu Mentari bukan perempuan lemah, tetapi tidak menyangka bahwa perempuan itu mampu menghadapi beberapa pria sekaligus. Namun saat melihat beberapa preman itu seperti sama sekali tidak mempedulikan keberadaannya, Titan segera menyadari bahwa orang-orang itu memang datang untuk mencelakai Mentari.
Ketika salah seorang preman kembali menyerang, Titan ikut melumpuhkannya. Pertarungan berlangsung singkat, tetapi cukup membuat para penyerang menyadari bahwa sasaran mereka bukanlah perempuan biasa.
Melihat beberapa rekannya sudah terjatuh, pria yang tampaknya menjadi pemimpin mereka mengumpat sebelum memberi isyarat untuk mundur. Mereka segera berlari menuju mobil dan meninggalkan tempat itu.
Mentari menghela napas ketika melihat para preman tersebut benar-benar pergi. Setelah itu, ia berbalik memeriksa keadaan Titan.
“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya cemas ketika melihat Titan memegangi lengannya.
Titan sedikit tertegun melihat kecemasan Mentari hingga kemudian seringnya licik muncul di sudut bibirnya. Sambil meringis seolah menahan sakit pria itu memegangi lengannya yang memang terkena sabetan senjata tajam milik salah satu preman tadi. “Sepertinya lenganku sedikit terluka. Tidak terlalu parah, tetapi rasanya cukup sakit.”
Mentari langsung memegang lengan Titan bahkan menyingkap pakaian pria itu untuk memeriksa lengannya. Luka yang terlihat sebenarnya tidak terlalu dalam, tetapi saat melihat Titan terus meringis kesakitan membuat gadis itu semakin cemas.
“Kita ke rumah sakit sekarang,” putus Mentari sambil memegang tangan pria itu dan menariknya pelan untuk kembali masuk ke dalam mobil.
“Aku tidak mau ke rumah sakit,” jawab Titan cepat. “Aku tidak suka bau rumah sakit,” ucapnya memberi alasan. “Lebih baik kamu mengantarku pulang saja.”
Mentari menatapnya tidak percaya. “Titan, kamu baru saja diserang beberapa orang dan kamu sedang terluka. Jangan bercanda dalam keadaan seperti ini.”
“Aku tidak bercanda.” Titan memasang wajah memelas. “Antarkan aku pulang saja. Ibu dan Ayah ada di rumah, dan aku yakin mereka juga akan lebih tenang kalau melihatmu di sana.”
Mentari sempat ragu, tetapi akhirnya mengangguk. Ia tidak ingin berdebat terlalu lama karena melihat Titan masih meringis kesakitan. Setelah memastikan keadaan sekitar aman, ia membantu pria itu untuk masuk ke dalam mobil bahkan memasangkan sabuk pengamannya. Setelah itu ia berjalan memutar dan masuk ke kursi bagian kemudi.
*
Begitu mereka tiba, kedua orang tua Titan segera menyambut kedatangan mereka. Ibu Titan langsung menghampiri Mentari dan memegang tangannya dengan penuh kasih sayang.
“Mentari, Sayang, kenapa kalian baru datang? Ibu sudah menunggu sejak tadi,” ucapnya, kemudian pandangannya beralih kepada Titan yang memasang wajah lemah. “Lho, kenapa dengan lenganmu? Apa yang terjadi?”
Mentari segera menjelaskan bahwa mereka baru saja diserang beberapa orang dalam perjalanan menuju parkiran. Mendengar hal itu, ayah Titan ikut mendekat dengan wajah khawatir, tetapi saat memeriksa lengan putranya, ia menyadari bahwa luka tersebut hanya goresan kecil.
Kedua orang tua Titan saling berpandangan. Mereka tahu putra mereka bukan pria yang mudah mengeluh hanya karena luka sekecil itu. Terlebih, sejak tadi Titan terlihat sesekali melirik Mentari dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Ketika Ibu Titan hendak bertanya lebih jauh, putranya diam-diam memberikan isyarat agar mereka tidak mengatakan apa-apa. Ayah dan Ibu Titan langsung saling pandang dan memahami maksudnya. Rupanya, Titan sedang berpura-pura terluka agar bisa mendapatkan perhatian lebih dari tunangannya sendiri.
Mereka hampir tertawa melihat tingkah putra mereka, tetapi berhasil menahan diri agar tidak membongkar rahasianya dan malah ikut-ikutan bersandiwara.
“Kalau begitu, bawa Titan ke kamarnya saja, Mentari,” ujar Ibu Titan sambil memasang wajah khawatir. “Kamu tidak keberatan kan kalau Ibu minta tolong kamu untuk merawat Titan? Ibu akan meminta pelayan menyiapkan makan malam.”
Mentari mengangguk, sama sekali tidak menyadari bahwa Titan dan juga kedua orang tuanya hanya sedang berpura-pura. Ia kemudian membantu Titan berjalan menuju kamarnya, sementara pria itu diam-diam tersenyum puas.
Baginya, serangan mendadak tadi memang bukan sesuatu yang menyenangkan. Namun, jika kejadian itu membuat hubungannya dengan Mentari menjadi semakin dekat, Titan tidak keberatan memanfaatkan kesempatan tersebut sedikit lebih lama.
Namun di dalam hatinya pria itu sedang bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang berniat mencelakai Mentari?
Pada saat Mentari sedang turun ke lantai bawah untuk mengambil air hangat dan dan handuk kecil, pria itu menghubungi anak buahnya untuk menyelidiki kejadian tadi. Dan dalam hatinya ia bersumpah, siapapun dalang di balik kejadian itu, ia tidak akan membiarkannya lolos begitu saja.
Mak boleh yx getok dikit anak ny ,, 🤭
SIM ny blum ad Bu ,, 🤭🤭🤣🤣