Selama tujuh malam, dia memimpikan hal buruk tentang pria yang selama ini dicintainya. Ketika hari lamaran tiba, dia memilih membatalkan perjodohan dan menjadikan Arus, pria berandal yang dibenci warga desa, sebagai alasannya.
Namun, semakin dekat dengan Arus, semakin dia menyadari bahwa pria itu tidak seperti yang orang-orang katakan. Di balik luka dan reputasinya, tersimpan kehidupan yang tak pernah dia bayangkan.
Awalnya hanya pelarian. Tapi bagaimana jika arus yang dia ikuti justru membawanya menemukan cinta yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
akhirnya motor arus menepi, Alya kagum menatap bangunan berlantai 2 yang memiliki luas hampir 100 meter persegi.
"Luas sekali ya kak." lagumnya.
Arus tak menjawab, ia mengambil sangkar kucing dan menuntun istrinya itu ke lantai 2. Tempat yang biasanya ia tempati.
Sepanjang perjalanan, mereka tak menemukan siapapun kecuali satpam yang berjaga.
"istirahat dulu, ini udah jam setengah sebelas. Anak anak juga sudah tidur jam segini."
Alya mengangguk, sedangkan arus berbalik ke luar.
"mau ke mana kak...?" bingung Alya.
"mau nganter ini bentar, kamu bersihin badan dulu aja habis itu tidur. Gak usah nunggu aku"
arus berjalan lagi, menuju ke satu ruangan.
Kebetulan di sana lampu masih menyala.
"eh rus... Tumben ke sini gak ngabarin dulu." tanya pak Asep selalu pengurus panti ini.
"ia pak, lagi pengen aja. sekalian ngajak istri jalan jalan"
"duduk dulu..."
"bapak denger, ada berita kamu kenak fitnah ya..."
arus tersenyum...
"begitu lah pak, namanya hidup pasti ada aja masalah. Dari dulu juga begini"
"apa memang seperti biasa...? Bukan bapak mau gimana gimana, bapak takut aja. Gak biasanya kamu sampai nyari pelaku, apa lagi bapak denger dari temanmu yang ahli sampai kamu turunin untuk hal ini. biasanya kamu gak pernah peduli bahkan terkesan acuh, biarin berita hilang seiring waktu."
arus terdiam, ia mengingat tangisan Alya. Mata sembab gadis itu dan raut kekhawatiran di wajah sang istri.
Bahkan ia sendiri tak menyangka efeknya akan sampai seperti ini terhadap Alya.
"bukan tentang aku pak...."
pak Asep yang sudah dekat dengan arus, bahkan jika di hitung, kedekatan arus dengan pengurus yayasan ini bahkan lebih tinggi dari ayahnya sendiri.
Jadi pak Asep bisa membaca semuanya dari raut wajah dan jawaban arus.
"sudah, kamu temani istrimu dulu. Dia memang belum terbiasa dengan hal semacam ini, untuk kucing biar bapak yang urus."
arus mengangguk....
"kalok begitu aku pamit pak."
pak Asep mengeluarkan kucing, sedangkan arus pergi kembali ke kamarnya.
Sesampai di kamar, arus melihat Alya yang sudah terlelap dengan kaki melintang dan tangan sudah menyentuh tempat yang seharunya menjadi tempat tidur arus.
Begini lah Alya, dia sangat mudah terlelap di manapun itu, apa lagi di tambah kebiasaannya yang tidur sembari bergerak ke sana kemari.
Tentu awalnya arus terkejut dengan hal ini, bahkan dia sulit tidur waktu pertama kali tidur dengan Alya.
Tapi entah mengapa setelah waktu berlalu, ia sulit tertidur jika tak mendapatkan tendangan sang istri saat tidur.
Arus membenarkan posisi sang istri, ia bahkan menyelimuti dengan perlahan.
Setelah benar, arus naik ke tempat tidur.
Tangannya mengusap rambut Alya dengan lembut.
"ly... Aku tak tau trauma apa yang telah kau alami sampai seperti ini, tapi ku harap kau tak akan mengingat apapun itu lagi" ungkapnya.
Arus teringat tentang mimpinya, wajah Alya kemarin hampir menyerupai apa yang ada di mimpi itu.
Apa lagi saat ia kembali setelah memukul Bagas, wajah melamun istrinya di atas kasur bahkan membuatnya semakin teringat.
Dia tau, wajah itu bukan wajah bangun tidur semata. jelas itu wajah yang tengah memikirkan sesuatu.
Tanpa sadar arus ikut terlelap...
Pagi harinya, Alya benar benar sibuk mengajak arus ke luar kamar..
Bahkan dari subuh, ia merayu seperti anak kecil.
Setelah sekitar pukul 6 baru arus menuruti, karena anak anak biasanya baru mulai beraktifitas jam segini.
"kita mau ke mana dulu kak..." tanya Alya.
"kamu maunya ke mana...?"
Alya tampak berfikir....
"kalok ke tempat hewan dulu gimana, aku dari dulu penasaran sama hewan hewan yang kakak bawa dari desa.".
arus mengangguk, ia menuntun sang istri ke tempat hewan hewan di selamatkan.
Saat sampai di sana, Alya sedikit merapat kepada arus. Bahkan tubuhnya hanya terlihat setengah.
Ini karena ada beberapa pria besar berotot serta penuh tato yang duduk di sana.
"ada apa...?" tanya arus.
"kita ke tempat lain aja dulu" jawab Alya.
tau keresahan istrinya itu, arus menarik istrinya untuk duduk di samping.
"gak papa, mereka gak akan ngapa ngapain kamu."
"eh bang... Kapan datang" ungkap salah satu pria berotot setelah arus dekat.
"tadi malam"
"oh ia kenalin ini istriku.."
beberapa perema itu tersenyum ramah ke arah Alya.
Alya pun membalas senyuman itu dengan canggung sekaligus takut.
"udah, kalian lanjutin pekerjaan dulu. Kami mau lihat lihat hewan"
"tapi bang, sebenarnya ada yang mau kami omongin dulu"
"pergi dulu, nanti aku nyusul."
" siap bos, kalo begitu kami duluan.... Ibu bos kami pamit dulu"
"udah rus, kamu pergi aja dulu. Istrimu biar ibu yang nemenin" ungkap Bu susan yang baru datang.
"eh Bu susan, tolong jagain istriku ya..."
"aman, gak akan ada yang nyulik kalok sama ibu"
arus sedikit tersenyum, laku berbalik menatap Alya.
"kamu gak papa kan sama Bu susan dulu, tenang aja dia istri pengurus panti ini."
"ia kak... Tapi jangan macem macem ya."
arus tersenyum, lalu pergi.
"Udah nak, suamimu gak akan kenapa Napa di sini gak ada yang berani sama dia. kamu mau lihat lihat hewan kan, ayo biar ibu anter"
Alya pun hanya bisa mengikuti, awalnya tentu terasa canggung. Apa lagi Alya tipe yang pendiam kepada orang yang belum di kenal.
Tapi setelah berbincang beberapa hal, Alya merasa nyaman berbicara dengan Bu susan.
"bu apa hewan hewan ini akan terus di rawat di sini...?"
"tentu enggak, mereka di sini akan di rawat beberapa bulan sampai benar benar sehat. Setelah itu baru di bawa ke dinas terkait, walau ada beberapa kucing yang di biarkan tetap di sini karena anak anak ada yang suka, tapi itu tidak banyak. Apa lagi sebagian lansia ada yang alergi sama bulu kucing"
"lansia...? Apa ada lansia di sini Bu...?"
Alya sepanjang jalan belum melihat adanya lansia.
"ada, biasanya mereka lagi olah raga di belakang gedung kalok pagi... Panti ini Tak hanya mengurus anak anak, tapi lansia juga. Kata arus kasihan kalau mereka harus terpaksa hidup bersama dengan anak yang terkadang tak mengurusi mereka."
"emang ada anak seperti itu Bu...?"
tentu Alya yang hidup di lingkungan desa yang tergolong kecil dan masih menjujung tinggi ada hormat kepada yang lebih tua, terkejut mendengar hal ini.
"ada bahkan cukup banyak nak, malahan baru 2 bulan kemarin arus membawa seorang kakek kakek berusia hampir 80 tahun. Katanya dia di gugat tentang harta warisan, padahal sudah jelas bagiannya. Tapi sang anak tak terima karena rumah sang kakek di wakafkan."
mendengar ini mata Alya terbelalak, sekaligus rasa dalam dirinya campur aduk.
Antara sedih dengan anak yang tega menggugat orang tuanya dan rasa senang karena suaminya memang bukan seperti yang di ceritakan warga desa.